
Sari hendak melangkahkan kakinya masuk kedalam gua ketika dua orang penjaganya mencegah.
"Tunggu dulu biar kami periksa."
Dua penjaga Sari menyingkirkan tumbuhan merambat yang menutupi mulut gua. Akarnya yang sudah sangat tua menempel kokoh membingkai mulut gua hingga beberapa meter ke dalam. Mereka memeriksa ke dalam gua, beberapa saat kemudian mereka berdua keluar dan memberi tanda aman.
Sari masuk ke dalam lorong sempit dan pengap yang hanya bisa dilalui satu orang saja. Dinding gua itu terasa basah dan lembab. Tanahnya terasa becek, Sari beberapa kali hampir terjatuh karena terpeleset.
"Hati-hati … di ujung lorong jalan baru sedikit lebar dan terang." Sang pemimpin mengulurkan tangan pada Sari untuk membantunya berjalan.
"Apa ada sumber mata air disini?" tanya Sari
"Sepertinya begitu, aliran air ini menunjukkan ada sumber air didalam."
Sari cukup heran dari luar gua ini hanya tampak seperti tumpukan ranting yang diselimuti tanaman merambat tapi didalamnya tidak tampak sama sekali ranting-ranting pohon yang membentuk nya.
Gua ini seperti gua pada umumnya yang lembab, dingin, pengap dan berbau sedikit aneh bagi Sari. Mereka mencapai ujung lorong dengan pencahayaan yang lebih terang. Terdapat tiga lorong lain lagi selain lorong tempat Sari keluar, ini berarti ada jalan masuk lain yang bisa dilewati.
Di tengah-tengah ruangan ada altar batu yang berisi berbagai macam bunga sesaji dengan tungku kecil yang masih mengeluarkan asap. Sementara tak jauh dari altar batu itu ada kolam air kecil dengan air yang sedikit keruh.
"Apa ini tempatnya?" tanya Sari pada sang pemimpin.
"Iya, ini tempatnya. Aneh, ini terlalu sepi … Sari aku rasa ini jebakan, berhati hatilah! Semuanya bersiaga dan lindungi Sari!"
Benar saja tak berapa lama, terdengar suara tawa yang menggema memenuhi ruangan. Suara gema yang dihasilkan membuat Sari bingung, ia merapat pada para penjaganya.
"Tetap waspada dia bisa muncul dari mana saja!" Penjaga Sari mengingatkan kepada semuanya.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik muncul dengan beberapa pengawal dari lorong terdekat dimana Sari keluar. Ia masih tertawa dengan angkuhnya. Mereka kini berhadapan. Sari memantapkan hati dan tekadnya. Malam ini ia harus membawa Tante Danique pulang.
"Aku sudah menunggumu cah ayu!"
__ADS_1
"Begitukah, suatu kehormatan bagi saya?!" jawab Sari menatap wanita itu tanpa takut.
Wanita tua tua itu menatap Sari dari bawah sampai atas dan juga keempat penjaga Sari yang dalam kondisi siaga.
"Luar biasa, seseorang dengan empat maung bodas penjaga. Suatu kehormatan juga bagi saya menjamu kamu disini cah ayu."
"Saya datang untuk membebaskan roh Tante Danique yang terikat disini. Bisakah anda melepaskannya untukku dan mengakhiri nya dengan damai?!" Sari mengajukan penawaran pada wanita itu.
Wanita itu tergelak, ia bahkan sampai harus memegang perutnya. Sepertinya pertanyaan Sari dianggapnya lelucon.
"Berani kau mengajukan penawaran padaku cah ayu, luar bisa juga keberanianmu! Tapi perjanjian adalah perjanjian dan itu tidak bisa diubah atau … kau berniat menggantikannya?!"
"Maaf tapi saya tidak sudi bertukar dengan apa pun. Lepaskan Tante saya dan saya berjanji tidak akan ada yang terluka?!" Sari mulai mengancam wanita tua itu membuat wanita itu geram.
"Cckk, lancang kamu! Berani mengancam ku sama saja dengan menghantar nyawamu!" serunya
"Sekali lagi aku tawarkan padamu wanita jelek, bebaskan dia dan aku mungkin akan berbaik hati padamu dengan menjaga wajahmu yang agar tidak tergores!"
Darah Sari mendidih mendengar ucapan wanita tua yang masih cukup cantik itu. Tangannya mengepal menahan amarah, matanya berkilat bersiap menyerang sampai titik darah akhir.
"Ayo serang mereka habiskan tanpa sisa kawan!" Sari memberi perintah pada keempat penjaganya.
Seketika mereka berubah wujud menjadi maung dan dalam kedipan mata kemudian telah berpindah tempat ke dimensi lain. Dimensi lelembut tempat pertarungan yang sebenarnya.
Sari masih berdiri memperhatikan keempat maungnya menyerang para pengawal wanita itu. Satu maung menghadapi dua pengawal, sang pemimpin harus bergulat melawan empat orang sekaligus sementara dua lainnya berhadapan satu lawan satu.
Sari menatap ke arah wanita itu. Dia jelas hanya anak buah dari pemimpin yang sebenarnya. Sari bisa merasakan auranya yang tidak begitu kuat. Ia mengedarkan pandangan mencari dimana pemimpin itu bersembunyi. Ia bisa merasakan aura kuat lain yang memperhatikannya tak jauh dari tempatnya berada.
"Cah ayu, jangan mengelak hadiah dari dariku!"
Wanita itu melesat cepat menyerang Sari dengan pedang yang entah darimana ia dapatkan. Sari berkelit dan bisa menghindarinya.
__ADS_1
Sial, darimana dia dapat pedang itu? Aku harus melawannya dengan tangan kosong? Yang benar saja?!
Sari terus berusaha menghindari sabetan pedang yang bertubi-tubi diarahkan padanya.
"Menyerahlah cah ayu! Dan berikan tubuh wangimu padaku!" teriaknya dengan suara parau.
Sari lengah, sebuah sabetan terpaksa ia terima di lengan kanannya. Rasa nyeri dan panas mengiringi darah yang keluar dari lukanya.
Sari baru menyadari wajah wanita itu semakin lama semakin buruk dan mengerikan. Sambil menahan rasa nyeri ia menatap ke arah wanita itu.
"Jadi dia yang meminta tumbal untuk awet mudanya? Rupanya malam ini dia belum mendapat mangsa, aku bisa mengalahkannya dengan mudah andai memiliki pedang yang sama pula."
Sar, gunakan kekuatan dari cincin itu … Bayu mengarahkan Sari dari kejauhan.
Sari mengerti dan merapalkan mantra rahasia yang diajarkan Bayu, cincin pemberian Mang Aa berpendar dan menghangat. Sebuah pedang yang berpendar kemerahan muncul secara gaib di tangan Sari. Energinya luar biasa dan cukup menyengat di tangan Sari.
Wanita tua itu terkejut, nyalinya seketika ciut melihat apa yang Sari pegang.
"I-itu pedang Sang Prabu …"
Sari menyeringai padanya, ia memutar mutar pedang yang ada di tangannya tanda ia siap menyerang. Kondisi seketika berbalik Sari mendapat energi luar biasa dari pedang kemerahan itu, ia langsung melesat ke arah wanita tua itu dan memberinya serangan balasan.
Suara nyaring terdengar dari benturan keras kedua pedang. Wanita itu terus menghindar dan berkelit dari serangan Sari tanpa mau melawan. Sari pun kesal dan mengejeknya
"Hei wanita tua, kenapa kau selalu menghindar! Kau takut aku melukai wajahmu yang jelek itu?!"
"Kurang ajar!" Wanita tua itu marah dan menyerang Sari membabi buta. Ejekan Sari berhasil membuatnya marah.
Ia kembali menyerang dan hampir saja menusuk perut Sari jika saja Sari tidak mengelak. Sari berkelit dan memutari punggung wanita tua itu, dan memberinya pukulan dengan ujung pedangnya. wanita tu itu terjatuh.
Pedang mereka kembali beradu, wanita tua yang telah berubah menjadi sangat jelek itu kehabisan energi karena belum mendapatkan tumbalnya. Serangannya semakin kacau bahkan meleset. Berkali-kali ia menyerang Sari tapi seolah menghantam ruang kosong. Sari tersenyum, ini kesempatan baginya untuk segera mengakhiri wanita tua itu.
__ADS_1
Sekarang saatnya, rasakan ini wanita tua jelek!