
Mas Hendra dan mbak Diah mengabarkan pada Sari agak sedikit terlambat karena harus menunggu asisten mbak Diah yang masih terjebak macet di Palimanan.
Bagas, Doni, dan Sari sudah berada di rumah Mang Aa. Mereka menunggu Mang Aa keluar dari kamar pribadinya, tempat dimana biasa Mang Aa melakukan meditasi dan ritual sejenisnya.
Tidak ada aroma kemenyan, dupa, hio dan sejenisnya karena memang Mang Aa tidak memakai hal-hal semacam itu. Ia hanya memakai beberapa wewangian tertentu saja. Tentu saja kembang telon atau kembang tujuh rupa tetap dipakai sesuai keperluan dan air yang berasal dari sumur.
Mereka menunggu Mang Aa dengan sabar, sekitar satu jam kemudian Mang Aa keluar dari kamarnya. Dia membawa bungkusan berisi bunga dan air doa dalam botol.
" Maaf, lama ya nunggunya." Kata Mang Aa
" Ya mang, nda apa kok kita juga sambil tunggu mas Hendra," sahut Sari
" Bagas, ini mamang buat khusus buat kamu simpan ini baik-baik di dompet kamu ya," pesan Mang Aa.
Mang Aa menyerahkan sebuah benda kecil berbentuk segi empat yang tertutup kain putih dengan aroma khas sama seperti yang diberikan pada Sari kemarin. Bagas yang keheranan dan baru pertama kali menerima hal seperti itu hanya bisa menganggukkan kepalanya meski dia sangat penasaran apa itu sebenarnya.
Seolah menjawab pertanyaan Bagas, Mang Aa menjelaskan benda itu
" Ini buat jagaan kamu disana, kamu harus kuat buat jagain Sari, Mamang titip dia selama disana ya,"
" Eeh, Sari kenapa emang harus dijagain mang?" Tanya Sari keheranan
" Bau kamu wangi Sar, Mamang takut kamu kenapa-kenapa disana. Kamu tahu kan maksud Mamang apa?" Tanya balik Mang Aa
" Yang akan kalian liput besok bukan sembarang budaya, ada campur tangan mistis di dalamnya. Kalian yang notabene hanya orang biasa harus punya backup untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan." Kata Mang Aa menjelaskan pada mereka bertiga
" Lah mereka dapet semua, saya nda dapat ni Mang?" Tanya Doni keheranan
" Ada...buat kamu juga Mamang buatin, kamu sebenarnya spesial nanti ada waktunya kamu bakalan jadi penyelamat." Ujar Mang Aa serius
__ADS_1
" Widiiiiiw keren gue Gas, jadi penyelamat...lu jangan macem-macem ma gue lho, I'm the saver man." Sahut Doni dengan bangga, sepertinya dia sangat senang pada perkataan Mang Aa.
Bagas, Sari, dan Mang Aa tertawa mendengarnya
" Iya penyelamat, tapi takut hantu." Ujar Bagas
" Palingan pingsan di datengin hantu penari dia," ledek Sari
Mang Aa mengerutkan keningnya mendengar perkataan Sari,
" Hantu penari?" Tanyanya
" Iya Mang Bagas juga Sari sejak sebelum datang kemari diteror sama hantu penari...dan itu terjadi sejak Sari menerima buku tua yang tadi siang Mamang tanyain," jawab Sari
Mang Aa terkejut mendengarnya dan sesuai dugaan Sari ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mang Aa dan Tante Kurnia. Mang Aa berusaha mengalihkan pembicaraan tentang hantu penari,
" Mungkin kalian terbawa suasana saja karena mau meliput sintren, nda usah terlalu dipikirkan fokus saja sama pekerjaan kalian." Kata Mang Aa
" Ni buat kamu simpan juga di dompet." Pesannya
" Mang ini ada yang bisa narik jodoh nda ya, saya butuh jodoh nii." kata Doni kembali sembarangan
Mang Aa hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Doni,
" Kamu mau? Besok setelah kerjaan kalian selesai mampir lagi kesini, nanti Mamang buatin untuk membuka aura kamu yang burem," goda Mang Aa
" Waduh...aura lu burem Don, persis kaya muka lu yang langes." Kata Bagas menimpali perkataan Mang Aa
" Tega bener mang bilang burem, saya pesen besok auranya tolong ganti jadi HVS aja dah yang mahalan dikit mang." Sahut Doni kesal
__ADS_1
Mereka bertiga pun tertawa melihat wajah kesal Doni.
...----------------...
Sudah mendekati magrib mas Hendra dan Mba Diah belum juga menampakkan batang hidungnya. Bagas mulai resah, ia khawatir kemalaman dan Pak Adit akan mengomel tidak karuan.
Hujan turun cukup deras saat mobil mas Hendra akhirnya memasuki pelataran rumah. Mbak Diah buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah,
" Assalamualaikum...maaf ni mbak telat asisten mbak baru datang tadi." Sapanya pada Sari dan yang lainnya
" Waalaikumsalam...iya mbak ndak apa-apa kita maklum kok," jawab Sari
Mas Hendra menyusul di belakang Mbak Diah,
" Semua sudah siap? Kita berangkat selepas magrib aja ya, sholat dulu nanggung." Kata Mas Hendra sambil mengecek ponselnya
" Semua sudah siap mas tinggal berangkat... bener mas ni dah mepet magrib, kita sholat dulu." Jawab Bagas
Tak lama adzan Maghrib berkumandang, mereka pun bersiap melakukan sholat berjamaah di pendopo, dan Mang Aa menjadi imamnya.
Usai sholat dan berdoa bersama memohon keselamatan bagi Sari dan tim, Mang Aa memberikan mereka masing-masing segelas air putih yang telah didoakan untuk diminum sampai habis.
Mang Aa dan Tante Kurnia melepas kepergian Sari dan tim, hingga menghilang dari pandangan mata
Akhirnya Sari dan timnya berangkat menuju desa Kroya kabupaten Indramayu diiringi hujan deras. Perjalanan menuju desa Kroya akan memakan waktu sekitar dua jam dari kota Cirebon.
...----------------...
" Mang...aku khawatir dengan Sari, apa dia bakal baik-baik aja disana?" Tanya Tante Kurnia pada Mang Aa
__ADS_1
" Tenang aku sudah magerin badan Sari, Bagas dan Doni bakalan jagain dia...Hendra juga sudah aku kasih tau buat jagain Sari, dia bakal hubungin kita kalau ada apa-apa ma Sari." Jawab Mang Aa
" Semoga dijauhkan dari hal-hal jelek lainnya, maafin tante mbak Sari..." gumam Tante Kurnia