
Deru tembakan yang saling bersahutan menggema di udara. Masing-masing organisasi terlihat hebat dan tidak pantang menyerah, meskipun anak buah dari Black Lion maupun Bloods sudah semakin berkurang. Terlihat Daniel yang tidak berhenti menargetkan Jared yang memang seperti memiliki dendam kesumat padanya, berulang kali Jared mencari celah untuk menyerang bagian tubuh Daniel, tetapi karena kemampuan Daniel begitu cekatan sehingga ia mampu menghindar dengan berguling ke tanah maupun bersembunyi di sebuah batu-batu besar.
Dor
Dor
Dor
"Shitt! Pria sialan, berani-beraninya menyerangku!" umpat Daniel. Ia berhasil melindungi diri, kini ia membidikan senjatanya ke arah anak buah Bloods yang berada di jangkauan matanya. "Mati kalian!" serunya.
Dor
Dor
Dor
Dengan membabi buta Daniel menghantam pelurunya kepada tiga anak buah Bloods tersebut. Begitu melihat darah bercucuran, Daniel menyeringai penuh kepuasan.
Kini Keil dan Nico saling membantu menembaki beberapa anak buah Bloods. Mereka berhasil melindungi diri dari hantaman peluru yang dimuntahkan dari senjata Seth dan Tobi. Melihat Tobi yang seperti hendak melarikan diri, Nico berusaha mengejar pria itu.
"Bajingan! Mau lari kemana dia?" Dengan berjalan mengendap-endap, Nico mengikuti kemana Tobi melangkah, musuhnya itu belum menyadari keberadaan dirinya.
Sementara napas Keil terengah-engah tidak beraturan, ia masih mengedarkan pandangan ke beberapa anak buah Black Lion yang masih tersisa cukup banyak, tetapi di antara mereka terluka terkena hantaman peluru. Pandangannya kemudian berpusat pada Nico dari jarak yang cukup jauh, kedua alisnya berkerut dalam, ada sesuatu yang aneh. Kenapa tidak ada yang menyerang Nico padahal beberapa dari anak buah Bloods sudah melihat Nico sebelumnya.
"Shitt perangkap!" Insting Keil mengatakan jika Tobi sengaja menarik perhatian Nico dan memasang perangkap di suatu tempat. Keil berlari begitu cepat, bahkan kedua tangan dan kiri Keil menembaki dua anak buah Bloods yang berusaha menghalangi dirinya. "NICO, MENYINGKIR!" teriaknya kemudian. Keil sangat yakin jika di bawah daun-daun kering itu ada sebuah perangkap.
Mendengar suara teriakan Keil, Nico sontak menoleh namun Keil sudah lebih dulu menjangkau tubuh Nico dan menariknya hingga senjata yang di genggam Nico terlepas dari genggamannya.
Tuk
Duaarrr
Senjata Nico terjatuh mengenai setumpukan daun-daun kering tersebut bersamaan dengan ledakan hingga menyemburkan api dan percikan tanah kering ke sembarang arah.
Nico dan Keil terguling ke semak-semak karena keduanya tidak bisa menjaga keseimbangan. Namun beruntung, Keil lebih dulu menghentikan langkah Nico sebelum sahabatnya itu menginjak daun kering tersebut.
Daniel terlihat sangat panik ketika melihat ledakan itu. Ia menyapu pandangan mencari sosok kedua sahabatnya yang tidak berada di manapun.
"Sial!!!" Daniel mengira jika ledakan tersebut berhubungan dengan Keil juga Nico, pikiran negatif menguasai dirinya jika telah terjadi sesuatu dengan kedua sahabatnya itu. "Keil..... Nico....." Kemudian berteriak diliputi amarah.
Jika terjadi sesuatu dengan mereka, ku habisi kalian semua. Keparat!
Rahang Daniel mengeras. Ia menangkis senjata laras panjang ke udara yang berusaha menghantam dirinya dan merebutnya dari salah satu anak buah Bloods. Sebelum kemudian memutar senjata itu hingga posisi senjatanya mengarah pada perut anak buah Bloods itu.
Dor
Begitu musuhnya terkulai lemah, Daniel menembaki beberapa anak buahnya yang berada di depan dan sisi kanan kirinya.
Dor
Dor
Dor
Dor
Daniel tidak peduli lagi, yang ia pedulikan saat ini melihat keadaan Kiel dan Nico setelah ledakan itu. Apakah mereka baik-baik saja atau terluka. Jared dan Seth menyaksikan kebrutalan Daniel, keduanya bergidik ngeri, meskipun konyol ternyata Daniel memiliki sisi yang sangat menyeramkan.
Beberapa anak buah Black Lion berbondong-bondong menghampiri Daniel. "Bos Daniel, tenanglah. Bos Keil dan bos Nico baik-baik saja. Mereka terjatuh ke semak-semak."
Hembusan napas kelegaan dirasakan oleh Daniel. Baguslah, jika kedua sahabatnya itu baik-baik saja. "Aku akan bantu mereka. Kalian jangan membiarkan musuh kita melarikan diri," perintahnya kemudian.
"Baik bos Daniel...."
***
__ADS_1
Keil dan Nico terbatuk-batuk ketika tidak sengaja menghirup kepulan debu yang memudarkan pandangan mereka. Karena debu yang teramat itu membuat Keil dan Nico menepuk pakaian milik mereka yang kotor.
"Uhuuk.... uhuuk.... kau baik-baik saja?" tanya Keil yang masih berusaha meredam batuknya.
"Aku baik-baik saja.... uhuuk.... uhuuk...." sahut Nico terbatuk-batuk. Debu itu masih saja menyelimuti mereka. "Thanks, aku berhutang nyawa denganmu." Sembari menepuk bahunya yang sedikit nyeri akibat terjatuh.
"Hem, kau jangan gegabah. Yang kita hadapi adalah musuh yang licik. Bagaimana jika tadi kau mati dan kau tidak bisa mendapatkan Nona Jennie, kau tidak akan bisa mati dengan tenang." Meskipun terdengar kasar, namun penuh perhatian yang terselip di ucapan Keil hingga membuat Nico terkekeh.
"Aku tidak akan mati semudah itu sebelum menjadikan Nona Jennie menjadi milikku!"
"Aish, banyak bicara." Keil terlalu malas menanggapi ucapan Nico yang terlalu percaya diri itu dan kemudian berusaha berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Nico beranjak berdiri.
Keduanya sudah saling berdiri dan kini tengah berusaha memanjat ke atas sana. Beruntung semak-semak itu tidak terlalu terjal sehingga mereka bisa dapat bertahan.
Srek
Srek
Langkah Nico dan Keil terhentikan karena mendengar suara dari atas sana, keduanya saling melirik satu sama lain. Keil masih menyimpan senjata miliknya di balik jaket hitam, ia mengambilnya untuk berjaga-jaga jika Bloods yang mendekati mereka.
Srek
Srek
Hup
Seseorang melompat ke bawah sana dan membuat Nico serta Keil terkejut bersamaan.
"Ternyata kau...." Keil dan Nico berseru diiringi hembusan napas panjang. Dan yang baru saja melompat adalah Daniel. Keil kembali memasukkan senjatanya ke tempat semula.
"Berengsek! Kalian benar-benar membuatku panik!" Daniel menendang kaki Keil juga Nico tidak begitu keras sebagai bentuk jika dirinya merasa lega karena kedua sahabatnya baik-baik saja.
"Kenapa kau menendang kita, heh?!" seru Keil tidak terima sehingga ia membalas dengan menendang kaki Daniel.
"Kau menambah sakit di kakiku, keparat!" Sementara Nico memukul kepala Daniel.
"Nico terlalu ceroboh, dia nyaris menginjak bom." Keil menjelaskan.
Daniel melirik ke arah Nico dengan tajam. "Kau seperti itu pasti karena memikirkan Nona Jennie. Tenanglah, dia akan menjadi milikmu!"
"Aku tahu bodoh, tidak perlu memberitahuku! Aku hanya tidak sadar jika mereka memasang perangkap!" seru Nico membela dirinya.
"Intinya kau ceroboh," sela Daniel tidak mau tahu alasan apapun.
"Iyaa.... iyaa..." Nico mengalah, memang tidak bisa dipungkiri jika dirinya ceroboh kali ini.
"Sudahlah, kita naik ke atas dan habisi mereka!" Keil mengabaikan perdebatan mereka. Ia berjalan mendahului, memanjat ke atas dengan bantuan akar-akar pohon. Beruntung akar-akar itu masih terlihat kokoh sehingga bisa menopang tubuhnya yang besar.
Hal yang sama dilakukan oleh Nico dan Daniel, menyusul Keil naik ke atas sana. Keil berhasil mencapai ke atas, dengan bantuan beberapa anak buah Black Lion yang juga berada di sana, bermaksud membantu ketiga bos nya.
Deru tembakan masih terdengar, itu tandanya baku tembak belum berakhir. Nico dan Daniel sudah mencapai atas dan dibantu beberapa anak buah.
"Kita akhiri sampai disini dan di antara kalian jangan ada yang terluka!" seru Keil dan dijawab oleh anggukan kepala oleh Nico serta Daniel.
Ketiganya berjalan beriringan, anak buah mereka yang lain mengekori di belakang. Tidak lupa masing-masing dari mereka sudah memegang senjata kembali.
Dor
Dor
Dor
Ketiganya menembaki beberapa anak buah Bloods tanpa memberikan celah untuk mereka menyerang balik. Jared, Tobi dan Seth terlihat sangat kesal, ternyata Kiel dan Nico dalam keadaan baik-baik saja.
Untuk mempersingkat waktu, baik Nico dan Keil mengambil granat yang tersimpan rapih di saku jaket mereka. Sementara Daniel berjalan berlawanan arah, tujuannya adalah Jared, entah kenapa melihat wajah Jared sungguh membuat Daniel kesal setengah mati.
__ADS_1
Kemudian Nico dan Keil menarik tuas bom dalam bentuk cincin logam itu dan detik kemudian keduanya melemparkan bom tersebut ke arah yang berlawanan. Berbondong-bondong para anak buah Black Lion menjauhkan diri dari kedua bos mereka, berlari sejauh mungkin dari sana.
Duaarrr
Duaarrr
Dua ledakan bom memporak-porandakan wilayah Bloods, sapuan debu memenuhi tempat itu. Granat yang dirancang oleh Black Lion terdapat benda-benda tajam di dalamnya sehingga siapa saja yang terkena bom itu, akan hancur lebur bersamaan dengan puing-puing di sekitar.
"Shitttt!!!!!" Ketiga ketua Bloods menjadi murka karena wilayahnya benar-benar di hancurkan.
"Kalian benar-benar mencari mati dengan kami rupanya!" teriak Seth. Akibat ledakan bom itu, pandangan mereka sedikit tidak jelas, sedikit membuat mata mereka menjadi perih. Dan aroma dari bom itu benar-benar tidak sedap, sehingga tubuh mereka menjadi melemas.
Berbeda dengan Nico, Keil dan Daniel yang sudah mengenakan penutup wajah, sehingga mereka tidak terpapar oleh gas beracun itu.
Senjata Nico dan Keil tepat berada di kepala belakang Seth dan Tobi. Hingga membuat tubuh mereka menegang bersamaan. Seth, Jared serta Tobi melihat beberapa anak buahnya yang sudah terkapar karena gas dari bom itu.
"Kalian yang mencari mati! Jika saja kalian memberikan wilayah ini sejak awal, kami akan melepaskan kalian dan tidak akan melakukan hal ini!" ujar Nico dingin. Bahkan ia ingin sekali menghantam kepala Tobi karena sudah berani menjebak dirinya tadi.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Seth dan juga Tobi karena kini keadaan mereka terdesak. Jared hanya bisa terperangah namun penuh amarah di raut wajahnya.
"Berengsek, lepaskan mereka!" teriaknya.
"Ck, sejak tadi kau banyak bicara!" Daniel berdiri di hadapan Jared dengan begitu santainya. "Kenapa kami harus melepaskan mereka? Kedua temanmu itu akan mati di tangan kami haha!"
"Mereka tidak akan mati semudah itu!" seru Jared.
"Benarkah? Kau percaya diri sekali," ejek Daniel.
"Kalian sudah menghirup gas beracun, perlahan tapi pasti gas yang kalian hirup itu akan merusak sel-sel tubuh kalian," sambar Kiel kemudian.
"Jika dalam satu jam kalian tidak segera menyuntikkan obat penawarnya, maka kalian akan lumpuh permanen," sambung Nico kemudian.
Apa yang baru saja disampaikan oleh Black Lion benar-benar membuat ketiga ketua tidak mampu berkata, bahkan kening mereka sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Apa kalian pikir kami percaya, hah?" bentak Jared.
Keil, Nico dan Daniel hanya berdecak disertai senyuman meremehkan. "Serahkan sertifikat wilayah Dan Gabriel dan kami akan memberikan obat penawarnya kepada kalian!" seru Keil.
"Cih, jangan berharap," tutur Seth. Namun tiba-tiba saja Tobi terbatuk-batuk dan menyeburkan darah dari mulutnya.
"Sepertinya aroma dari gas itu sudah mulai beraksi." Nico masih dengan senjata di belakang kepala Tobi menakuti mereka.
Seth dan Tobi menjadi panik seketika. Keduanya menatap ke arah Jared. Jared begitu enggan jika harus memberikan wilayah mereka kepada Black Lion.
"Uhuukk...." Dan selanjutnya Jared yang terbatuk hingga sudut bibirnya juga mengeluarkan darah. "Shitt! Ternyata mereka tidak main-main," pekiknya dalam hati. "Baiklah...." tuturnya kemudian.
Tidak ada pilihan lain selain menyanggupi keinginan Black Lion. Jared mengeluarkan secarik kertas di balik pakaiannya, ternyata sejak tadi benda itu berada di dalam pakaian pria menyebalkan itu.
Daniel maju satu langkah dan merampas secarik kertas itu. Ia meneliti sertifikat tersebut. Senyumnya terbit karena sertifikat itu asli. Daniel menatap ke arah Keil juga Nico dan kemudian mengangguk sebagai tanda isyarat. Seketika Keil dan Nico menjauhkan senjata mereka dari Seth dan juga Tobi.
Keduanya berjalan ke arah Daniel. Dan datanglah satu anak buah Back Lion dengan membawa satu tas penuh uang dan meletakkannya di tanah.
"Di dalamnya ada uang 5 juta dollar dan obat penawar untuk kalian!" ujar Keil menoleh singkat. "Senang bernegosiasi bersama dengan kalian!" imbuhnya. Sebelum kemudian Keil, Nico dan Daniel, melenggang pergi begitu saja.
Hah. Sungguh mencengangkan. Tidak habis pikir Black Lion ternyata sehebat dan selicik itu. Jared, Seth dan Tobi merasakan sesak dan tidak nyaman pada tubuh mereka, buru-buru mereka membuka tas tersebut yang berisi uang 5 juta dollar Amerika setara dengan 72 milyar rupiah dan segera mengambil obat penawar dalam bentuk suntikan.
.
.
To be continue
.
.
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕