Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 65


__ADS_3

Keesokan paginya Sari dan timnya telah bersiap. Mang Aa juga yang belum tertidur dari semalam telah membuat ritual khusus pada peralatan yang akan dipakai Sari dan timnya untuk liputan.


"Kalian sudah siap?" Tanya Mang Aa


"Insyaallah mang!" Jawab Bagas mewakili rekan-rekannya.


"Bagus, semoga kali ini lancar nggak ada hambatan lagi." Kata Mang Aa memberi semangat.


"Mamang ikut nggak ma kita?" Tanya Sari sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tas miliknya.


"Maaf Mamang nda bisa ikut, tapi tenang aja semalem udah Mamang bantuin kok. Insyaallah aman hari ini." Jawab Mang Aa sambil menghisap rokok nya kembali.


Bagas agak tenang mendengar ucapan Mang Aa, dia juga mengharapkan hal yang sama. Sesuai perkiraan sekitar jam 6 tim siap berangkat ke rumah Pak Koswara dengan menggunakan 2 mobil.


Bagas segera membagi timnya menjadi 2 kelompok, dengan cekatan mereka segera mengambil beberapa gambar untuk mendukung liputan. Mulai dari sesaji, persiapan ranggap, persiapan para penari, para panjak dan sinden, serta sang pawang yang saat mereka datang sedang melakukan ritual.


Pak Koswara menyambut Bagas dan timnya dengan senyum khasnya. Ia tampak lebih tenang kali ini. Pak Koswara bahkan turut membantu pengambilan gambar, sesekali ia juga meminta diajarkan cara memegang kamera yang baik oleh Ahmad.


Acara pagelaran sintren dilakukan didesa sebelah atas undangan kepala desa setempat. Sebagai wujud syukur berhasilnya panen musim ini. Seperti biasa para penari dan panjak berkeliling desa mengundang warga untuk menyaksikan pagelaran sintren. 


Kali ini Ratih tidak nampak diantara para penari lain. Sari yang sedari tadi mencari Ratih untuk meminta bantuan wawancara tidak menemukannya dimanapun. Baik dirumah Pak Koswara ataupun saat acara pagelaran. Ia pun memutuskan untuk bertanya pada Pak Koswara.


"Maaf pak, Ratih nggak ikut acara ini?"


"Ratih sedang ada perlu, memang dia nggak mau ikut untuk acara kali ini kecapekan katanya." Kata Pak Koswara menjelaskan.


Sari menganggukkan kepalanya dan bertanya lagi,

__ADS_1


"Rumah Ratih dimana pak, saya pengen ngobrol sama dia sebentar?" Tanya Sari


"Rumahnya di belakang persis rumah saya mbak, main aja ke rumahnya mumpung masih disini." Jawab Pak Koswara sambil tersenyum.


"Insyaallah besok saya main deh sekalian cari bahan buat tambahan liputan pak, boleh kan?"


"Boleh mbak silahkan, kalo butuh sesuatu jangan segan-segan hubungi saya." Kata Pak Koswara menawarkan bantuan darinya.


"Tapi gratis kan pak?!" Tanya Sari


Pak Koswara spontan tertawa mendengar pertanyaan Sari,


"Gratis mbak, kecuali ada masalah lagi kayak kemarin ya saya minta ganti rugi dobel."


Sari tersenyum kecut mendengarnya. Ia kemudian berpamitan pada Pak Koswara untuk membantu Bagas dan yang lain.


Bagas lega, ia kembali mengecek hasil liputan dari rekaman kamera.


"Gimana Gas, aman?" Tanya Doni


"Siip … nanti malam kita garap ya, lembur?!" Jawab Bagas


"Ya atur aja deh, yang penting lemburan kita jangan lupa!" Sahut Doni


"Beres, yuk kita cabut sudah sore. Aku juga dah capek banget ni." Ajak Bagas pada yang lainnya.


Mereka tiba di kediaman Mbak Diah tepat saat Adzan maghrib berkumandang. Mang Aa menyambut mereka,

__ADS_1


"Lancar kan?" 


"Alhamdulillah mang, lancar!" Jawab Bagas.


"Masuk deh kita sholat Maghrib berjamaah dulu, baru kalian bebersih diri!" Kata Mang Aa lagi 


Mereka semua masuk ke dalam, Mang Aa memandang ke arah sekitar rumah sejenak lalu beranjak mengikuti yang lain masuk ke dalam. 


Malamnya Mang Aa meminta memanggil Sari untuk bicara secara pribadi.


"Sar, ikut Mamang sebentar?!"


Sari menuruti perkataan Mang Aa dan mengikutinya masuk ke kamar Mas Hendra. Mang Aa sengaja meminjam kamar mas Hendra supaya lebih leluasa bicara.


"Ada apa Mang?" Tanya Sari 


Mang Aa menghela nafasnya panjang, lalu ia menjawab pertanyaan Sari.


"Mamang mau kamu hati-hati dengan Pak Adit!"


"Pak Adit? Tapi kenapa mang?"


Mang Aa belum menjawab ketika Mas Hendra masuk membawa sebuah tas plastik berwarna hitam.


"Ini bunganya mang." 


Sari bingung, ia hanya memperhatikan ekspresi kedua familinya itu.

__ADS_1


Bunga? Buat apa siapa yang meninggal kok beli bunga malem-malem? Mereka berdua kenapa sih, aneh?


__ADS_2