
Mom Adeline masih berdiri di depan pintu menunggu reaksi Sari yang seperti orang bingung. Ia yang memahami Sari langsung menyadari ada sesuatu yang dilihat putri semata wayangnya itu.
"Sari … lihat mom baik-baik, ada apa sayang?!" Mom Adeline berjalan mendekati Sari yang masih menatapnya bingung.
"Tante Danique, mom." jawabnya lirih.
Mom Adeline memeluk Sari dengan lembut. Ia mengusap punggung putrinya memberikan ketenangan bagi Sari.
"Ada apa sama Danique? Kamu melihat sesuatu?!" tanyanya perlahan.
Sari masih diam dan semakin memeluk erat mom Adeline.
"Sari harus temukan tubuhnya mom, itu permintaan Tante." jawab Sari mengurai pelukan ibundanya.
Mereka saling berpandangan, mom Adeline merapikan rambut Sari yang berantakan. Ia memberikan senyum yang begitu menenangkan Sari.
"Kalau itu pesannya ke kamu, mom yakin kamu bisa menemukannya. Lakukan apa yang harus kamu lakukan Sari, mom dukung kamu sepenuhnya."
"Meskipun Sari berubah menjadi malaikat pencabut nyawa mom?" tanya Sari sedikit ragu.
Mom Adeline kembali tersenyum, ia menggenggam tangan Sari. Matanya memandangi setiap inchi wajah putri cantiknya,
"Jika itu yang harus terjadi, mom akan selalu mendukungmu. Mom tahu yang kamu hadapi bukan sembarang orang. Bukan juga sesuatu yang bisa dipahami dengan logika."
Mom Adeline menarik nafas panjang lalu melanjutkan kembali perkataannya,
"Seandainya masih ada jalan kebaikan yang bisa dipilih maka pilihlah jalan itu. Tapi seandainya memang tidak ada jalan lain selain kematian, mom tetap mendukung keputusanmu. Sari sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan terbaik."
Sari tidak bisa menahan lagi air matanya, ia menangis dalam pelukan mom Adeline. Ibundanya adalah orang yang paling memahami dirinya. Kepercayaan kedua orang tuanya membuat Sari semakin yakin langkah apa yang akan diambilnya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Masa jagoan mom nangis, bisa diketawain ma lawan kamu nanti?!" goda mom Adeline membuat Sari tertawa.
"Wat doe je mam, waar ben je goed in?
__ADS_1
(Apaan sih mom, jagoan apa?)
"Huilende meester!" (Jagoan nangis!)
Mom Adeline menyeka air mata Sari, dan mereka berdua tertawa.
...----------------...
Sari membersihkan diri, dan bersiap untuk pergi ke galeri seni. Matahari telah tergelincir dari titik tertingginya saat Sari ditemani Bagas dan Doni menuju galeri seni Mang Usep.
Setibanya disana galeri seni tampak sepi, hanya terlihat kursi-kursi yang ditata di pelataran galeri, bendera kuning belum dilepas dan masih terpasang di depan pintu masuk galeri. Sebuah papan pemberitahuan tentang meninggalnya Mang Usep dan Arjuna pun masih teronggok disisi lain galeri.
Tidak ada penyambutan seperti sebelumnya. Suara gamelan yang biasanya terdengar dari pintu masuk pun tak terdengar lagi. Galeri seni seolah tanpa penghuni, sepi.
"Buset ni galeri sepi amat, Lo yakin Pak Koswara ada dimari Sar?" tanya Doni
"Semalam kan emang dia minta kita datang." jawab Sari
Bagas langsung mengeluarkan ponselnya, baru saja ia hendak melakukan panggilan Dika muncul dari dalam galeri.
"Eh ada tamu, mari silahkan masuk." Dika masih bersikap sama seperti kemarin saat mereka bertemu.
"Mas kok sepi banget disini, pada kemana karyawan Mang Usep?" tanya Sari
"Geus aya didinya, briefing deui jeung mang Koswara."
( Ada di dalam semua, lagi di briefing sama Mang Koswara)
Doni dan Bagas menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Mereka berdua bingung tidak mengerti perkataan Dika.
"Ngomong apaan dia Sar?" bisik Doni
"Mereka semua lagi didalam, lagi diceramahin pak Koswara." jawab Sari
__ADS_1
"Diih ceramah, ustadz kali dia. Briefing kali Sar, gue juga tau bagian itu artinya!" sahut Doni
Sari tertawa karena gagal mengerjai Doni. Mereka berjalan mengikuti Dika hingga sampai ke sebuah aula. Pak Koswara yang mengetahui kedatangan mereka hanya memberi kode untuk memberinya waktu.
Mereka bertiga duduk di bangku penonton, menyaksikan pak Koswara yang sedang memberikan arahan pada karyawan galeri. Dari arahannya Sari bisa menangkap maksud Pak Koswara.
Mereka akan tetap bekerja seperti biasa, dan galeri seni akan berada dibawah pengawasan Seca Branti. Tidak menutup kemungkinan galeri seni ini akan berubah nama dengan kepemilikan baru, Pak Koswara.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Pak Koswara bisa menemui mereka bertiga.
"Maaf menunggu lama." sapanya ketika mendekat.
"Nggak apa-apa kok pak, kita juga lagi sela."
"Saya mau ajak kalian melihat sesuatu dulu." Pak Koswara langsung mengajak mereka bertiga menuju ke suatu ruangan.
Sari diam dan hanya mengikuti saja. Melihat arahnya pak Koswara hendak menunjukkan ruangan tempat mang Usep dan Arjuna tewas. Sari masih hafal betul tempat itu. Tempat dimana ia menunjukkan kekuatan tersembunyi nya.
Pak Koswara membuka ruangan tanpa ventilasi itu. Aroma tidak sedap keluar dari ruangan, membuat Bagas dan Doni menutup hidungnya. Aroma kemenyan pekat, sisa aroma bunga bercampur dengan anyir darah dari kedua orang pengikut iblis menyeruak.
"Maaf jika kurang nyaman, saya cuma mau menunjukkan tempat mereka ditemukan tewas."
Mereka masuk kedalam bersama. Darah Sari seolah mendidih mengingat malam itu, tangannya mengepal menahan rasa. Jejak darah dari kedua orang itu masih tersisa jelas di lantai menandakan luka yang cukup parah.
Bagas dan Doni bergidik ngeri membayangkan. Begitu juga dengan Pak Koswara. Sari hanya diam menatap jejak kematian yang telah dibuatnya.
"Saya nggak menduga mereka bisa dikalahkan dengan mudah, padahal saya sendiri tidak sanggup menghadapi mereka." kata Pak Koswara
"Kira-kira siapa yang sudah melakukannya pak?" tanya Bagas berpura-pura.
"Seseorang dengan ilmu tinggi pastinya, saya justru berterima kasih padanya karena telah menyelesaikan masalah yang tidak bisa saya hadapi sendiri."
Serius dia bilang makasih? Syukur deh setidaknya dia nggak minta uang ganti rugi lagi!
__ADS_1