
Perhatian.... Area khusus dewasa ya 21+ ā ļø Yoona gak tanggung jawab kalau otak kalian traveling wkwkš¤
.
.
Setelah kepergian bos, Nico benar-benar memastikan terlebih dahulu jika bosnya itu tidak akan kembali mengganggu dirinya yang akan menggapai puncak kenikmatan bersama sang istri. Hingga beberapa menit lamanya, bos tidak kunjung kembali, pertanda jika memang bos menyebalkan itu sudah benar-benar pergi dan tidak akan mengganggu dirinya.
Nico kemudian mendekati sang istri yang duduk memandangi gemerlap Kota London, lalu memeluk lehernya dari belakang. Jennifer tersenyum diiringi tangan yang mengusap lembut lengan suaminya. Nico tidak tinggal diam, ia mengecup puncak kepala sang istri bertubi-bertubi. Jennifer menikmati sentuhan bibir suaminya pada puncak kepalanya, sentuhan lembut itu selalu membuatnya benar-benar merasa nyaman.
"Aku menginginkanmu My Queen..." Sepertinya Nico kembali bergairah hanya dengan mengecup puncak kepala sang istri, menarik kedua tangan di leher sang istri lalu menarik pergelangan tangan istrinya itu agar beranjak berdiri.
Nico membenamkan tubuhnya di sofa yang sebelumnya di duduki oleh istrinya, menuntun Jennifer duduk di atas pangkuannya. Menyisakan jarak agar ia bisa berlama-lama memandangi wajah cantik istrinya. Dibelainya wajah cantik itu dengan lembut, lalu beralih pada bibir tipis ranum sang istri, mengelusnya hingga Jennifer reflek memejamkan mata menikmati sentuhan lembut pada bibirnya.
Nico bernapsu, pria itu sungguh tidak bisa menahan gairahnya lebih lama lagi, sehingga ia menarik tengkuk leher istri kecilnya lalu menyambar bibir yang sudah menjadi candu untuknya. Nico melummat dengan sangat rakus, mengabsen setiap gigi istrinya, hingga permainan bibirnya kian memanas lantaran istri kecilnya sudah bisa mengimbangi permainan bibirnya. Mereka saling bertukar saliva, menyesap dan saling membelit lidah. Sapuan lidah Nico tidak membiarkan bibir cantik itu lepas dari jangkauan bibirnya, hingga ia kian memacu gerakan bibirnya menjadi sangat liar. Tangannya ikut bekerja dengan meremmas satu buah dada sang istri, hingga Jennifer meloloskan lenguhan yang mampu membuat Nico semakin bergairah.
Lama bermain pada pucuk sensitif di balik handuk tipis itu, tangan Nico kemudian menarik tali bathrobe hingga terlepas lalu menyingkap dan nampaklah bahu mulus sang istri serta dua gundukan yang menantang. Lantas Nico mengakhiri ciuman mereka yang dipenuhi gairah itu, napas Jennifer memburu, ia menghirup pasokan udara sedalam-dalamnya. Dada yang membusung tidak lepas dari pandangan Nico karena dua gundukan itu tepat berada di depan matanya, suaminya itu langsung saja membenamkan wajahnya di sana, menghirup aroma yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Semenjak bertemu dan mengenal Nona Jennie, Nico menjauhi setiap wanita yang ingin melemparkan diri. Karena ia tidak lagi bernapsu melihat wanita berpakaian seksi, justru ia hanya bergairah pada saat melihat Nona kecilnya itu.
"Aahh.. Nic..." Jennifer meremmas rambut Nico ketika suaminya itu mengulum puncak sensitifnya, bahkan sempat menggigit lantaran gemas.
Gairah Nico kian menjadi karena lenguhan yang lolos dari bibir istrinya itu. Ia terus saja melahap dada istrinya sementara dada yang lain diremat begitu kuat sehingga Jennifer tidak bisa menahan gejolak di dalam tubuhnya. Bagian intinya bergesekan dengan milik Nico yang membesar, dengan sengaja pria itu menekan miliknya tepat pada bagian bibir inti istrinya yang masih terhalang oleh handuk tipis itu. Sementara ia terus melahap dua gundukan bagaikan bayi yang kehausan, bahkan Nico sudah memberikan banyak tanda di dada putih istrinya.
Lama bermain pada dua dada istrinya yang kini bisa dengan bebas ia lahap bahkan ia mainkan, tangan Nico berlaih ke bawah, jarinya mengelus paha istrinya lalu menjalar hingga meraba bagian area sensitif milik sang istri, hingga lagi-lagi Jennifer meloloskan desahannya dengan penuh sensual. Satu jemari Nico berusaha menerobos dinding yang belum terjamah itu pada saat bagian milik sang istri sudah basah akibat ulahnya, dan seketika tubuh Jennifer menegang seolah tersengat aliran listrik, satu jemari Nico yang tenggelam di dalam intinya mengobrak-abrik lubang sempit itu hingga membuat Jennifer mendesah berulang kali, bahkan ia harus meremass kedua bahu Nico pada saat suaminya itu mempercepat tempo gerakan jemarinya. Posisi istrinya yang duduk di pangkuannya itu sangat memudahkan jemarinya bermain di bawah sana.
"Apa kau menyukainya sayang...." Suara Nico terdengar berat, matanya yang menatap sang istri begitu sayu berkabut gairah.
"Aaahh.... akuu suka sayaang...." Tidak dipungkiri apa yang dilakukan oleh suaminya adalah hal baru baginya tapi sungguh ia tidak bisa menjabarkan kenikmatan yang tengah ia rasakan. Jennifer menggigit bibir bagian bawahnya saat Nico justru memasukkan satu jemarinya lagi hingga kini bagian intinya seperti dihantam benda yang besar.
"Ahhhhh Nic.... cukup...." Dengan sangat kuat Jeniffer meremass bahu Nico tapi suaminya itu justru senang membuat istri kecilnya kian terangsaang akan permainan jarinya.
__ADS_1
Tidak tahan dengan godaan wajah sang istri yang terus menggigit bibir bawahnya untuk melampiaskan kenikmatan itu, lantas Nico menyambar bibir mungil itu, kembali menyesapnya dengan sangat rakus. Tidak lupa jemarinya berpacu lebih cepat dari sebelumnya, tangan Nico yang lain menahan pinggul Jennifer, ia merasakan tubuh sang istri yang menegang hebat. Hingga tubuh Jennifer menggelinjang, mencengkram kuat kedua bahu Nico karena mencapai pelepasannya. Jennifer merasakan kelegaan, ia sempat bingung apa yang baru saja ia keluarkan, karena rasanya sungguh nikmat dan melegakan.
Nico mengakhiri ciumannya, ia merasakan milik sang istri yang berdenyut menyentuh jemarinya, lalu menarik dua jemari yang terbenam di dalam sana. Tanpa perasaan jijik, Nico menjilati cairan kental milik istrinya yang benar-benar terasa manis di mulutnya.
"Sudah keluar sayang?" Nico tersenyum, ia bangga pada dirinya karena berhasil mengantarkan sang istri pada pelepasan pertamanya.
Jennifer mengangguk malu. "Yang tadi itu apa? A-aku merasa aneh tapi benar-benar lega dan nikmat."
Mendengar perkataan istrinya, Nico justru terkekeh. "Mau lagi, hm?" Nico justru menggoda, karena ia pun akan menggempur istrinya setelah ini.
Jennifer terdiam, sejujurnya ia ingin merasakan lagi hingga detik kemudian Jennifer mengangguk. Tentu saja Nico tidak membuang kesempatan itu, sudah terlalu lama ia ingin melakukan penyatuan tubuh dengan istrinya. Dengan penuh semangat, Nico kembali mendaratkan ciuman liar pada bibir Jennifer yang langsung mendapatkan balasannya. Bibir Nico yang lembut itu entah kenapa membuat wanita itu merasakan ketagihan, bahkan ia ingin terus berciuman dengan suami raksasanya.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Nico kemudian menggendong Jennifer ala baby koala, menahan bokong istrinya dan membiarkan kedua kaki sang istri melingkar pada pinggangnya. Nico berjalan menuju tempat tidur, bathrobe yang membalut tubuh Jennifer sudah tergelincir di atas sofa. Nico kemudian membaringkan istrinya sehingga tautan bibir mereka terlepas begitu saja. Tatapan Jennifer memancarkan kekecewaan karena ciuman mereka harus terlepas dan Nico memahami hal itu, sepertinya istri kecilnya itu benar-benar sudah diliputi gairah.
Nico melepaskan handuk yang membelit pinggangnya, lalu melemparnya dengan asal. Merangkak naik ke atas tempat tidur, memposisikan dirinya di atas tubuh Jennifer. Dengan cahaya yang temaram itu Jennifer dapat melihat senjata milik Nico yang berdiri tegak, ia malu melihat benda asing itu, hingga reflek menutup matanya.
Dengan gerakan malu disertai wajah yang merona merah itu, tangan Jennifer bergerak sesuai irama yang diajarkan oleh Nico. Sungguh Nico senang sekali mengajari istrinya dalam urusan ranjang.
"Iya sayang, terus seperti itu uughh...." Tidak bisa untuk menahan erangannya, sensasi yang berikan istrinya kepada senjatanya itu mampu membuat seorang Nico dengan fantasi liarnya melayang di udara. Nico memagut bibir istrinya lebih dalam lagi, sebelum kemudian membenamkan bibirnya pada dua dada istrinya yang siap kembali ia lahap, sehingga tangan Jennifer yang menggenggam erat senjata milik Nico terlepas karena pria itu berangsur mundur untuk menggapai dua dada yang teramat menggiurkan.
Lama Nico bermain pada dada istrinya hingga tercetak jelas tanda-tanda kemerahan yang menyebar hingga ke seluruh pundak dan dada wanita itu. Jennifer meloloskan lenguhannya, membiarkan suaminya bermain-main pada dadanya hingga puas. Perlahan Nico meringsut turun ke bawah, ia melebarkan kedua paha Jennifer, lalu membenamkan wajahnya disana.
"Aaahhh...." Jennifer mendesahh, Nico memberikan sensasi baru dengan bermain lidah pada inti bawahnya. "Aahh... Nic... saa..yangg... aahh...." Lidah Nico bermain sangat liar di bawah sana hingga membuat Jennifer menggelinjang hebat dengan desahann yang tidak tertahankan.
Api gairah Nico kian panas hingga mampu membakar tubuhnya. Mendengar istrinya yang semakin mendesahh, lidahnya tidak berhenti disana, justru semakin dalam menyesap disertai lidah yang menari-nari pada inti istrinya itu. Sensasi baru yang juga pertama kali ia lakukan karena sebelumnya ia tidak ingin melakukan itu karena merasa jijik jika harus menghisap milik wanita yang mungkin sudah dijamah oleh pria lain. Dah entah kenapa ia ingin mencobanya kepada istrinya dan benar saja rasanya sungguh nikmat, bahkan Nico tidak segan untuk menelan cairan yang keluar dari bibir inti istrinya.
"Nic... stop... aku.... hmmmppp..." Jemari Jennifer meremass kuat rambut suaminya itu. Bahkan ia berusaha menjauhkan bokongnya tetapi Nico terlalu menekan miliknya hingga Nico kian mencapai intinya dengan lidahnya itu. "Aaagghhh Nic....." Di dorong pelepasannya, Nico menyesap dan menelan cairan yang baru pertama kali ia rasakan. Tidak terlalu buruk dan ia menyukainya seolah tidak ada bedanya dengan wine atau sejenis anggur lainnya.
__ADS_1
Puas bermain di bawah sana, Nico menyematkan senyum, dilihatnya wajah Jennifer yang penuh gairah itu dengan napas yang terengah-engah karena kembali mendapatkan pelepasannya.
"Aku akan melakukannya My Queen. Tahan sedikit jika sakit." Tubuh Nico kembali menerjang Jennifer, mengukung istrinya yang masih dalam keadaan penuh gairah. Jennifer mengangguk lemah, entah setelah ini sensasi apalagi yang akan ia rasakan.
Kejantanan Nico siap untuk bertempur dengan milik sang istri, memposisikan miliknya untuk menerobos masuk. Percobaan pertama begitu sulit karena benar-benar sempit.
"Aahhh sa-sakit...." Benda asing yang mencoba menerobos masuk membuat Jennifer memekik kesakitan, bahkan kedua tangannya harus mencengkram kuat sprei.
"Tahan sayang.... sedikit lagi...." Memang sangat sulit, mengingat ini pertama kali untuk sang istri, pertama kali juga untuknya melakukan penyatuan tubuh, hingga usahanya tidak sia-sia, miliknya tenggelam sempurna disana. "Aku akan pelan-pelan sayang..." Kemudian Nico mengatur gerakan pinggulnya, ia tidak ingin menyakiti istri kecilnya itu, gerakannya semakin cepat hingga sesuatu yang basah merambat pada miliknya. Nico sangat yakin jika itu adalah noda darah milik istrinya.
Nico tersenyum, ia berhasil menggagahi istrinya itu dan ia kembali memompa pinggulnya. Nico benar-benar melakukannya selembut mungkin sehingga Jennifer mulai menikmati. Ya, rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa.
"Aahh... aaahhh..." Dan lenguhan itu kembali lolos dari bibir Jeniffer. Wanita itu memeluk punggung Nico, menikmati gerakan setiap gerakan yang memacu hingga tubuhnya bergerak sesuai ritme gerakan suaminya.
"Euugghh, kau sangat nikmat sayang..... arrghhh..." Bahkan Nico tidak bisa berkata-kata. Ia terlalu menikmati miliknya yang begitu dicengkeram kuat di bawah sana.
Gerakan pinggul yang sebelumnya melambat kini berpacu lebih cepat hingga Nico dan Jennifer mengerang bersamaan. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya namun tidak mengurangi gairah keduanya.
"Ahhhhh.... Nic... aku ingin keluar lagi....." Dengan tubuh yang naik turun akan gerakan tubuh mereka.
"Bersama sayang..... Aarghhh....." Nico menyambar bibir Jeniffer begitu mendorong pelepasan mereka hingga keduanya bersama-sama hanyut dalam puncak pelepasan dan Nico menumpahkan lahar kentalnya di dalam sana.
Napas keduanya terengah-engah, milik Nico masih terbenam di dalam milik sang istri. Rasanya ia enggan untuk mencabutnya dan masih ingin melakukannya lagi dan lagi.
Bibir Nico mendarat di kening Jennifer setelah mencabut miliknya. "Istirahatlah sayang, kita akan melakukannya sampai pagi." Jennifer tidak bisa menolak keinginan menggebu-gebu suaminya itu. Hingga ia hanya diberikan waktu istirahat beberapa menit saja dan akhirnya Nico kembali melakukan serangannya.
Entah sudah berapa kali Nico memberikan kenikmatan sehingga Jennifer dibuat mengerang dengan di dorong pelepasan. Malam panjang itu dihiasi dengan gairah mereka, suara erangan di dalam sana saling bersahutan dan Nico benar-benar menggempur sang istri hingga kelelahan. Akhirnya penantian panjangnya berbuah manis, ia tidak hanya melihat, meraba tetapi bisa mencicipi bahkan membenamkan benihnya di rahim Nona kecil yang sudah menjadi istrinya itu.
__ADS_1
Nah kan panas dingin........ šš gak tau hot apa enggak..... dahlah kaboorrrr.... š
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian š...