
Sari dan timnya kembali ke rumah Abah Hadi. Mbak Diah sudah menyambut mereka dengan makanan dan minuman untuk cemilan sore hari. Mereka melepas penat sejenak setelah lelah bekerja dari hari kemarin.
"Mbak, disini ATM terdekat ada dimana?" Tanya Sari sambil meminum teh manis hangat buatan Mbak Diah
"Nggak jauh kok Sar, dekat pertokoan sebelum masuk desa ini. Kenapa nanya ATM kamu butuh uang? Pake punya mbak dulu aja?!" Tanya Mbak Diah
"Iya mbak, ada perlulah … eh, nggak usah mbak ngrepotin nanti." Jawab Sari
"Halah, mang kamu juga biasa ngrepotin kok," goda mas Hendra
"Diih kapan Sari ngrepotin mas Hendra?"
Mas Hendra dan mbak Diah tertawa melihat ekspresi wajah Sari.
" Gas, anter yuk ke ATM mumpung belum magrib nih?!" Pinta Sari
"Oke, bentar aku minum kopinya dulu!" Jawab Bagas
"Eh, serius kalian mo ke ATM nih nda pinjem uang mbak aja?" Tanya Mbak Diah
"Serius mbak, lagian Sari butuh banyak mbak."
"Buat apa, keperluan liputan?" Tanya mas Hendra heran
"Buat ganti rugi ke Pak Koswara mas," sahut Bagas membantu Sari menjawab
"Uang ganti rugi?!" Mas Hendra masih tidak mengerti juga
"Uhm, lima juta," jawab Sari
__ADS_1
"Haaah!"
Semua yang ada disitu terperanjat dengan jumlah yang diucapkan Sari.
"Banyak amat Sar, gila tu si Koswara nda liat saya apa disini!" Seru mas Hendra kesal
"Udahlah mas, Sari yang setuju kok salah Sari juga."
"Kamu kenapa nggak bilang sama mas sih ada masalah begini Sar, kan mas bisa bantu ngomong ma si Koswara itu. Edan meres orang namanya dia?!" Kata mas Hendra kesal
"Dah nda usah diperpanjang, Sari ikhlas kok ya anggap aja itu sebagai balas jasa boleh meliput kegiatan mereka." Sahut Sari dengan entengnya.
"Ya nggak gitu dong Sar, mang seberapa sih kerugiannya mpe harus bayar lima juta?"
"Kerugian immaterial mas, itu tak ternilai." Jawab Sari
Mas Hendra rupanya kesal dengan keputusan Sari yang tidak mengajaknya berunding lebih dulu. Sari dan Bagas segera pergi sebelum hari beranjak gelap.
"Sari, tunggu gue ikut sekalian mo ambil uang juga?!" Kata Doni berlari dengan tergesa-gesa
Mereka bertiga pergi menuju pertokoan yang dimaksud Mbak Diah. Di persimpangan jalan mobil yang mereka tumpangi berpapasan dengan mobil Pak Adit.
"Eh itu bukannya pak Adit ya, mau kemana atau dari mana mereka ya?" Kata Bagas yang penasaran dengan Pak Adit
"Iya tuh mau kemana ya mereka mpe nggak liat kita lho, ikutin yuuk?" Ajak Sari
"Eh ngapain ngikutin mereka jangan gila Lo Sar?!" Cegah Doni
"Dah diem aja deh Lo dibelakang, gue juga penasaran Don, ma si Adit mencurigakan!"
__ADS_1
"Pokoknya kalo ada apa-apa gue nda ikutan yak, takut honor gue dipotong ni!" Sahut Doni
"Halah baru juga honor Don gitu aja takut," ujar Bagas
"Honor kan hidup gue Gas, honor hilang masa depan gue tambah surem dah!" Kata Doni.
"Sssst … udah diem kalian, heran saya berantem mulu kerjaannya tiap ketemu. Jadi ngikutin nda nih?!" Tanya Sari kesal
"Ini juga lagi ngikutin Sar." Jawab Bagas
Mereka dengan hati-hati mengikuti mobil Pak Adit, Bagas sengaja memberi jarak yang aman agar mereka tidak terlihat.
Mobil Pak Adit akhirnya berhenti di sebuah
rumah yang untungnya berada di pinggir jalan sehingga mereka bisa tetap membuat jarak aman tanpa terlihat.
Pak Adit terlihat turun dari mobil ditemani 2 asistennya. Tangannya tampak membawa sebuah bungkusan tas plastik warna hitam.
"Mereka mau ngapain ya?" Gumam Sari sendiri.
"Sar, aku coba tanya ma warga sekitar deh itu rumah siapa. Aku curiga ni ma Pak Adit, itu ada warung di belakang kita coba aku cari informasi dulu?!" Kata Bagas
Sari mengangguk dan tetap memperhatikan ke depan, berharap Pak Adit segera keluar. Sementara Bagas berpura-pura membeli minum dan rokok untuk mencari informasi.
Doni masih berharap harap cemas menunggu Bagas kembali, berulang kali ia terus menatap ke arah Bagas.
"Gila … ini bener-bener gila, yuuk kita cabut aja!" Seru Bagas sambil masuk ke dalam mobil
Sari dan Doni terkejut mendengarnya, dan saling bertatapan dengan sejuta tanya.
__ADS_1