
Arjuna memang berwajah rupawan sesuai dengan namanya. Inilah yang dimanfaatkan ayahnya sebagai alat penarik para calon tumbalnya. Jangankan wanita, para lelaki pun terpesona dengan ciptaan Tuhan bernama Arjuna ini. Bagas, Doni dan Ahmad sampai tidak bisa mengatakan apa pun. Mereka bertiga kalah telak.
"Maaf, mas-masnya kenapa ya kok ngeliatin saya kayak gitu? Apa ada yang salah sama saya?" tanya Arjuna keheranan.
"Eeh, nggak mas kami cuma terpesona eh terkejut ngeliat mas Juna!" jawab Bagas.
"Ada apa sama saya memangnya?" tanya Arjuna dengan senyuman yang mengembang.
"Mas e cantik, eh ngganteng!" sahut Ahmad yang tiba-tiba saja merasa kebingungan seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta.
Arjuna tertawa sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Bagas dan Ahmad dibuat kebingungan dengan sikap mereka sendiri. Sementara Doni sedari tadi hanya mengerutkan kening sambil tersenyum miring. Ia merasa ada yang aneh dengan Arjuna, dan sepertinya hanya ia yang bisa merasakan hal itu.
Aneh, gue kenapa ngerasa dia nggak ganteng banget lho? Cuma ada sesuatu yang beda, apa itu yang nyala dari dalam mulutnya ya …, batin Doni penasaran.
"Mari kita ngobrol di dalam aja biar akrab?!" ajak Arjuna membimbing para tamunya untuk masuk lebih dalam ke galeri.
__ADS_1
Suara alunan musik dari tabuhan gamelan, saron, dan alat musik pengiring lainnya terdengar ketika mereka memasuki ruangan tengah tempat dimana lebih banyak karya lukisan kaca dan juga topeng khas Cirebon.
"Mari silahkan duduk. Gimana nih ada perlu apa mas-mas datang jauh-jauh kemari?" tanya Arjuna.
Bagas pun menceritakan maksud dan tujuan mereka datang ke galeri seni. Ia juga menceritakan tentang liputan sintren yang sebelumnya dilakukan di Seca Branti. Arjuna sedikit terkejut ketika Bagas menceritakan tentang Pak Koswara. Sekilas wajahnya menunjukkan rasa tidak sukanya ketika Bagas bercerita tentang Pak Koswara.
"Jadi kalian kesini karena dia?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
"Oh bukan mas, kita justru dapat rujukan dari salah satu rekan kami yang memang asli Cirebon." jawab Bagas santai. Ia bisa merasakan Arjuna tidak suka setiap kali Bagas menyebut nama Pak Koswara.
"Kebetulan dia nggak ikut, masih sakit. Besok setelah liputan dimulai dia bakal ikutan juga." jawab Bagas.
"Saya kok penasaran deh, cowok apa cewek ni?" yanya Arjuna.
Mereka bertiga saling berpandangan, bingung harus menjawab apa. Arjuna yang sadar pertanyaannya membuat bingung tamunya langsung meralat,
__ADS_1
"Eh maaf saya nggak bermaksud apa-apa kok, cuma penasaran aja karena orangnya nggak ada disini?!"
Mereka bertiga pun hanya tersenyum tanpa menjawab, "Jadi gimana mas, kita diizinin buat ngeliput disini nggak?"
"Boleh kok dengan senang hati. Ayah saya juga sudah ngizinin. Kapan mau mulai liputan nih?" tanya Arjuna.
"Besok bisa kita mulai mas, biar cepat selesai juga?!" jawab Bagas.
"Silahkan saja, kami menerima dengan tangan terbuka kok."
"Baik kalau gitu sampai ketemu besok ya mas, kami balik dulu." kata Bagas berpamitan.
Arjuna mengantarkan mereka bertiga hingga ke gerbang depan. Obrolan ringan mengalir dan mereka juga saling melempar candaan. Bagas, Doni dan Ahmad mencoba bersikap sewajarnya meski dalam ada rasa takut di dalam hati mereka bertiga.
Sari melihat kedatangan mereka bersama pria lain yang ia yakini putra dari Mang Usep. Ia sedikit merunduk agar tidak terlihat dari luar. Tangannya mengepal menahan emosi. Wajah Arjuna tampak tidak asing bagi Sari. Dialah orang yang muncul dalam mimpi bersama Tante Danique.
__ADS_1
Jadi dia orangnya, baiklah … tunggu, aku bakal bikin perhitungan sama kamu juga Mang Usep!