Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Dasar, calon kakak ipar


__ADS_3

Entah kenapa tiba-tiba Nico memeluk tubuhnya, membuat Jennifer terkesiap. "Jadi milikku ya....."


Tubuh Jennifer mematung, kalimat sederhana tetapi mampu menghentikan detak jantung yang berdetak tidak seirama itu.


Jadi miliknya? Apa aku tidak salah mendengar?


"Nico....."


"Sshhtt.... aku tidak ingin mendengar perkataan apapun. Nona hanya perlu menjawab iya atau tidak." Nico memang sengaja tidak ingin membuat Nona Jennie memiliki pilihan, walaupun sebenarnya ia hanya ingin mendengar jawaban iya. Meskipun Nona Jennie-nya menolak, ia akan memaksanya dengan cara yang paling halus.


Jennifer sejenak diam. Ia merenungi jawaban yang hendak diberikan untuk Nico. Pria itu benar-benar menginginkan jawabannya, maka dari itu ia kini sudah memilki jawaban, meskipun terkesan kilat.


"Kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu." Namun sebelum Jennifer memberikan jawaban, ia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.


"Yes, anything," sahutnya lembut. "Nona bisa bertanya apapun itu dan aku akan menjawabnya." Nico masih memeluk Jennifer. Bahkan telapak tangannya mengusap rambut panjang Nona-nya.


"Tapi sebelum itu bisakah kau melepaskan pelukanmu. Kau membuatku sesak." Lebih tepatnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat dan Jennifer tidak ingin Nico merasakannya.


"Tidak bisa." Dengan tegas Nico menolaknya, entah kenapa ia tidak rela melepaskan pelukannya itu.


"Nico....." Namun Jennifer berusaha mendorong dada bidang bodyguardnya itu agar menjauh darinya.


"Hahaha....." Nico tergelak. Jennifer merengek seperti itu sungguh sangat menggemaskan. "Baiklah...." ucapnya kembali dan detik kemudian melepaskan dekapannya.


Jennifer bernapas penuh kelegaan, ia yang bertubuh mungil dengan tinggi yang hanya sebatas bahu Nico, bisa dibayangkan bagaimana sesaknya di dekap begitu erat.


"Apa kau sungguh-sungguh?" Jennifer menatap lekat wajah Nico.


Kening Nico berkerut dalam. "Maksud Nona?"


"Perasaanmu padaku. Mungkin hanya sebatas ingin melindungiku," tuturnya. Tentu saja ia tidak ingin mensalahartikan perasaan Nico padanya.


"Tidak Nona, perasaanku tidak hanya sebatas itu," bantah Nico. "Melindungi Nona memang prioritas utama, tetapi apa Nona percaya jika sebenarnya sejak pertemuan kita di Club malam, ada perasaan yang berbeda yang aku rasakan. Mungkin Nona tidak akan percaya itu, tapi itulah yang aku rasakan Nona. Percaya atau tidak, aku mencintai Nona. Aku ingin memiliki Nona. Bahkan aku hampir gila dan cemburu...." Sejenak menjeda perkataannya, rasanya ia sungguh malu meluapkan apa yang pernah mengganggu pikiran dan hatinya. Tetapi melihat tatapan Jennifer yang menghujam seolah wanita itu menginginkan pembuktian akan perasaannya membuat tekad Nico semakin bertambah ingin memiliki Nona-nya. "Ya, aku memang cemburu ketika Nona bersama dengan pria bajingan itu." Nico menggaruk tengkuk lehernya, memalingkan pandangan dari Jennifer. Sungguh untuk pertama kalinya Nico menjadi salah tingkah. Seorang Nico salah tingkah? Hanya kepada satu wanita, yaitu Nona Jennie.


"Pria bajingan? Maksudmu Billy?" Jennifer memastikan, walaupun sudah pasti pria yang dimaksud Nico adalah mantan kekasihnya.


"Kenapa Nona menyebut namanya?" Nico benar-benar gemas terhadap Jennifer. Jika saja ia hanya berada di dalam ruangan tertutup mungkin sudah menerkam wanita itu saat itu juga.


Jennifer terkekeh. "Kenapa aku tidak boleh menyebut namanya? Dia Billy bukan, benar Billy? Kau cemburu pada Billy?" Dengan sengaja Jennifer berulang kali menyebut nama Billy.


"Nona...." Gigi Nico bergemeletuk, bisa dilihat betapa dirinya menahan rasa kesal, hingga Jennifer semakin tertawa karena berhasil menggoda bodyguard raksasanya itu.

__ADS_1


Karena tidak bisa membentak Jennifer, Nico memberanikan diri menangkup wajah wanita itu. "Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak. Kenapa justru Nona menggodaku." Manik mata Nico yang berwarna coklat gelap itu seolah mampu melumpuhkan Nona kecilnya ketika tatapan mereka saling bertemu.


"Ak-aku hanya ingin memastikannya saja......" Benar saja, tubuh serta hati Jennifer dibuat benar-benar melumpuh akan tatapan Nico yang penuh dengan keseriusan.


"Dan sekarang Nona sudah memastikannya, bukan?" Jennifer mengangguk, wanita itu serasa terhipnotis oleh suara serta tatapan Nico yang lembut. "Lalu apa jawabannya?" Nico semakin mendesak.


"Kalau aku bilang tidak, apa yang akan kau lakukan?" Entahlah, Jennifer sendiri bingung akan perasannya.


"Tentu saja aku akan memaksa Nona sampai Nona mengatakan iya."


"Kalau begitu apa gunanya kau memberiku pilihan?" Jennifer mencebikkan bibirnya, sangat lucu di pandangan Nico.


"Hanya formalitas saja."


Hah? Dengan santainya Nico menjawab seperti itu. "Yasudah, aku akan tetap mengatakan tidak," seru Jennifer.


"Kalau begitu aku tidak peduli," sahut Nico acuh dan terkesan tidak peduli apapun jawaban Nona Jennie-nya.


"Nico....." Jennifer memelototi Nico yang sesuka hatinya itu.


"Nona...." Nico membalasnya, tetapi dengan tatapan penuh cinta. Tidak lupa kedua telapak tangannya masih menangkup wajah cantik Jennifer.


"Ck, kau ini." Jennifer kalah telak. Ia memang tidak akan bisa menang melawan Nico.


Jennifer mendengkus kesal. Entah kenapa ia tidak bisa marah terhadap pria itu, padahal sudah berulang kali bodyguardnya bersikap kurang ajar padanya dengan mencuri ciumannya sebanyak dua kali.


"Kalau begitu aku berubah pikiran." Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Jennifer mendongak menatap Nico.


"Apa? Nona ingin mengatakan apa?" Nico mengulum senyum.


"Aku akan mengatakan iya." Jennifer menelisik wajah Nico yang terus tersenyum padanya. Ah, pria itu benar-benar tidak terkalahkan. Pasti sejak awal sudah mengetahui jawabannya, pikirnya.


Benar dugaannya. Inilah jawaban Nona Jennie yang sebenarnya, Nico sudah mengetahuinya, karena itu ia tidak peduli apapun jawaban wanita itu. Nico bisa merasakan jika Nona Jennie-nya memiliki perasaan yang sama terhadapnya. "Aku sudah tau...." sahutnya mengulas senyum tipis namun penuh kebahagiaan disana.


"Haish..." Jennifer mendesahkan napasnya ke udara. Nico tidak jauh berbeda dengan sang kakak, sama-sama menyebalkan dan tidak terbantahkan.


Grep


Lagi-lagi Nico merengkuh tubuh wanita itu. Sepertinya Jennifer sudah terbiasa akan sikap Nico yang selalu seenaknya itu sehingga tidak terkejut lagi, justru sudut bibirnya melengkungkan senyuman.


"Terima kasih Nona," bisiknya. Entahlah, Nico ingin berteriak kencang untuk menjabarkan rasa senangnya karena bisa menggapai Nona Jennie. Ya, ia akan menjaga sepenuh hati wanitanya, melindungi dengan segenap nyawanya.

__ADS_1


Jennifer mengangguk. Memang ia belum sepenuhnya mengerti akan perasaannya terhadap Nico. Bisa dikatakan ia tidak nyaman jika Nico di tatap penuh damba oleh wanita lain, meskipun dengan para karyawan wanitanya. Apakah itu tandanya ia sudah jatuh cinta dengan bodyguardnya sendiri?


***


Kini hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih, posisi duduk Jennifer berubah, wanita itu duduk di kursi depan di samping kemudi. Akan tetapi kenapa sejak di perjalanan hanya kecanggungan yang melingkupi keduanya. Sedari tadi Jennifer menatap keluar jendela, sementara Nico fokus pada kemudinya. Hingga akhirnya mobil Nico berhenti di pelataran Mansion Utama Keluarga Romanov.


"Terima kasih sudah mengantarku." Oh, ayolah Jennie, bukankah Nico sudah sering mengantarmu, kenapa mengucapkan hal yang canggung seperti itu. Jennifer meruntuki dirinya yang seperti wanita bodoh sejak menerima bodyguardnya itu sebagai kekasihnya.


"Ya, aku akan mengantarkan kemana pun Nona pergi." Nico dengan senyum khas miliknya berhasil menciptakan rona merah di sekitar wajah Jennifer.


"Kau ini pintar sekali menggoda wanita." Dengan sekuat tenaga, Jennifer menyembunyikan detak jantungnya yang memacu lebih cepat dari sebelumnya. Padahal Nico bersikap seperti biasanya, pria itu memang selalu menggoda dirinya tetapi kali ini ada rasa yang lain di hati wanita itu, debaran dan desiran aneh.


Nico tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih. Bagaimana Jennifer tidak terjerat dengan bodyguardnya itu, dengan senyumannya saja seolah mampu meluluhkan hatinya.


"Ka-kalau begitu aku masuk dulu...." Jennifer menjadi salah tingkah. Lebih baik ia segera turun dari mobil, berlama-lama berada di dalam mobil dengan Nico membuat dirinya gugup.


Melihat Nona Jennie turun dari mobil, Nico melakukan hal yang sama. "Apa aku perlu mengantar Nona hingga ke kamar?" tanyanya dengan menumpu kedua tangan pada pintu mobil yang terbuka.


"Nico!!" Jennifer memberikan tatapan mematikan ketika Nico terus saja menggodanya. Ia kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Nico yang masih saja tertawa puas.


Tanpa Nico sadari jika sepasang kata elang yang tajam memperhatikan dirinya dari kejauhan, tepatnya di balkon tempatnya berpijak. Nico merasakan hawa dingin, ia mendongak untuk memastikan hawa dingin itu. Ia terkejut mendapati bos yang menatapnya dari atas sana.


"Astaga bos, sejak kapan dia disana." Nico bergidik ngeri. Tetapi sesaat kemudian menyapa bos dengan melambaikan tangan.


Xavier berdecak tanpa membalas sapaan Nico, ia menatap heran dengan kelakuan anak buahnya yang satu itu. Xavier hanya mencari angin di atas sana, tetapi begitu memastikan sang adik tercintanya sudah pulang dengan keadaan selamat, ia pun melesat masuk.


"Dasar, calon kakak ipar." Nico memaklumi sikap bosnya yang memang selalu dingin dan menyebalkan itu.


.


.


To be continue


.


.


Senyum babang Nico yang bikin Nona Jennie melting... tapi author Yoona juga klepek-klepek ini 😍😍


__ADS_1


Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷


__ADS_2