
Jennifer berusaha keras mengingat-ingat wajah Adam, karena teman dari sang kakak sangat tidak asing menurutnya. Terlebih tatapan tajam itu pernah ia jumpai ketika ia masih menjadi mahasiswi.
"Kak Adam?" gumamnya. Tidak salah lagi, pria di hadapannya adalah kakak dari temannya yang bernama Queen Aleena.
Adam menoleh kepada Jennifer, ia tersenyum. "Kau sudah mengingatku?"
Dengan ragu Jennifer mengangguk. "Apa benar kau Kak Adam kakak dari Queen?"
"Benar. Aku Adam kakak dari temanmu," jawabnya.
"Astaga, aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Kak Adam setelah sekian lama."
"Kau sudah bertambah dewasa sama seperti Aleena." Adam ingat betul jika dulu penampilan Jennifer terkesan imut, berbeda dengan sang adik yang nampak lebih anggun sejak belia. Tetapi saat ini penampilan Jennifer begitu berbeda, nampak lebih dewasa, anggun dan tentunya sangat cantik.
"Tentu kak, usiaku saat ini sudah hampir memasuki 26 tahun." Jennifer terkekeh, saat itu ia masih belia dan sering bermain bersama dengan Queen, terkadang Adam selalu menjemput adiknya itu. "Bagaimana kabar Alee kak? Setelah lulus kuliah, dia tidak pernah menghubungiku lagi." Mendadak kerinduan menyergap dirinya akan sosok temannya dulu, sehingga kini ia hanya berteman dekat dengan Alice.
"Dia baik, hanya saja saat ini Leena berada di Indonesia."
"Indonesia?" Kedua alis Jeniffer nampak berkerut.
"Hem, stay di negara kelahiran nenek moyang keluarga kami." Jennifer hanya mengangguk saja, saat itu Queen memang pernah bercerita jika suatu saat dirinya akan stay selama beberapa tahun di Indonesia.
Xavier nampak memperhatikan adik serta juniornya itu, ia tidak berniat untuk bergabung akan percakapan tersebut. "Ehem, apa sudah selesai bernostalgia? Jika sudah, lebih baik selesaikan makan siang terlebih dahulu karena aku tidak memiliki banyak waktu." Ya, karena Adam dan Jennifer terlalu asik bernostalgia sehingga tidak sadar jika pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka.
"Ck, katakan saja kalau Kak Vie ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan Kak Elle," cibir Jennifer disertai bibir yabg mengerucut.
"Benar, karena itu jangan membuang waktuku. Cepat makan dan selesaikan." Xavier meletakkan beberapa menu di atas piring Jennifer agar adiknya yang cerewet itu segera melahap makanannya.
"Ck, menyebalkan." Meskipun kesal, Jennifer tetap menyantap makanannya. Adam tersenyum tipis, melihat kedekatan kakak beradik di hadapannya itu mengingatkannya akan adiknya Aleena.
***
Selama empat puluh menit mereka mengakhiri makan siangnya. Ketiganya keluar dari ruangan bersama-sama, Jennifer berjalan di belakang Xavier juga Adam. Sementara pandangannya menatap layar ponsel, sejak tadi ia sibuk membalas pesan dari Jane juga tentunya Nico. Entah kenapa banyak sekali Nico mengirimkan spam padanya.
Banyak sekali dia mengirim pesan. Apa dia tidak sedang sibuk?
Bruuk
"Awww..." Jennifer memekik kala keningnya menabrak punggung Adam yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. "Kenapa Kak Adam tiba-tiba berhenti?"
"Apa seorang Direktur selalu ceroboh seperti ini? Jangan memainkan ponsel ketika sedang berjalan," ujar Adam berdiri tepat di hadapannya Jennifer.
"Kau dengar dia bicara apa? Aku sudah sering memperingatkanmu," sambar Xavier menatap sang adik dengan datar.
"Heh, kalian kompak sekali memarahiku." Jennifer menggenggam ponselnya. Kini bertambahlah pria perfeksionis yang ia kenal, kakaknya sudah sangat menyebalkan, ternyata Kak Adam juga memiliki karakter seperti sang kakak.
Jennifer yang tidak ingin berada di antara dua pria perfeksionis, berjalan mendahului mereka. Xavier serta Adam menatap kepergian Jennifer dan kemudian mereka saling menoleh satu sama lain.
__ADS_1
"Sepertinya akan sulit kau menaklukkannya." Mendengar perkataan Xavier, Adam hanya mengulas senyum tipis.
Keduanya berjalan menyusul Jennifer. Dan langkahnya terpaksa berhenti karena mobil serta sang supir tidak berada di parkiran Restaurant.
"Ada apa?" tanya Xavier pada sang adik yang nampak kebingungan.
"Mobilku tidak ada. Aku sudah mengatakan kepada Paman Effendi untuk menungguku." Paman Effendi adalah supir kepercayaan Keluarga Romanov. Jika Nico tidak mengantar jemput dirinya, maka sudah pasti Paman Effendi yang selalu mengantarnya.
"Mungkin Paman lupa. Sebaiknya kau satu mobil saja dengan Adam." Xavier menyarankan.
"Tapi Kak, Kak Adam mungkin masih banyak pekerjaan. Lebih baik aku naik taksi saja." Tentunya Jennifer tidak enak dan merasa sungkan jika harus merepotkan Adam, karena sejak dulu ia dan Adam hanya beberapa kali berbicara.
"Tidak masalah, kebetulan sekali kita satu arah. Aku akan mengantarmu terlebih dulu."
Jennifer menatap Adam dan Xavier bergantian. Ia tidak memiliki pilihan, karena sudah pasti kedua pria itu tidak menerima penolakan. "Iya, baiklah. Maaf, merepotkan Kak Adam."
"Sudah ku katakan tidak masalah." Adam tersenyum, kemudian menuntun langkahnya menuju mobil miliknya.
"Aku kembali ke perusahaan dulu kak, Kak Vie hati-hati," tutur Jennifer.
"Hem." Xavier berdehem. Jennifer kemudian mengekori Adam.
Xavier masih menunggu disana hingga memastikan mobil Adam meninggalkan Restauran.
Tanpa disadari jika Nico, Keil, Daniel serta Jack juga berada di parkiran. Mereka kemudian menghampiri bos.
"Benar." Xavier menjawab singkat.
"Mereka dekat bos?" tanya Keil kemudian. Setidaknya cukup mewakili rasa penasaran Nico, karena tentu saja pria itu tidak mungkin bertanya.
"Apa mereka memiliki hubungan?" sambar Daniel. Lagi-lagi pertanyaan yang sudah terwakilkan.
Xavier menatap tajam kepada Daniel serta Keil. "Tidak ada hubungannya dengan kalian!" Lalu melangkahkan kaki melewati ketiga anggotanya itu. "Jack, kembali ke Mansjon. Aku sudah merindukan istriku dan anak-anakku."
"Baik Bos..." Jack menyahut, sebelum mengikuti langkah bos, ia melirik terlebih dahulu ke arah Nico selama beberapa saat.
Wajah Nico nampak datar namun kentara sekali jika pria itu tengah menahan rasa kesal. Melihat bos dan Jack yang sudah memasuki mobil dan berlalu pergi dari sana. Keil juga Daniel memperhatikan Nico, lalu menepuk bahu sahabat mereka itu.
"Jangan salah paham Nic, mungkin mereka sudah saling mengenal." Keil berusaha memadamkan api di dalam diri Nico, ia tahu benar jika Nico tengah diliputi rasa cemburu. Karena sejak di meja makan pandangannya tidak berpindah dari Nona Jennie.
"Benar Nic. Sebaiknya kau tanyakan saja kepada Nona Jennie. Aku yakin Nona Jennie tidak akan mudah tergoda." Daniel menjeda perkataannya, lalu nampak berpikir. "Tapi entahlah, wanita mana yang tidak akan tergoda dengan pria itu, lihatlah wajahnya sangat tampan," sambungnya.
Bugh
Nico menendang kaki Daniel. "Sebenarnya kau ini berusaha menenangkanku atau ingin menambah kekesalanku hah? Aku juga tampan, bahkan aku lebih tampan dibandingkan pria itu!" Kesal dengan Adam tetapi justru melampiaskan amarahnya kepada Daniel.
Daniel meringis, ia mengusap tulang kering kakinya. "Kau tidak perlu kuat-kuat menendangku, Nic! Sakit sekali kakiku. Bagaimana jika kakiku di amputasi, kau harus bertanggung jawab!" selorohnya.
__ADS_1
"Manja!" dengkus Nico kesal lalu berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Daniel kemudian mendekati Keil. "Kau dengar katanya, Keil? Aku manja? Astaga yang benar saja!"
Keil hanya terkekeh-kekeh melihat kekesalan Daniel. Ia mengikuti langkah Nico menuju mobil mereka.
Drrrtt Drrrtt
Langkahnya terhenti seketika, Keil merogoh ponsel miliknya di saku celana. Tertera nama Tom di layar ponsel, Keil segera menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa Tom?"
"Gawat Bos Keil, Jonas mengirim beberapa anak buah, sekarang mereka berusaha mendobrak apartemen."
Deg
Satu kalimat yang mampu menghentikan detak jantung Keil selama beberapa saat. "Bawa pergi Eme dari sana, SEKARANG!"
.
.
To be continue
.
.
Jennifer
Babang Nico
Babang Adam
...Nah lhooo, jangan sampe oleng ya dari Babang Nico ke babang Adam wkwk 😂😂...
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1