
Sari berteriak, rasa takut melanda dirinya. Entah bagaimana ia bisa berada ditempat yang berbeda dari sebelumnya. Ia takut. Takut terjebak dalam dunia yang ia sendiri belum pahami. Takut jika ia tidak bisa kembali pulang ke alam nyata lagi.
"Sar … Sari, Lo ngelamun apa kerasukan nih bangun!"
Sari mendengar suara yang ia kenal, itu Doni. Perlahan ia membuka matanya dan menemukan dirinya telah kembali berada dalam mobil bersama Bagas dan Doni.
"Alhamdulillah, balik juga aku." Ujar Sari dengan lemas.
"Eeh, balik? Mau pulang?" Tanya Bagas keheranan.
"No, bukan gitu tadi aku lihat sesuatu lagi Gas,"
"Buset dah ni anak, dikit dikit liat sesuatu ngeri gue dengernya!" Keluh Doni
"Lha orang dateng ndiri Don, aku nda minta buat liat." Sahut Sari sedikit kesal
"Udah gak usah ribut, kamu liat apaan?" Tanya Bagas.
"Penari bertopeng, dia dibunuh Gas!" Jawab Sari
"Hah, dibunuh!" Seru Bagas dan Doni bersamaan.
Sari pun menceritakan apa yang dia lihat, bagaimana si penari itu dibunuh dan dibuang begitu saja ke dalam jurang. Ia juga menceritakan tentang mimpinya yang sama persis seperti yang tadi yang dilihatnya.
"Kok bisa gitu ya, aneh?" Gumam Bagas
__ADS_1
"Masalahnya apa penari bertopeng itu orang yang sama atau berbeda, kita kan nda tau … masih abu-abu, belum jelas!" Kata Doni.
"Iya juga sih Don, kita belum nemuin titik terangnya. Yang kita tahu buku ini setiap dibaca selalu nunjukin isyarat tertentu." Kata Sari mencoba mengingat ingat.
"Eeh, jadi kepikiran ma perkataan mas Al nih katanya penari itu sebenernya pengen kasih tahu sesuatu ke aku tapi akunya aja yang gak paham." Kata Sari lagi
"Mas Al bilang gitu?" Tanya Bagas
"Iya, aku belum bisa nerima hal-hal diluar logika jadi ibaratnya kemampuanku masih tersembunyi dan itu bikin aku nggak bisa mengerti kemauan si hantu penari."
"Ya kalo gitu gampang Sar, caranya tinggal kamu terima aja beres kan?" Sahut Doni.
"Main terima aja emang segampang nerima gaji tinggal tanda tangan jadi hak milik, ada syaratnya juga kali Don!" Seru Bagas.
Bagas kembali menyalakan mesin mobil, mereka kembali menyusuri jalan desa yang kanan kirinya dihiasi dengan padi yang telah menguning di sawah.
"Sar, kenapa sih Lo pindah ke belakang, gue jadi nggak enak ini ma kalian?"
Doni rupanya masih penasaran dengan sikap Sari yang tiba-tiba meminta pindah tempat duduk.
"Dah nggak perlu tahu, nti takut kamu!" Jawab Sari
"Nah kan malah penasaran deh gue, pasti ada demit kan disebelah gue?" Tanya Doni
"Dah tau nanya!" Sari menjawabnya singkat
__ADS_1
"Cakep?"
"Banget,"
"Cewek?"
"Iya, saking cakepnya tu muka kaya cat tembok putih pucat, tapi cat temboknya yang murahan jadi kalo kena matahari ma hujan terus menerus mengelupas kulitnya!" Kata Sari menjelaskan.
Bagas tertawa mendengar penjelasan Sari sementara Doni menunjukkan ekspresi nelangsa.
Untung aja gue nda ditaksir demit dah, coba kalo tadi dia naksir berabe gue jomblo permanen … batin Doni
Sari tertawa melihat ekspresi Doni, dan Bagas terus tertawa meledeknya sepanjang jalan. Mobil yang mereka tumpangi berpapasan dengan rombongan warga yang sepertinya hendak melihat sesuatu.
"Apaan tuh Gas, ada sintren lagi?" Tanya Doni penasaran
"Tau dah, sintren kan cm pak Koswara yang pegang itu kayaknya lain?"
Mereka penasaran dan Bagas memutuskan untuk menepikan mobil. Warga berbondong-bondong datang ke suatu tempat. Suara tabuhan musik khas pagelaran tari terdengar dari kejauhan. Sari yang penasaran bertanya pada salah satu warga,
"Maaf mau nanya pak, ada apa ya di depan sana?" Tanya Sari sopan
"Ada pagelaran wayang orang mbak." Jawab seorang warga yang sedang menggendong seorang anak kecil.
"Wayang orang?"
__ADS_1