Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 79


__ADS_3

Sari seketika limbung, pandangannya kabur sejenak dunia seolah berputar di matanya. 


"Eeh, Sar!" Bagas segera menangkap tubuh Sari agar tidak terjatuh ke lantai.


Sari hilang kesadaran sejenak, harapannya mendapat petunjuk memang terwujud tapi sungguh ia tidak mengira jika yang didapat justru kabar tidak menyenangkan.


Aura jahat yang menyelimuti Tante Danique, bayangan hitam yang menyambar Tante Danique saat datang dalam mimpinya, dan perkataan Mang Aa tempo hari merujuk pada satu kata. Tumbal.


"Sar, Sari … sadar!" Bagas menepuk nepuk pipi Sari sementara Ratih mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Sari.


Perlahan Sari membuka matanya, Bagas membantunya duduk dengan baik. 


"Pusing?"tanya Bagas lagi


"Sedikit." 


"Maaf, mbak Sari yang memaksa saya untuk bicara dan hanya itu yang saya tahu."kata Seno meminta maaf.


"Nggak apa kok mas, saya cuma shock aja dengernya. Nggak ngira bakal dapat jawaban seperti itu."


"Apa mas yakin kalo tantenya Sari itu dijadikan tumbal sama pemilik sanggar?"tanya Bagas.

__ADS_1


"Saya dan yang lain cuma menduganya saja mas tapi memang ada yang aneh dari gelagatnya. Dan setelah wanita itu menghilang sanggar mengalami kemajuan pesat."jawab Seno


"Bukan kali itu saja mas, sebelum dan sesudahnya pasti selalu saja ada pengunjung yang menghilang. Kami yang bekerja disana juga sebenarnya takut mas!"


"Takut gimana nih?" 


"Ya takut jangan-jangan kami berikutnya, makanya saya putuskan untuk cuti sebagai alasan pulang!"


"Mas Seno jawab jujur pertanyaan Sari, mas Seno ada disana kan saat Tante Danique jatuh pingsan?"tanya Sari yang membuat Seno terkejut.


"M-mbak Sari kenapa tahu, saya nggak pernah cerita ke siapapun tentang hal itu?"


Seno terdiam, pikirannya melayang jauh pada kejadian beberapa tahun silam.


"Den Juna anak pemilik sanggar jatuh cinta sama wanita Belanda itu mbak, dia pake pelet buat dapetin itu bule. Istrinya nggak terima dan terjadilah keributan besar."


"Jadi istrinya yang benturin kepala Tante Danique?"


Seno sedikit terkejut karena Sari mengetahui kejadian itu ia lalu menganggukkan kepalanya.


"Saya cuma disuruh nemenin bawa tu bule ke rumah sakit abis itu saya nggak tahu lagi mba."

__ADS_1


"Mas Seno kapan terakhir liat Tante Danique?" tanya Sari


"Ya waktu saya ikut anter den Juna ma bule itu ke rumah sakit mba. Den Juna minta saya pulang katanya dia yang mau urus semuanya." 


Seno gelisah, ia seperti ketakutan pada sesuatu. 


"Mbak, tolong saya jangan dibawa-bawa ya masalah ini. Tolong jangan sebutin nama saya kalo mbak mau kesana. Saya cuma mau hidup tenang bareng Ratih disini!"


"Mas Seno tenang aja saya nggak akan bocorin. Makasih atas infonya juga waktunya, maaf sudah mengancam mas Seno tadi, saya nggak ada niat untuk itu."sahut Sari berusaha menenangkan Seno.


"Udahan ini urusan kita Sar?"tanya Bagas sambil membantu Sari berdiri.


"Aku rasa sudah cukup, kita pulang sekarang. Mbak Ratih, mas Seno kami pulang yaa … maaf sudah ganggu waktu kalian."kata Sari berpamitan pada mereka berdua.


Mereka bertiga pun kembali ke rumah Abah Hadi. Tak satupun yang berbicara sepanjang jalan pulang. Sari sibuk dengan pikirannya, sementara Bagas dan Doni tidak ingin menambah kalut pikiran Sari dan membiarkannya tenang tanpa menanyakan apa pun.


Setibanya di kediaman Abah Hadi, Sari langsung masuk ke kamar dan mencari buku tua itu. Sementara Bagas memerintahkan yang lainnya untuk berkemas. Besok mereka ikut bersama Mang Aa dan Mas Hendra pulang ke Cirebon, keputusan ini diambil Bagas untuk bisa menemani Sari menyelesaikan masalahnya. 


Sari masih termangu di depan buku tua itu. Tangannya mengusap sampul buku yang telah usang. Buku tebal berwarna kecoklatan, buku itu terbuat dari kertas daur ulang. Beberapa lembar dari buku itu sudah termakan usia. 


Sari janji nemuin Tante, bantu Sari Tante Danique …,

__ADS_1


__ADS_2