
Setelah kepergian Keil, Emely, Daniel serta Ashley dari penthouse. Nico dan Jennifer berbaring di ranjang dengan saling berpelukan. Seperti sebelumnya jika Nico kembali merasakan mual yang berlebihan, maka pria itu lebih memilih untuk memeluk istri kecilnya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri.
Nico membenamkan wajahnya di ceruk leher Jennifer, ia merasakan ketenangan ketika tadi nyaris membuatnya pingsan karena mengendus aroma bawang putih yang menyeruak. Keil beserta Daniel terburu-buru pergi dari penthouse Nico setelah drama mereka memperebutkan kamar mandi. Tentu saja Emely dan juga Ashley tidak ada pilihan lain selain mengikuti suami-suami mereka.
"Apa sebaiknya kita tidak datang saja ke Mansion Utama?" Suara Jennifer memecah keheningan yang terjadi selama beberapa saat ketika mata Nico terpejam untuk menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat menenangkan.
Kelopak mata Nico terbuka, ia mengangkat kepalanya, menatap sang istri. "Tidak perlu, aku baik-baik saja. Lagi pula bos akan berpikir macam-macam padaku."
Kening Jennifer mengernyit. "Kakak tidak mungkin berpikiran yang macam-macam. Aku akan mengatakan jika kau sedang sakit."
"Justru bos akan mentertawakanku, karena aku jarang sekali sakit. Biasanya aku akan sakit jika tubuhku terluka terkena tembakan yang cukup dalam," sahut Nico nampak malu saat mengatakannya. Bisa-bisa bos akan mengejeknya sepanjang hari karena bosnya itu memang selalu mencari celah mengejek di antara mereka bertiga, bahkan Jack juga selalu menjadi sasaran empuk bos mereka.
Jennifer terdiam mendengarkan, ia baru mengetahui jika suami raksasanya itu hampir tidak pernah jatuh sakit, kecuali karena efek dari luka. Wanita cantik itu hanya mengangguk saja, secara tidak langsung membenarkan ucapan sang suami. Memang kakaknya itu kerap kali mengganggu dan bahkan mengejek Nico di hadapannya.
"Baiklah, kita akan kesana. Lagi pula sepertinya kau sudah merasa lebih baik."
"Hem, ini karena istriku. Aku menyukai aroma tubuhmu My Queen." Lalu Nico membenamkan tubuh sang istri di dalam dekapannya. Ia ingin lebih lama menghirup aroma yang menenangkan itu sebelum mereka pergi, namun sepertinya pelukan mereka membangunkan sesuatu di bawah sana.
Jennifer dapat merasakan senjata milik Nico yang sudah menegang. "Milikmu bangun," cicitnya malu-malu.
"Hem, karena itu kau harus bertanggung jawab." Nico menyeringai mesum, Jennifer sudah sangat paham tatapan lapar suami raksasanya.
"Baiklah, lakukan sepuasmu." Jennifer tidak mungkin menolak keinginan suaminya karena sejujurnya dirinya pun sudah sangat merindukan sentuhan Nico.
Mendapatkan persetujuan dari Jennifer, lantas Nico tidak ingin membuang waktu lagi. Ia langsung mengukung tubuh kecil istrinya lalu melahap rakus bibir merah ranum bagaikan buah cherry itu.
Jennifer selalu terbuai dengan permainan Nico, sehingga ia tidak malu-malu lagi membalas pagutan bibir mereka yang semakin lama kian liar. Tangan Nico menarik tali piyama dress tipis yang menggantung di dada istrinya, sehingga memudahkan tangannya menerobos masuk menggapai gundukan yang sudah menyembul itu.
Meremass dan bahkan memilin puncuk sensitif istrinya sehingga sukses membuat Jennifer melenguh nikmat. Nico semakin gencar mencumbu istrinya, mengakhiri ciuman dan saling pandang dengan tatapan yang berkabut gairah. Bibir Nico perlahan menelusuri leher Jennifer, lalu menjalar hingga ke bagian dada. Disingkapnya dress yang masih membungkus tubuh istirnya, menarik lalu membuangnya dengan asal. Kini yang nampak adalah dua gundukan yang menantang dan hanya terhalangi kain penyangga dada.
Nico yang sudah diliputi oleh gairah yang membara segera melepaskan penghalang dada dan juga kain segitiga di bawah sana. Tidak lupa ia juga menanggalkan seluruh pakaiannya yang masih melekat ditubuhnya, lalu melemparnya hingga teronggok di lantai. Jennifer selalu terpana dengan tubuh atletis Nico disertai perut yang six pack, arah pandangnya tertuju pada senjata milik Nico yang berdiri dengan tegak siap untuk memuaskan dirinya.
"Aaahhhhh....." Jennifer meloloskan desahaan ketika Nico melahap satu buah dadanya. Mendengar desahaan istrinya itu, tentu saja mengundang hasrat Nico yang sudah memuncak.
Tangan Nico kemudian menjelajahi setiap lekukan tubuh Jennifer dengan bibir yang terus saja melahap dada istrinya yang semakin lama semakin membesar. Hingga tangan Nico menggapai sesuatu yang selalu membuatnya candu, bermain di bawah sana, sebelum kemudian satu jarinya menerobos masuk.
Tubuh Jennifer menggelinjang ketika hentakan jari Nico kian dipercepat. Napasnya memburu, bahkan ia meremass rambut Nico, menjabarkan sensasi nikmat yang selalu diberikan oleh suaminya.
Puas bermain dengan jari dan berhasil membuat istrinya mendapatkan pelepasan, Nico memposisikan miliknya, hingga senjatanya tersebut menerobos masuk dan berhasil tenggelam sempurna.
"Aaaarghhh...." Nico mengerang nikmat, pinggul kian dipompa lebih cepat. Tangannya meremass satu dada Jennifer yang bergerak naik-turun.
Dan selama beberapa menit lamannya Nico memuntahkan cairan kental ke dalam rahim sang istri. Napas keduanya memburu usai mendapatkan pelepasan dan Jennifer mendapatkan pelepasan untuk kedua kalinya. Nico kemudian mengecup kening istrinya cukup lama, ia benar-benar tidak akan merasa puas jika hanya melakukannya satu kali.
***
__ADS_1
Dua jam kemudian, Nico dan Jennifer sudah tiba di Mansion Utama. Keduanya masuk ke dalam tanpa melepaskan tautan jemari mereka. Baru saja beberapa langkah masuk ke dalam Mansion mewah dan luas itu, sudah terdengar suara bising dan gelak tawa renyah anak-anak dan pemandangan pertama kali yang mereka lihat adalah keponakan-keponakan yang berlarian kesana kemari.
"Aunty Jenn...." Austin dan Devano melihat kedatangan Jennifer dan Nico terlebih dahulu. Balita yang hanya berbeda beberapa bulan itu berlari ke arah Jennifer.
Jennifer menangkap kedua keponakannya yang aktif dan lincah. "Hei, kalian jangan berlari seperti itu. Bagaimana kalau kalian tadi terjatuh, hm?" Posisi Jennifer yang membungkuk itu memudahkan untuk mencubit hidung Austin dan Devano secara bergantian.
"Kata Daddy jika terjatuh harus bangun sendiri. Lagi pula As jagoan, jadi tidak akan menangis."
Devano mengangguk setuju dengan Austin. Dengan polosnya berkata, "Devan juga jagoan aunty, harus kuat supaya besar nanti bisa melindungi Mommy."
"Loh, hanya melindungi Mommy saja? Tidak melindungi Daddy, hm?" goda Jennifer tersenyum. Sungguh ia dibuat gemas dengan keduanya, bahkan Nico juga menyaksikan kelucuan mereka dan mengulas senyum tipis.
Devano dan Austin kompak menggeleng. "Tidak, As/Devan hanya akan melindungi Mommy," seru keduanya bersamaan dengan menyebut nama mereka masing-masing. "Tubuh Daddy besar, jadi As tidak perlu melindungi Daddy," imbuh Austin kemudian.
Dan jawaban kedua balita yang dengan menggebu-gebu membuat Jennifer tidak bisa menahan tawanya. "Kenapa kalian sangat menggemaskan." Jennifer mencubit pipi Austin dan Devano bergantian.
Mereka yang duduk di ruang tamu keluarga dapat melihat dan mendengar perkataan Austin dan Devano, sehingga gelak tawa menggema disana.
"Kalian berdua kenapa mengganggu Aunty Jenn? Biarkan Aunty Jenn duduk. Kasihan Aunty Jenn pasti lelah." Elleana menghampiri sehingga Austin berlari menuju Sang Mommy, lalu memeluk kedua paha Mommy-nya itu. Sementara Devano sudah berlari menuju Mommy Oliva terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa kak." Lalu Jennifer dan Elleana saling memeluk singkat.
"Hallo, Nyonya Bos." Berbeda dengan Nico yang hanya menyapa Elleana dengan ramah. Tidak mungkin ia memeluk Nyonya Bos, bisa-bisa ia hanya tinggal nama saja, pikirnya.
Elleana balas tersenyum, tetapi sesaat kemudian memutar bola matanya dengan malas. "Ck, kau ini. Kita sudah menjadi satu keluarga, kenapa masih memanggilku 'Nyonya Bos'?"
Elleana yang tidak ingin memperpanjang hanya mengangguk saja. "Baiklah, kalian lebih baik segera duduk, pasti sangat lelah." Elleana mengetahui jika jarak penthouse menuju Mansion Utama Cukup jauh.
Dan kemudian Jennifer serta Nico bergabung dengan Jack serta Edward. Nico bertegur sapa dengan kedua mertuanya yang selalu ramah dan baik kepada dirinya, bahkan menganggap dirinya sebagai putra mereka. Sama halnya seperti Edward dan Jack yang juga sudah di anggap sebagai putra dari Daddy Jhony dan Mommy Marry.
Mereka bercengkrama cukup lama, sesekali tertawa akan kelucuan Austin, Devano dan juga Darren. Hingga pada saat tidak sengaja bosnya berjalan melewati dirinya, mengendus aroma parfum yang begitu menusuk hidungnya.
Bos, kau memakai parfum hingga berapa botol? batin Nico. Semula ia tidak mencium aroma parfum bos karena jarak dirinya duduk cukup jauh dari bos.
Lama sudah menahan rasa mual yang menjalar hingga sedikit mengeluarkan keringat, akhirnya Nico menyerah, ia segera beranjak dari duduknya. "Aku permisi dulu ke kamar mandi."
Mereka kompak mendongak, lalu mengiyakan namun terlihat heran ketika melihat wajah Nico yang memucat. Semua yang disana menatap Jennifer penuh tanda tanya. Jennifer yang panik tidak menjawab dan segera mengekori langkah Nico menuju kamar mandi
Tidak berselang lama, Nico dan Jennifer sudah kembali dari kamar mandi. Wajah Nico tampak sedikit lebih segar, tidak pucat seperti sebelumnya. Namun justru ia harus berpapasan dengan bos.
"Bos....." ucapnya gugup.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Xavier disertai kening yang berkerut heran.
"Tidak apa-apa bos, hanya.... hoeekkk...." Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Nico berlari kembali ke arah kamar mandi. Tentu saja semua itu tidak luput dari perhatian semua yang berada disana. Jack dan Edward saling bertanya, namun keduanya juga saling mengangkat bahu karena tidak tahu menahu.
__ADS_1
Xavier kian dibuat bingung. Ada apa dengan anak buahnya itu?
"Ada apa dengan suamimu Jenn? Apa dia sedang sakit?" tanyanya penasaran. Karena ia mengenal anak buahnya yang satu itu tidak mudah sakit.
Jennifer mengangguk. "Iya kak, sudah beberapa hari Nico merasakan mual dan muntah-muntah seperti itu."
"Ck, daya tahan tubuhnya melemah," gumam Xavier. Ia hendak melayangkan pertanyaan kembali, akan tetapi Nico lebih dulu menghampiri mereka.
"Bos, kenapa kau memakai parfum yang aneh?"
Kedua alis Xavier terangkat, ia sedikit kesal akan pertanyaan Nico. "Maksudmu?!"
"Aku mual bos.... hooeekkk..." Sekuat tenaga Nico menahan rasa mual yang semakin mengaduk-mengaduk perutnya.
"Jadi maksudmu, aku menjadi penyebab kau mual dan muntah seperti itu, heh?!" Tersulut sudah emosi Xavier hingga Jennifer mendadak panik.
"Tidak, hanya saja aku tidak tahan mencium aroma tubuhmu bos." Sadar apa yang baru saja ia katakan, Nico spontan mengatupkan mulutnya. "Ma-maksudku aroma parfummu bos." Semakin gugup saja Nico, dirinya nyaris salah bicara.
"What?!!" Mata Xavier melebar.
"Bukan begitu kak, Nico sedang-"
"Apa dia tidak memiliki mulut untuk bicara, heh?!" Jennifer hendak menjelaskan, akan tetapi Xavier menyelanya lebih dulu.
Nada suara Xavier yang meninggi itu sontak saja menjadi pusat perhatian semua yang berada disana, termasuk Elleana. Wanita itu segera menghampiri suaminya yang terlihat marah.
"Kak, bukan begitu, Nico.... dia sedang-"
"Apa yang terjadi?" tanya Elleana berjalan mendekat. "Hubby ada apa?" Lalu pandangannya beralih pada suaminya yang nampak sangat kesal.
"Lihatlah adik iparmu ini Sweety, dia mengatakan jika tidak tahan menciumi aroma tubuhku. Apa dia pikir aku bau, huh?!" Xavier mengadu kepada sang istri, ia menghunuskan tatapan tajam kepada anak buahnya yang sudah menjadi adik iparnya itu.
Nico mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal. Nyawanya berada di ujung tanduk saat ini.
"Bos, aku.... hooeekkkk...." Niat hati ini ingin menjelaskan, namun perutnya benar-benar tidak mendukung. Sehingga Nico kembali merasakan mual dan berlari menjauhi bos menuju kamar mandi.
"NIICOO!!!!" Xavier tidak terima, ia berteriak dengan suara yang lantang, rahangnya yang mengeras itu menandakan jika ia benar-benar marah.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Nico memuntahkan seluruh isi perutnya dengan dada yang bergemuruh hebat. Ia baru saja memancing kemarahan singa. Poor Nico. Ia meruntuki dirinya sendiri.
See you next bonus chapter
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...