
Menjelang malam Bagas dan timnya berkumpul untuk membahas hasil liputan yang tertunda. Waktu yang semakin terbatas membuat Bagas harus mengambil keputusan secepatnya agar memenuhi deadline dari pak Arya.
Ahmad dan Rara ditugaskan Bagas untuk kembali ke Semarang dan membawa hasil liputan sintren. Sementara Bagas, Doni dan Sari akan melanjutkan liputan misteri selanjutnya.
Draft tugas mereka sudah dikirimkan melalui email oleh Pak Arya. Secara berkala mereka akan memberikan laporan perkembangan liputan yang dikirimkan langsung melalui surel Bagas.
"Kalian pulang dulu, liputan sintren rencananya naik Senin depan. Tim produksi berita dah nagih hasilnya ke kita." kata Bagas membuka diskusi malam itu.
"Format video udah aku kirim ke mereka Gas, sambil nunggu kita datang mereka kan bisa bikin pake itu dulu." sahut Ahmad
"Bagus deh, biar nggak cerewet mereka. Lo ma Rara balik dulu ke kantor. Gue mau selesaiin untuk produksi tari topeng sama galeri ke pak Koswara dulu." ujar Bagas.
"Kamu dah laporan pak Arya?" tanya Sari
"Udah, aku juga udah ceritain semua. Dia ngijinin kamu rehat sementara." jawab Bagas
"Thanks, nanti aku juga hubungi pak Arya secara pribadi mau minta cuti sekalian." kata Sari
"Thanks doang nih Sar, diih asem?!" sahut Bagas
__ADS_1
"Ahh, terus maunya gimana nih?!" tanya Sari geli.
"Yaa pake apa kek, biar semangat dikit gitu!"
"Hmm, belum muhrim! Halalin dulu baru dah!" Doni menimpali ucapan Sari.
"Nah, Lo demen banget nyamber Don! Besok abis kelaran semua gue lamar Sari, takut keduluan Lo!"
"Lah ngapain nunggu besok, noh ada Mak bapaknya lamar aja sekarang Gas. Pake segala nunggu giliran gue khilaf tau rasa Lo!" ancam Doni dengan wajah serius.
"Bentar ... ATM gue masih belum cukup, Semarang Belanda jauh Don, berat diongkos! Awas aja lo kalo berani nikung gue, Don! SP3 keluar nih!" ancam Bagas membuat mereka semua tertawa.
Mereka menoleh ke arah suara berat yang tiba-tiba saja menyapa saat diskusi.
"Eh pak Adit, boleh pak. Gimana udah mendingan kan?" tanya Bagas.
"Alhamdulillah jauh lebih baik. Makasih atas bantuannya Sar?!" jawab Pak Adit
"Alhamdulillah ikut seneng dengernya, sama-sama pak sudah kewajiban sesama muslim buat saling membantu." jawab Sari
__ADS_1
"Maafin saya Sar, denger gitu saya jadi malu sendiri. Saya sudah jahat ke kamu bahkan mau bunuh kamu segala." Pak Adit mengingat kelakuannya pada Sari yang telah dibutakan dendam.
"Saya sudah maafin bapak kok. Lagian ini semua cuma salah paham aja kan."
"Pak maaf sebelumnya tapi saya penasaran gimana bisa pak Adit ketemu sama pak Gani? Bapak kan nggak kenal siapa siapa disana?" tanya Sari yang penasaran.
"Asisten saya Sar, mereka yang nyariin buat saya dari informasi warga sekitar." jawab Pak Adit.
"Oh gitu, terus pak Gani gimana sekarang?" tanya Sari lagi.
"Saya nggak tahu pasti juga, ada yang bilang Gani sudah mati ada yang bilang dia sekarang menggila entah mana yang benar saya juga kurang tahu."
"Terakhir saya ketemu pas mau bikin kamu celaka itu. Tapi entah gimana yang kedua itu si Gani seperti gelisah setelah berhasil ngelakuin tugasnya. Ia ngusir saya pergi setelah minta bayaran, dan besoknya tiba-tiba saya diserang sakit yang luar biasa." Pak Adit menjelaskan pada Sari apa yang terjadi padanya.
Sari diam, itu pasti karena Sari berhasil melawan teluh yang dikirim dengan bantuan Mang Aa dan juga Kang Malik. Sari masih ingat betul perkataan Mang Aa, setiap teluh memiliki efek yang tidak bisa diprediksi oleh si dukun sendiri baik itu berhasil atau tidak.
Sari yang merupakan salah satu trah Siliwangi memiliki pelindung yang tidak bisa dianggap sepele. Dan Gani tidak memperhitungkan hal itu. Dari cerita Pak Adit Sari bisa menebak jika pak Gani saat ini bisa jadi sudah tewas sama seperti yang terjadi pada Arjuna dan Mang Usep.
Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai … balasan itu dibayar tunai tanpa kredit!
__ADS_1