Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 84


__ADS_3

Pak Koswara mengingatkan Sari tentang kakak tertuanya, Mang Usep. Dialah pemilik galeri seni yang dimaksud Seno. Seno sendiri bisa bekerja di galeri itu atas rekomendasi dari Pak Koswara. Seno adalah murid terbaik Pak Koswara, saat Mang usep membutuhkan tenaga kerja ia pun mengajukan Seno untuk bisa bekerja disana.


Rumor bahwa Mang Usep menjadi pemuja setan sebenarnya telah diketahui Pak Koswara tapi sebagai adik ia menganggap semua itu hanya cerita buatan orang yang tidak menyukai keberhasilan Mang Usep.


Namun, ia tetap berusaha mencari tahu apa penyebab muncul rumor itu secara diam-diam. Ia tidak ingin kakaknya terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama itu, ia pun menyebar mata-mata termasuk memanfaatkan Seno.


Rumor itu benar adanya bahkan Mang Usep mengajak Juna, putranya untuk mengikuti jejaknya menjalani ilmu hitam.


Mengetahui kebenaran rumor itu, Pak Koswara tidak bisa berbuat banyak. Ia juga bingung bagaimana caranya menyadarkan kakak tertuanya itu.


"Pemilik galeri itu kakak Bapak?" tanya Sari tidak percaya.


Pak Koswara mengangguk, ia melihat kearah Ratih lalu mengajak Sari menjauh.

__ADS_1


"Saya minta tolong ke mbak Sari, jangan pernah datang ke galeri itu mbak. Bahaya, saya takut mbak Sari celaka."


"Saya harus mencari keberadaan Tante saya pak, dan itu penting. Galeri itu tempat terakhir yang dikunjungi Tante saya!"


"Masalahnya mbak, tempat itu sudah ditandai!"


"Ditandai gimana ini maksud, saya gak paham."


"Perjanjian dengan setan yang dibuat kakak saya nggak main-main mbak. Mereka meminta tumbal setiap tahunnya dan itu jumlahnya semakin banyak!" 


Sari masih mendengarkan, "Setiap pengunjung yang akan menjadi tumbalnya ditandai oleh mereka. Korbannya wanita cantik seperti mbak Sari ini. Saya peduli dengan keselamatan mbak Sari, jadi tolong mbak jangan gegabah!"


"Gimana kalau Bapak bantu saya, kita kesana bareng. Kalau kita kesana sama-sama setidaknya ada rasa sungkan untuk menjadikan saya tumbal kan?" kata Sari mengejutkan Pak Koswara.

__ADS_1


"Mbak Sari, orang dalam pengaruh jahat seperti itu nggak bakal liat teman ataupun saudara. Saya nggak jamin mbak Sari selamat. Maaf tapi saya nggak bisa bantu mbak. Saya cuma bisa mengingatkan saja!" 


Sari menarik nafas panjang, perkataan Pak Koswara ada benarnya. Seseorang yang terikat perjanjian setan seperti itu tidak akan peduli dengan siapa pun. Rasa empati dan simpati mereka akan hilang dan berganti dengan keinginan untuk mewujudkan impian mereka melalui tumbal yang diberikan bagaimanapun caranya.


"Terimakasih atas infonya pak, ini sangat berguna. Setidaknya saya tahu siapa dan apa yang bakalan saya hadapi. Kami permisi pulang pak?!" 


"Baiklah kalau itu keputusan mbak Sari, hati-hati aja mbak. Tugas saya hanya mengingatkan mbak Sari, selebihnya terserah mbak saja." jawab Pak Koswara datar.


Sari menarik tangan Bagas dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Doni memandang ke arah Ratih sejenak lalu beranjak mengikuti langkah kedua sahabatnya. Sari masih diam seribu bahasa, pikirannya masih tertuju pada cara mendekati galeri seni itu. 


Rombongan Bagas akhirnya berangkat menuju Cirebon. Bagas memberi kabar pada Pak Arya tentang hasil liputan mereka. Mengetahui mereka kembali ke Cirebon, pak Arya justru menugaskan mereka untuk kembali mencari bahan liputan tambahan di kota Cirebon. 


Tentu saja Bagas menyetujuinya karena itu berarti memberikan waktu tambahan untuk membantu Sari menemukan jawaban dari misteri menghilangnya Tante Danique.

__ADS_1


__ADS_2