
Pergerakan Jonas terendus oleh Black Lion, hingga mereka kini mengikuti kemana Jonas serta anak buahnya melajukan mobil membelah jalan raya yang cukup memadati pusat kota. Mereka mengikuti beberapa mobil di depannya dengan tenang, tidak menimbulkan kecurigaan karena mereka tidak menggunakan mobil yang biasanya. Meskipun sejak pagi diselingi perdebatan lantaran Keil serta Nico memperdebatkan hal yang tidak penting.
"Aish, kalian datang di saat yang tidak tepat!" Nico menggerutu. Baru saja mengantarkan Nona Jennie ke perusahaan, begitu di perjalanan ia di hadang oleh mobil sahabat laknatnya itu.
"Salah kau sendiri, kenapa tidak menjawab panggilanku!" seru Keil tidak mengambil pusing racauan Nico yang nyaris memecahkan gendang telinganya.
"Ck, untuk apa aku menjawab panggilanmu di saat aku sedang mengisi bahan bakarku." Keil jengah akan alasan Nico. Ia tau apa arti mengisi bahan bakar tersebut, apalagi jika bukan menyerang Nona Jennie dengan ciuman, Keil serta Daniel tau jika Nico tidak berani melewati batas melebihi ciuman, tetapi entahlah bisa saja Nico mencuri start lebih dulu.
Di sepanjang perjalanan dua pria tampan itu memperdebatkan kalimat yang sama berulang kali. Bahkan Daniel tidak ingin memperkeruh perdebatan itu sehingga di dalam perjalanan ia hanya fokus pada kemudinya.
Pandangan Nico beralih pada Daniel yang duduk di samping dirinya di kursi kemudi dengan kening yang mengernyit heran. "Apa kau tidak mengkonsumsi obat pagi ini?"
Daniel menoleh sejenak dengan raut wajah bingung. "Untuk apa aku mengkonsumsi obat? Aku tidak sakit." Memang sejak pagi tubuhnya benar-benar merasa segar dan sehat.
"Ya, tapi sepertinya otakmu yang sakit. Kenapa sepanjang perjalanan kau diam saja?"
"Sialan! Aku diam salah, aku cerewet juga salah. Kau ingin aku bagaimana keparat!!" Daniel mendengkus kesal. Entah kenapa semakin hari Nico semakin menyebalkan.
Keil terkekeh-kekeh, kali ini giliran Daniel dan Nico yang berdebat. Meskipun kedua matanya fokus pada ponsel tetapi memasang pendengaran pada dua sahabatnya itu.
"Diam kau Keil, kau juga menyebalkan!" sambar Daniel. Sepertinya rasa kesalnya itu sudah menjalar hingga ke puncak. Namun Keil acuh, tidak pedulikan Daniel yang memakinya.
Dalam kurun waktu tiga jam lebih mobil mereka meninggalkan Kota London. Di benak mereka, kemanakah para anak buah Golden Dawn menembus beberapa kota yang sudah mereka lewati selama berjam-jam lamanya.
"Kenapa mereka pergi ke tempat seperti ini?" Daniel menyapu sekitarnya. Keil serta Nico juga mengitari pandangannya kesana kemari, itu kali pertama mereka datang ke tempat yang asing. Karena Black Lion tidak memiliki wilayah di sekitar desa tersebut.
Hamparan hijau serta beberapa bangunan kecil lebih indentik dengan bangunan klasik juga penuh sejarah itu memenuhi jalanan setapak yang hanya bisa dilalui satu mobil. Sungguh indah memang, jauh dari pusat Kota London yang lebih di penuhi dengan gedung-gedung pencakar langit yang mewah nan tinggi.
Salah satu mobil Golden Dawn berhenti, sedangkan mobil lainnya tetap melaju dengan kecepatan rendah menuju jalanan bercabang di ujung sana. Akhirnya Black Lion memutuskan untuk berhenti, mereka begitu penasaran untuk apa Golden Dawn berada di desa Portmeirion. Terlebih salah satu mobil Golden Dawn berhenti tepat di sekitar danau luas, terdapat satu bangunan yang berdiri kokoh disana. Entahlah itu tempat apa yang membuat pandangan mereka semakin dipertajam hingga menangkap sebuah plang besar. Mereka bergumam membaca tulisan itu, Palmers Green Clinic.
"Mungkin saja ibu dari kekasihmu berada disini, Keil." Nico menyuarakan pikirannya yang sejak tadi mengusik.
Keil terhenyak, kalimat itu mengguncang perhatiannya. "Shiitt! Kenapa aku tidak berpikir kesana?!"
"Tapi itu baru perkiraan saja. Kita harus tetap mengawasi mereka." Daniel menimpali yang membuat Keil juga Nico mengangguk setuju.
Sorot mata ketiganya menatap beberapa pihak pekerja klinik yang mengangguk hormat. Dan itu membuktikan jika ini bukan kali pertama mereka datang ke klinik. Nico dan Keil mencoba turun dari mobil, namun begitu pintu mobil berhasil tertutup, mereka harus bersembunyi di sisi mobil kala sebuah mobil lainnya berhenti disana. Mobil tersebut merupakan mobil yang baru saja melaju ke ujung jalan sana dan kembali selang beberapa saat.
__ADS_1
Keil mengintip dari balik celah mobil, matanya melebar mendapati Jonas yang baru saja turun dari mobil melesat masuk ke dalam klinik tersebut. Namun perhatiannya tersita sejenak pada sosok wanita yang berjalan menghampiri Jonas menyambut kedatangan pria itu. Entah ada hubungan apa, atmosfer keduanya terlihat berbeda, begitu intim dan dekat.
"Sebaiknya kita ikuti mereka." Keil beranjak hendak mengikuti langkah pria yang sangat dibencinya itu.
"Jangan!" Nico mencekal tangan Keil, ia tidak ingin Keil bertindak gegabah. "Kita tidak tau berapa banyak pihak klinik yang bekerjasama sama dengannya."
Daniel memperhatikan kedua sahabatnya dari dalam mobil, lantas ia segera turun karena yakin jika saat ini Keil terburu-buru ingin mengikuti mereka. "Sebaiknya kita tunggu saja disini, Keil. Akan lebih mudah untuk kita melarikan diri jika ketahuan," ujarnya menumpu sikutnya di atas mobil.
"Ya, kalian ada benarnya." Keil tentu tidak akan bertindak mengikuti amarahnya. Untuk mengetahui strategi yang dimainkan oleh beberapa musuh tentu mereka akan mengikuti alurnya hingga memiliki celah untuk menyerang disaat musuhnya di titik terlengah.
***
Menunggu? Tentu tidak akan ada yang suka menunggu, termasuk ketiga anggota Black Lion yang sedari tadi menunggu di dalam mobil. Berbagai cara tengah mereka lakukan untuk menghilangkan kebosanan, sudah satu jam tidak ada tanda-tanda Jonas maupun anak buahnya keluar dari klinik tersebut. Hingga angin segar melingkupi kala sosok yang mereka tunggu akhirnya menampakkan diri, tetapi justru yang menjadi pusat perhatian mereka adalah tangan Jonas yang merangkul mesra seorang wanita yang sebelumnya menyambut pria itu. Tubuh mereka saling mengait satu sama lain, menempel hingga tidak ada celah yang mampu mengisi di antara mereka. Kekasih? Sepertinya bukan, karena mereka sudah mencari tau mengenai kedekatan Jonas dengan seorang wanita cantik dan seksi yang sudah terjalin sejak satu tahun lebih lamanya.
Mobil Jonas berlalu meninggalkan klinik tersebut melewati mobil milik Black Lion yang terparkir diam, tidak meninggalkan jejak kecurigaan. Mobil lainnya ikut melaju dengan membawa seorang pasien wanita tua. Itu nampak jelas karena Keil, Nico juga Daniel melihat wanita itu di bawa masuk ke dalam secara paksa, padahal tubuh wanita tua itu terlihat sangat rapuh dan wajah tuanya yang putih menambah kepucatan yang terpapar disana.
Ketiganya saling bertemu pandang. Tidak salah lagi, wanita tua itu adalah ibu dari Emely, kekasih Keil. Lantas tanpa banyak membuang waktu, Daniel melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tentu mereka tidak ingin kehilangan jejak, karena ini adalah kesempatan mereka untuk membawa pergi wanita tua tersebut sebelum Golden Dawn mengendus keberadaan mereka.
Lama sudah mereka menyusuri sebuah desa nan asri dan segar itu, tetapi belum menunjukkan jika mobil Golden Dawn mencapai tujuannya. Hingga beberapa menit kemudian, dua mobil Golden Dawn berhenti di pekarangan sebuah bangunan the italian style. Dari sekian banyak bangunan di desa Portmeirion, hanya bangunan bergaya Italia itulah yang terbilang luas dan mewah.
Dari kejauhan Nico, Keil dan Daniel mendongak memandangi bangunan dengan dataran tinggi itu. Tentu mobil mereka tidak bisa memasuki area tersebut. Seluk beluk disana belum terjamah oleh mereka sehingga mereka tidak ingin gegabah begitu saja.
"Kita memanjat melalui celah disana saja." Ternyata sejak sejak tadi Keil diam hanya untuk mencari celah yang bisa mereka tembus.
"Kalau begitu tunggu apalagi, kita bergerak sekarang!" Daniel yang sudah tidak sabar turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Nico juga Keil.
Pandangan mereka mengedar ke segala arah, aman dan tidak mendapati anak buah Jonas. Salah satu tangan Daniel berpegangan pada ranting yang bergelayut pada dahannya. Ranting pohon tersebut nampak kokoh, tidak ada salahnya Daniel mencoba menumpu tubuhnya dan mengayun hingga bisa mencapai dinding pembatas yang dipenuhi rumput liar itu.
Hup
Berhasil. Tubuh Daniel yang besar itu seolah melayang tanpa beban memanjat dinding itu. Kemudian Nico juga Keil melakukan hal yang sama, hingga kini mereka bertiga sudah berada di dalam pekarangan rumah seseorang yang entah milik siapa.
Mereka berjalan mengendap-endap, menyapu sekitar, melesat sembunyi di balik sebuah pohon kecil. Sepertinya mereka beruntung karena tidak nampak anak buah Jonas disana. Sehingga mereka mulai menaiki beberapa anak tangga.
Tempat asing itu mengantarkan mereka menuju sebuah ruangan yang entah apa. Mereka justru tertarik untuk memasuki lebih dalam lagi bangunan tersebut.
"Sebaiknya tetap hati-hati, bisa saja mereka menyerang diam-diam." Nico memperingatkan Keil dan Daniel yang disambut anggukan kepala oleh mereka.
__ADS_1
Langkah mereka terpaksa terhenti, samar-samar suara pria dan wanita bergelut dalam desahaan erotis di dalam ruangan itu.
"Lana..... arrgghh..... faster baby.... uuhhhh......" Nampak jelas terlihat melalui jendela yang terbuka. Dua insan tengah diliput gairah.
"Baiklah....."
"Aargghhh...." Suara erangan itu memecah di dalam sana.
"Bagaimana, apa kau puas denganku, Jonas? Aku lebih bisa memuaskanmu." Wanita itu terlihat turun dari atas pangkuan Jonas. Ya, Jonas. Pria keparat itu ternyata bermain belakang dengan wanita lain.
"Jangan mulai, Lana." Sembari mengenakan celana, menyisakan dada bidangnya yang polos tanpa selembar kain apapun.
"Kenapa?" Wanita cantik itu mendengkus kesal disertai hentakan kaki. Ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan banyak bicara. Kau tau apa tugasmu!"
"Bagaimana jika aku yang menyingkirkan Reese atau wanita yang bernama Emely itu?"
Grep
Selembar selimut yang baru saja membungkus tubuh Lana terhempas ke lantai. Jonas mencekik leher wanita itu. "Jangan pernah kau mengancamku! Lakukan tugasmu dengan benar. Jangan mengusik Reese ataupun Emely."
Di sela lehernya yang tercekat, Lana tekekeh pelan. "Kau tidak mungkin tidak memiliki perasaan terhadap Emely."
"Bukan urusanmu!" Jemari Jonas semakin rapat mencekik leher kecil Lana yang sepertinya akan hancur jika ia mengerahkan seluruh tenaga untuk meremass leher wanita itu. "Tugasmu hanya menjaga wanita tua itu, menyiksanya sesuai perintahku!"
Prang
Jonas menoleh ke arah sumber benda yang jatuh di luar jendela, membuat cengkraman tangannya terlepas dari leher Lana. Wanita itu terbatuk, menghirup oksigen dalam-dalam memompa napasnya yang tercekat akibat ulah Jonas. Seharusnya ia tidak bermain-main dengan Jonas jika tidak ingin mati di tangan pria itu.
Beruntung perhatian Jonas tersita pada suara di luar sana, hingga Jonas melangkah menuju jendela, telapak tangannya mencoba mendorong jendela yang sedikit terbuka itu untuk mengetahui siapa yang berani-beraninya telah mengintai dirinya.
.
.
To be continue
.
__ADS_1
.
Ayo lebih gencar lagi vote nya sayang-sayangku, kirim hadiahnya jangan lupa ya wkwk 🤗 Jejak komentar masih selalu di tunggu supaya bisa mesem-mesem baca komentar kalian 💕