
Berita meninggalnya Mang Aa tersebar dengan cepat dikalangan tetangga dan relasi kerjanya. Kepergian Mang Aa yang begitu tiba-tiba cukup mengejutkan berbagai pihak. Rumor pun beredar tak terkendali. Dugaan Mang Aa terkena teluh dan kalah dari dukun santet pun menyebar.
Kasak kusuk tetangga yang usil tentang kematian Mang Aa sampai juga ke telinga Sari membuat ia sedikit gerah. Rasanya Sari ingin menjelaskan perkara sebenarnya tentang kematian paman kesayangannya. Namun, mas Hendra mencegahnya.
"Jangan bicara apapun kepada siapapun juga. Ini adalah rahasia kita. Biarlah rumor itu beredar nanti juga hilang sendiri Sar!" Mas Hendra mengingatkan Sari untuk berdiam diri.
Sari menuruti perkataan mas Hendra, ia tidak ingin lagi berdebat seperti biasanya. Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Sari bukannya tidak mampu menghadapi lawan semalam ia hanya sedikit terkejut karena baru kali pertama menghadapi jin pembawa teluh sendirian.
...----------------...
Seperti kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama. Setiap manusia akan dikenal dan dikenang sesuai perbuatannya baik dan buruk di dunia.
Nama baik akan lebih berharga daripada harta karena nama baik akan dikenang saat kita mati. Sedangkan nama buruk atau belangnya baru akan terlihat dan terungkap ketika kita mati.
Mang Aa dikenal sebagai orang baik, ramah, selalu tersenyum, dan menolong tanpa pamrih. Terlepas dari kemampuannya dalam hal gaib, ia lebih dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan. Itu sebabnya para pelayat yang datang begitu banyak, datang silih berganti untuk memberikan kekuatan kepada mereka yang ditinggalkan.
Berbanding terbalik dengan Mang Usep dan Arjuna yang terlihat baik tapi menyimpan dusta dan keburukan.
Berita kematian ayah dan anak ini juga segera menyebar luas baik dilingkungan sekitar, pelaku seni, dan juga para ahli ilmu hitam. Yang keluar dari mulut mereka hanya umpatan, cacian dan hinaan.
Hanya sedikit sekali para pelayat yang datang ke galeri seni. Mereka yang selama ini memendam rasa benci dan kesal pada Mang Usep dan anaknya merasa lega karena akhirnya mereka bisa terkalahkan. Kelakuan mereka berdua telah meresahkan warga sekitar dan juga para danyang penjaga lingkungan.
...----------------...
__ADS_1
Jenazah Mang Aa yang telah dimandikan disemayamkan di ruang tamu. Tante Eka masih tidak kuasa menahan kesedihannya. Berulang kali ia pingsan dan tak sanggup menahan kesedihan. Tante Kurnia terus berada disisi Mang Aa dan mulutnya tidak berhenti memanjatkan doa untuk adik tercintanya.
Sari duduk termangu didampingi Bagas dan Doni mengenakan pakaian serba hitam. Tatapannya kosong, ia bahkan belum mengisi perutnya dengan apa pun. Air mata terus mengalir dalam diamnya. Bagas yang khawatir melihat keadaan Sari membujuk Sari untuk mengisi perutnya dengan makanan kecil.
"Sar, makan dulu nanti kamu sakit."
Sari hanya menggelengkan kepalanya. Bagas tidak kehilangan akal, dia berinisiatif menyuapi Sari dengan roti manis yang dia beli. Sari tetap tidak bergeming, mulutnya tertutup rapat. Matanya hanya tertuju pada tubuh Mang Aa yang telah berbalut kain kafan.
"Sar, makan deh dikit. Ngemil roti tuh, Bagas dah beliin buat Lo. Jangan nyiksa diri, nanti malah yang ada Lo sakit!" Doni pun berusaha membujuk Sari.
"Nggak laper." jawab Sari singkat.
"Dikit aja Sar, sayang ni roti mubazir." timpal Bagas.
Mereka berdua menyerah, Sari hanya mau minum saja dirinya tidak berselera untuk makan. Ia memilih mendekati jenazah Mang Aa, memeluknya dan membisikkan kata maaf ditelinga Mang Aa. Tangisnya kembali pecah saat membacakan surat Yasin untuk Mang Aa.
Waktunya jenazah Mang Aa diberangkatkan ke peristirahatan terakhirnya. Sebelumnya jenazah Mang Aa dibawa ke masjid setempat untuk disholatkan.
Pelayat yang ikut serta dalam sholat jenazah cukup banyak hingga meluber keluar pelataran masjid. Cuaca hari ini seolah ikut berduka atas meninggalnya Mang Aa, awan mendung menyelimuti kota Cirebon.
Mang Aa dimakamkan di pemakaman yang terletak berseberangan dengan rumah Tante Kurnia. Titik-titik air hujan mulai turun saat jenazah Mang Aa diturunkan ke liang lahat. Isak tangis masih terdengar dari Tante Kurnia dan Tante Eka, istri Mang Aa.
Sari yang berdiri tepat disisi kanan liang lahat sesekali mengusap air matanya. Bagas memeluk Sari memberikan kekuatan untuknya. Begitu juga Doni yang sesekali mengusap punggung Sari untuk menenangkan sahabat cantiknya.
__ADS_1
Suara adzan dikumandangkan mas Hendra membuat suasana semakin syahdu dan larut dalam kesedihan. Hati siapa pun akan bergetar saat mendengarkan suara adzan yang begitu indah dikumandangkan mas Hendra untuk terakhir kalinya bagi Mang Aa.
Prosesi pemakaman usai, satu persatu para pelayat meninggalkan tempat pemakaman. Menyisakan keluarga inti saja dan Mas Hendra. Sari berjongkok di pusara Mang Aa memejamkan mata dan mendoakan paman kesayangannya.
Sari meletakkan beberapa tangkai bunga mawar segar diatas gundukan tanah basah tempat mang Aa beristirahat dengan tenang. Ia kemudian berbisik dengan suara rendah,
"Selamat jalan Mang, Sari minta maaf dan Sari janji mulai hari ini Sari akan belajar sesuai petunjuk Mamang. Tidurlah dengan tenang di surgaNya …"
...****************...
...Selamat malam semuanya, terimakasih atas dukungannya 🥰🥰...
...Semoga episode malam ini bisa menemani malam kalian yaa, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan bahasa daerah 🙏...
...Mumpung lagi temanya santet niiih, saya rekomendasi kan bacaan bagus dari penulis favorit saya... ...
...Santet 40 Hari karya Kak Al Orchida....
...Kepoin yuuks petualangan cinta Dinara dan perjalanan spiritualnya yg penuh air mata dan darah, dikemas cantik dengan bahasa ringan dan no belibet oleh penulisnya. Saya jamin kalian bakal suka deh😉🥰...
...Selamat beristirahat semuanya...love u all...
...cium sayang untuk teman-teman semua😘😘...
__ADS_1