
Rumah Pak Koswara terdiri dari tiga bangunan utama yaitu satu rumah utama, satu pendopo yang digunakan untuk latihan, dan satunya lagi adalah ruang kostum dan peralatan lainnya.
Spanduk bertuliskan Paguyuban Seca Branti yang sedikit usang karena paparan sinar matahari dan hujan tampak terpasang di depan rumah utama.
Ahmad sudah stand by dengan kameranya sejak pertama mereka memasuki kediaman Pak Koswara, ia tidak ingin kehilangan untuk mengambil setiap momen berharga.
Doni pun tidak ketinggalan mulai memotret dan mengabadikan setiap sudut yang menarik. Sementara Sari, harus berjibaku melawan dirinya sendiri yang mulai terbawa suasana aneh di kediaman pak Koswara.
Dengan susah payah Sari berusaha mengendalikan dirinya yang terlalu peka pada sesuatu hal tak kasat mata. Dia berusaha bersikap sewajarnya di depan teman-temannya.
Pak Edi disambut langsung oleh Pak Koswara yang memang sudah diberitahu sebelumnya.
"Assalamualaikum, Mang Koswara… ini perkenalkan adik-adik dari Semarang yang kemarin saya ceritakan." Kata Pak Edi
"Wa'alaikumussalam, oh ini ya tamu saya… selamat datang di gubuk reyot paguyuban Seca Branti, saya Dedeng Koswara pemilik dan ketua Paguyuban Seca Branti." Kata Pak Koswara memperkenalkan diri
"Perkenalkan saya Bagas ketua tim liputan, dan ini rekan-rekan saya pak." Sahut Bagas sambil mengulurkan tangan
Pak Koswara menyambut Bagas dengan senyuman sambil berjabat tangan. Ia pun menjabat tangan mereka satu persatu sambil berkenalan, namun ketika ia menjabat tangan Sari sesuatu yang aneh dirasakannya.
Ada getaran lain saat tangan Sari menjabat Pak Koswara. Namun Pak Koswara berusaha bersikap tenang begitu juga dengan Sari meski ia agak sedikit terkejut dengan sengatan energi aneh saat tangan nya menyentuh tangan Pak Koswara.
"Mari silahkan kita duduk di pendopo saja ya, sambil nunggu anak-anak lain datang." Kata Pak Koswara mempersilahkan para tamunya.
Mereka pun mengikuti Pak Koswara dan duduk lesehan di lantai pendopo. Hidangan minuman dan makanan cemilan khas Indramayu seperti dodol mangga, koci dan beberapa kue tradisional lainnya pun telah disajikan oleh istri Pak Koswara.
Setelah sedikit beramah tamah ala kadarnya Bagas pun mulai menggali informasi yang diperlukan dari Pak Koswara,
"Sudah lama pak Paguyuban ini berdiri?" Tanya Bagas
"Cukup lama lah bahkan lebih tua dari umur saya sendiri, paguyuban ini diturunkan dari kakek buyut saya." Jawab Pak Koswara
__ADS_1
"Kakek buyut? Wah dah lama juga ya, maaf boleh tau berapa umur bapak sekarang?" Tanya Bagas lagi
"Umur saya, masih muda kok baru aja tiga puluh an mas Bagas." Jawab Pak Koswara tersenyum.
"Eeeh, tiga puluh?" Sahut Doni sambil terheran heran
"Iya tiga puluh gak percaya ya, saya juga tidak percaya mas," ujar Pak Koswara tertawa
"Tiga puluh tapi 22 tahun yang lalu… umur saya 52 tahun mas," jawab ya lagi sambil terkekeh
Mereka yang berada di sana pun ikut tersenyum, Pak Koswara kembali melanjutkan ceritanya.
"Paguyuban Seca Branti ini menaungi para seniman sintren di desa ini mas, sayang semakin kesini peminatnya semakin berkurang apalagi anak-anak muda sekarang sudah nda ada yang mau belajar apa lagi nonton." Ujar Pak Koswara
"Kaum milenial pak, bisa dimaklumi hal itu terjadi contohnya saya pak." Sahut Bagas sambil tersenyum
Pak Koswara tertawa, "Ya… ya, mas Bagas betul efek modernisasi jadi yang muda muda sekarang lebih suka budaya barat."
"Tidak semuanya mas, sintren itu hampir semuanya penari turun temurun dari leluhurnya begitu juga dengan para pawang dan penabuhnya. Itu dilakukan supaya kesenian ini tidak hilang ditelan jaman, ibaratnya kesepakatan kami para seniman sintren." Jawab Pak Koswara
"Jadi selain dari keturunan bisa tidak jadi penari atau bagian lain dari sintren pak?" Tanya Bagas
"Oh tentu saja bisa mas, kami open minded kok siapa pun yang ingin belajar kami terima dengan senang hati. Tapi khusus untuk penarinya memang ada syarat tertentu yang tidak bisa semua orang penuhi." Jelas Pak Koswara
"Syarat khususnya apa pak?" Tanya Ahmad
"Seorang penari sintren selain merupakan keturunan juga harus perawan, masih belia dan belum terjamah lelaki yang bukan muhrim." Jawab Pak Koswara
"Hah, seriusan pak?" Tanya Doni
" Iya serius, para penari saya biar pun ada yang berusia cukup untuk menikah mereka masih perawan semua dan kami ini yang menjaga mereka dengan baik." Jawab Pak Koswara tersenyum bangga
__ADS_1
"Boleh tuh pak satu buat saya yang udah mateng buat jadi bini." Sahut Doni tanpa malu-malu
Pak Koswara tertawa mendengarnya,
"Boleh, asal penarinya mau dan kamu bisa menuhin syarat saya buat meminangnya." Kata Pak Koswara
"Apaan tuh syaratnya pak, klo kerjaan ma rumah ada kok, cinta bisa saya kasih, berlian saya usahain deh kebeli." Jawab Doni dengan sungguh-sungguh
"Yakin kamu bisa?" Tanya Pak Koswara lagi
"Suer dah pak yakin seyakin yakinnya saya." Sahut Doni sambil mengangkat dua jarinya ke atas
"Syarat nya gampang, kamu harus ganteng dulu mas klo nda saya nda bakal ijinin penari saya nikah ma orang jelek." Sahut Pak Koswara kalem
Sontak jawaban Pak Koswara disambut gelak tawa tanpa henti dari yang lain, sementara Doni hanya bisa tersenyum kecut meski dia yakin kalau dirinya juga tidak kalah tampan dari aktor Ikko Uwais kesayangannya.
"Mampus lu Don, oplas gih sono di Korea abis itu balik dah dimari buat ngelamar penarinya Mang Koswara." Sahut Ahmad sambil tertawa.
"Nasib lu Don, wajah super langes lu kagak laku dimari." Timpal Bagas
"Sialan lu pada mau gue sumpahin jadi Upik abu semua ni." Kata Doni kesal
"Diiih… atut." Sahut Bagas dan Ahmad berbarengan
Pak Koswara dan Pak Edi ikut tergelak mendengar percakapan mereka,
"Nda kok mas Doni Mang Kos becanda, iya kan Mang?" Tanya Pak Edi sambil mengerlingkan matanya
"Ehm, gimana ya," jawab Pak Koswara sambil pura-pura berpikir
"Udah pak stop, kaga usah dijawab daripada bikin ngilu hati saya ntar." Sahut Doni pasrah.
__ADS_1
Mendengar jawaban Doni kembali mereka tergelak dalam tawa. Sari yang sedari tadi tegang karena menahan sebuah rasa pun akhirnya ikut tertawa. Setidaknya candaan Doni membuatnya rileks sejenak.