Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Bonus chapter (Perkara mengusap kepala)


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


Jennifer dan Nico terlihat turun dari mobil, keduanya baru saja pulang dari perusahaan Romanov Ent. Sudah hampir satu bulan, Jennifer tidak mengunjungi perusahaan karena kandungannya semakin besar. Dan pagi tadi Jennifer menyempatkan datang kesana sebelum beberapa hari lagi ia akan cuti melahirkan. Kini Nico dan Jennifer sudah tinggal di Mansion Utama atas permintaan Mommy Marry dan Daddy Jhony. Semula Nico sempat menolak karena tentunya sebagai seorang pria, ia tidak ingin merepotkan mertuanya. Karena sudah menjadi tanggung jawab dirinya menghidupi istri serta anaknya kelak. Akan tetapi Daddy Jhony terus mendesaknya, kedua pasangan paruh baya itu selalu mengatakan jika mereka akan lebih sering terbang ke Los Angeles untuk melakukan pengobatan lanjutan yang selama ini dijalani oleh Daddy Jhony, sehingga Mansion Utama tidak ada yang menempati. Sebab itulah Jennifer tidak bisa menolak keinginan kedua orang tua tercintanya.


"Daddy... Mommy...." Jennifer membenamkan tubuhnya di samping Mommy Marry. Perutnya yang besar membuatnya mudah kelelahan.


"Sebaiknya kau beristirahat saja Jenn. Tidak baik kandunganmu yang sudah membesar seperti ini harus bekerja. Biarkan perusahaan di handle oleh Nico," ujar Daddy Jhony. Ia begitu tidak tega melihat putrinya harus kesana kemari mengunjungi perusahaan.


"Iya Daddy, lagi pula Jennie datang ke perusahaan hanya duduk saja dan menandatangani beberapa dokumen. Selebihnya Nico yang menggantikan meeting." Jennifer tersenyum kuda, bertepatan dengan Nico yang baru saja mendudukkan tubuhnya bergabung dengan istri serta kedua mertuanya.


"Benar Dad, aku tidak akan membiarkan Jennie kelelahan, jadi Daddy dan Mommy tidak perlu cemas," ujar Nico tersenyum.


Daddy Jhony mengangguk. "Daddy percaya padamu. Putriku akan baik-baik saja selama kau ada disampingnya."


"Mommy juga benar-benar lega meninggalkanmu bersama Nico selama Mommy dan Daddy berada di Los Angeles. Suamimu benar-benar suami yang siaga." Mommy Marry terkekeh, ia mengingat bagaimana menantunya itu menjaga dan menuruti keinginan putrinya yang tidak akan ada habisnya itu.


Mendengar kedua orang tuanya yang memuji Nico membuat bibir Jennifer nencebik. "Mom dan Daddy jangan terlalu memujinya, nanti suamiku ini menjadi besar kepala," ujarnya dan ditanggapi senyuman oleh Nico. Tangannya terulur mengusap puncak kepala istrinya itu.


Melihat putrinya yang selalu dimanjakan oleh Nico, Daddy Jhony dan Mommy Marry tersenyum haru. "Sebaiknya kalian beristirahat. Kalian pasti lelah, terutama kau Jenn." Mommy Marry menyarankan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang akan berdampak dengan putri serta cucunya.


Jennifer mengangguk manja. "Benar Mom, siang nanti aku akan pergi berbelanja dengan Ashley," jawabnya. "Kalau begitu Jenn ke kamar dulu Mom... Dad..."


"Ya, beristirahatlah yang cukup," sahut Daddy Jhony.


Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Jennifer beranjak berdiri. Ia selalu kesulitan setiap kali duduk lalu beranjak, namun Nico selalu sigap membantunya tanpa pernah protes dan mengeluh. Terlebih kini Nico sudah tidak pernah merasakan mual seperti beberapa bulan lalu.


***


Sementara di penthouse milik Daniel, pagi ini Daniel dibuat sakit kepala akan ulah dari istrinya. Ia gemas setengah mati, antara ingin marah tetapi tidak bisa.

__ADS_1


"Sayang... Baby.... Mengertilah, aku hanya tidak ingin kau menyentuh kepala pria lain." Sejak pagi Daniel berusaha membujuk Ashley yang menginginkan mengelus kepala anak buahnya yang tidak memiliki rambut. Tentu saja Daniel menolak tegas keinginan istrinya itu. Alhasil Ashley merajuk dan tidak ingin makan apapun.


"Aku tidak mau makan sebelum bisa mengelus kepala mereka." Ashley bersedekap, ia membuang wajahnya ke arah lain saat tatapan Daniel memelas memohon padanya.


"Astaga sayang, kau benar-benar membuatku gemas." Jika saja yang ia hadapi bukan istrinya, sudah sejak tadi tangannya mencekik wanita itu dengan kuat.


"Salahmu sendiri kenapa tidak menuruti keinginanku." Ashley semakin merajuk, bahkan mata wanita itu berkaca-kaca. Entah kenapa pagi tadi ia ingin sekali mengusap kepala anak buah suaminya, ia teringat jika anak buah suaminya itu ada yang tidak memiliki rambut. Tetapi begitu menyampaikan keinginannya, sudah di tolak dengan tegas oleh sang suami.


"Bukan begitu baby." Daniel meraup wajahnya frustrasi. Sungguh, ia sudah kehabisan kesabaran. Daniel kemudian menangkup kedua bahu Ashley agar menatap ke arahnya. "Dengar baby, aku ingin bertanya padamu." Sorot mata Daniel begitu serius hingga menguat Ashley sedikit bergidik. "Apa kau memperbolehkanku mengusap kepala wanita lain selain dirimu?"


"Tentu saja tidak!" Dan Ashley langsung menjawab dengan tegas. "Aku tidak suka kau bersentuhan dengan wanita lain!" cebiknya.


"Itulah yang aku rasakan, aku tidak rela kau mengusap kepala pria lain siapapun itu. Dan aku pasti akan mematahkan tangannya atau organ tubuhnya yang lain!"


Glek


Daniel mengangkat dagu Ashley ketika istrinya itu justru tertunduk. "Bagaimana hm?"


Tatapan mereka saling bertemu, Ashley bisa melihat betapa suaminya itu sangat mencintai dirinya dan tidak mungkin rela melihat dirinya mengusap kepala pria lain.


"Baiklah, lupakan saja. Aku tidak menginginkannya lagi," cicit Ashley. Membayangkan jika Daniel memperlakukan wanita lain dengan begitu lembut sudah membuat rongga dadanya sesak.


Daniel tersenyum dan di dalam hati ia bersorak. Kali ini nyawa anak buahnya aman dan ia tidak akan melakukan macam-macam kepada beberapa anak buahnya itu.


"Kalau begitu kita ke kamar baby. Kau perlu beristirahat karena nanti siang kau akan bertemu dengan Nona Jennie." Daniel menggiring istrinya menuju kamar mereka.


Wajah Ashley yang semula sendu dan kecewa, senyumnya mulai terbit kala ia mendengar nama Jennifer. Siang ini mereka memang akan pergi bersama, mereka akan bertemu di cafe ice cream.


Daniel bernapas lega, setidaknya ia bisa menjinakkan sang istri dengan keinginannya yang nyaris membuatnya ingin membunuh anak buahnya yang tidak memiliki rambut. Melihat Ashley yang sudah memejamkan mata begitu membaringkan tubuh mereka, lantas Daniel segera beranjak. Ia memastikan terlebih dahulu jika istrinya tidak akan terbangun, setidaknya selama ia mengurus sesuatu.

__ADS_1


Daniel keluar dari dalam kamar dan melangkah panjang menuju pelataran penthouse. Disana ia mengumpulkan beberapa anak buahnya. Lina yang sebelumnya ia tugasnya untuk membawakan sesuatu terlihat berjalan tergesa-gesa menghampiri Daniel.


"Ini pesanannya." Lina menyodorkan paperbag yang entah apa itu.


"Berikan kepada mereka satu persatu," ujar Daniel menunjuk beberapa anak buahnya yang benar-benar polos tidak memiliki rambut.


Lina menurut lalu memberikan kepada beberapa rekan kerjanya satu persatu.


"Pakai itu saat berkeliaran di penthouse dan di depan istriku." Perkataan yang mengandung perintah itu tentu saja tidak bisa membuat mereka berkutik.


"Bos, kenapa kami harus memakai ini?" ujar salah satu dari mereka dan itu cukup mewakili pertanyaan yang ada di benak yang lainnya. Mereka terkejut ketika melihat isi dari paper bag, sebuah wig pria dengan bermacam-macam model.


"Itu lebih baik dari pada kalian harus kehilangan kepala kalian!!" sahutnya kesal. Karena kepala mereka yang licin tidak ada rambut membuatnya sakit mata, terlebih istrinya ingin mengusap kepala beberapa anak buahnya tersebut. "Satu hal lagi, jangan lepaskan wig itu apapun yang terjadi, terutama saat di depan istriku! Jika kalian sengaja memperlihatkan kepala kalian yang licin itu, aku akan menusuk kepala yang kalian banggakan itu dengan pisau. Mengerti?!!!"


"Mengerti bos Daniel!!" ujar mereka serentak. Setelah mengatakan hal tersebut, lantas Daniel kembali masuk ke dalam penthouse. Mereka saling pandang usai bos mereka lenyap dari pandangan mata dan saling menghela napas. Mau bagaimana lagi, jika tidak mengikuti perintah maka mereka akan kehilangan kepala.


Daniel mengulas senyum kepuasan, ia menyusup masuk ke dalam selimut. Setidaknya satu masalah telah selesai dan ia tidak harus menuruti keinginan sang istri. Nyaris saja ia membunuh anak buahnya hanya karena perkara mengusap kepala.


See you next bonus chapter


Babang Daniel



...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2