Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Informasi tidak terduga


__ADS_3

Nico kembali ke Markas dalam keadaan bingung. Ia menerka-nerka apa dirinya telah membuat kesalahan, sehingga tiba-tiba saja Nona Jennie mendiamkan dirinya. Sepanjang perjalanan Nona Jennie memilih diam dan pada saat tiba di Mansion pun, wanita itu juga melenggang pergi begitu saja. Apa Nona Jennie-nya marah karena ia telah lancang menyatakan perasaannya? Tetapi bukankah saat mendekap Nona Jennie, wanita itu tidak menolak dirinya.


"Aaarrgghh!!" Nico mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak tau kenapa Nona Jennie mampu membuatnya sangat kacau seperti ini. Dengan melangkah panjang menuju ruangannya, Nico membuka pintu ruangan dengan kasar hingga membuat Keil juga Daniel terkejut dan menatap heran.


Nico tidak pedulikan akan tatapan kedua sahabatnya itu. Ia membenamkan tubuhnya di atas sofa disertai helaan napas panjang.


"Kau kenapa?" tanya Keil heran dan kemudian ia serta Daniel saling bersitatap.


"Bukankah kau baru saja habis berkencan, kenapa wajahmu tertekuk seperti itu?" sambar Daniel. Ia juga tidak kalah heran dengan Keil.


"Aku baru saja menyatakan perasaan kepada Nona Jennie," terang Nico. Di antara mereka memang tidak ada yang ditutup-tutupi.


Hah?


Keil dan Daniel tercengang selama beberapa saat. Mereka yang duduk di kursi berhadapan dengan komputer masing-masing berbondong-bondong mendekati Nico. Keil serta Daniel berpindah duduk tepat di sofa panjang yang berhadapan dengan Nico.


"Lalu apa jawaban Nona Jennie? Apa dia menerimamu?" tanya Daniel antusias, akan tetapi Nico hanya diam dan terlihat malas untuk menjawabnya.


"Biar ku tebak, kau pasti ditolak," tutur Keil menduga-duga. Karena wajah Nico nampak kacau dan tidak bersemangat.


Nico menggeleng. "Nona Jennie perlu waktu untuk memikirkannya."


"Hah, lalu apa masalahnya? Kau tidak ditolak dan masih ada harapan." Sungguh Daniel terlihat menggebu-gebu. Ia pikir sahabatnya itu benar-benar telah ditolak.


"Entahlah...." Nico kemudian menceritakan perubahan sikap Nona Jennie kepada Keil juga Daniel. Tidak hanya Nico yang bingung, kini Keil serta Daniel mencari jawaban akan sikap Nona Jennie yang berubah secara mendadak.


"Mungkin Nona Jennie hanya terkejut karena kau menyatakan perasaan secara tiba-tiba." Daniel berusaha menenangkan Nico, berharap kalimatnya sedikit membuat hatinya lega.


"Seperti yang Nona Jennie katakan, dia membutuhkan waktu. Jadi kau tidak perlu khawatir, Nona Jennie akan kembali bersikap seperti biasa kepadamu." Sama halnya dengan Daniel, Keil juga memberikan kalimat penyemangat untuk Nico.


Nico mengangguk, meskipun ia belum mendapatkan kelegaan di hatinya. "Ah ya, aku lupa memberitahumu," ujarnya kemudian kepada Daniel. Karena di dalam otaknya hanya memikirkan Jennifer sehingga Nico nyaris melupakan kejadian yang terjadi saat di perjalanan.


"Ada apa?"


"Aku bertemu dengan Ashley saat di jalan. Mobil mereka dihadang tiga pria."


"What?!" Tentu saja Daniel terkejut karena Lina tidak melaporkan apapun padanya.


"Ya, aku membantu wanitamu yang ingin dibawa paksa oleh mereka."


"What the fucckk!" umpat Daniel kesal. "Kenapa Lina tidak melaporkan masalah penting itu padaku?!"


"Jangan menyalahkannya. Tadi aku yang menyuruhnya untuk tidak melaporkannya padamu karena aku ingin menyampaikan langsung." Memang sebelumnya ia yang berkata demikian kepada Lina tetapi justru dirinya melupakan hal itu.


Daniel mengangguk paham. "Sial!" Lalu menyandarkan punggung pada sandaran sofa. "Siapa yang berani-beraninya yang ingin membawa Ashley dariku?!" Daniel menggertakkan giginya, terlihat jelas jika pria itu mengeram amarah.


Nico mengedikkan bahu tanda tidak mengetahuinya. Terlebih lagi Kiel, ia hanya bisa menyimak saja.


"Aku harus menyelidikinya." Daniel yang sudah telanjur geram, ingin segera menyelidiki seseorang yang ia curigai belakangan ini.


"Ehm, aku curiga mereka saling mengenal karena salah satu dari mereka mengatakan ingin membawa Ashley kepada Tuannya dan Ashley mengatakan tidak memiliki hubungan lagi dengannya." Nico memberikan keterangan yang ia dengar saat perdebatan itu berlangsung.


"Hahaha, aku paham. Mungkin seseorang dari masa lalunya." Daniel sempat mencurigai seseorang yang selama beberapa hari ini berusaha mencari keberadaan tentang Ashley, karena itu ia sudah menghapus jejak wanitanya.


Baik Nico dan Keil mengernyitkan kening. "Kenapa kau begitu yakin?" tanya Keil penasaran.


"Feelingku mengatakan seperti itu," sahut Daniel percaya diri. "Sudah pasti orang-orang itu adalah suruhan dari mantan kekasihnya."

__ADS_1


"Ya, bisa saja." Nico menimpali. "Ah, ya aku ingin menyelidiki tentang keluarga Cooper, kepada siapa mereka berhutang." Nyaris saja ia melupakan permintaan Nona Jennie kepadanya.


"Cooper?" Keil mengulangi ucapan Nico.


"Iya, Alice teman baik Nona Jennie. Kemarin aku dan Nona Jennie membantu temannya dari dua pria yang ingin membawanya sebagai jaminan hutang."


"Itu masalah mudah, berikan aku waktu 24 jam untuk menyelidiki keluarga itu." Daniel harus menyelidiki dua orang sekaligus yang entah siapa itu.


***


Daniel berkutat dengan komputernya, di bantu oleh Nico juga Keil. Mereka mencoba meretas beberapa sistem. Salah satunya perusahaan anak cabang yang sudah berjalan selama dua tahun. Ashmore Group, salah satu perusahaan berspesialisasi dalam investasi pasar negara berkembang.


"Terdapat 306 karyawan dan total aset sekitar 8,6 Milyar Dollar. Pemilik sebelumnya adalah Josh Hartel dan pemilik saat ini adalah David Benneth." Daniel membaca laporan data yang ia dapatkan dari aplikasi yang berhasil meretas sistem perusahaan tersebut.


"Josh Hartel dan Ashley Hartel. Apa mereka memiliki ikatan keluarga?" Nico bertanya lantaran marga mereka sama.


"Tentu saja. Perusahaan Ashmore Group sebelumnya milik keluarga Ashley yang dirampas oleh kekasihnya yang bernama David," sahut Daniel.


"Ck, sepertinya kau sudah mengetahui banyak hal," cetus Keil memicingkan tajam matanya.


"Ya, aku sempat menyelidiki tapi tidak aku lanjutkan lagi karena tidak menarik. Dan saat ini aku berubah pikiran, perusahaan itu cukup besar, pantas saja pria itu merampasnya." Sebelumnya Daniel sudah mencari tau tentang keluarga Ashley tetapi tidak menduga jika perusahaan yang berdiri di Kota London adalah milik keluarga wanita itu. Perusahaan yang berdiri di Los Angeles sudah di akuisisi oleh pihak bank dan David melarikan diri dengan meneruskan perusahaan anak cabang di London. "Ternyata semua aset dipindahkan ke anak cabang, hal itu di manfaatkan oleh David."


"Bagaimana kalau kau merebut perusahaan itu. Aku yakin Ashley akan terkesan denganmu dan tidak bisa melepaskanmu." Keil memberikan saran yang menggiurkan.


"Haha kau benar. Karena itu aku menjadi tertantang ketika Nico memberitahuku mengenai tiga pria yang ingin membawa Ashley," seru Daniel. Permainan akan sangat menarik jika mereka mendapatkan lawan yang seimbang.


"Dan bisa saja David sudah mengetahui keberadaan Ashley dan ingin membawanya," sambung Nico.


"Mungkin pria itu menyesal, sehingga ingin kembali dengan Ashley," sambung Keil kemudian. Ternyata mereka memiliki satu pemikiran.


Daniel berdecih tidak menyukai fakta tersebut. "Cih, aku tidak akan membiarkan wanitaku dirampas pria bajingan sepertinya!"


"Buat dia menyesal telah berhadapan denganmu," timpal Keil.


Daniel mengangguk. Akan semakin menarik jika ia mengikuti permainan pria itu.


"Kalau begitu, waktunya kau menyelidiki keluarga Cooper." Nico sudah tidak sabar ingin menyelesaikan masalah yang menimpa Alice. Dengan begitu Nona Jennie-nya akan tenang dan tidak mencemaskan teman baiknya itu.


"Hem, baiklah." Daniel kemudian mencoba memasuki kode akses kembali. Dalam hitungan detik aplikasi itu terbuka. Ia mulai mencari tau penyebab perusahaan keluarga Cooper failed.


Memang keluarga itu telah menjual beberapa saham. Namun yang membuat lebih tercengang, keluarga itu harus meminta bantuan kepada pasar gelap atau jika di Kota London biasa disebut dark web.


Ketiganya tidak asing dengan situs tersebut. Dan mereka baru menyadari dark web terhubung dengan perusahaan yang baru saja mereka selidiki.


"Seseorang baru saja login beberapa jam yang lalu," ujar Daniel. Pandangan matanya fokus pada layar komputer, sementara jemari-jemarinya bergerak kesana kemari di atas keyboard.


"Apa terlihat username dan passwordnya?" tanya Keil.


"Ehm, jika sudah mengetahui IP Address-nya maka username dan passwordnya akan muncul dengan sendirinya."


Nico dan Keil hanya mengangguk saja serta mengamati di kursi mereka masing-masing. Daniel kembali mengutak-atik IP Address yang tertera angka 192.113.1.2. Begitu angka tersebut dikonfirmasi, nampak username serta password.


"JRM112," gumam Daniel begitu melihat username tersebut.


"JRM? Apakah itu mungkin Jerome?" seru Keil mengeluarkan apa yang ia pikiran.


Daniel dan Nico menoleh bersamaan kepada Keil. Yang dikatakan oleh Keil benar, JRM112 sudah pasti Jerome karena pria itu selalu menggunakan singkatan itu.

__ADS_1


"Itu tandanya....." Ketiganya menggantungkan ucapan mereka. Pemikiran mereka sama, yaitu David memiliki hubungan dengan Jerome.


"Tunggu sebentar, biar aku memastikan sesuatu." Daniel kemudian memasukan kata sandi kepada aplikasi yang lain. Aplikasi yang terhubung dengan manekin yang dipasang kamera perekam. Manekin itu terhubung dengan kamera yang terpasang pada manekin yang dibeli oleh Jerome pada saat itu. Karena tidak menemukan petunjuk apapun, sehingga Daniel sempat memutuskan koneksinya, sehingga kini ia menghubungkan kembali.


Tek


Tek


Tek


Dengan lihai jamari Nico bekerja di atas keyboard. Jari telunjuknya menekan tombol Enter dan kemudian di layar komputer LCD yang terpampang di dinding, menampakkan sebuah ruangan disana.


Tidak ada siapapun sebelum kemudian sebuah pintu terbuka dengan lebar. Beberapa pria memasuki ruangan itu, terlihat Jerome dan juga pria yang nampak tidak asing bagi Nico.


"Itu dia. Pria itu yang sempat berkelahi denganku dan ingin membawa Ashley." Nico menunjuk salah satu pria di dalam layar monitor itu.


"Hah, berarti benar David dan Jerome saling mengenal." Daniel mengusap kasar wajahnya. Kenapa selama ini ia tidak mendapatkan informasi apapun, dan hari ini mereka mendapatkan sebuah informasi tidak terduga.


Drtt


Drtt


Suara getaran ponsel yang bergesekan dengan meja, menjeda percakapan mereka sejenak. Keil melirik ponselnya yang berdering itu, ia kemudian menjawab panggilan dari Joy.


"Ada apa?" tanyanya.


"Bos Keil, Jonas membuat kekacauan di Cafe."


"Ck, biarkan saja. Aku tidak peduli dia akan menghancurkan cafe itu atau tidak." Sejak Emely menghilang dari kediaman Jonas, pria itu menjadi murka dan terus mencari keberadaan Emely dimana pun. Bahkan membuat kekacauan di cafe agar wanita itu menampakkan dirinya.


"Tapi Bos Keil tidak hanya itu, ada dua pria yang sejak tadi mengawasi apartemen Nona Emely. Sepertinya mereka mencurigai kamar Nona Emely." Joy memberikan informasi dari cctv yang mereka pasang di depan pintu apartemen Emely.


"Shiitt!"


.


.


To be continue


.


.


Babang Nico



Babang Keil



Babang Daniel



Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih

__ADS_1


Always be happy 🌷


__ADS_2