
Jeritan tangis Sari yang memecah kesunyian malam membuat seluruh penghuni tersentak bangun terbebas dari sirep yang membelenggu mereka. Bagas terkejut ketika ia membuka matanya dan mendapati Mang Aa bersimbah darah dengan Sari yang sedang menangis disisinya.
"Astaghfirullah Sari, ada apa ini?" Bagas berteriak mendekati Sari dan memeriksa denyut nadi Mang Aa.
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un …" Bagas menundukkan kepalanya, ia ikut merasakan kesedihan Sari.
Teriakan Sari dan Bagas mengagetkan Doni dan juga yang lainnya, mereka tak kalah terkejutnya melihat pemandangan mengerikan yang terpampang jelas di depan mata. Sari yang juga berlumuran darah Mang Aa terus menangis histeris. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Mang Aa.
Mas Hendra dan Tante Kurnia keluar dari kamarnya setengah berlari. Tante Kurnia langsung seketika jatuh terduduk melihat jenazah Mang Aa yang terbujur kaku bersimbah darah. Mas Hendra mendekati dan memeluk tubuh Sari yang seolah lemas tak bertulang.
"Maafin Sari mas, Sari nggak bisa jagain Mang Aa!" katanya sambil terisak dalam pelukan Mas Hendra.
"Udah jangan salahin diri kamu, ini takdir dari Yang Kuasa!" Mas Hendra berusaha menenangkan Sari yang terus menangis.
Tante Eka, istri Mang Aa seketika pingsan melihat jasad suami tercintanya. Begitu juga dengan putri semata wayangnya. Tidak ada yang menyangka kepergian Mang Aa yang begitu cepat dan tragis.
Mas Hendra melepaskan pelukannya pada Sari dan meminta Bagas menggantikan dirinya menjaga Sari yang terus menangis.
__ADS_1
Ia memeriksa dengan seksama tubuh Mang Aa dan menemukan jejak energi jahat pada tubuh Mang Aa.
"Ini teluh yang dikirimkan seseorang." gumamnya.
"Mang Usep pelakunya!" jawab Sari
"Kamu yakin?" yanya Mas Hendra diikuti anggukan kepala Sari.
"Sari sudah bikin mati mereka berdua!" jawaban Sari membuat mas Hendra terkejut.
"Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa!" kata Sari lirih dengan menatap kosong jasad Mang Aa.
Tante Kurnia menangisi kepergian adik kesayangannya. Ia tidak menyangka, adiknya itu akan tewas dengan cara menyedihkan. Istri Mang Aa pun tak kalah menyedihkan, ia bahkan berkali-kali pingsan dan harus dibawa ke kamar untuk ditenangkan mas Hendra.
Tangisan Tante Eka terasa begitu menyayat hati Sari. Andai ia bisa menggantikan Mang Aa untuk tetap hidup. Dirinya merutuki ketidaksiapannya menghadapi lelaki berwajah mengerikan semalam.
Meski Arjuna dan Mang Usep juga telah tewas di tangannya tapi Sari masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri atas meninggalnya Mang Aa. Tatapan matanya kosong, memori tentang Mang Aa terus berputar di benak Sari.
__ADS_1
Masih terekam jelas dalam ingatannya saat Sari berada di Keraton Kasepuhan. Mang Aa begitu sabar menghadapi Sari yang terus menolak eksistensi dirinya sebagai salah satu trah Siliwangi.
Mang Aa pun dengan sabar mengajarkan Sari beberapa mantra untuk perlindungan diri meski Sari sering bertindak nyeleneh dan asal-asalan. Mang Aa selalu tersenyum dan tidak pernah marah sedikitpun kepadanya.
Sekarang tidak ada lagi Mang Aa yang bisa dimintai pertolongan. Tidak akan ada lagi antrian orang yang datang kerumah Tante Kurnia. Tidak ada lagi Sang Pangeran Seribu Jin yang menjadi julukannya selama ini.
Mas Hendra dan om Bambang bergerak cepat untuk mengurus jenazah Mang Aa. Setelah melakukan rapat keluarga sejenak mereka memutuskan untuk menutup rapat kejadian memilukan ini. Ahmad dan Doni membantu Mas Hendra memindahkan jenazah Mang Aa ke tempat yang lebih layak.
Asisten rumah tangga Tante Kurnia segera membersihkan lantai dari percikan darah Mang Aa. Bau anyir masih tercium meski mereka telah menggunakan pembersih lantai selama beberapa kali. Mas Hendra dibantu keponakan lelaki lainnya segera memindahkan jenazah Mang Aa untuk dimandikan. Hanya keluarga inti yang diperbolehkan menyentuh jenazah Mang Aa.
Sementara Sari, masih diam membisu dengan tatapan kosong. Bagas terus menghiburnya agar tidak larut dalam kesedihan. Rara membantu Sari membersihkan dirinya dari lumuran darah Mang Aa.
Semuanya larut dalam duka yang mendalam. Mang Aa adalah sosok penolong dan penyembuh yang rendah hati dimata setiap orang. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba membawa duka bagi orang-orang yang mengenalnya.
__ADS_1