Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kemarahan big bos


__ADS_3

Tidak hanya Keil dan Nico yang tergesa-gesa menuju markas. Daniel yang baru saja tiba di penthouse mengantarkan Ashely terkejut akan laporan salah satu anak buahnya. Berbagai pertanyaan singgah di benaknya. Ada apa bos dari Swiss langsung ingin menemui mereka?


Tidak ingin membuang waktu lagi, ia menemani Ashely menuju kamar. Mengatakan pada wanitanya itu untuk tidak perlu cemas karena kini sudah aman. Wanita itu hanya mengangguk saja, meskipun jauh di lubuk hatinya ia membutuhkan Daniel saat ini. Daniel mengecup kening Ashley, ada rasa hangat yang berdesir di hati wanita itu, meresapi kecupan Daniel yang penuh dengan ketulusan. Daniel bergegas keluar dari penthouse, memasuki mobil dan melesat dengan kecepatan tinggi.


Jarak tempuh yang seharusnya cukup lama dilalui, kini hanya perlu memakan waktu kurang dari setengah jam. Daniel turun dari Mobil bertepatan dengan Nico juga Keil yang baru saja tiba disana bersamaan. Ketiganya lantas tergopoh-gopoh dengan gagahnya menuju ruangan dimana bos mereka berada.


"Bos...." Mereka memanggil secara serentak. "Sudah lama menunggu kami bos?" sambung Daniel. Namun sikap ramah tamah Daniel hanya diacuhkan, Xavier melirik dan tidak beranjak dari duduknya. Dilihatnya ketiga anak buah yang berdiri sejajar seperti seorang murid yang tengah menunggu hukuman.


"Kalian tau apa alasanku jauh-jauh datang kemari begitu tiba di bandara tanpa menemui istriku terlebih dahulu?!" Sungguh sorot mata yang tajam itu mampu membuat siapapun bergidik. Bahkan Jack yang sejak tadi berada di satu ruangan merasakan hawa yang sangat dingin.


Glek


Keil, Nico juga Daniel bersusah payah menelan saliva mereka. Ingin menjawab, akan tetapi suara mereka seperti tercekat.


"Sorry bos, Golden Dawn menyerang lebih dulu. Jonas ingin merebut Emely dariku," jelas Keil.


"Dan Jerome ingin membalas dendam karena tidak bisa membawa Nona Jennie saat itu, sehingga saat di perjalanan mereka menyerangku!" Nico menimpali.


Xavier terdiam mendengarkan, namun sorot matanya tidak berpindah mencari celah untuk mengkritik perbuatan yang dilakukan oleh ketiga anak buahnya itu. "Lalu?"


Nico, Keil juga Daniel saling menoleh satu sama lain. "Ehm, aku tidak sengaja menembak anak buah David yang bernama Gil," sambung Nico kemudian. Melaporkan yang ia lakukan tanpa sengaja, telapak tangannya mengusap tengkuk lehernya. Hawa di dalam sana kian mencekam. Berbeda dengan Keil, Daniel yang baru mengetahuinya sedikit terperangah. Mereka sudah berusaha tidak menyentuh Gil meskipun ingin sekali menghabisi pria bodoh yang rela menjadi anak buah David itu.


"Aku tidak peduli apapun yang kalian lakukan selama itu tidak bertentangan dengan visi misi Black Lion. Kalian tau jika nyawa kalian sangat berharga, pastikan jika kalian tidak terluka." Seperti itulah cara didik Xavier, meskipun terkesan dingin dan suka memerintah tetapi yang pertama baginya adalah nyawa ketiga anak buahnya. "Dan masalah pria yang bernama Gil itu, kalian tidak perlu khawatir, Zayn sudah mengetahui jika Gil bergabung dengan Golden Dawn. Kalian hanya perlu menjelaskan kepada Anthony. Biar bagaimanapun pria itu adalah kakak ipar dari Anthony."


"Baik bos, kami akan segera menghubungi Anthony," sahut Daniel disertai anggukan. Melegakan rasanya jika ia tidak perlu berpikir dua kali untuk menghabisi Gil beserta bosnya itu. Mereka sungguh muak, ditambah lagi dengan adanya Jonas juga Jerome.


"Tapi ada satu hal lagi......" Nada bicara Xavier sedikit lebih dingin dari sebelumnya.


"Apa bos?" Ketiganya mendesak tidak sabar.


Xavier kemudian beranjak dari tempat duduknya, menyandarkan kedua pahanya pada sisi meja. Tangannya menyilang di depan dada, tidak menyurutkan tatapan tajam yang serupa dengan hewan buas. "Kenapa kalian menyembunyikan hubungan adikku dengan pria yang bernama Billy?!" Pertanyaan bernada lembut itu justru membuat mereka bertiga lebih bergidik ngeri.



Ternyata sudah saatnya bos mengetahui apa yang selama ini mereka sembunyikan. Meskipun mereka terkejut akan pertanyaan itu tetapi raut wajah ketiganya nampak tenang, berbeda dengan jantung mereka yang berdetak seolah mengetahui akan kematian mereka.


"Sorry bos, kami tidak bermaksud menyembunyikannya," sahut Keil.


Xavier berdecak sinis. "Tidak bermaksud tapi pada kenyataannya kalian menyembunyikannya dariku, keparat! Sudah pasti kalian memang bermaksud ingin melindungi pria itu dan membohongiku!" Kemudian pandangannya beralih kepala Nico. "Dan kau Nico, aku memintamu untuk menjaga adikku dari pria manapun. Sudah aku katakan, siapapun itu singkirkan!"


"Aku sudah melakukan seperti yang bos katakan, aku menyingkirkan pria itu dari Nona Jennie secara perlahan, agar tidak membuat Nona Jennie terlalu bersedih. Pria itu tidur dengan wanita lain dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menghancurkan hubungan mereka." Tidak dilebih-lebihkan dan juga tidak dikurangkan, Nico menjelaskan apa adanya.


"Dan kau tidak melaporkannya kepadaku, Nic?!" Xavier menyunggingkan senyum getir. Apapun alasannya, ia tidak terima.

__ADS_1


"Sorry bos." Hanya itu yang mampu Nico ucapkan.


"Bukankah sudah pernah ku katakan selidiki pria itu, tapi kau juga kalian berdua tidak mendapatkan informasi apapun! Seharusnya aku menyadari, anak buahku tidak sebodoh itu gagal mencari informasi yang ku inginkan!" Rasanya Xavier geram, amarah tertahan untuk ia salurkan. Biar bagaimanapun mereka bertiga adalah anak buahnya. "Katakan, apa adikku yang menyuruhmu untuk menutup mulutmu, Nic?!"


Nico tidak bisa menjawab kembali, pandangannya ia alihkan ke bawah. Ah, ia tidak mungkin bicara yang sebenarnya. Jika mengatakan jika Nona Jennie yang menyuruhnya, sudah dapat dipastikan kekasihnya itu akan mendapatkan masalah dan ia tidak ingin hal itu terjadi.


Terbungkamnya Nico sudah dapat dipastikan jika memang benar adanya jika Jennifer yang menyuruh Nico. Sungguh sejak tadi Xavier mengeram amarahnya yang nyaris meledak. Sebelum kemudian melangkah mendekati ketiganya.


Tiga bogem mentah mendarat di wajah Nico, Keil serta Daniel.


"APA LAGI YANG KALIAN SEMBUNYIKAN DARIKU, HAH?!"


Ketiganya hanya menunduk, tidak berani menatap bos mereka yang tengah murka. Mengabaikan rasa sakit di sudut bibir mereka.


"KATAKAN!!" hardiknya.


"Tidak ada bos!" jawab ketiganya bersamaan. Sungguh Keil dan Daniel tidak berani mengungkapkan perihal hubungan Nico dengan Nona Jennie. Termasuk Nico sendiri, perkataan Jennifer selalu tertanam di otaknya. Nona kecilnya belum siap dan masih ingin merahasiakan, karena itu lebih baik untuk saat ini ia tetap bungkam.


Jack yang sejak tadi menyaksikan kemurkaan bos mereka, merasakan tubuhnya merinding. Membayangkan jika dirinya berada di posisi ketiga sahabatnya itu.


Rasanya Xavier belum puas memberikan pukulan mentah kepada ketiga anak buahnya. Mereka bertiga benar-benar keterlaluan karena berani menyembunyikan hal sepenting itu darinya.


Hingga Xavier kembali melayangkan tinjunya tepat di perut ketiganya secara bergantian. Keil, Nico dan juga tentu saja memekik tetapi mereka tidak melawan. Biar bagaimana pun letak kesalahan ada pada mereka.


"Jika kalian masih menyembunyikan sesuatu dariku, kupastikan kalian akan ku kirim ke Afrika, mengurus hewan ternak disana! Mengerti heh?!" cetusnya penuh peringatan.


"Mengerti bos." Ketiganya menyahut serentak. Sungguh mereka bergidik ngeri, tidak ingin menjadi peternak di negara asing tersebut.


Xavier menghembuskan napasnya yang naik turun akibat terlalu dikuasi emosi. "Kalian tau bahwa seseorang ingin menghancurkan nama Black Lion dengan pertemuan senjata ilegal atas nama organisasi kita di pelabuhan militer. Kalian harus membereskannya! Louis akan membantu memudahkan kita!" Xavier mengusap kasar rambutnya, masalah selalu ada silih berganti. Dan masalah kali ini termasuk yang terberat karena berurusan dengan seseorang dalam kemiliteran.


"Kami akan membereskannya bos dan pasti akan menemukan pelaku penyelundupan yang sebenarnya!" sahut Keil. Rasanya baru beberapa menit yang lalu bos mereka melampiaskan kemarahan dan kini lihatlah bos sudah kembali seperti semula.


Xavier mengangguk. "Jack, kita pergi. Aku harus bertemu istriku untuk meredam amarahku!" Ternyata amarahnya belum menyurut, Xavier masih sangat marah terhadap ketiga anak buahnya, sebab itu sengaja menyindir mereka. Jack hanya mengangguk dan menghampiri bos. "Siapkan diri kalian. Besok kita terbang ke Los Angeles. Aku harus mengurus tikus-tikus militer!" lanjutnya kemudian.


"Baik bos...." jawab mereka serentak.


Masalah Black Lion tidak hanya dengan Golden Dawn saja, kini mereka juga harus menyelesaikan masalah dengan beberapa orang kemiliteran.


Xavier berlalu dari ruangan terlebih dahulu. Namun tidak dengan Jack, langkah pria itu terhenti sejenak. "Aku sudah pernah katakan akan mengawasimu, Nic!" ujarnya kepada Nico yang menatapnya dengan kesal. "Jangan lupakan jika bos memiliki anak buah bayangan. Beruntung hanya aku yang mengetahuinya. Jika bukan demi Jennie, aku sudah membongkar semuanya!"


Setelah mengucapkan hal yang begitu ambigu, Jack pergi meninggalkan ruangan menyusul bos, menyisakan berbagai pertanyaan di benak mereka. Nico tercengang, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Jack.


"Shiittt!! Apa itu artinya Jack mengetahui hubunganku dengan Nona Jennie?" Nico mencoba mencari jawaban pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


Keil dan Daniel berpikir yang sama. Selama ini bos tidak mengetahui apa yang mereka sembunyikan memang sebuah keajaiban. Ternyata Jack diam-diam membantu menutupi hubungan Nico dengan Nona Jennie.


"Haahhh....." Daniel menghembuskan napas di udara. "Sudahlah perutku sakit dan aku tidak bisa banyak berpikir." Daniel menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang. Rasa sakit pada perutnya menjalar hingga ke seluruh organnya. Bos mereka itu benar-benar memiliki tenaga dalam yang luar biasa.


Keil juga membenamkan tubuhnya di sofa. Menyandarkan punggungnya disana. Ketegangan yang sempat terjadi menguap bersama kepergian bos.


Nico menatap kedua sahabatnya, ada rasa bersalah karena dirinya, mereka menerima pukulan dari bos. "Sorry bro...."


"Ehm tidak masalah, kau harus menjadi anak buahku dan juga Keil selama satu bulan," seloroh Daniel asal.


"Big no!! Keparat! Kalian ingin memanfaatkanku!" Nico mendengkus kesal, tentu ia menolak tegas.


"Hahahaha....." Keil dan Daniel tergelak puas ketika melihat kekesalan di raut wajah Nico.


.


.


To be continue


.


.


Xavier



Bayangin Keil, Nico, Daniel menciut sama big bos jadi ngakak sendiri wkwk 😂😂



Jack



Kalau ada yang belum baca kisah Xavier dan Jack bisa cuss ke novel Yoona yang berjudul 'Elleana And The King Of Mafia' tulisan yang masih amburadul wkwk


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2