Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 153


__ADS_3

Sari senang sekali mas Hendra rupanya mendatangkan kedua sepupu Sari lainnya. Si kembar Yana dan Yani. Umur mereka berdua terpaut tiga tahun lebih tua dari Sari. Mereka berdua saudara kembar tapi memiliki wajah yang tidak sama. Kebiasaan, minat dan hobi mereka juga jauh berbeda. Jika Yana memilih menjadi  TNI-AL maka Yani memilih menjadi bagian dari anggota kepolisian.


Lama tidak bertemu dengan mereka membuat Sari melupakan kedua sepupunya itu. 


"Wah, Sari makin cantik aja nih kamu. Apa kabar Sar?" tanya kang Yana.


"Alhamdulillah baik, Kang Yana sama kang Yani gimana kabarnya?!" tanya Sari


"Sehat juga Alhamdulillah, gimana kalo kita duduk dulu gabung kesana?" Kang Yana menjawab sambil berjalan menuju kantin.


"Mas Hendra kok nggak bilang mau undang mereka kemari?" tanya Sari


"Mang kenapa Sar, suka-suka mas lah?!"


"Ide mas brilian, Sari lupa punya sepupu mereka." sahut Sari dengan menunjukkan barisan giginya.


Kang Yana dan Kang Yani tersenyum mendengar perkataan Sari. Mereka bergabung dengan yang lainnya di kantin dan mulai membicarakan masalah Sari.


Sepupu kembar Sari memintanya untuk menceritakan yang terjadi. Sari pun bercerita dari awal mulai dari petunjuk yang diberikan Tante Danique hingga pertemuannya dengan Andi. 


Kang Yani mencerna informasi dari Sari dengan baik.  Sebagai salah satu anggota kepolisian di unit Satreskrim, ia bisa menganalisa cerita Sari dengan baik. Mereka membutuhkan Andi sebagai kunci utama menemukan jenazah Tante Danique.


"Kamu yakin dia bagian dari Usep sama Arjuna?!" tanya Kang Yani.


Sari mengangguk, ia kembali bercerita tentang Mang Usep dan Arjuna. Kenyataan bahwa mereka telah membunuh banyak orang yang tak berdosa termasuk Tante Danique membuat Kang Yani penasaran. Ia menghubungi seseorang dan memintanya untuk mengecek laporan orang menghilang selama lima tahun terakhir.

__ADS_1


Sebuah kasus dianggap kadaluarsa jika telah melewati batas tertentu. Sayangnya kasus Tante Danique telah melebihi batas waktu maksimal hukum pidana yaitu 12 tahun dari waktu kejadian. Kang Yani mendekati Sari setelah selesai menghubungi rekannya.


"Kamu sebaiknya pulang dulu Sar, kang Yani besok kerumah. Saya cek dulu semuanya. Tunggu kabar dari saya,ok?" 


"Ok, Sari serahin semuanya ke kang Yana sama Kang Yani. Yang jelas kita butuh banyak orang untuk bongkar tanah di Cigugur." 


"Nanti kita atur semuanya dulu. Saya juga minta keterangan dari Andi. Kalian pulang dulu aja, dah mo Magrib juga." saran Kang Yana.


Mereka pun berpamitan meninggalkan mas Hendra dan kedua sepupu kembar Sari. Seno diantarkan kembali ke galeri sebelum mereka kembali ke rumah Tante Kurnia. Mom Adeline menanti Sari pulang dengan cemas, berkali-kali ia keluar masuk rumah untuk memastikan putrinya pulang.


"Maak je geen zorgen, het komt goed met Sari." Dad Barend menenangkan mom Adeline.


(Jangan khawatir Sari pasti baik-baik saja.)


'Hoe kun je je geen zorgen maken papa, Sari is nog niet thuis, het is al laat en er is geen nieuws van haar!"


"Sari sudah dewasa, dia bisa jaga dirinya baik-baik mbak." sahut Tante Kurnia yang datang dengan membawa cangkir berisi teh madu kesukaan mom Adeline.


"Itu anak bikin repot dari kemarin, heran saya keras kepala banget!" Mom Adeline meminum tehnya untuk meredakan ketegangan.


"Wie zijn zoon probeer dat eens?" Dad Barend menggoda mom Adeline.


(Anak siapa itu?)


"Begin er niet aan schat, hij is ook je kind toch?" sahut mom Adeline mengerlingkan mata pada suaminya.

__ADS_1


(Jangan mulai sayang, dia juga anak kamu kan?)


Tante Kurnia yang melihat tingkah keduanya pun hanya menggelengkan kepala dan tersenyum,


"Hmm, Mom sama Dad nya aja model begini gimana anaknya?" gumam Tante Kurnia.


Terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Sari datang. Mom Adeline dengan terburu-buru mendatangi Sari yang bahkan belum keluar dari mobil.


"Sari, kamu dari mana aja sampai malam begini?" 


"Mom … Sari kan ada di kantor polisi sama mas Hendra?!"


"Iya, mom tahu sayang tapi … eh, tunggu kenapa leher kamu?" Mom Adeline melihat goresan di leher Sari. 


"Oh ini, tadi kegores dikit mom bukan luka besar." jawab Sari menepis tangan Mom Adeline.


"Wat? Kleine wond zeg je?!"


(Apa? Luka kecil kata kamu?!)


Sari berlalu meninggalkan mom Adeline, ia malas menanggapi dan segera masuk ke kamarnya. Yang terdengar hanya teriakan suara mom Adeline dan Sari yang saling beradu argumen.


Bagas dan Doni hanya menggelengkan kepala ringan. 


"Walah, Gas calon makmum keras bener kalo ngomong kebayang gue besok kalo Lo berantem ma die gimana!" kata Doni cekikikan.

__ADS_1


"Nasib gue Don, nggak apa dah cinta gue ma Sari. Yang penting pas tidur kagak ribut die bisa berabe kalo ribut Don kan kedengeran dari luar?!" sahut Bagas.


"Haaaaiiish otak lo … dasar omes! Halalin dulu Gas, cepetan gue tikung tau rasa Lo!"


__ADS_2