Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 107


__ADS_3

"Tante … jangan, tolong bertahan! Tante, Tante Danique!" Sari menggigau dan seketika menjerit dengan keras. Dalam mimpinya Tante Danique telah berubah menjadi hantu penari yang menakutkan, yang siap menghabisi nyawa Sari dalam sekejap.


"Sar, Sari … sadar Sar, mimpi buruk ya?!" Bagas berusaha menyadarkan Sari dari tidurnya.


Tubuh Sari bermandikan keringat, ia belum juga bisa tersadar dari tidurnya. Seolah tersihir oleh bunga tidur yang menakutkan. Hantu penari bertopeng.


Mang Aa yang melihat Sari belum juga bisa terbangun dari mimpinya, mengambil alih posisi Bagas. Mulutnya bergerak membacakan doa, ditiupkan ke kedua telapak tangannya lalu mengusap lembut kepala Sari dari ubun-ubun sampai ke wajah. 


Sari terlihat menghela nafas panjang seolah melepas beban berat dari tidurnya. Perlahan ia membuka kedua matanya, lalu berkata singkat. "Alhamdulillah, cuma mimpi."


"Hantu itu lagi?" tanya Doni yang juga masih belum tertidur.


Sari mengangguk, Doni menggelengkan kepalanya ia tidak habis pikir sampai kapan hantu itu terus meneror Sari sahabat cantiknya.


"Heran gue, kapan selesainya! Apa ada petunjuk lagi?!" tanya Doni lagi pada Sari.


Sari menggeleng dengan lemah, masih terlihat jelas di matanya kengerian hantu penari yang menyerupai Tante Danique. Awalnya ia begitu bahagia bisa bertemu dengan Tante Danique tapi kemudian menyesal karena harus mengakhiri mimpi dengan cara yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Sebentar lagi juga selesai mas Doni, tinggal selangkah lagi." kata Mang Aa menenangkan Doni.


Jam menunjukkan pukul 3 pagi, mereka pun mengakhiri obrolan dan memutuskan pergi tidur. Sari yang agak takut untuk kembali tidur disarankan mang Aa untuk menunaikan ibadah malam guna menenangkan diri dan memohon petunjuk ilaihi.


...----------------...


Pagi menjelang, kesibukan di rumah Tante Kurnia mulai terlihat. Bagas dan timnya telah menyiapkan semua peralatan dan keperluan liputan. Rara tetap ikut dalam tim hanya berada di dalam mobil terpisah. Ia bertugas memantau melalui monitor untuk kamera tersembunyi.


Ahmad akan terhubung dengan Rara untuk bisa mengambil gambar secara tersembunyi. Bagas dan Doni bertugas mewawancarai Arjuna sedang Sari akan menjadi umpan di tengah liputan. 


Sebelum menjalani liputan di galeri seni mereka berkumpul untuk sarapan bersama Mang Aa dan Mas Hendra. Pembicaraan serius tampak dilakukan oleh Mang Aa dan Doni. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas raut wajah mereka berdua tampak serius dan sesekali berbisik.


"Tau tuh, aku juga penasaran dari semalem nggak selesai-selesai mereka ngobrol nya." jawab Sari yang juga penasaran.


"Mungkin mau bahas hari ini. Gimana kamu dah siap Sar?" tanya Rara lagi.


"Harus siap, ini kesempatan emas buat aku Ra. Tolong bantu aku ya?!" pinta Sari.

__ADS_1


"Insyaallah, semoga hari ini berjalan lancar ya. Jaga diri kamu baik-baik Sar, hati-hati sama Arjuna!" pesan Rara.


"Aamiiin, insyaallah Ra!"


...----------------...


Sekitar jam 11 Bagas dan tim berangkat menuju galeri. Mang Aa dan mas Hendra yang mengantar mereka hingga menghilang dari pandangan.


"Semoga hari ini berjalan lancar." kata Mang Aa lirih


"Aamiiin." 


"Kamu sudah menghubungi dia Hen?" tanya Mang Aa


"Sudah Mang, besok atau nanti sore paling cepat Hendra kesana lagi." jawab Mas Hendra.


"Bagus, semoga dia mau membantu. Firasatku buruk Hen, semoga semua bisa terselesaikan dengan baik." Mang Aa menutup pembicaraan dan masuk ke dalam rumah diikuti mas Hendra.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam ruangan khusus tempat Mang Aa biasa melakukan ritualnya. Mas Hendra juga diminta masuk sebentar menemani Mang Aa. Tak berapa lama mas Hendra kembali keluar membawa sebuah bungkusan kecil di tangannya.


*****


__ADS_2