Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Apa kau masih tidak bisa merasakannya?


__ADS_3

Sang surya nampak lebih bersinar dari pagi-pagi sebelumnya. Mungkin kini ada yang berbeda dan dirasakan oleh pria yang baru saja mengerjapkan matanya, ia meraba sisi ranjang dimana seorang wanita cantik masih terlelap. Daniel mengubah posisi semula tengkurap dimiringkan sedikit tubuhnya menghadap wanita cantik yang hanya dibungkus selimut hingga mencapai dada. Wajahnya yang polos tanpa make up tidak memudarkan kecantikan wanita itu.


"Cantik...." Daniel mengagumi ciptaan Tuhan yang indah itu. Baru kali ini merasa bersyukur karena dipertemukan dengan wanita cantik dan polos. Bahkan ia selalu mengajari wanita itu untuk bercinta dengan gaya yang berbeda. Tentu reaksi yang dilayangkan oleh wanitanya itu membuatnya gemas dan ingin selalu mengukung wanita itu dibawahnya.


Daniel tersenyum mengingat akan percintaan panas mereka yang diawali paksaan terlebih dahulu. Ashley yang mendiami dirinya selama beberapa hari, tentu menolak ajakan bercinta. Bahkan dengan santainya mengenakan lingerie seksi untuk menggoda Daniel dan tidak membiarkan pria itu untuk menyentuhnya.


Bagaimana mungkin Daniel bisa menahan hasrat yang selalu menggebu. Hanya melihat lekukan tubuh Ashley meskipun masih terbalut kain tipis mampu membuat adik kesayangannya itu on fire. Tentu saja ia menyerang wanitanya itu dengan buas setelah beberapa hari berpuasa.


"Euugh...." Ashley melenguh kala sesuatu yang lembut mengusap pipinya. Perlahan mengerjapkan mata dan menyesuaikan cahaya yang membias masuk hingga menyelinap pada kelopak mata yang perlahan terpisah. Manik matanya sedikit melebar ketika mendapati sepasang mata cokelat keabu-abuan menatap lekat padanya dengan seulas senyum tipis. Jujur saja Ashley masih sangat kesal, akan tetapi ia juga merindukan sentuhan pria itu sehingga membiarkan saja tubuhnya kembali dijamah dengan penuh cinta, itu yang ia rasakan ketika Daniel menyentuhnya.


Ashley menyudahi tatap menatap, ia beranjak duduk namun pergelangan tangannya di tahan oleh Daniel. "Mau kemana?" tanyanya menatap Ashley dengan hangat.


"Aku mau mandi," jawabnya datar. "Apa aku tidak boleh ke kamar mandi?" sambungnya ketus.


Daniel menghela napas, ia melepaskan pergelangan tangan wanita itu dan menatap wanitanya yang sudah berlalu ke kamar mandi.


"Ck, mau sampai kapan dia marah seperti itu?" Daniel berdecak lidah, tetapi sesaat kemudian tersenyum. Ia beranjak dari tempat tidur dengan tubuh polosnya, lalu menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Daniel beruntung wanitanya itu tidak mengunci pintunya akan tetapi suara teriakan Ashley menggema dan semakin membuat Daniel menggila akan penolakan yang berujung pelepasan itu.


***


Keduanya kini sudah berpakaian lengkap dan rapi, Ashley nampak cantik dengan balutan rajut lengan panjang menutupi leher dan pola pada pergelangan tangannya lebih lebar, dipadukan dengan jeans biru panjang. Tidak hentinya Daniel mengagumi kecantikan sosok bidadari di hadapannya itu.


"Aku yang akan mengantarmu hari ini." Daniel menyambar tangan Ashley. Tentu ia tidak rela jika kecantikan wanitanya dinikmati pria lain. Jika ada yang menatap satu detik saja, sudah pasti ia akan mencolok mata siapa saja yang berani memandangi sang wanitanya.


Mau tidak mau Ashley menurut. Ia duduk mencari posisi ternyaman di dalam mobil. Daniel menyadari jika Ashley membuang pandangannya ketika dirinya masuk ke dalam mobil. Hanya helaan napas yang Daniel sematkan, tentu ia tidak ingin tersulut emosi.


Baiklah Ashley sayang, aku akan membuatmu bicara lagi padaku.


Hari ini Daniel bertekad akan menghabiskan waktu untuk menyenangkan wanitanya. Sungguh bertolak belakang dengan dirinya yang dulu. Jika dulu, Daniel tidak ingin melakukan hal yang merepotkan. Jika salah satu wanitanya merajuk, ia tidak pernah peduli karena dengan sendirinya wanita itu akan kembali mendekati dirinya. Namun situasi saat bersama dengan Ashley berbeda, satu hari saja wanita itu mendiami dirinya, Daniel merasakan sesuatu yang hilang.


Lama tercenung, Daniel melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali menyelinap memperhatikan Ashley yang nampak tidak peduli padanya. Suasana semakin hening, keduanya masih dalam diam, tidak ada yang ingin memulai percakapan. Hingga beberapa menit lamanya mobil yang dikendarai Daniel berada di salah satu hotel mewah. Keduanya segera turun dari mobil dan memasuki hotel mewah berlantai 46 tersebut.

__ADS_1


Daniel membawa Ashley menuju lift transparan hingga pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi terpampang nyata dari dalam. Seketika Ashley terpana, ia seolah terbang bebas, tidak ada rasa takut kala kaca transparan itu menampakkan pemandangan di bawah sana. Jika seseorang memiliki phobia ketinggian mungkin akan berbeda cerita, tetapi Ashley justru menempelkan kedua telapak tangannya dan memandangi pemandangan di sekitar sana.


Ting


Pintu lift terbuka. Daniel menyentuh pundak Ashley, menyadarkan wanitanya itu untuk segera keluar dari lift. Sejak tadi ia hanya memperhatikan dan tidak mengganggu kekaguman wanitanya.


Begitu keluar dari lift, nampak restauran mewah yang berada di lantai 36. Ashley terperangah selama beberapa saat, jika ia tahu Daniel akan mengajaknya ke tempat mewah, ia akan menyesuaikan pakaiannya.


"Kau cantik memakai apapun." Sepertinya Daniel paham apa yang dipikirkan oleh Ashley. "Apalagi jika kau tidak memakai pakaian dan bertelanjang di depanku," bisiknya sensual.


Ashley bergidik ngeri seketika, di tatapannya Daniel dengan tatapan tajam. Namun ia tidak protes karena kekecewaannya terhadap Daniel masih bersarang di hatinya. Dengan diam, Ashley melenggang meninggalkan Daniel yang hanya mampu tersenyum tipis.


"Menggemaskan...." Tentu saja Daniel tidak akan marah, justru merasa tertantang menaklukkan Ashley kembali.


Dengan langkah panjang, Daniel mengejar Ashley, mengimbangi langkahnya dengan wanita yang mulai memenuhi hatinya. Di rangkulnya pinggul Ashley meskipun sempat mendapatkan penolakan, tetapi bukan Daniel namanya jika menyerah begitu saja, tangannya tetap menggapai pinggul wanitanya itu hingga sang wanita hanya pasrah dan membenamkan tubuhnya di salah satu kursi yang sudah tersedia. Ashley mengalihkan pandangannya dari Daniel yang tersenyum kemenangan, kemudian menyapukan mata pada sekeliling. Kedua alisnya nampak berkerut karena disana tidak nampak pengunjung yang lain selain mereka berdua.


"Kau menyewa tempat ini?" Setelah banyak diam, justru pertanyaan itu yang diucapkan oleh Ashley.


"Hem..." Daniel mengangguk. "Apa kau menyukainya?" tanyanya kemudian.


Jari telunjuk Daniel mendarat di bibir Ashley, hingga bibir wanita itu terkatup dan kalimatnya terputus. "Sshhtt, aku tidak suka mengulangi perkataanku, jangan membahasnya lagi."


Melihat wajah Daniel yang kesal, Ashley membungkam mulutnya. Ia tidak ingin membuat Daniel mengamuk dan menghancurkan tempat mewah tersebut. Keduanya saling diam, kecanggungan sempat melingkupi, hingga tidak lama setelahnya dua pelayan menghampiri meja mereka.


Setelah pelayan itu pergi dari sana, Daniel serta Ashley menikmati makan siang mereka dalam diam dan hanya berkelana dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah lima belas menit Daniel mengakhiri makannya lebih dulu, lalu menatap lekat wanita di hadapannya.


"Apa kau percaya padaku jika kedatanganku menemui ayahmu untuk membebaskannya?"


Perkataan Daniel yang tiba-tiba itu menghentikan kegiatan Ashley yang sedang mengunyah makanannya. Wanita itu mengabaikan makanannya yang masih tersisa setengah dan lebih tertarik mendengarkan penuturan pria di hadapannya. Tidak ada jawaban, Ashley menunggu kalimat selanjutnya.


"Ada yang tidak bisa aku jelaskan padamu. Satu yang aku minta, jangan pernah kau berpikir untuk pergi dariku, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Sorot mata Daniel menajam, ada keseriusan disana dan tentu Ashley bisa melihatnya. "Aku tau jika David sialan itu menemuimu dan berbicara yang buruk tentangku. Kau hanya perlu percaya apa yang ingin kau percayai. Itu saja." Daniel tidak perlu melakukan pembelaan. Biarlah wanitanya itu menyelam dengan asumsinya sendiri. Ia hanya perlu menjalankan rencananya dengan baik.

__ADS_1


Masih dengan diamnya, Ashley meresapi dan meraba setiap kalimat yang diucapkan Daniel. Bibirnya terasa keluh hanya untuk sekedar membalas perkataan Daniel. "Ak-aku takut....." lirihnya. Ya, Ashley takut jika dirinya kembali dibodohi dan ditinggalkan. Jika David bisa dengan mudahnya menjual dirinya, tidak menutup kemungkinan Daniel juga akan melakukan hal yang sama.


Daniel menghembuskan napas panjang, sebelum kemudian beranjak berdiri. Tangannya terulur menggapai tubuh Ashley hingga wanita itu bangkit dan bersejajar dengan tubuh Daniel yang tinggi besar. Tanpa aba-aba, Daniel merengkuh leher wanitanya lalu melummat bibir wanita itu dan mendesak masuk hingga lidahnya membelit disana. Ashley meremmas ujung jaket yang dikenakan Daniel, kemudian membalas pagutan lembut yang perlahan menjadi sedikit liar.


Lama mereka berciuman hingga keduanya kehabisan napas dan mengakhiri ciuman penuh napsu dan cinta. Daniel menempelkan keningnya pada kening Ashley. "Apa kau masih tidak bisa merasakannya?"


Entah, Ashley bingung. Sejujurnya ia merasakan cinta Daniel untuknya, akan tetapi terdapat ketakutan luar biasa yang mengukungnya. Daniel sadar jika wanitanya itu pernah mengalami pengkhianatan dan bahkan dijual oleh mantan kekasihnya. Jika saja ia tidak membeli dan menebusnya, mungkin saat ini wanitanya itu menjadi simpanan pria bajingan lainnya.


Daniel tersenyum. Ia mengusap pipi Ashley dengan lembut. "Aku akan membuktikannya padamu."


Cup


Kembali Daniel membenamkan bibirnya pada bibir Ashley namun hanya singkat saja. "Aku akan ke toilet, tunggu sebentar." Ashley hanya mengangguki perkataan Daniel dan menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.


Ashley menghela napas, memang tidak seharusnya ia meragukan Daniel. Mengenal pria itu cukup lama membuatnya sedikit paham karakter, sifat, perangai bahkan permainan panas pria itu. Tatapan Ashley kosong, ia kembali mendudukkan dirinya di kursi. Kepalanya mendongak ketika seseorang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau siapa?" tanyanya terkejut.


Seseorang tersenyum manis sebagai tanda awal perkenalan mereka.


.


To be continue


.


Babang Daniel



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2