
Keesokan harinya
Jennifer kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Ada yang berbeda ia rasakan, karena pagi ini Nico tidak datang menjemput dan mengantarnya ke perusahaan seperti biasanya. Bahkan bodyguard sekaligus kekasihnya itu tidak menghubunginya sejak semalam. Helaan napas terdengar berat, Jennifer menghentikan aktivitasnya sejenak, ia mengecek ponselnya yang berada di atas meja. Raut wajahnya kembali kecewa karena tidak ada satu notifikasi apapun yang masuk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, sudah saatnya istirahat makan siang. Terdengar suara ketukan pintu, Jennifer mempersilahkan siapapun itu untuk masuk. Pintu yang terbuka menampakkan Jane berjalan menuju meja.
"Nona Direktur, sudah waktunya makan siang. Saya sudah reservasi di restauran yang biasanya."
"Ehm, baiklah Jane." Dan kemudian Jennifer membereskan setumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Ia menyambar tas dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Keduanya berjalan beriringan membelah kerumunan beberapa karyawan yang juga ingin makan siang. Beberapa karyawan pria maupun wanita menyapa ramah dan disambut senyuman oleh Jennifer yang selalu membuat siapapun terpana akan senyum manisnya. Mereka kemudian berlalu meninggalkan perusahaan menuju Devine Restaurant di antar supir kepercayaan Keluarga Romanov.
Begitu tiba di parkiran Restaurant tersebut, Jennifer serta Jane turun dari mobil dan bergegas memasuki restaurant. Namun langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja seorang anak kecil laki-laki menabrak dirinya.
"Hei sayang, kau harus berhati-hati." Nyaris saja anak kecil tersebut terjatuh jika Jennifer tidak segera menangkapnya.
Jane menoleh dan terkejut. "Nona baik-baik saja?" tanyanya melihat anak kecil tersebut cukup keras menabrak Nona Direkturnya.
"Aku baik-baik saja." Mengisyaratkan jika Jane tidak perlu marah. Biar bagaimanapun dia hanya seorang anak kecil.
"Maaf Aunty, a-aku tidak melihat." Membenarkan posisinya berdiri dengan benar.
"Lain kali berhati-hatilah." Jennifer tersenyum, memberikan usapan di puncak kepala anak kecil tersebut.
Anak kecil laki-laki tersebut mengangguk, tersirat ketakutan di wajah polosnya. Sehingga Jennifer sedikit membungkukan tubuhnya agar leluasa menatap anak kecil yang berusia sekitar 6 atau 7 tahun. "Tenang saja, Aunty tidak marah." Namun tetap saja anak laki-laki di hadapannya itu nampak sangat ketakutan. Bahkan berulang kali menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang menghindari seseorang.
"A-aku harus pergi Aunty." Anak laki-laki itu hendak pergi tetapi Jennifer menahannya.
"Hei, ada apa?"
"Aunty lepaskan aku, paman jahat sedang mengejarku." Berusaha meloloskan diri dari tangan Jennifer yang memegang kedua bahunya.
"Paman jahat?" Jennifer mengernyit kemudian mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang dimaksud anak laki-laki tersebut.
Jane mendekati, tidak ingin Nona Direktur terlibat. "Nona, sebaiknya kita cepat masuk. Kita tidak perlu ikut campur dengan urusan anak laki-laki ini," bisiknya.
"Tapi Jane...." Jennifer tidak sampai hati meninggalkan anak itu sendirian. "Hei, jangan lari." Karena Jennifer melonggarkan pegangannya terhadap anak kecil itu sehingga ia dapat melarikan diri.
"Sudahlah Nona, kita segera masuk saja. Anak itu pasti akan baik-baik saja." Jane berusaha meyakinkan Nona Direkturnya.
Jennifer mengangguk dan mengikuti langkah Jane lewati pintu masuk. Akan tetapi pikirannya tidak tenang dan terus tertuju pada anak laki-laki tersebut. "Jane, kau pesankan saja makanan untukku. Aku pergi sebentar."
"Tapi Nona?" Namun Jane tidak berhasil menghentikan Nona Direkturnya yang melangkah meninggalkan Restauran.
Jennifer mengikuti arah tujuan yang sempat dilalui oleh anak kecil itu tetapi tidak menemukannya. Apa paman jahat yang dikatakannya itu berhasil menangkapnya? pikirnya.
Merasa tidak menemukan siapapun disana, Jennifer memutar arah kembali.
"Tolooongg....." Dan suara teriakan itu seketika menghentikan langkahnya. Jennifer berlari, kembali menyusuri jalanan yang nampak lengang itu.
Kedua matanya membeliak mendapati seorang anak kecil yang tadi menabraknya di bawa paksa oleh seseorang bertubuh besar dan tinggi.
"Astaga, apa yang kau lakukan padanya?" Tentu saja suara Jennifer menghentikan aksi pria itu.
"Jangan ikut campur Nona cantik." Di tatapnya Jennifer dari atas hingga kaki.
Jennifer merasa risih ketika di tatap seperti itu. "Lepaskan dia. Dia hanya anak kecil, kenapa kau menariknya seperti itu?!"
"Ck, Nona cantik sepertimu sebaiknya diam saja. Apa kau juga ingin ikut denganku, heh?" Sembari tersenyum dengan tatapan aneh.
Astaga, menjijikan sekali.
Sebenarnya Jennifer malas berurusan dengan pria seperti itu jika saja tidak kasihan dengan anak laki-laki tersebut. Terlebih lagi tatapan memohonnya itu akan membuat Jennifer merasa bersalah jika tidak membantunya. Jennifer bisa percaya diri seperti itu karena dua anak buah yang ditugaskan oleh sang kakak berada tidak jauh darinya.
Tanpa sepengetahuan Jennifer, ternyata Nico sudah berada disana begitu mendapatkan laporan dari salah satu di antara mereka. Nico meminta penjelasan kepada mereka apa yang terjadi sebenarnya. Kemudian mereka menjelaskannya bermula pada anak kecilnya itu yang menabrak Nona Jennie tanpa sengaja. Nico hanya mengangguk, ia tidak langsung menghampiri, hanya mengamati motif pria itu terlebih dahulu.
"Aunty tolong....." Jennifer tidak tega ketika anak itu merintih kesakitan akan cengkraman pria itu.
"Diam kau bodoh!"
Plak
Plak
__ADS_1
Karena kesal, pria itu pun menampar dua kali anak laki-laki tersebut. Jennifer semakin tidak terima. Ia saja tidak berani melukai ketiga keponakannya, dan justru melihat pemandangan seorang pria memukul seorang anak kecil di hadapannya.
"Hanya pria pengecut yang berani melakukan kekerasan terhadap anak kecil."
"Sial! Apa yang kau katakan Nona?!" Pria itu mulai tersulut emosi dan berjalan mendekati Jennifer, hingga membuat Jennifer reflek memundurkan langkahnya.
"Kau pengecut!" Namun Jennifer menantang pria itu. Hanya perlu menendangnya saja, pikirnya.
Bugh
Dan benar saja ketika pria itu semakin mendekat, Jennifer melayangkan tendangan.
"Kurang ajar!" Pria itu memekik, memegang perut yang berhasil ditendang oleh Jennifer. Tidak terima, ia menghampiri Jennifer dan melayangkan tangan untuk meninju wajah wanita yang berhasil membuatnya marah.
Sontak Jennifer menutup wajahnya, bersamaan dengan seseorang yang menangkap kepalan tinju yang ingin menghantam wajah wanitanya.
"Berani kau melukainya, aku akan mematahkan tanganmu!"
Mendengar suara yang tidak asing, Jennifer menyingkirkan tangan dari wajahnya. Terkejut akan kedatangan Nico yang menahan serangan untuknya.
Bugh
Nico menendang perut pria itu, lalu memberikan serangan bertubi-tubi pada wajah pria bajingan tersebut. Jennifer mendekati anak laki-laki yang bersembunyi di balik pohon, memeluk dan menutupi matanya untuk tidak melihat adegan kekerasan.
"Berani-beraninya kau ingin memukul wanitaku, heh!"
Bug
Krek
"Aaaa....." Nico berhasil mematahkan tangan pria yang telah lancang ingin memukul Jennifer. Pria tersebut tersungkur, memekik dan memeluk salah satu tangannya yang sakit dan patah tulang.
Jennifer meringis apa yang baru saja disaksikannya. Bodyguard sekaligus kekasihnya itu dapat menjelma menjadi sosok yang sangat menyeramkan sewaktu-waktu.
"Itu harga yang harus kau bayar, bajingan!" Tanpa rasa bersalah, Nico hanya melihat pria itu sekilas lalu mengambil jaket serta kacamata yang sempat ia lempar sebelum menahan hantaman tinju yang nyaris saja mengenai wajah cantik sang kekasih.
"Kau tidak apa-apa sayang?" tanyanya ketika sudah berada di hadapan Jennifer.
"Ehm, aku baik-baik saja. Kau datang tepat waktu."
"Terima kasih Aunty.... terima kasih Paman," ucapnya pada Jennifer serta Nico.
Nico tersenyum. "Siapa namamu?"
"Ian Paman."
"Apa kau tau kenapa alasan pria itu ingin membawamu?" Nico bertanya kembali. Karena beberapa hari ini ia menerima laporan jika terjadi beberapa penculikan anak untuk dijual organ tubuhnya dan Nico yakin jika anak kecil itu salah satu sasaran mereka. Dan kelompok yang melakukan perdagangan itu merupakan kelompok Golden Dawn.
Ian menggelengkan kepala tanda tidak mengetahuinya. "Kau harus berhati-hati. Jangan pergi keluar tanpa ditemani orang dewasa."
"Iya, Paman." Ian mengangguk mengerti.
Tidak lama, dua anak buah datang menghampiri begitu Nico memberikan kode untuk mereka mendekat. "Ada apa Bos Nico?"
"Antarkan anak ini kembali ke rumahnya."
"Baik Bos Nico."
Jennifer tersenyum kepada Ian. "Kau tidak perlu khawatir, mereka orang-orangku yang akan menjagamu sampai ke rumah." Jennifer mengerti akan tatapan Ian yang tidak percaya begitu saja.
"Terima kasih Aunty, terima kasih Paman." Sekali lagi, anak laki-laki itu mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan dirinya. Sebelum kemudian pergi bersama dua pria yang ditugaskan untuk mengantarkan dirinya.
***
Kini Jennifer menikmati makan siang bersama Nico setelah kejadian menyelamatkan seorang anak. Jane memilih duduk seorang diri di meja yang lain dari pada menjadi pengganggu disana. Sejak tadi Jennifer menjadi salah tingkah karena Nico memperhatikan dirinya yang sedang makan. Sungguh, Nico sangat merindukan kekasih kecilnya. Karena sejak semalam ini sibuk mengurus keperluan untuk keberangkatan mereka ke Los Angeles sehingga tidak sempat mengabari kekasihnya itu.
"Jangan melihatku seperti itu Nico," protes Jennifer.
"Aku hanya ingin memandangi wajah cantik kekasihku." Nico tidak mengindahkan sang kekasih yang memprotes, ia tetap memperhatikan wajah wanitanya itu.
"Ck, kau ini."Jennifer memutar bola matanya malas. Memperhatikan Nico yang justru tekekeh, akan tetapi perhatiannya teralihkan pada memar di sudut bibir Nico.
"Ada apa dengan wajahmu?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan kekasih kecilnya kening Nico berkerut dalam. Ia menyentuh wajahnya dan tidak mendapati apapun. Kemudian Jennifer beranjak, mendekati wajahnya dan menyentuh luka lebam itu untuk menunjukkan apa yang ia bicarakan.
"Apa ini sakit?" Jennifer bisa meringis melihat luka yang meninggalkan bekas ruam kebiruan.
Tanpa disadari oleh Jennifer, yang dilakukannya itu ternyata membuat Nico tersenyum tipis. Dipandanginya wajah sang kekasih, Nico dapat merasakan jantungnya yang berdebar hanya karena berdekatan seperti ini dengan seorang wanita. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Cup
Jennifer terpaku sejenak ketika Nico mencium singkat bibirnya. Ia menunduk hingga tatapan mereka bertemu. Wanita itu baru menyadari jika posisi wajahnya yang tidak berjarak dengan wajah Nico.
"Astaga kau...."
Cup
Lagi, Nico membenamkan ciuman kembali. Bahkan tangannya menahan tengkuk leher Jennifer yang sempat memberontak, menyesap bibir sang kekasih lebih lama lagi dan setelah puas melepaskan ciumannya.
"Nico...." Jennifer berteriak dengan wajah yang bersemu merah. Malu dan juga gugup karena lagi-lagi kekasihnya itu memanfaatkan kesempatan untuk mencium dirinya. Ia kembali duduk dengan benar, wajahnya tertekuk disertai bibir yang mengerucut.
Nico terkekeh menikmati pemandangan menggemaskan di hadapannya. "Jangan memasang wajah seperti itu jika tidak ingin aku mengulanginya lagi."
"Dasar kau, menyebalkan!" Tawa Nico menggelegar di dalam sana karena kekasihnya semakin membuatnya gemas. "Katakan ada apa dengan wajahmu?" Jennifer tidak pedulikan tawa Nico, ia kembali melayangkan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
"Hanya urusan pria. Lebam ini juga akan hilang dengan sendirinya." Tidak mungkin Nico memberitahukan luka yang ia dapatkan dari kakak tercinta kekasihnya.
Mata Jennifer memicing tajam. "Benar hanya itu?"
"Ehm...." Nico mengangguk menyakinkan. Setelah diamati, sepertinya bos tidak membicarakan masalah tersebut kepada adiknya itu.
Setelah menyelesaikan makan siang yang terlambat. Jennifer berjalan beriringan dengan Jane keluar dari Restauran, ikutin oleh Nico di belakangnya dengan kacamata mata yang melekat. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Nico tidak pedulikan seorang wanita yang berjalan menghampiri dirinya.
"Nico, tunggu." Dengan terpaksa Nico menghentikan langkahnya. Bahkan Jennifer serta Jane menoleh ke arah wanita itu.
"Kalian tunggulah di mobil." Nico tidak ingin wanita di hadapannya ini sampai menyakiti Nona Jennie-nya jika mengetahui yang sebenarnya. Jennifer mengangguk, diikuti oleh Jane, keduanya berjalan menuju mobil.
"Ada apa. Bukankah sudah aku katakan untuk tidak pernah muncul lagi di hadapanku?!"
"Nico, apa kau benar-benar sudah melupakanku? Apa karena wanita itu kau tidak ingin melihatku lagi?" lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca, berharap Nico dapat luluh kembali.
Malas menanggapi drama wanita di hadapannya, Nico menatap sinis. "Bukan urusanmu, Chole!" Ya, wanita itu adalah Chole. Wanita yang masih mengharapkan untuk bisa kembali menjadi wanita kesayangan Nico.
Nico melenggang pergi. Baginya wanita itu tidaklah penting.
"Nico, kau...." Niat ingin mengejar, wanita itu justru tersandung hingga akhirnya terjatuh. "Aahhh Nico, tolong aku." Sontak Nico memutar tubuhnya, akan tetapi ia tidak berminat untuk menolong Chole dan justru kembali melangkah.
"Sialan!" desisnya kesal karena Nico benar-benar tidak mempedulikannya, bahkan disaat dirinya terjatuh.
.
.
To be continue
.
.
Penampilan Jennifer
...Yang berkenan, mampir ke karya keceh adik Yoona ya 🤗...
...Desy Puspita - Suamiku Mantan Calon Ipar...
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...