Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Jangan salahkan aku menculik adikmu


__ADS_3

Disinilah Nico berada, Hotel Shangri-La The Shard. Hotel mewah dengan bangunan 52 lantai, menyuguhkan pemandangan Jembatan London dan Menara London. Nico tengah sarapan yang menjelang siang, namun fokusnya tidak kepada makanannya melainkan pada sosok pengunjung di luar sana yang juga tengah menikmati sarapan mereka bersisian dengan kolam renang. Sorot mata Nico menajam ketika seorang pria mengusap puncak kepala kekasihnya. Ya, Jennifer dan Adam berada di hotel dan sedang melakukan sarapan bersama. Nico memang mengetahui jadwal kekasihnya yang baru saja menyelesaikan kunjungan pemotretan sore hari dan berakhir pada tengah malam, sehingga wanita itu memutuskan menginap di Shangri-La The Shard Hotel, tetapi yang membuatnya tidak habis pikir, kenapa Adam selalu mengekori kemanapun kekasihnya itu pergi?


Tanpa sadar Nico menggebrak meja hingga membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya. Nico mengabaikan beberapa pengunjung yang menatap dirinya. Di balik kacamatanya, ia terus saja mempertajam penglihatannya itu. Hingga ia harus menelan makanan mewah yang terasa hambar di mulutnya.


Lama sudah Nico mengamati kekasihnya. Hingga wanita itu beserta Adam menyelesaikan sarapan mereka lalu beranjak pergi entah kemana. Nico meneguk minumnya lalu menyusul langkah mereka keluar dari restauran. Caranya yang berjalan tidak membuatnya seperti seorang penguntit, karena Nico seperti pengusaha pada umumnya. Wajahnya yang tampan, rahang tegas dan kedua mata yang tertutup kacamata itu menatap lurus ke depan, menguntit dua sosok yang sejak tadi tidak menyadari keberadaan dirinya.


Berulang kali Nico harus mengepalkan tangan disertai gigi yang bergemeletuk kesal lantaran tangan pria itu dengan mudahnya merangkul pundak Nona kecilnya.


"Tunggu hukuman dariku My Queen," gumamnya sembari menahan geram. Nico harus memberikan hukuman kepada kekasih kecilnya itu karena berulang kali telah membuatnya cemburu.


Langkah Nico mengikuti Jennifer serta Adam yang keluar dari Lobby hotel, kemudian sebuah mobil berhenti di depan hotel. Adam mengulas senyum kepada Jennifer sebelum kemudian pria itu berlalu memasuki mobil dan meninggalkan hotel.


"Ck, menjijikan." Nico tidak terima jika ada seorang pria yang begitu lembut menatap sang kekasih. Terlebih senyum pria itu mampu meluluhkan setiap wanita. Tidak, ia tidak akan membiarkan pria itu mengambil wanitanya. Nico yang tidak bisa lagi menahan rasa kesal, berjalan menghampiri Jennifer. Mungkin wanitanya itu tengah menunggu Jane untuk menjemputnya.


Grep


Jennifer tersentak kaget ketika seseorang menarik dirinya dalam dekapan seseorang itu. Jennifer meronta lalu sedikit mendorong tubuh pria yang berhasil memeluknya untuk melihat siapa yang telah lancang memeluknya. Matanya membulat ketika mendongakkan kepala, nampaklah wajah kekasihnya yang memancarkan aura kemarahan dengan sorot mata yang tajam di balik kacamatanya itu.


"Ni-Nico...." ucapnya masih dalam keterkejutannya. Bagaimana tidak, Nico benar-benar menemui dirinya yang ia pikir hanya sebuah lelucon.


"Iya My Queen, ini aku kekasihmu. Apa kau terkejut karena ketahuan olehku sedang sarapan bersama dengan pria lain, hm?" Nico berkata dengan senyum tipisnya.


Glek


Jennifer harus menelan salivanya dengan berat. Ia tahu senyum Nico tidak sungguh-sungguh tersenyum, terselip kemarahan dan kecemburuan disana, tetapi pria itu memang pandai menyembunyikannya.


"Ak-aku bisa jelaskan...."


"Ya, kau bisa menjelaskannya tapi tidak disini, Nona-ku ini harus ikut denganku." Kemudian Nico menarik pergelangan tangan Jennifer, sedikit memaksa wanita itu untuk mengikuti langkahnya sebelum melayangkan protesnya.


Jennifer mengikuti sang kekasih, masuk ke dalam mobil begitu Nico membukakan pintu untuknya. Jennifer ingin protes tetapi begitu melihat wajah Nico yang menyeramkan, ia urungkan niatnya. Mungkin menuruti pria itu akan sedikit mengurangi rasa cemburu kekasihnya, pikirnya.


***


Entah Nico membawa dirinya kemana, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun, hanya keheningan dan deru mesin mobil yang mengisi perjalanan mereka. Berulang kali Jennifer bertanya tujuan Nico membawa dirinya, namun kekasihnya itu tetap setia bungkam dan fokus pada kemudinya. Jennifer menyerah, ia menatap ke arah luar jendela dan sesekali mencuri pandang memperhatikan Nico yang nampak serius. Meskipun dalam keadaan marah, Jennifer mengakui ketampanan kekasih raksasanya itu.


Tiga jam berkendara akhirnya Nico mencapai tujuannya. Ia memarkirkan mobilnya lalu menoleh ke arah kekasih kecilnya yang terlelap sedari tadi. Nico mendekatkan wajahnya, lalu mengecup singkat bibir Jennifer. Nico tersenyum, tidak ada pergerakan apapun, Jennifer justru semakin terlelap. Kemudian Nico kembali mengecup bibir ranum Jennifer, kecupan itu berubah menjadi lumatann dalam, hingga membuat wanita itu terbangun dan merasakan sesuatu yang kenyal tengah mengecup dan bahkan menyesap bibirnya. Kelopak matanya yang perlahan terpisah itu menampakkan wajah Nico tepat di hadapannya. Ternyata kekasihnya itu kembali mencuri ciumannya.


"Ni-Nico...." Jennifer berusaha berbicara di sela-sela ciuman mereka. Sulit memang, karena Nico tidak memberikannya celah untuk dirinya berbicara.


Telapak tangan Nico menahan rahang Jennifer, kian menyesap dan memperdalam ciumannya yang menuntut balasan dari kekasih kecilnya itu. Karena tidak diberikan celah untuk berbicara terlebih melepaskan tautan mereka, Jennifer membalas ciuman Nico. Lama mereka berciuman hingga pasokan oksigen kian menipis, Jennifer mendorong dada Nico yang pada akhirnya pria itu melepaskan ciuman mereka.

__ADS_1


Nico tersenyum, memperhatikan lekat wajah Jennifer yang terengah-engah karena ulahnya. "Apa kau menyukai hukuman dariku Nona?" Sembari tersenyum tipis.


"Hukuman??" Kening Jennifer bertautan bingung.


"Benar. Ini hukuman pertama, masih ada hukuman yang lainnya." Nico mengabaikan wajah Jennifer yang terperangah akan perkataannya, ia kemudian turun dari mobil.


"Nico tunggu...." Jennifer mengikuti sang kekasih turun dari mobil dan mengekori langkah panjang Nico. "Kenapa kau menghukumku? Memangnya aku salah apa?" Langkah Jennifer mendadak terhenti karena Nico tiba-tiba saja memutar tubuhnya.


"Tentu saja karena kekasihku ini berani-beraninya selingkuh dengan pria lain."


Hah?


Jennifer terperangah. "Jangan sembarangan bicara Nic, aku tidak selingkuh, aku dan kak Adam hanya..."


"Jangan sebut namanya!" seru Nico memotong kalimat kekasih kecilnya.


"Lalu aku harus memanggilnya apa?" Sorot mata yang polos, sungguh Nico gemas dibuatnya.


Saking gemas yang berlebihan, sehingga Nico langsung membopong Jennifer di pundaknya. "Astaga Nico, turunkan aku!" Jennifer menepuk punggung Nico, akan tetapi Nico seolah menulikan pendengarannya. "Nico, kubilang turunkan aku. Ini perintah!" ujarnya kembali dengan nada setengah berteriak.


Nico tetap acuh, melanjutkan langkahnya menapaki beberapa anak tangga, lalu membuka kunci pintu resort, dan menendang pintu pada saat pintu itu terbuka. Nico mendudukkan Jennifer, bukan di sofa melainkan di atas nakas dengan kaki penyangga yang cukup tinggi sehingga tinggi mereka sejajar.


"Astaga, aku tidak selingkuh dengan Kak Adam. Aku hanya ingin bertemu dengan Aleena, itu saja." Jennifer bersikukuh. Karena memang ia tidak memiliki hubungan yang lebih dengan Adam. Ia sudah menganggap Adam seperti kakaknya, Xavier.


"Sudah kubilang jangan sebut namanya." Nico mencubit pipi kekasih kecilnya dengan gemas.


"Ck, kau ini." Jennifer mencebikkan bibirnya. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa lagi kepada kekasihnya yang super posesif itu. Jennifer kemudian menyapu pandangan, dapat dilihat jika mereka berada di suatu tempat karena jendela yang tanpa tirai itu menyuguhkan pemandangan pantai. "Kita sedang berada dimana?"


"Sheffield," jawabnya santai.


"Astaga, kau jauh-jauh membawaku ke Sheffield hanya karena ingin menghindari Kak Adam?" Karena jarak yang harus mereka tempuh sekitar tiga jam.


Nico mengangkat kedua bahunya. Yang jelas ia tidak terima jika Adam berhasil membawa Jennifer pergi ke negara Asia itu. "Berikan ponselmu." Tangan Nico menengadah, meminta ponsel Nona kecilnya.


"Untuk apa?" Meskipun menatap penuh selidik, Jennifer tetap memberikan ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam tas kecil miliknya.


Nico tidak menyahut, ia menyambar ponsel Jennifer. "Apa kata sandinya?" tanyanya kemudian.


"121121," cicitnya malu-malu.


Nico tersenyum. Angka tersebut adalah tanggal pada saat mereka meresmikan hubungan mereka. Nico kemudian mengetik kata sandi dan wallpaper Jennifer yang sangat cantik terpampang di layar ponsel wanita itu. Ada rasa kecewa pada saat bukan foto dirinya yang terpasang, namun Nico memaklumi hal itu karena hubungan mereka masih dirahasiakan dari bos. Nico kembali pada tujuannya meminjam ponsel Jennifer, mencari nama yang dicarinya lalu mengirim pesan. Mata Jennifer menyipit ketika Nico mengembalikan ponselnya. Ia melihat pesan terkirim yang ternyata Nico mengirimkan pesan untuk Adam.

__ADS_1


To : Kak Adam


Kak Adam maaf, aku tidak bisa ikut denganmu. Ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa aku tinggalkan.


"Nico, kau...." Jennifer memelototi Nico yang hanya tersenyum manis padanya tanpa rasa bersalah. Pria itu kemudian mengambil alih ponselnya kembali dan kemudian menonaktifkan ponsel itu.


"Agar tidak ada yang mengganggu kita." Nico mengerti akan tatapan Jennifer yang meminta penjelasan padanya karena menonaktifkan ponsel. Dan kemudian Nico juga merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celana, lalu menonaktifkan juga ponsel miliknya.


"Sekarang hukuman kedua baru akan dimulai Nona." Nico kembali tersenyum penuh arti. Membuat Jennifer bergidik akan tatapan Nico yang tidak biasa.


"Astaga... kau mau membawaku kemana?!" Jennifer kembali berteriak karena Nico tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya.


Lagi-lagi Nico sengaja menulikan pendengarannya. Sungguh ia tidak sabar mendengar suara teriakan Jennifer ketika berada di bawah kungkungannya.


Jangan salahkan aku menculik adikmu, bos.


Gila?


Itulah Nico, melakukan hal yang nekat. Ia sudah memikirkan resiko yang akan terjadi. Mematikan ponsel mereka karena tidak ingin bos serta Adam melacak keberadaan dirinya dengan Nona Jennifer. Setelah ini ia akan kembali ke London, tentunya untuk memberitahukan hubungannya dengan Jennifer kepada bos, meskipun nyawa adalah taruhannya.


To be continue


.


.


Babang Nico lagi mengintai hahaha



Jennifer



Hahaha Nico udah mulai beraksi man-teman. Bantu Nico gih, bilang sama Vier jangan galak2 gitu 🤭🤗


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2