Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 36


__ADS_3

Sari membantu Bagas menyusun beberapa pertanyaan untuk Pak Koswara. Sembari menunggu Sari dan Bagas bersiap Pak Koswara memantau persiapan para penari dan penabuh musiknya. Sesekali ia mengecek peralatan yang akan digunakan para penabuh musik.


Bagas berinisiatif mendekati Pak Koswara karena ia cukup tertarik dengan peralatan musik pengiring sintren,


"Ini buat pengiring musiknya pak?" Tanya Bagas


"Oh iya mas, semua ini peralatan musik buat mengiringi sintren." Jawab Pak Koswara sambil mengecek kondisi masing-masing alat.


Bagas yang penasaran mendekati dan mengambil salah satu alat musik yang terbuat dari tembikar. Ia melihat alat musik itu sambil terheran heran.


"Ini memang terbuat dari tembikar semua pak?"


"Iya mas semua ini instrumen tradisional yang dipakai ada krecek, tuthukan, blampak/kendang, dan tentu saja dilengkapi saron dan juga gong." Kata Pak Koswara menjelaskan


Bagas yang masih keheranan mencoba memukul mukul alat yang dipegangnya tapi yang keluar justru nada-nada aneh hingga membuat Sari tertawa.


"Lho kok bunyinya gini pak, serius bisa buat mengiringi tari?" Tanyanya sekali lagi.


"Ada cara khusus yang hanya bisa dilakukan oleh penabuh musik mas, kalo buat orang awam seperti mas Bagas tentu saja gak bisa." Jawab Pak Koswara tersenyum simpul.

__ADS_1


"Pantesan kok aneh gini bunyinya." Sahut Bagas


"Saya dengar awal mulanya tercipta tarian ini untuk menyatukan percintaan yang tidak direstui antara bangsawan dan rakyat jelata, benar begitu ya?" Tanya Sari


Pak Koswara meletakkan alat musik yang ada di tangannya ke lantai kemudian berjalan mendekati Sari dan duduk disebelahnya.


"Benar mbak Sari, kesenian sintren berawal dari kisah Raden Sulandono putra dari Ki Bahurekso yang merupakan Bupati Kendal pertama dari istrinya yang bernama Dewi Rantamsari atau dikenal dengan Dewi Lanjar." Kata Pak Koswara memulai ceritanya


"Raden Sulandono memadu kasih dengan seorang wanita bernama Sulasih yang berasal dari desa Kalisalak, Namun hubungan mereka tidak direstui oleh Ki Bahurekso. Singkat cerita mereka akhirnya berpisah. Raden Sulandono memilih bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari." Jelas Pak Koswara


"Ibunda Raden Sulandono, Dewi Lanjar merasa iba dan kasihan pada mereka hingga akhirnya membantu pertemuan mereka secara gaib melalui tarian. " Katanya lagi


Pak Koswara menutup penjelasannya sambil menyalakan sebatang rokok. Sari memperhatikan dengan seksama setiap penjelasan dari Pak Koswara sementara Bagas hanya termenung dan tiba-tiba menyahut,


"Wah keren itu backstreet dengan kearifan lokal judulnya." 


Sari terkejut mendengar ucapan Bagas,


"Hush… Ojo ngawur Gas."

__ADS_1


"Lho iya kan pak, coba pikir tidak direstui hubungannya dengan ortu pake jalan belakang pertemuan roh… yang penting kan ketemu ya to?" Kata Bagas


Pak Koswara tertawa mendengarnya,


"Ya ada benarnya itu mas Bagas, versi anak sekarang."


"Bagaimana dengan ritual nya pak?" Tanya Sari


"Kalau ritual seperti biasa mbak kami menyiapkan sesaji berupa makanan dan ubo rampenya, ini ibu-ibu sebentar lagi datang membantu menyiapkan tumpeng dan yang lainnya." Jawab Pak Koswara


"Untuk penari, penabuh dan pawangnya ada ritual khusus dan berpuasa minimal sehari sebelum pertunjukan." Katanya lagi


"Nanti malam kalian lihat sendiri bagaimana persiapan kami sebelum hari H pertunjukan." 


"Wah seru ni kayaknya pak jadi nda sabar tunggu nanti malam." Sahut Bagas


Sari hanya tersenyum, ia merasakan aura tidak menyenangkan yang menerpa tubuhnya. Asap rokok dari Pak Koswara membuatnya tidak nyaman. Bagi Sari asap rokok itu berbau aneh tidak seperti rokok biasanya. Tengkuknya mulai terasa berat.


Pak Koswara sesekali menatap ke arah Sari, seolah hendak mengatakan sesuatu.

__ADS_1


Sari yang merasakan berat dan pusing di kepalanya pun memutuskan untuk berdiri dan mendekati Bagas melihat lihat alat musik yang digunakan.


__ADS_2