
Usai makan malam, Sari beristirahat sambil memainkan ponselnya di kamar. Rara yang menemani tidurnya telah terlelap tidur sejak tadi. Sari masih belum bisa memejamkan matanya, ia gelisah.
Entah mengapa sejak sore tadi Sari merasa ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Kota Cirebon yang memang panas terasa lebih menghangat malam ini. Pendingin udara seolah tidak bisa mengatasi panasnya cuaca malam ini.
Rasa kantuk mulai menyerang Sari, berkali-kali ia menguap berusaha menahan matanya untuk tidak terpejam. Seharian melakukan perjalanan Indramayu Cirebon dan mengunjungi Bayu membuat tubuhnya kelelahan, Sari akhirnya terlelap tidur.
...----------------...
"Dimana ini, gelap banget? Apa aku mimpi lagi, aduh jangan-jangan hantu itu datang lagi … Tante, Maak deze mooie nicht van je alsjeblieft niet bang!" Gumam Sari.
( Tante, tolong jangan nakutin keponakan cantikmu ini!)
Sari berjalan dalam gelap dengan perlahan. Ia berusaha menajamkan penglihatannya. Ia berada di sebuah perkampungan, di kanan kiri jalan kampung terdapat rumah yang berjajar rapi dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu.
"Aneh, ini kayak desa di pedalaman. Rumahnya masih sederhana banget, tapi dimana ini ya? Apa ada hubungannya sama Tante Danique?"
__ADS_1
Ia kembali berjalan. Sepi, sunyi, itu yang ia rasakan saat berjalan di tengah-tengah jalan desa. Hingga Sari bisa mendengar suara langkahnya sendiri.
Hati-hati …, sebuah bisikan terdengar di telinga Sari.
Dari kejauhan Sari mendengar suara gemuruh seperti suara hujan deras tapi lebih keras dan nyaring. Ia berusaha mencari tahu darimana suara itu berasal. Perlahan suara itu semakin jelas terdengar dan itu terasa menakutkan bagi Sari.
Tiba-tiba Sari mendengar suara tawa yang cukup keras dari seorang lelaki. Suara tawa itu terasa menggetarkan hatinya, membuat nyalinya ciut. Suara itu menggema ke seluruh penjuru mengaburkan arah datangnya suara.
Suara itu semakin dekat dan dekat. Sari merasakan hawa panas menyengat dari belakang tubuhnya, sontak ia berbalik dan tercengang mendapat bola api besar yang melesat ke arahnya.
Keringat dingin membanjiri tubuh Sari diantara nafasnya yang tersengal dan memburu Sari melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang ia bisa. Dirinya benar-benar terpojok dan ketakutan setengah mati.
Ya Allah, tolong saya … siapapun tolong saya!
Bola api itu terus mencari keberadaan Sari dengan tawanya yang nyaring. Sari bisa melihatnya dari balik dinding bambu yang melindunginya. Tubuhnya gemetar hebat, ia takut dan pasrah.
__ADS_1
Bola api itu seolah mengetahui keberadaan Sari, ia berusaha masuk ke dalam rumah yang melindungi Sari. Awalnya Sari merasakan dirinya berada dalam sebuah medan energi yang melindunginya. Setiap bola api itu akan masuk lapisan pelindung itu menahan dan balik menyerang.
Sari semakin kalut dalam ketakutannya, ia menangis. Pintu rumah tempat Sari berlindung kembali diterjang tapi kali ini pintu itu hancur berkeping keping dibarengi suara ledakan.
Tawa itu kembali terdengar dan menggema di telinga Sari. Menakutkan.
Sari menatap bola api dengan kilatan lidah api yang menjulur kesana kemari seolah menari nari ditiup angin malam. Indah tapi mematikan.
"Akhirnya aku mendapatkanmu setelah 3 kali aku gagal membunuhmu. Sekarang waktunya hidupmu berakhir!"
Sari semakin takut, bola api itu semakin mendekat. Sari melangkah mundur hingga tubuhnya membentur dinding bambu yang ada dibelakangnya. Tidak ada jalan untuknya menghindar. Sari harus berhadapan dengan bola api itu.
Tanpa menunggu lama bola api itu melesat bagaikan anak panah masuk ke dalam tubuh Sari melalui mulutnya. Sari tidak berdaya, ia hanya merasakan panas yang menjalar dari mulut dan berjalan perlahan hingga turun ke dalam perutnya.
"Aaargh … panas, tolong!"
__ADS_1