
Dua hari berlalu sudah, perkataan bos masih sangat membekas di dalam ingatannya. Berulang kali Nico mencoba untuk menyibukkan diri, akan tetapi usahanya nihil karena ia masih selalu teringat akan sosok kekasih kecilnya itu. Dua hari sebelumnya Nico masih dapat menghubungi Jennifer, tetapi hari berikutnya nomor ponsel sang kekasih sudah tidak aktif. Mungkin bos sudah bertindak dengan mengganti nomor ponsel Nona Jennie, pikirnya.
Nico kemudian menghembuskan napasnya dengan berat, seolah ada batu besar yang menghantam dadanya, bernapas pun sangat sulit. Seharusnya siang ini ia memiliki jadwal rapat di perusahaan tetapi saat ini pikirannya tengah bercabang, sudah pasti tidak dapat berpikir dengan baik dan hal itu hanya akan berdampak pada hasil rapatnya, sehingga ia meminta Daniel untuk menggantikan dirinya.
Masih dengan setelan jasnya, alih-alih pergi ke penthouse miliknya, Nico justru mengendarai mobil menuju Markas. Karena hanya di Markas ia bisa menenangkan dirinya, Nico tidak ingin kembali ke penthouse untuk beberapa hari ke depan karena hanya akan mengingatkan akan kekasih kecilnya yang pernah beberapa kali datang ke penthouse.
Begitu tiba di Markas, tujuan Nico hanya satu, melangkah panjang menuju halaman kolam renang. Di sanalah ia selalu menenangkan dirinya, menikmati udara alami dengan pemandangan pohon-pohon di sekitarnya. Nico melepaskan jas serta kacamata yang melekat, lalu meletakkannya di atas meja kayu, tubuhnya yang lelah itu dibaringkannya di atas kursi santai, menjadikan lengan kanannya sebagai bantalan kepalanya disertai kaki kanan yang di tekuk. Kepalanya menengadah diselingi mata yang terpejam singkat kala papar sinar sedikit menyilaukan penglihatannya.
Lucu memang, ia yang selalu mempermainkan dan memperlakukan seorang wanita dengan sesuka hati, kini merasakan kepedihan karena tidak bisa menggapai wanita yang diinginkan. Diluar sana masih banyak wanita yang tentunya akan melemparkan diri dengan suka rela, tapi hanya satu wanita yang ia inginkan, yaitu Jennifer Alexandra Romanov. Ya, nama wanita cantik itu telah tertanam penuh dan semakin hari rasa cintanya semakin berkembang di dalam hatinya.
Cukup lama Nico merenungi perjalanan cintanya yang tidak berjalan mulus. Jika Nico yang dulu, mungkin pria itu bisa mengencani wanita lainnya setelah lepas dengan wanita lainnya lagi. Tapi semenjak mengenal Nona Jennie, wanita itu seolah memiliki daya magnet yang membuatnya selalu ingin berdekatan. Bahkan untuk pertama kalinya ia bisa memandang seorang wanita tidak hanya karena napsunya. Jika ia menuruti napsunya, mungkin sudah lama ia akan menerjang Nona Jennie hanya untuk mendapatkan restu dari bos, tapi ia cukup waras dan tidak ingin pujaan hatinya itu membenci dirinya.
"Andai saja bos bisa melihat jika aku benar-benar mencintai adiknya, mungkin aku tidak akan frustasi seperti ini," gumamnya mengadu pada benda apapun yang berada disekitarnya.
"Sudah kuduga kau berada disini." Hingga suara Keil mengalihkan perhatian Nico tanpa berminat menoleh ke arah sahabatnya yang baru saja datang itu.
"Ada apa kau mencariku? Bukankah seharusnya kau menemani Emely memeriksakan kandungannya?" Nico beranjak duduk, ia sedikit mendongak untuk mendengarkan jawaban dari Keil.
"Sudah. Dan aku baru saja mengantarnya kembali ke penthouse," sahut Keil setia pada posisinya yang berdiri.
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Kandungnya baik-baik saja."
"Tentu saja, bos sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyelamatkan bayi kalian." Nico tersenyum datar, tanpa bermaksud mencibir Keil maupun bos mereka. Jika keadaan Emely beserta bayinya baik-baik saja, tentu ia turut merasa senang.
Keil menghela napas. Ia mengerti jika saat ini Nico masih dalam keadaan kecewa dan terluka. "Sorry Nic, kau pasti masih kesal padaku."
Nico menggeleng. "Aku kesal pada diriku sendiri Keil. Jika saat itu aku langsung menemui bos, mungkin keadaannya akan berbeda. Meskipun bos tetap bersikeras melarang hubungan kami, tapi setidaknya dia mengetahui perasaanku dan sedikit mengakuinya." Memang penyesalan akan selalu datang terlambat. Hanya karena tidak sanggup menghadapi bos, ia nekat untuk bermain belakang. "Ternyata aku sangat pengecut Keil, pantas saja bos lebih memilih Adam dari pada diriku." Perkataan yang sangat menusuk. Bahkan Nico mencibir dirinya sendiri yang begitu bodoh dan menyia-nyiakan kesempatan untuk berhadapan langsung dengan bos.
Keil tidak mampu menyahuti perkataan Nico. Ia hanya tidak ingin memberikan saran yang menyinggung. Keil kemudian melangkah maju lalu menepuk bahu Nico. "Kemarin aku sempat ragu untuk mendukungmu, aku tidak memihakmu atau bos. Tapi untuk saat ini kau masih perlu berjuang lagi, Nic. Kita mengenal siapa bos, dia hanya akan mengakui seseorang yang tidak menyerah sebelum bertarung."
__ADS_1
Lama Nico terdiam, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Keil, kemudian mengangguk setuju. "Kau benar Keil, aku harus lebih berjuang lagi dan membuktikannya kepada bos." Perkataan Keil bagaikan nutrisi positif untuk Nico sehingga pria itu kembali bersemangat.
Melihat Nico yang sudah kembali bersemangat, Keil tersenyum menanggapi. Ia juga ingin Nico menggapai cintanya, bukan dengan cara sembunyi-sembunyi lagi tapi secara terang-terangan.
"Ada ada dengan kalian?" Suara Daniel yang menyambar percakapan mereka, membuat keduanya saling menoleh. Wajahnya terlihat sedikit lelah, padahal proses rapat hanya memakan waktu dua jam saja.
"Aku hanya menyemangatinya saja. Kau tau Niel-"
"Aku tidak tau," sambar Daniel menyela. Selalu saja seperti itu.
"Aku belum selesai bicara bodoh!" Dan Daniel hanya terkekeh kecil, lalu membiarkan Keil melanjutkan kalimatnya. "Nico kembali bernyawa setelah dua hari seperti mayat hidup," lanjutnya. Lantas Daniel memandangi wajah Nico. Memang nampak lebih bergairah hidup dibandingkan dua hari yang lalu.
"Baguslah, setidaknya Markas kita tidak akan ada lagi mayat hidup," kelakar Daniel asal.
Nico mendengkus kesal. Tidak terima jika dirinya disamakan dengan mayat hidup. "Sialan! Kalian menyamakanku dengan Zombie!"
"Kau lebih parah dari Zombie Nic. Setidaknya Zombie masih bisa berkeliaran kesana kemari, sedangkan kau hanya mengurung dirimu di Markas. Aku dan Keil khawatir jika kau bunuh diri," sambung Daniel kembali mengejek sahabatnya yang satu itu.
"Bajingan! Keparat! Aku tidak selemah itu!" Nico mengumpat kesal. Daniel dan Keil tergelak, akhirnya setelah dua hari Nico lebih banyak diam, kini pria itu kembali pada dirinya sendiri.
"Kepalaku sakit." Lalu Daniel mendudukkan dirinya di kursi kayu santai.
"Kau hanya rapat selama dua jam, Daniel." Keil yakin jika Daniel hanya mencari alasan. Mereka tau benar jika Daniel selalu malas jika berurusan dengan perusahaan. Karena ia lebih senang menghabiskan waktunya di markas atau bercinta dengan Ashley.
"Kepalaku sakit karena ada seseorang yang mendadak memintaku untuk menggantikannya rapat aku. Dan aku harus menyudahi permainan yang baru saja dimulai." Daniel melirik ke arah Nico. Memang pria itulah penyebab sakit kepalanya. "Kepalaku berdenyut karena tidak bisa menyalurkan hasratku ini," cetusnya kembali dengan kesal. Pagi tadi Daniel baru saja melakukan pemanasan dengan Ashley, tetapi sialnya kegiatan panasnya itu di ganggu oleh sahabat laknatnya yang sedang patah hati, sehingga mau tidak mau ia harus menunda bercinta di pagi hari. Padahal hasratnya sudah menggelora dan Daniel siap untuk menggempur Ashley setelah dua hari tidak menyalurkan hasratnya.
Keil serta Nico terkekeh mendengarkan celotehan sahabat mereka. "Lalu kenapa kau datang ke Markas? Seharusnya kau menemui Ashley, bodoh!" seru Nico.
"Benar, aku tidak ingin membantumu untuk mengeluarkannya." Keil menimpali dengan bergidik geli.
Daniel tercengang sekaligus merasa jijik. "Sialan! Aku pria normal. Setiap hari mendapatkan pelepasan berkali-kali dengan Ashley."
"Kalau begitu sana pergi," ujar Keil dengan nada mengusir.
__ADS_1
"Baiklah kalau kalian memaksa." Daniel lalu beranjak berdiri. Ternyata ia benar-benar menganggap serius ucapan Keil dan pulang ke penthouse sekedar untuk menyalurkan hasratnya yang sempat tertunda.
Baik Nico dan Keil hanya menatap kepergian Daniel dengan menggeleng-gelengkan kepala.
***
Disinilah Nico berada, setelah seharian penuh mencoba menemui Jennifer di Romanov Ent, usahanya kembali gagal karena wanita cantik mungil itu mengajukan cutinya untuk satu minggu ke depan. Salah satu karyawan disana hanya memberitahukan kepadanya jika Jennifer sedang memiliki acara keluarga. Informasi yang ia dapatkan tidak memuaskan, sehingga Nico mengutus satu anak buah untuk berjaga di depan mansion utama dan melaporkan jika keluarga dari bos itu keluar dari mansion. Dan pada malam harinya laporan dari anak buahnya diterima oleh Nico jika seluruh keluarga besar Romanov berada di salah satu restauran ternama.
Lantas Nico segera meluncur menuju Lanes of London Restaurant. Bangunan mewah itu menyuguhkan tempat makan indoor dan outdoor. Keberuntungan masih berpihak pada Nico karena keluarga Romanov memilih tempat indoor. Pandangan Nico mengedar ke segala arah, hingga senyumnya perlahan terbit ketika menemukan sosok Jennifer, wanita yang selama beberapa hari ini ia rindukan. Mereka masih berada di kota yang sama, tapi begitu terasa jauh dan sulit untuk dijangkau.
"Aku merindukanmu My Queen," lirihnya bergumam. Masih tersenyum memandangi sosok wanitanya dengan penuh kerinduan. Namun perlahan-lahan senyum Nico menyurut ketika mendapati Adam juga berada disana bersama dengan sosok wanita dan pria paruh baya.
Nico memperhatikan mereka dengan seksama, bahkan ia mempertajam penglihatannya meskipun tidak dapat mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Perlahan Nico mulai paham, sorot matanya berubah memanas, tangannya terkepal erat di sisi paha kanan kirinya, aliran darah di tubuhnya mendadak mendidih. Siapa yang akan merasa baik-baik saja jika kedua matanya sedang menyaksikan wanitanya tengah dilamar oleh pria lain di hadapan seluruh keluarganya.
Aku harus mencegah mereka!
Dan kini api amarahnya mulai menjalar hingga ke seluruh tubuhnya ketika Adam dengan beraninya menyematkan sebuah cincin di jari manis wanitanya. Mata Nico berubah menggelap, diselimuti kecemburuan yang diselipkan kekecewaan. Nico hendak melangkah, ingin menghampiri dua keluarga yang sedang berbahagia itu, tapi langkahnya lebih dulu di cegah oleh dua pria.
"Menyingkirlah!!!"
To be continue
.
.
Babang Nico hancur sehancur-hancurnya 😢
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
__ADS_1
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...