
Bagas dan tim menuju galeri seni. Sesuai kesepakatan mobil yang ditumpangi Rara akan berpisah dan berada agak jauh dari galeri. Monitor kecil untuk memantau tangkapan layar kamera tersembunyi telah disiapkan di dalam mobil.
Ahmad yang bertugas memakai kamera tersembunyi yang diselipkan di dalam tas kecil miliknya.
"Ra, monitor … tes dulu kamera si Ahmad!" perintah Bagas pada Rara melalui ponselnya.
"Siap bos!" sahut Rara diseberang.
Bagas meminta Ahmad untuk mengecek kamera sebelum mereka sampai ke galeri.
"Mad, coba arahin kamera Lo. Dah fokus belum?"
Ahmad mengikuti perintah Bagas, ia menyalakan kamera dan mulai mengatur fokus. Ahmad mengarahkan kamera pada Doni, "Ra, gimana clear nggak?!" tanyanya pada Rara diseberang melalui ponselnya.
"Cek earpiece sekalian Mad!" perintah Bagas lagi.
"Raa, tes … tes, denger suara gue jelas?!"
"Siiip, jelas Mad ...view clear juga!" sahut Rara.
"Sar, siap ya?!" tanya Bagas pada Sari yang duduk di kursi belakang.
Sari hanya memberikan kode dengan ibu jarinya. Ia memasang masker di wajahnya, mengikat rambutnya dan memakai topi sebagai tambahan.
Mendekati galeri seni, mobil mereka berpisah. Mobil Rara berhenti di pelataran parkir sebuah taman kecil tak jauh dari galeri. Sementara mobil yang ditumpangi Sari berhenti tepat di depan galeri.
__ADS_1
"Sar, inget kendalikan emosi kamu!" Doni berpesan pada Sari sebelum membuka pintu mobil.
Sari diam tidak menjawab. Mereka berempat turun dari mobil, dan membawa perlengkapannya masing-masing. Sari turun belakangan setelah Ahmad memberi kode padanya.
Dika menyambut mereka dengan senyuman ramahnya. Seperti biasa totopong beungkeut tidak lepas dari kepalanya, kali ini ia memakai motif batik mega mendung berwarna biru kehijauan.
Dika melirik ke arah Sari, ia memperhatikan Sari dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bagas yang memperhatikan Dika segera menegurnya,
"Kenapa mas Dika, ini salah satu rekan tim dia sedang nggak enak badan?!"
"Eh, nggak mas … ada ceweknya ya yang ikutan ngeliput?" tanyanya tergagap sambil terus memperhatikan Sari yang asik menyiapkan peralatan.
"Iya, dia cewek satu satunya. Tapi jangan liat ceweknya pekerjaannya luar biasa!" jawab Bagas.
"Mas Dika, daripada ngeliatin dia mulu mending anterin kita deh. Mana yang bisa kita liput, waktu kita terbatas!" timpal Doni mencoba mengalihkan perhatian dengan menepuk bahu Dika.
Mereka berempat saling berpandangan. Sari gemetar rasa takut dan marah bercampur dalam hatinya. Doni segera menghampiri Sari,
"Kontrol emosi Lo! Penjaga lo bisa mengacaukan rencana kita!?" kata Doni sambil berbisik mengingatkan Sari.
Kelebatan bayangan maung bodas mulai tampak dimata Sari dan juga Doni. Sari mengatur nafasnya, menutup mata dan berusaha mengontrol emosinya.
"Sori Don, aku benar-benar emosi dengar nama mereka disebut!"
"Sabar, ada waktunya Sar! Ikuti dulu permainan, kita tinggal nunggu waktu yang tepat." Doni berusaha menenang kan Sari, ia mengeluarkan sebatang permen karet dan memberikan pada Sari.
__ADS_1
"Apaan ni?" tanya Sari heran
"Buat ngalihin emosi kamu, kunyah aja! Kalo Lo kesel tinggal bikin balon kan terus jedorin, simpel kan?!" jawab Doni santai sambil cengengesan.
Sari tertawa, Doni benar-benar membuatnya bisa menurunkan ketegangan. Ia menuruti perkataan Doni dan menerima permen karet itu.
"Simpen aja, kamu bakal butuh banyak hari ini!" kata Doni.
Sari memiringkan kepalanya, ia bingung dengan perkataan Doni yang seolah tahu apa yang akan terjadi. Doni hanya tersenyum penuh arti.
Suara gamelan, saron, gong dan alat musik lainnya terdengar semakin nyaring. Mereka tiba di sebuah aula dimana akan digelar pertunjukan tari topeng kahas Cirebon.
Beberapa tamu yang sepertinya wisatawan juga telah hadir disana. Mereka duduk dengan formasi setengah lingkaran yang teratur. Menanti para penari memasuki area pertunjukan.
Seorang lelaki paruh baya dengan memakai ikat kepala hitam khas Sunda bermotif singa Ali berdiri di hadapan para wisatawan. Ia sedang menjelaskan tentang pertunjukan yang akan disaksikan. Dialah Mang Usep sang pemilik galeri.
Tak jauh dari Mang usep berdiri, Tampak Arjuna putranya memperhatikan satu persatu wisatawan. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya, sementara matanya memindai calon korban selanjutnya.
Perpaduan daya tarik ketampanan, susuk dan ilmu pelet menyatu dalam dirinya. Setiap mata yang memandangnya selalu terkagum kagum dan jatuh hati dengan ketampanan Arjuna. Para wanita bahkan menjadi salah tingkah dan tersipu saat memandangnya.
Hawa magis begitu kental dirasakan Sari. Mata batinnya yang telah terbuka melihat beberapa sosok gaib dengan aneka rupa disekitar galeri. Jantung Sari berdegup kencang, ini kali pertama ia bekerja dan berdampingan dengan makhluk alam lain.
Ia menyapu sekitar berharap menemukan sosok penari bertopeng di dekatnya. Tapi nihil, tidak ada sosok yang ia harapkan muncul.
Arjuna dan Mang Usep merasakan aura kuat Sari, mereka langsung menatapnya ketika Sari berjalan mendekati aula. Sari pun membalas tatapan mereka berdua.
__ADS_1
Akhirnya kita bertemu disini!