Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Serangan panas


__ADS_3

Brrakk


Mobil hitam dari arah lain menumbalkan diri sehingga berhantaman dengan mobil besar yang sedari tadi menghantam bagian belakang mobil Nico. Tidak mempedulikan nyawa ketika menabrakkan diri menggantikan posisi mobil yang ditumpangi Nico juga Nona Jennie. Dua mobil hitam lainnya menghalangi mobil yang ingin mengejar mobil Nico. Saat ini mereka saling menghantam hingga salah satu mobil dari mereka terpelanting cukup jauh karena gagal menjaga keseimbangan.


Nico menghentikan laju mobilnya. Membuka selebar mungkin kaca mobil, dilihatnya mobil tiga anak buah yang dengan sigap memasang badan dan saling menyerang satu sama lain. Ya, mobil yang rela menabrakkan diri agar bosnya selamat adalah mobil salah satu anak buah Black Lion. Keadaan bahaya yang sedang menimpa Bos Nico serta Nona Jennie sampai ke telinga para anak buah sehingga masing-masing dari mereka bersiap melindungi.



Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Nico berlalu meninggalkan tempat tersebut. Memang kini mobilnya sudah berada di wilayah Black Lion, akan tidak mungkin jika mobil itu kembali mengejar.


Ekor mata Nico melirik ke arah Jennifer yang termangu menatap lurus ke depan. Ia menyadari jika kekasih kecilnya dalam keadaan syok. Nico kemudian menggenggam tangan Jennifer yang penuh dengan keringat dingin.


"Tidak apa-apa sayang." Dikecupnya punggung tangan Jennifer, memberikan ketenangan karena situasi menegangkan sudah berlalu. Seketika Jennifer menoleh, ia baru menyadari jika sedari tadi tangannya di genggam erat oleh Nico.


"Apa mereka akan baik-baik saja Nic?" Namun perkataan Nico hanya terdengar gamblang di telinga wanitanya. Karena kini pandangan Jennifer nampak kosong. Bagaimana tidak, salah satu dari mobil itu melaju cepat hanya untuk menahan mobil yang dengan sengaja menghantam mobil Nico. Membayangkan jika mobil di belakang mereka terus menghantam, mungkin saja Nico tidak akan mampu lagi mengendalikan mobilnya dan jika terlambat sedikit saja mereka berdua sudah pasti celaka.


Nico paham siapa yang di maksud oleh Jennifer. "Mereka sudah terlatih sayang. Apa Nona-ku ini lupa jika memiliki seorang kakak yang luar biasa, bos kami yang juga kakak Nona tidak akan menjadikan mereka anak buah jika tidak bisa menghadapi musuh-musuh." Telapak tangan Nico beralih pada puncak kepala Jennifer, memberikan usapan lembut disana.


Bagaikan seorang anak kecil yang diberikan pengertian, Jennifer mengangguk. Entahlah, sepertinya kejadian seperti ini akan terulang dan dialami olehnya. Bukan pertama kali Jennifer berada dalam bahaya. Sebab itu dirinya tidak pernah merasa keberatan ketika sang kakak selalu menyembunyikan dirinya dari dunia luar untuk menghindari kejadian seperti ini.


Tidak ada percakapan lagi di dalam mobil. Sepertinya bukan waktu yang tepat mengantarkan Nona Jennie ke perusahaan. Karena saat ini wanitanya itu masih dalam keadaan syok. Merasa belum cukup aman, tentunya Nico harus bersembunyi di dalam wilayah kekuasaan Black Lion. Jalan itu semakin dalam menyusuri tanah luas dengan berbagai keindahan alam liar. Pohon-pohon yang menjulang tinggi menambah kesejukan disana. Jennifer bingung di tempatnya, pertama kalinya melihat dengan jelas alam liar di sekitar. Karena selama ini ia hanya bermain di Mall atau pun perusahaan saja. Beda cerita ketika di Universitas, kegiatan di luar Universitas hanya sesekali ia mengikutinya karena larangan sang kakak.


Mobil Nico berhenti di pelataran bangunan dua lantai. Tidak mewah seperti Mansion utama keluarga Romanov. Namun pemandangan disana terlihat asri seperti tidak terjamah oleh siapapun.



"Kita berada dimana?" Jennifer melayangkan pertanyaan ketika turun dari mobil.


Nico tersenyum, menutup pintu mobil dan menghampiri wanitanya. "Penthouseku. Untuk beberapa jam ke depan kita beristirahat dulu disini. Setelah keadaan cukup aman, aku akan mengantarmu pulang ke Mansion Nyonya Bos Elleana."


Sebagai jawabannya, Jennifer mengiyakan saja. Memang saat ini ia masih dilanda ketakutan jika sewaktu-waktu mobil lain menyerang mereka kembali. Tidak, sebaiknya ia mencari aman terlebih dahulu. Ia yakin jika Nico serta anak buah sang kakak lainnya bisa menyingkirkan orang-orang yang berniat mencelakainya.


Nico kemudian merangkul Jennifer, menuntun wanitanya masuk ke dalam kediaman yang selalu membuatnya merasa aman. Ia bahkan tidak pedulikan mobil Mercedes Benz Silver mahal miliknya yang bagian belakangnya dalam keadaan rusak parah. Yang terpenting baginya, Nona Jennie kesayangannya baik-baik saja.


***


Kini Jennifer sudah membersihkan diri. Entah sejak kapan Nico menyiapkan pakaian baru untuknya. Saat mandi ia memang samar-samar mendengar Nico menghubungi seseorang untuk membawakan pakaian wanita, akan tetapi ia tidak pernah menduga jika pakaian baru untuknya datang lebih cepat. Mungkin Nico sudah mengancam anak buahnya, pikirnya.


Dress hijau mint lengan panjang melekat di tubuhnya. Jennifer menatap dirinya di pantulan cermin, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, hanya untuk meneliti penampilannya.


"Dia pintar memilih, seleranya tidak buruk." Ya, Jennifer memuji pilihan kekasihnya itu. Nampak cocok di tubuhnya yang ramping dan putih.


Ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur berdering sehingga menghentikan aktivitas Jennifer. Diraihnya benda pipih itu. Buru-buru Jennifer menjawab panggilan dari Jane.

__ADS_1


"Jane, siang ini aku tidak bisa kembali ke perusahaan." Jane yang mendengarnya di seberang sana tentu saja terkejut akan penuturan Nona Direkturnya.


"Apa yang terjadi Nona? Apa semuanya baik-baik saja?" Jane cemas jika terjadi sesuatu dengan Jennifer. Sebab sedari hati hatinya gelisah tidak menentu.


"Ya, seseorang ingin mencelakai kami. Saat ini aku dan Nico berhasil menghindar dan selamat," jawabnya menjelaskan.


"Astaga, apa Nona baik-baik saja? Apa Nona terluka? Apa perlu ku panggilkan ambulance?" Jane mendadak panik disana. Berbagai pertanyaan terlontar begitu saja lantaran mencemaskan Nona Direktur yang ia pikir terluka.


"Tidak Jane. Aku baik-baik saja. Nico selalu melindungiku. Jadi kau tidak perlu khawatir," ucapnya menenangkan. "Gantikan aku meeting sore ini. Karena meeting hari ini tidak begitu urgent sehingga tidak masalah jika aku tidak hadir," lanjutnya.


"Baik Nona. Nona tidak perlu cemas dan sebaiknya Nona beristirahat saja."


"Hem, terima kasih Jane." Jennifer tersenyum menyahuti. Sungguh Jennifer merasa beruntung memiliki asisten seperti Jane.


"Iya Nona."


Jennifer menutup sambungan telepon ketika tidak ada yang mereka bicarakan kembali. Hingga deheman seseorang mengejutkannya.


"Aku membawakan Nona dan makanan ringan. Katakan saja jika membutuhkan sesuatu." Nico kemudian meletakkan makanan ringan dan minuman tersebut di atas meja.


"Iya, terima kasih. Maaf keberadaanku disini merepotkanmu," cicitnya hingga membuat Nico menjadi gemas.


"Tidak masalah sayang," sahutnya. "Aku akan ke kamar mandi. Apa Nona ingin ikut?" sambungnya menggoda.


"Ck, dasar mesum." Jennifer menggelengkan kepala. Baru kali ini ia mendapatkan kekasih yang memiliki kadar mesum berlebihan.


Selama menunggu Nico membersihkan diri, kedua mata Jennifer berkeliling menatap interior bangunan minimalis yang serba gelap. Memang sangat cocok dengan karakter Nico. Kemudian matanya bergulir pada bingkai kecil di atas nakas bersisian dengan tempat tidur. Terpampang foto wanita disana, hingga Jennifer memastikannya sendiri bahwa dirinya tidak salah melihat.


"Dia memasang fotoku?" Jennifer meneliti foto tersebut. Foto pada saat pertama kali mereka berkencan, lebih tepatnya permintaan kencan Nico padanya. Wanita itu tersenyum tipis, ternyata Nico diam-diam mengambil gambar dirinya.


Puas memandangi sekeliling kamar sang kekasih, Jennifer mendudukkan diri di atas sofa. Ia meraih gelas orang juice dan meneguknya sedikit demi sedikit. Nico sangat perhatian, bahkan mengetahui jika dirinya menyukai Macaron. Jennifer menyadarkan punggung pada sandaran soga, meluruskan kakinya di atas sofa. Rasanya hari ini ia benar-benar lelah, semoga saja ketika di perjalanan pulang nanti, tidak akan ada lagi yang berusaha menyerang mereka, pikirnya.


Menunggu dengan menghabiskan beberapa Macaron, membuatnya sedikit merasa bosan. Jika di Mansion kakak ipar, ia bisa bermain dengan Austin. Aahh, memikirkan Austin, mendadak Jennifer merindukan sosok keponakan kecilnya.


"Kenapa dia lama sekali di dalam kamar mandi?" gumamnya. Sudah hampir 20 menit Jennifer menunggu, tetapi kekasihnya itu masih betah berlama-lama di dalam sana. "Nico, where are you?" Sepertinya sifat Nico sedikit menular padanya. Sehingga kini Jennifer pandai menggoda Nico. "Kemarilah......." Sembari melambaikan tangannya meskipun Nico tidak bisa menggapai lambaian tangannya yang terukur itu.


Sementara Nico yang berada di dalam kamar mandi tengah mengenakan pakaiannya. Ia tersenyum mendengar suara kekasih kecilnya yang mencari keberadaannya. Sepertinya sangat menyenangkan jika ia bisa selalu berada satu atap dengan wanitanya.


"Aku disini sayang," sahut Nico mentertawakan dirinya di depan cermin. "Apa Nona-ku sudah rindu padaku?" godanya.


Meskipun suara Nico terdengar menggema dan sedikit tenggelam. Tetapi Jennifer dapat mendengar dengan jelas. "What?" Sembari melirik ke arah kamar mandi. "No, aku tidak rindu!" teriaknya dengan malas, kemudian beranjak dari duduknya.


Nico terkekeh, ia keluar dari kamar mandi dengan sudah pakaian lengkap. Tiba-tiba saja Nico langsung menerjang tubuh Jennifer, memeluk tubuh mungil Nona kecilnya sehingga membuat Jennifer terpekik dan keduanya terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi Nico di atas tubuh Jennifer.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, Nico! Kyaaa.... geli... hentikan Nico!" Jennifer menggeliat di bawah tubuh Nico yang kekar.


"Tidak akan, sebelum Nona bilang merindukanku." Nico semakin gencar menggelitik perut Jeniffer.


"Astaga Nico, hahaha.... kau membuatku geli."


"Katakan, hm." Tangan Nico semakin menjalar hingga ke pinggul wanita itu.


"Iya iya.... baiklah aku merindukanmu, apa kau puas?!" Lebih baik menyerah saja ketimbang dirinya menangis karena lelah tertawa. Memang saat ini cairan bening menetes dari sudut matanya lantaran tidak bisa menahan tawanya akibat ulah Nico.


Nico tersenyum penuh kemenangan. Tatapannya tersita pada bibir ranum kekasih kecilnya yang menggoda sedari tadi.


Shiittt!


Tidak dapat menahan, sehingga Nico menyambar bibir ranum Jennifer. Wanita itu terkesiap, lagi-lagi Nico menyerangnya dengan ciuman. Mau tidak mau Jennifer membalas ciuman Nico karena lidah pria itu mendesak masuk lebih dalam lagi, bahkan Nico sempat menggigit gemas bibirnya sehingga Jennifer membuka mulutnya. Keduanya membelit satu sama lain, menyesap dan menikmati pertukaran saliva. Semakin lama Jennifer semakin mahir berciuman, tentu saja karena Nico mengajarinya dengan sangat baik.


Ceklek


Pintu terbuka dengan lebar dan pemandangan di dalam sana membuat kedua pria yang baru saja datang membelalak tanpa terkejut.


"Sorry, sepertinya aku salah kamar," ujar Keil acuh.


"Oh tidak, mataku mendadak tidak bisa melihat," sambung Daniel menutupi kedua matanya.


Kemudian mereka saling menarik diri meninggalkan kamar itu.


"Shiitt!! Bajingan kalian!!!" Nico berteriak kesal. Tentu saja serangan panas itu harus berakhir.


.


.


To be continue


.


.


...Bisa dilihat cuplikan videonya di akun instagram Yoona yang lama ya man-teman @rantyyoona Alhamdulillah akunnya udh pulih lagi setelah hampir satu bulan kena hack...


...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


__ADS_2