
Ashley mempertajam penglihatannya, memastikan jika dirinya sedang tidak berhalusinasi. Sosok pria di hadapannya benar-benar nyata. Tanpa keraguan wanita itu menghambur ke pelukan pria yang sejak tadi mengembangkan senyumnya
"Apa aku sedang bermimpi?" Tidak terasa air mata meluruh di wajah Ashley, wanita itu sedikit terisak karena rasa haru dan bahagia yang tidak tertahankan.
"Tidak nak, kau tidak sedang bermimpi, ini benar-benar Daddy."
Ashley mengangguk. "Ya, ini benar-benar Daddy, aku percaya sekarang." Keduanya saling meluapkan kerinduan hingga beberapa detik lamanya berpelukan mereka, melepaskan pelukan rindu tersebut.
Pria tua tersebut mengusap rambut putrinya dengan sayang. Sungguh ia tidak pernah menduga bahwa akan bertemu kembali dengan putri semata wayangnya. "Daddy benar-benar minta maaf padamu, Daddy bukanlah Daddy yang baik, kau seperti ini karena kebodohan Daddy yang begitu percaya dengan David," lirihnya. Mengingat betapa bodoh dirinya yang mudah terperdaya bujuk rayu David untuk menginvestasikan semua uang perusahaan membuatnya merasa sangat bersalah karena perusahannya bangkrut begitu saja hingga harus berpindah kepemilikan.
Ashley menggeleng, menyeka air mata di sudut matanya. "Tidak, semuanya sudah terjadi jadi Daddy tidak perlu merasa bersalah lagi. Ash yang seharusnya minta maaf karena selama Daddy di penjara, Ash belum pernah mengunjungi Daddy."
"Tidak sayang, Daddy mengerti saat itu kau pasti merasa tertekan karena David. Maafkan Daddy...." Sebagai seorang ayah, ia merasa gagal. Bahkan tidak bisa melindungi keluarganya hingga harus kehilangan istri tercinta.
"Ash tidak pernah menyangka jika David adalah pria yang berengsek." Howie mengangguk setuju. "Lalu bagaimana caranya Daddy bisa bebas? Bukankah Daddy harus menerima hukuman selama 8 tahun?" Itulah yang Ashley ketahui, tanpa wanita itu mengetahui yang sebenarnya jika Sang Daddy dijatuhi hukuman seumur hidup.
Howie menghela napas. "Sayang, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Daddy tidak ingin kau bertemu dengan David lagi. Pria itu benar-benar berbahaya. Daddy harus menjauhkanmu darinya." Howie mendorong bahu putrinya untuk segera pergi dari bangunan tua tersebut.
"Apa maksud Daddy?" Ashley nampak bingung, kenapa Daddy-nya justru membahas David? Namun sesaat kemudian wajahnya berubah tegang. "Atau jangan-jangan David yang sudah membebaskan Daddy?" ujarnya menilik dalam wajah Daddy Howie.
Tidak ada jawaban dari Howie, pria itu hanya tertunduk ke bawah dan tidak bisa menatap wajah putrinya. Dari diamnya Howie, Ashley bisa menebak jika kebebasan Sang Daddy berkaitan dengan David.
"Daddy, jawab pertanyaan Ash, apa benar David yang sudah membebaskan Daddy?" Ashley mendesak tidak sabar hingga seperkian detik menunggu jawaban akhirnya Howie mengangguk lemah.
"Karena itu Daddy ingin kau segera pergi dari sini. Daddy tidak ingin kau kembali padanya dan Daddy juga tidak ingin kau bersama pria yang telah menyelamatkanmu itu."
Ashley semakin tidak mengerti apa yang disampaikan Daddy-nya, hingga ia teringat akan Daniel yang pernah mengunjungi Daddy. "Apa maksud Daddy adalah Tuan Daniel?" tanyanya memastikan.
"Benar, Daddy tidak ingin kau berhubungan dengannya dan juga David. Mereka berdua terlalu berbahaya." Sejak David membeberkan rencana Daniel kepada Howie, pria tua itu sulit mempercayai siapapun, termasuk David sendiri.
"Tapi Tuan Daniel sangat baik, dia menyelamatkan Ashley." Meskipun awalnya ia sempat ragu, tetapi selama beberapa hari berpikir, Ashley sangat yakin jika Daniel tidak mungkin memiliki niat yang buruk terhadapnya.
Merasa putrinya dibodohi, tentu saja Howie tidak terima. Ia mengguncang bahu Ashley. "Sadarlah sayang, dia bukan orang baik. Dia mengincar perusahaan kita dan setelah mendapatkannya, kau juga akan ditinggalkan sama seperti yang dilakukan David padamu."
Ashley menggeleng dan menangkis tangan Howie dari bahunya. Tidak! Ia percaya jika Daniel berbeda dengan David, meskipun pria itu terkadang menyeramkan. "Tuan Daniel tidak seperti itu Dad." Ashley bahkan menutup telinganya, ia tidak ingin Howie berkata buruk tentang pria yang ia cintai.
"Tapi itulah kenyataannya, mereka berdua pria berbahaya. Mereka adalah Mafia, pria yang bisa kapan saja membunuhmu dan juga Daddy!" Bentakan karena Howie yang kesal dengan putrinya membuat wanita itu terkesiap selama beberapa saat. Sebenarnya bukan karena bentakan Sang Daddy, melainkan penuturan Daddy-nya yang membuat tubuh serta telinganya terguncang. Bagaimana tidak, kenyataan jika Daniel dan David adalah seorang Mafia baru ia ketahui.
"Daddy pasti salah." Namun Ashley masih sulit untuk mempercayai semuanya. "Tuan Daniel bukan pria seperti itu. Aku mengenalnya, meskipun dia marah padaku tapi dia tidak pernah melukaiku."
Howie terdiam, ia tidak bisa membantah perkataan putrinya. Meskipun saat mengunjunginya beberapa waktu silam, ia bisa melihat sorot mata pria itu yang terdapat cinta untuk putrinya, akan tetapi ia menjadi ragu karena perkataan David sebelumnya. David memberitahu jika pria yang bernama Daniel itu berniat mengambil alih perusahaan, menyakiti putrinya dan bahkan selama ini Ashley hanya dijadikan budak napsu pria itu. Tetapi mendengar perkataan putrinya, entah kenapa ia semakin ragu dengan David yang bisa saja membodohinya kembali.
Prok
Prok
__ADS_1
Prok
Suara tepuk tangan menggema di dalam bangunan kosong. Ashley dan Howie terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara. Wajah keduanya mendadak memucat, terutama Howie. Bukankah David baru akan kembali malam nanti, pikirnya. Sebab itu ia tidak ragu untuk membebaskan Ashley dari bangunan dimana putrinya disekap.
"Bukankah kau baru akan kembali nanti malam?!" Meskipun tubuhnya bergetar, Howie memberanikan diri untuk bertanya demikian.
"Ya, tapi aku ingin melihat apa yang kau lakukan. Ternyata dugaanku benar, kau melakukan sesuatu di belakangku." Kemudian David bergerak maju mendekati Howie, tangannya menyahut leher pria itu dan mencengkramnya. "Dengar, aku sudah berbaik hati membebaskanmu, tapi kau justru ingin membohongiku!"
"David, apa yang kau lakukan! Kau bisa membunuh Daddy!" Ashley berupaya menarik tangan David yang sedang mencengkram kuat leher Daddy Howie, wajah Daddy-nya itu memerah menahan rasa sesak yang sulit membuatnya bernapas. Kini Ashley baru mengingat jelas suara seseorang yang bertengkar pada saat dirinya tidak sadarkan diri sepenuhnya adalah David dengan Daddy-nya.
"Diam kau!" hardik David kepada Ashley tanpa melepaskan cengkraman tangannya.
"Aku tidak akan diam sebelum kau melepaskan Daddy!" Bahkan Ashley memukuli punggung David, namun tidak membuat tubuh pria itu bergeming dan melepaskan cengkeramannya. "Kau bajingan! Berengsek! Lepaskan Daddy! Aku bersumpah akan membunuhmu jika tidak melepaskan Daddy!" Wanita itu melontarkan sumpah serapah. Ia tidak peduli lagi akan keselamatannya. Selama ini ia sudah cukup menahan perlakuan David kepada dirinya.
Mendengar perkataan Ashley sontak aja David melepaskan cengkramannya, hingga akhirnya Howie bisa bernapas kembali. Pria itu menghirup udara dalam karena pasokan oksigen di dalam tubuhnya nyaris saja mengering. Tubuh tuanya benar-benar rapuh sehingga tubuh pria itu terkulai lemah dan tersungkur di bawah.
"Daddy...." Ashley melihat Daddy-nya yang terduduk di bawah berniat menghampiri namun David lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
"Kau sekarang mulai berani, heh! Apa pria bajingan itu yang mengajarimu untuk melawanku?!" Tatapan David menajam, ia tersulut emosi karena perkataan wanita yang dulu pernah mencintainya itu. Wanita yang dulu lembut kepada dirinya, baru saja mengucapkan sumpah untuk membunuh dirinya.
"Aku berbeda dengan Ashley yang dulu. Aku tidak takut lagi padamu! Sebaiknya kau menyingkir!" Ashley mendorong kuat dada David hingga telapak tangannya nyaris saja terkilir karena terlalu kuat mendorong.
David tertawa sumbang, menertawakan sikap wanita itu yang kasar terhadap dirinya. "Baiklah, kau akan tau akibatnya jika bermain-main denganku. Aku sudah terlalu baik padamu dan juga pria tua itu, tapi apa balasannya, ayahmu itu justru menyuruhmu pergi!" Kedua mata David merah padam, ucapan Ashley benar-benar menyulutkan emosinya. "Sekarang ikut denganku!" Kemudian menarik pergelangan tangan Ashley.
"Tidak!" Ashley memberontak, berusaha meloloskan tangan yang di genggam oleh David. "Lepaskan aku! Aku tidak ingin ikut denganmu!" Ashley menahan langkahnya, namun tetap saja David menyeret langkahnya. Tenaganya kalah kuat dari David yang tentu saja lebih besar.
"Bereskan dia!" perintah David kepada beberapa anak buah yang langsung di angguki oleh mereka. Sehingga membuat langkah Howie terpaksa berhenti karena di halangi oleh beberapa anak buah David.
Bugh
Tubuhnya yang rapuh tidak mampu bertahan ketika mendapatkan serangan pukulan, hingga tubuhnya kembali tersungkur.
"No, Daddy!" teriak Ashley pada saat melihat Daddy-nya kembali terjatuh setelah mendapatkan pukulan di wajahnya. "Lepaskan aku berengsek!" bentaknya kemudian kepada David, bahkan kuku tangannya sudah melukai punggung tangan David.
Bugh
David melemparkan Ashley hingga bahunya menghantam dinding. Ashley meringis, belum hilang rasa sakit cengkraman tangan David, kini bahunya berdenyut nyeri.
"Apa yang kau inginkan?! Bukankah kau sudah mendapatkan semuanya, hah!" Dengan lantang Ashley kembali berteriak, padahal jauh di dalam hatinya ia takut jika David akan melakukan sesuatu yang nekat kepadanya.
"Diam! Kau benar-benar membuatku pusing! Kau dan pria mu itu benar-benar membuatku muak!" David balas berteriak. "Jangan salahkan aku karena harus melukaimu. Dia sudah berani bermain-main denganku. Dia mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku!"
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Seperti kerasukan, David berulang kali menghantamkan punggung tangan ke dinding. Ashley memejamkan matanya, ia terlalu takut melihat kemarahan David.
"Pria itu harus merasakannya. Karena dia, aku harus kehilangan semuanya, arrgghh!!" teriaknya. "Jerome, pria sialan itu berani mengusirku, bahkan Jonas sudah tidak mengakuiku lagi!" David menyuarakan apa yang telah membuatnya kesal setengah mati. "Jika saja aku bisa menangani perusahaan, aku masih diterima oleh mereka. Tapi lihatlah, pria yang kau sebut kekasihmu itu sudah menghancurkan perusahaanku, perusahaan keluargamu. Apa kau tidak marah Ash? Apa kau akan diam saja ketika pria itu menghancurkan perusahaan keluargamu?!" Kedua tangan David mengguncang bahu Ashley. Ia meluapkan amarahnya yang menyala kepada Ashley, wanita yang tidak mengetahui apapun.
Ya, Ashley baru mengetahui jika perusahaan yang sudah berpindah tangan itu berada di ambang kehancuran. Dan pelakunya adalah Daniel, pria yang kini sudah merasuki relung hatinya. Entah ia harus senang atau sedih mendengar berita itu. Karena bagaimanapun perusahaan itu dibangun atas kerja keras sang kakek dan Daddy-nya. Tapi melihat David yang hancur seperti itu Ashley justru sangat menikmatinya.
"Kau merasakan kehancuran seperti yang kami rasakan. Bagaimana? Bahkan seperti yang baru saja kau katakan, mereka tidak lagi mengakuimu bukan?!" Dan sialnya perkataan Ashley kian memancing amarah David semakin menyala.
Plak
David menampar wajah Ashley cukup keras hingga sedikit meninggalkan sobekan disudut bibir wanita itu. "Bibirmu saat ini benar-benar tajam sayang. Kau tau, aku ingin merasakan bibirmu lagi."
Ashley yang menyentuh bekas tamparan David terkejut akan penuturan David. Tidak. Ia tidak akan membiarkan David mencium bibirnya lagi. Melihat celah, Ashley berlari namun ternyata langkah David lebih cepat hingga mampu merengkuh tubuh mungil itu.
"Jangan takut sayang, aku akan memuaskanmu hari ini." Gila. Anggaplah seperti itu. Karena David memang sudah kehilangan akal sehat.
"Tidak. Jangan menyentuhku!" Sekuat tenaga Ashley meloloskan dirinya akan tetapi David selain kuat menekan tubuhnya pada dinding. Air mata yang tertahan kini mulai menggenangi sudut matanya bahkan merambat di wajahnya. Namun sayangannya David berhasil menyambar bibir Ashley yang dulu menjadi candu baginya.
Ashley mendorong sekuat tenaga, sungguh ia benar-benar jijik terhadap mantan kekasihnya itu. Berulang kali Ashley menggigit bibir pria bajingan itu bersamaan dengan air matanya yang semakin meluruh.
David tidak menyadari kehadiran seseorang. Pria itu menarik bahu David dan kemudian menghantam wajahnya secara brutal.
"BAJINGAN!!"
.
.
To be continue
.
.
Ashley
David
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
__ADS_1
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...