Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Bertamu atau menyerang?


__ADS_3

Jet pribadi Black Lion sudah mendarat di perbatasan Los Angeles. Seperti biasa big bos selalu memancarkan aura dingin begitu turun dari jet pribadi mereka. Berjalan di depan dan diikuti oleh empat anak buahnya menuju mobil yang terparkir disana.


Mereka akan melakukan perjalanan setidaknya satu jam untuk menempuh lokasi tujuan mereka. Mobil ketiga anggota Black Lion berada di belakang, mengikuti mobil yang ditumpangi big bos serta Jack. Di sepanjang perjalanan, tidak hentinya mereka menyusun strategi. Ada banyak senjata juga rakitan bom yang mereka bawa.


"Kau benar-benar sudah tidak menggunakannya lagi?" Sungguh Nico masih penasaran akan penuturan Daniel yang memberitahukan mereka jika obat itu sudah di hancurkan.


"Hem, kau ingin aku mengulanginya berapa kali heh?!" seru Daniel kesal. Karena ini ketiga kalinya Nico bertanya hal yang sama.


"Haha karena aku tidak percaya," jawabnya tergelak. "Jadi kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya?" Nico semakin gencar menggoda.


"Shut up, Nic! Jangan mengulangi pertanyaannya yang sama lagi." Bukan karena tidak ingin menjawab, tentu saja Daniel malu karena dengan sengaja Nico mengejek dirinya.


"Baguslah, kau bisa membuat akta pernikahan kalian terlebih dahulu," suara Keil menyela keduanya yang ingin kembali beradu mulut. Nico serta Daniel menoleh bersamaan.


"Hah, kau benar. Aku akan membuat akta pernikahan sama sepertimu. Tapi sebelum itu ada yang ingin kupastikan." Semenjak tidak membentengi diri dari perasaannya. Daniel harus lebih dulu memulai sesuatu yang seharusnya menjadi milik wanitanya itu.


"Hem, kau perlu tanda tangannya bukan?" Keil paham apa yang direncanakan Daniel. Karena mereka tidak menutupi apapun, termasuk Nico yang juga mengetahui rencana mereka.


"Benar, aku membutuhkan tanda tangannya. Dengan mudah aku bisa menyingkirkan pria sialan itu!" Pria sialan yang dimaksud Daniel tidak lain ialah David.


"Haahh....." Nico mendesahkan napasnya dengan berat. Sejak tadi ia mendengarkan percakapan kedua sahabatnya itu.


"Ada apa?" tanya Keil mendapati Nico yang sedikit frustasi.


"Kalian sudah memiliki kemajuan. Kau Keil sudah mengajukan persyaratan pernikahan dengan Emely. Dan Daniel mungkin akan segera menyusulmu, sementara diriku? Aku bahkan tidak yakin bos akan menyerahkan adik kesayangannya itu padaku," lirihnya. Akhirnya apa yang dicemaskan oleh Nico diungkapkan juga kepada dua sahabatnya.


Keil juga Daniel saling pandang. Mereka paham jika hubungan Nico sangat rumit, meskipun nampak baik-baik saja.


"Setelah mengurus tikus-tikus militer itu, kau perlu bicara dengan bos."


"Keil benar, bicaralah dari hati ke hati." Daniel menepuk bahu Nico.


Nico terdiam, ia mencoba mencerna yang meresapi apa yang disarankan oleh kedua sahabatnya. Dan ia berpikir tidak ada salahnya berbicara dan meminta izin. Dengan begitu rasa gundahnya akan menguap perlahan.


***


Akhirnya setelah menempuh jarak yang cukup lama, ketiga mobil Black Lion berhenti di pelataran sebuah markas besar. Mereka turun bersamaan, dan mengekori big bos.


Beberapa anak buah menyambut kedatangan Black Lion dan segera melaporkannya kepada Master. Tergopoh-gopoh memasuki Markas, nampak Master serta kedua kaki tangannya duduk di sofa.


"Master, Black Lion sudah datang."


"Persilahkan mereka masuk, aku sudah menunggu mereka sejak tadi."


"Baik."


"Tidak perlu!" Baru saja anak buah tersebut memutar langkahnya, Black Lion sudah masuk dengan gagahnya ke dalam Markas. Ia segera pamit undur diri dari sana.


Melihat tamu yang sejak tadi di tunggunya, lantas ia segera beranjak berdiri. "Kau datang ingin bertamu atau menyerang, hah?!" Sungguh setelah sekian lama tidak bertemu, Xavier selalu seenaknya.


"Apa Red Dragon ingin kembali berperang dengan Black Lion, heh?!" seru Xavier menyunggingkan senyum.


"Oh tentu saja tidak, itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga kami," sahut Sang Master.


"Kalau begitu diamlah. Persilahkan kami duduk."


"Ya, baiklah. Sorry aku tidak mempersiapkan kursi singgahsanamu," ejeknya pada Xavier.


"Kau pikir aku raja?" dengkus Xavier.


"Kau memang raja neraka," seru Zayn santai.

__ADS_1


"Lalu kau apa? Raja iblis?" Xavier tidak ingin kalah. Untuk sesaat mereka saling mengadu ketajaman mata sebelum kemudian tergelak bersama.


Beberapa anak buah di dalam sana hanya menggeleng dan juga ikut tertawa melihat tingkah konyol bos serta Master mereka.


"Bagaimana kabarmu?" Master yang tidak lain ialah Zayn memeluk Xavier.


"Jika aku tidak baik-baik saja, mungkin tidak akan berada disini." Xavier membalas pelukan Zayn, masih saja seenaknya jika berbicara. Dan Zayn seolah sudah terbiasa akan sifat pria itu.


Anggota yang lain saling menyapa. Sudah sekian lamanya sejak pernikahan Roy serta Jeff dan pertemuan terakhir mereka ketika menyerang serta membumihanguskan Markas MS (Mara Salvratiucha).


Xavier serta Zayn membenamkan tubuh mereka di sofa, diikuti yang lainnya. Hingga kini Red Dragon dan Black Lion duduk saling berhadapan, hanya saja meja sebagai pembatas mereka.


"Aku akan bertemu dengan Osman malam ini. Dia memintaku bertemu dengannya seorang diri," ujar Xavier.


"Kau yakin?" Zayn memastikan, mengingat Osman adalah pria tua yang licik, hanya saja ia begitu dilindungi oleh pasukan militer sehingga selalu bersikap berkuasa.


"Hem, aku ingin mendengar seberapa hebat dia bisa bernegosiasi. Nama organisasiku di pertaruhkan."


"Baiklah, aku akan menemanimu."


"Tidak perlu. Aku tidak ingin gegabah. Jika pria itu orang biasa mungkin kita bisa langsung membunuhnya. Tapi yang akan kita hadapi adalah pria yang berhubungan dengan kemiliteran."


"Tapi dia berkhianat jika kau lupa." Zayn mengingatkan.


"Aku tidak melupakan itu. Kau pikir bisa dengan mudah melemparkan kesalahan kepada Black Lion." Xavier sedikit kesal jika mengingat kecerobohan mereka yang menggunakan nama Black Lion.


"Ya, kau benar. Beritahu aku kapan saja jika membutuhkan bantuan."


"Ya..."


"Maaf, aku terlambat." Seseorang tergesa-gesa memasuki ruang tamu markas, hingga kini menjadi pusat perhatian mereka yang berada disana. "Kalian tau bukan, bagaimana sibuknya mengurus istri yang sedang mengidam," lanjutnya berkeluh kesah, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi berdekatan dengan Roy juga Jeff.


"Sudah memasuki usia 6 bulan."


"Wah, sama dengan istri Jack," seru Daniel antusias.


"Benarkah? Istrimu hamil lagi?" tanyanya pada Jack.


Jack mengangguk. "Benar, hanya saja berbeda satu minggu dengan usia kandungan istrimu."


"Haha senang sekali bukan rasanya mengurus istri yang sedang hamil?" sahutnya tertawa mengingat istrinya lebih bersikap manja dan tidak ingin jauh darinya.


"Dan kau akan merasakan adrenalinmu naik turun ketika Lyca melahirkan nanti," timpal Zayn. Mengingat kala persalinan sang istri tercinta yang membutuhkan perjuangan untuk melahirkan dua buah hati mereka ke dunia.


"Hah kau benar. Aku tidak bisa membayangkan istriku harus kesakitan." Anthony mengangguk membenarkan. Ya, saat ini memang Lyca tengah mengandung buah cinta mereka dan membutuhkan waktu tiga bulan untuk melihat putrinya lahir ke dunia.


"Apa kau sudah tau apa jenis kelamin bayimu?" Kini Jack kembali bertanya karena penasaran.


"Bayi perempuan. Dan kau Jack?"


"Aku mendapatkan laki-laki lagi."


"Haha sepertinya akan menarik jika putri dan putra kita bisa bersama atau mungkin menikah," seloroh Zayn asal dan langsung mendapatkan tatapan dari mereka semua.


"Aku tidak ingin berbesan denganmu!" Oh tidak, Xavier sudah menolak Zayn terlebih dahulu.


"Sialan! Kau pikir aku ingin, heh?!" Zayn mendengkus kesal. Belum dimulai tetapi pria menyebalkan itu sudah lebih dulu menolak putra dan putrinya. Ah tidak, lebih tepatnya menolak dirinya.


"Aku juga tidak ingin berbesan dengan kalian," sela Jeff menunjuk Keil, Nico serta Daniel.


"Bukan kau saja Jeff. Aku juga tidak ingin!" timpal Roy. Dan tentu saja mereka berdua mendapatkan tatapan tajam dari ketiga anggota Black Lion itu.

__ADS_1


"Heh, sialan! Kami belum memiliki anak," seru Daniel. Tanpa sengaja ternyata perkataan Jeff juga Roy menyentil mereka.


"Bukankah sedang dalam proses?" sahut Jeff.


"Haha kau benar Jeff."


Mereka tergelak bersama akan percakapan absurd mengenai masa depan putra dan putri mereka. Dan hal itu mencairkan suasana yang sempat menegang.


"Aku baru ingat sesuatu, mereka berurusan dengan Gil kakak iparmu," ucap Xavier menunjukkan tiga anggotanya melalui sorot matanya.


"Jadi dia benar-benar bergabung dengan Golden Dawn?" kata Anthony tidak percaya.


"Benar, lebih tepatnya dia menjadi anak buah David." Dan kemudian Daniel menjelaskan dari mana awal pertikaian mereka terjalin, tentunya ada rasa tidak percaya yang dirasakan oleh Roy juga Jeff, mengingat mereka pikir ketiga anggota Black Lion itu tidak akan pernah terikat dengan satu wanita saja.


Zayn hanya mengangguk saja sembari mengusap dagunya. Ia baru mendengar cerita lengkapnya. Pun dengan Xavier yang hanya mendengarkan tanpa berkomentar.


"Jadi kau merebut wanita dari ketua Golden Dawn?" ujar Roy memastikan.


"Dan kau juga mengambil wanita dari pria yang bernama David itu?" sambar Jeff.


"Hahaha kenapa lucu sekali!" Anthony tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"Jangan bicara sembarangan, aku tidak merebutnya. Wanita itu kekasihku sejak lama." Keil tidak terima dan mebela dirinya.


"Aku menyelamatkannya, tentu saja dia harus menjadi milikku." Daniel turut membela dirinya. Ya, mereka sudah mengetahui jika Daniel membeli seorang wanita di malam penyerangan itu.


"Baiklah, kembali pada intinya," ujar Anthony kemudian mulai kembali ke topik pembicaraan.. "Terserah kalian ingin melakukan apapun padanya. Aku tidak peduli dengannya, dia pernah ingin membawa istriku. Jika saja tidak ada yang membantunya saat itu, mungkin aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri." Ingatan Anthony melayang pada peristiwa lima bulan yang lalu, dimana ketika kakak iparnya itu ingin kembali menjual sang adik kepada seorang pria. Beruntung Anthony berhasil menggagalkan rencana pria sialan itu dari laporan Nill, dan jika saja Gil tidak diselamatkan oleh sekelompok yang ia yakini Golden Dawn, mungkin dirinya sudah melenyapkan kakak iparnya itu.


Ketiga anggota Black Lion mengangguk dan menolehkan kepala ke arah bos mereka. Xavier mengerti dan mengangguk, sebagai tanda memberi izin melakukan apapun kepada pria yang bernama Gil dan organisasi Golden Dawn.


.


.


To be continue


.


.


Bang Zayn



Babang Roy



Babang Jeff



Anthony



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2