
Hari menjelang sore, mereka bertiga memutuskan untuk segera pulang. Setelah berpamitan dengan Kang Yana, Sari pun kembali ke rumah Tante Kurnia. Ahmad dan Rara menyambut kedatangan mereka.
"Lama amat sih Gas? Sampai lumutan kita nungguin kalian datang?" keluh Ahmad.
"Sorry deh, ada sedikit masalah yang harus kita urus." jawab Bagas
Sari, Doni dan Rara masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Ahmad menghentikan langkah Bagas dan menanyakan sesuatu,
"Gas, lo nggak khawatir sama pak Adit ni? Dia nggak keliatan lho dari kemarin, apa beneran nggak bisa dihubungin?" Tanya Ahmad yang heran dengan ketidakmunculan pak Adit pada Bagas.
"Tau dah gue juga bingung. Ehm, ada yang mau gue omongin ni sama Lo?!"
Bagas mengajak Ahmad keluar rumah dan duduk di kursi kayu dekat mobil mereka terparkir.
"Ngomong apaan sih, serius amat?" tanya Ahmad penasaran.
"Ini, tentang Pak Adit."
"Pak Adit? Kenapa lagi sama dia, ada masalah?" tanya Ahmad yang semakin dibuat penasaran oleh tingkah Bagas.
Bagas berdecak dan menarik nafas panjang. Ia kemudian berbisik pada Ahmad menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada pak Adit.
__ADS_1
Ahmad terkejut dan tidak percaya, ia menatap Bagas berharap apa yang di dengarnya salah.
"Gila, serius Lo jangan ngadi-ngadi dah bahaya lho ini?!"
Bagas memberikan isyarat diam dengan telunjuknya pada Ahmad. Ia kembali berbisik pada Ahmad dan memintanya untuk menjaga rahasia.
"Ngerti kan maksud gue Mad?" tanya Bagas setelah menceritakan semuanya pada Ahmad.
"Duh kenapa jadi begini sih urusannya Gas? Trus sekarang apa rencana Lo ma Sari sekarang?"
"Kita masih cari petunjuk Mad, buat nyelesain kesalahpahaman Sari dan Pak Adit. Sementara ini tolong kamu cover Pak Arya. Dia pasti crosscheck ke kamu tentang Pak Adit, Lo tahu sendiri kan gimana Pak Arya?!" pinta Bagas pada Ahmad.
Ahmad bingung dan masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan Bagas.
"Kebetulan yang tidak disengaja Mad." sahut Bagas.
"Oke dah demi tim kita, gue bakalan bantuin kalian. Apa yang kalian butuhin bilang aja ke gue pasti gue bantu. Semoga aja cepat selesai semua." ujar Ahmad sambil menepuk bahu Bagas.
"Siiiplah, gue yakin Lo bisa diandalkan Mad, thanks ya!"
Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lain setelah membersihkan diri.
__ADS_1
Selepas Magrib, Sari dan tim ditemani Mang Aa juga keluarga kecil Tante Kurnia berkumpul di pendopo sekedar melepas penat. Canda tawa mengisi keakraban diantara mereka.
Tante Kurnia kemudian menyiapkan makan malam dibantu Sari dan kedua putrinya. Sambil menyiapkan makan malam Sari menanyakan sesuatu pada Tante Kurnia.
"Tante tau nggak tentang apa risetnya Tante Danique itu?"
"Tantemu itu nggak pernah cerita, tapi temannya pernah bilang mereka sedang mempelajari tari topeng khas Cirebon." jawab Tante Kurnia sambil menuangkan sayur dalam mangkuk besar.
" Dimana Tante?"
"Kalo nggak salah … ada galeri seni di sekitaran Keraton Kasepuhan, disana mereka belajar tari Topeng."
Sari diam, itu jawaban yang sama dengan Seno. Itu berarti galeri seni itu memang ada dan Sari ingin mencarinya.
"Persisnya Tante tahu nggak letaknya dimana?" tanya Sari
"Tante nggak tahu kalo itu mbak Sari, coba tanya Mang Aa dia kan sering kedaerah situ!" jawab Tante Kurnia.
Sari menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dalam hatinya ia bertekad akan mencari galeri seni itu sampai dapat. Keberadaan Tante Danique mungkin benar ada di Kaki gunung Ciremai tapi ia harus mencari tahu dulu apa dan kenapa mereka menjadikan Tante Danique tumbal.
Seseorang harus menjelaskan semuanya secara logika untuk Sari. Dan Sari tidak akan menyerah sampai menemukan jawaban atas menghilangnya Tante Danique.
__ADS_1
Nog een stap, ik zal je tante Danique vinden. Wees geduldig!)
(Selangkah lagi, aku akan menemukanmu Tante Danique. Bersabarlah!)