Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 31


__ADS_3

Keesokan harinya Sari dan tim sudah bersiap untuk memulai liputan hari pertama. Mas Hendra dan Sari sepakat untuk tidak membicarakan kejadian semalam pada siapa pun. 


Namun Sari bertekad akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi bersama Bagas dan Doni yang pasti akan membantunya memecahkan misteri buku tua.


Sesuai janjinya Pak Edi datang pagi-pagi sekali untuk mengantarkan Sari dan timnya bertemu dengan Pak Dedeng Koswara, Ketua Paguyuban Seca Branti. 


"Assalamualaikum… " sapa Pak Edi ketika memasuki halaman depan rumah Abah Hadi


"Wa'alaikumussalam, eh Pak Edi sudah datang mari pak masuk dulu anak-anak lagi siap-siap tunggu sebentar ya." Sambut Mas Hendra


"Oh iya, maaf kepagian ya saya datangnya?" Tanya Pak Edi


"Ah nda kok, cuma anak-anak aja yang kesiangan pada bangun kecapean kayaknya… mari masuk dulu pak, ngopi dulu bentaran sambil nunggu mereka." Kata Mas Hendra menawarkan kepada Pak Edi.


"Boleh dah kalo nda ngerepotin." Jawab Pak Edi


Pak Edi pun menerima tawaran mas Hendra, tak berapa lama kemudian mereka menikmati minum kopi bersama sambil menunggu Sari dan yang lainnya siap.


Bagas, Ahmad dan Doni yang pertama siap dan menghampiri Pak Edi, tak lama kemudian kedua asisten Pak Adit datang menyusul.


" Lho Pak Adit kemana kok gak Dateng bareng?" Tanya mas Hendra pada asistennya


"Bapak lagi diluar mas mau ngerokok katanya, bentar lagi juga nyusul kesini ko." Jawab salah satu asistennya.


Benar saja tak berapa lama Pak Adit datang menyusul, anehnya wajah pak Adit tampak kusut seperti orang tidak tidur semalaman dan seperti sedikit gelisah. 

__ADS_1


"Pagi Pak Adit, nda bisa tidur ya kok kusut banget gt?" Tanya mas Hendra


"Oh… ya pagi mas Hendra, begitulah saya kecapean jadi agak susah tidurnya." Jawab Pak Adit sedikit bingung


Mas Hendra memperhatikan wajah Pak Adit saat menjawab, ada rasa penasaran dalam hati Mas Hendra karena Pak Adit sedikit bertingkah aneh. Namun ia berusaha menepis hal itu.


Sari dan Rara akhirnya selesai bersiap, dengan membawa tas yang berisi keperluan liputan ia pun bergabung di ruang tamu bersama yang lain. 


Pak Adit menatap Sari dengan pandangan yang aneh, ada raut bingung dan takut bercampur menjadi satu di wajahnya. Mas Hendra memperhatikan itu sedari tadi. Ia berganti menatap pada Pak Adit dan Sari.


Ada apa dengan Pak Adit kok lihat Sari seperti itu ya, mukanya jg kusut banget kayak gak tidur semalaman… batin mas Hendra


Perhatian mas Hendra terbuyarkan oleh pertanyaan dari Pak Edi,


" Diah mana Hen, ni sepertinya dah kumpul semua kita berangkat sekarang aja ya keburu siang nanti." Kata Pak Edi


Mas Hendra pun masuk mencari Mbak Diah yang sedang mengurus Abah Hadi, tak berapa lama mbak Diah pun muncul,


"Saya pamit mau bawa anak-anak muda ini ke rumah Mang Koswara." Kata Pak Edi


"Oh ya Pak silakan, makasih sudah mau bantuin Sari sama teman-teman nya nitip mereka ya pak." Kata Mbak Diah


Pak Edi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mas Hendra tidak ikut dalam rombongan karena harus menemani mbak Diah mengurus Abah Hadi.


"Jauh rumahnya dari sini pak?" Tanya Bagas

__ADS_1


"Gak ko cuman lima ratus meter dari sini, jalan kaki aja sambil olah raga." Jawab Pak Edi


"Setuju ni ma Pak Edi sambil liat-liat desa Gas kali aja nemu yang bening-bening gurih di jalan." Sahut Doni


Pak Edi yang bingung dan tidak mengerti dengan ucapan Doni hanya mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Doni,


"Maksudnya nak Doni  laper mau makan gitu?" Tanya Pak Edi polos


Bagas dan Doni saling berpandangan dan tertawa kecil,


"Eh bukan pak, maksud saya nemu cewek gitu yang cakepan maklum saya jomblo akut pak." Jawab Doni dengan senyum khasnya


"Oh cewek kirain nak Doni laper, tenang aja nti di rumah Pak Koswara ada banyak cewek cantik kok. Mereka semua penari sintren binaan pak Koswara." Kata Pak Edi


"Naaah ini, demen saya yang beginian kali aja salah satu bisa saya prospek jadi istri. Biasanya gadis desa kan bening-bening." Sahut Doni lagi dengan santai


"Bening sih bening Don, tapi kasian bersanding ma lo yang butek, kebawa surem masa depannya." Timpal Ahmad


"Yah ni anak pake segala ngingetin gue masa depan, kaya masa depan lo bagus aja Mad," ujar Doni


"Setidaknya gue masih punya pelangi di masa depan Don," sahut Ahmad tertawa kecil


Pak Edi dan yang lainnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.


Tak terasa mereka sampai di kediaman pak Koswara. Rumahnya cukup luas dengan sebuah aula khusus berukuran cukup besar mirip dengan pendopo di rumah keluarga besar Sari, berada di samping rumah utama.

__ADS_1


Sari melihat ke sekeliling rumah Pak Koswara, entah mengapa dia merasakan hawa aneh dan dingin sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Pak Koswara. Sesuatu telah mengusik kepekaan batinnya dan membuat Sari sedikit tidak nyaman dengan hal itu.


__ADS_2