
Mobil Nico yang menerjang hujan membelah kegelapan malam. Karena hujan yang cukup deras memudarkan penglihatannya, sehingga ia berusaha untuk mengemudi dengan berhati-hati tetapi tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Pandangannya menyapu sekitar mencari keberadaan mobil Daniel sesuai petunjuk. Selama 10 menit mengemudi, Nico menepikan mobilnya karena mendapati mobil Daniel terparkir di pinggir jalan. Lantas Nico tergesa-gesa turun dari mobil dan mendekati mobil hitam yang terdapat Daniel serta Keil di dalamnya.
Tok
Tok
Nico mengetuk kaca mobil, berulang kali ia mengusap wajahnya yang terguyur oleh air hujan. "Dimana Nona Jennie?" tanyanya ketika Keil baru saja membuka kaca jendela mobil. Nada suaranya sedikit berteriak karena derasnya hujan nyaris membuat suaranya tenggelam.
"Nona Jennie baru saja turun dari taksi dan berada di pinggir jalan sana." Keil menunjuk keberadaan Nona Jennie berada.
"Untuk apa Nona Jennie berhenti di tempat ini?" Nico bertanya heran, terlebih lagi dalam keadaan hujan deras seperti ini.
"Tidak tau, kami berdua hanya mengawasi dari sini." Ya, mereka berdua memang hanya menjaga dari kejauhan jika ada seseorang yang berniat jahat terhadap Jennifer.
"Sebaiknya kau dekati Nona Jennie. Dia membutuhkan mu saat ini," sambar Daniel. Sejak tadi ia hanya mendengarkan Keil juga Nico.
Nico mengangguk. "Baiklah, aku akan menghampirinya." Baik Keil dan Daniel mengangguki perkataan Nico. Kemudian Keil menutup kaca jendela mobil kembali begitu Nico sudah berlalu dari sana dan berlari kecil untuk menghampiri Nona Jennie.
Jennifer terlihat berdiri di antara pohon-pohon rindang yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Terdapat alasan ketika ia harus turun dari taksi karena ia merasa tidak nyaman saat supir taksi terus memperhatikan dirinya dengan tatapan tidak biasa. Sebelum sesuatu terjadi dengannya, ia segera menghentikan taksi yang ia tumpangi dan membayarnya lalu buru-buru turun. Sepertinya langit mengerti akan perasaannya yang tengah sedih, sehingga hujan begitu deras. Meskipun selama berhubungan dengan Billy, ia tidak terlalu menunjukkan perasaannya tetapi dari dasar hatinya ia menyayangi kekasihnya itu.
Namun siapa yang menduga jika Billy yang ia kenal sebagai pria baik-baik dan lembut mengkhianati dirinya. "Kau jahat Billy...." gumamnya. Sekeras apapun ia berusaha untuk tidak menangis, air mata meluruh tanpa permisi di kedua matanya. Jennifer menumpahkan rasa sesak di dadanya, bahkan ia tidak pedulikan tubuhnya yang sedikit menggigil kedinginan.
"Nona...." Isak tangis Jennifer menyurut ketika mendengar suara tidak asing memanggil dirinya. Jennifer mendongak bersamaan dengan kedua matanya membelalak mendapati Nico berdiri tidak jauh darinya.
"Nico....." lirihnya.
"Apa yang Nona lakukan disini?" Nico berjalan menghampiri Jennifer. "Hujannya cukup deras, kenapa berhenti di tempat seperti ini, seharusnya Nona mencari hotel atau penginapan lain, tidak berdiam diri di tempat seperti ini dalam keadaan hujan, terlebih lagi sudah hampir larut." Meskipun langkahnya sudah terhenti saat berhadapan dengan Jennifer tetapi tidak dengan bibirnya yang terus berceloteh panjang lebar, saking paniknya Nico bahkan tidak menyadari jika ia benar-benar menjadi pria yang cerewet.
Sudut bibir Jennifer membentuk sebuah lengkungan. Wanita itu sedikit lega karena setidaknya ia tidak sendirian. Tetapi ada yang aneh, kenapa Nico bisa mengetahuinya keberadaannya?
"Aku hanya berjalan-jalan saja." Jennifer berkilah. Mana mungkin ia mengatakan jika dirinya tengah kecewa karena dikhianati oleh Billy.
"Ck, apa aku harus mempercayainya?"
"Tentu saja tidak. Kalau kau percaya itu artinya kau bodoh," cetus Jennifer mencibir.
Nico terkekeh. "Aku bodoh hanya di depan Nona saja."
Lagi-lagi Nico menggunakan jurus untuk menggoda Nona kecilnya. Jennifer hanya memutar bola matanya jengah, ia bahkan sudah terbiasa akan kata-kata Nico yang manis.
"Jika wanita lain mungkin sudah masuk dalam perangkapmu."
"Bukankah sebentar lagi Nona juga akan masuk ke dalam perangkap yang kubuat." Seraya tersenyum penuh arti. Ya, perangkap untuk menjadikan Nona Jennie sebagai miliknya.
__ADS_1
Kening Jennifer berkerut lantaran gagal mencerna ucapan Nico. Benar-benar sangat polos. Seketika wanita itu terdiam, hingga membuat Nico menatap lekat wajah Jennifer. Pandangan Nico beralih pada kedua mata Jennifer yang terlihat memerah, sudah pasti Nona-nya baru saja menangisi pria bajingan itu.
"Apa Nona baru saja menangis?" Nico melayangkan pertanyaan yang ia sendiri sudah mengetahui jawabannya. Aneh bukan?
Kepala Jennifer menegak akan pertanyaan Nico. Ia kemudian menggeleng. "Tidak. Mungkin terkena air hujan yang masuk ke mataku."
"Apa Nona sedikit saja tidak mempercayaiku?" Nico menjadi kesal karena Jennifer masih saja menganggap dirinya asing.
"Apa maksudmu?"
"Nona tidak pantas menangisi pria sepertinya, pria itu sudah mengkhianati dan mencampakkan Nona, sebaiknya Nona lupakan saja dia." Melihat Nona Jennie menangisi pria lain, Nico mendadak kesal.
"Aku tidak-" Kalimat Jennifer terhentikan, ia baru menyadari jika sepertinya Nico mengetahui apa yang terjadi dengannya. "Apa kau mengetahuinya?" Kedua matanya memicing tajam penuh selidik kepada Nico.
Dari diamnya Nico, Jennifer sudah dapat menebaknya. "Kau mengikutiku?" Namun Nico masih terbungkam, pria itu hanya tertunduk.
"Maaf Nona, aku hanya mencemaskan Nona, jadi aku mengikuti Nona. Aku tidak tau jika pria itu berani-beraninya mengkhianati Nona dan tidur dengan wanita lain!" Nico mengeram kesal.
Hah. Sudah dipastikan jika Nico mendengar semua percakapan mereka. Tidak heran jika Nico mengetahui masalah yang sedang menimpa dirinya.
Bagus Nico, kau terlihat alami. Jangan sampai Nona Jennie berpikir bahwa kau sudah mengetahuinya sejak lama.
"Aku terlihat menyedihkan, bukan?" cicitnya dengan menundukkan pandangan.
"Karena aku mudah di bodohi. Kami sudah saling mengenal cukup lama, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya dengan baik. Ku pikir Billy berbeda, ternyata pria itu sama saja dengan pria lain." Mengingat jika Billy sudah melakukan hubungan sekss dengan wanita lain membuatnya kesal. Sejujurnya Nico merasa tersindir karena ia lebih bajingan dari Billy. "Aku diam-diam menjalani hubungan dengannya dan melindunginya dari Kak Vie tetapi ternyata dia bajingan dan berengsek!" sambungnya. Rasa kesal dan kecewanya meluap, sehingga untuk pertama kalinya Jennifer melontarkan kata-kata kasar.
"Apa Nona sangat mencintainya?" Entah kenapa tiba-tiba Nico menanyakan hal itu, bukankah tanpa bertanya pun ia sudah mengetahui perasaan Nona Jennie yang sesungguhnya?
"Kalau aku tidak mencintainya, untuk apa aku bertahan selama ini." Jennifer tersenyum getir. Mengingat selama ini ia mencoba setia tetapi justru pria itu yang tidak setia.
Nico mengangguk. Benar juga, lalu kenapa ia kecewa akan jawaban wanita di hadapannya itu. Memangnya ia akan mendengar 'kata tidak' dari bibir Nona Jennie-nya. Ck, biarlah. Perlahan ia akan menggeser nama pria itu di dalam hati Nona, pikirnya.
"Tapi aku tidak tahu rasanya akan sakit seperti ini," sambungnya kemudian. Jennifer kembali menyeka air mata di sudut matanya. "Ah, sudahlah." Menghela napas dalam. "Hujannya sudah hampir reda sebaiknya kita mencari mencari taksi."
"Tidak ada taksi yang lewat di waktu seperti ini, Nona." Nada suara Nico berubah, menjadi murung tidak seperti sebelumnya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Ck, kalau begitu kita mencari hotel di sekitar sini saja." Jennifer melangkahkan kakinya, hingga kini tubuhnya kembali diguyur oleh air hujan. Nico benar-benar meras kasihan kepada Jennifer. Nona kecilnya itu berusaha terlihat baik-baik saja meskipun hatinya dalam keadaan terluka. Nico mengikuti langkah Jennifer dan kemudian menarik lengan Nona-nya.
"Aku membawa mobil. Sebaiknya kita ke mobilku saja." Nico menahan Jennifer yang hendak melangkah kembali.
"Um, baiklah."
Nico menghela napasnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak tega melihat keadaan Nona Jennie yang seperti ini. "Nona, jika Nona ingin menangis, menangislah."
__ADS_1
"Tidak." Jennifer menggeleng. "Aku tidak selemah itu." Namun berbeda dengan bibirnya yang berkata 'baik-baik saja', sesuatu menetes dari kedua mata Jennifer. Meskipun tertutupi oleh air hujan, Nico dapat membedakan jika itu adalah air mata.
Nico menarik Jennifer ke dalam dekapannya hingga membuat Jennifer terkesiap bersamaan dengan kedua matanya yang membeliak tidak percaya. "Kau tidak pandai berbohong Nona. Jadi menangislah sepuas Nona. Aku akan memeluk Nona sampai Nona selesai menangis."
Terdiam. Nico benar, saat ini ia memang ingin menangis. Jennifer melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nico dan Jennifer pun menumpahkan tangisnya di dalam dekapan bodyguardnya itu. Berulang kali Nico mengusap punggung Nona kecilnya, berharap telapak tangannya itu dapat menenangkan Jennifer.
Cukup lama mereka saling berpelukan dan Jennifer sudah puas menumpahkan tangisnya. Ia sudah sedikit lebih lega karena Nico. "Aku sudah baik-baik saja. Terima kasih." Jennifer mengurai pelukan mereka terlebih dahulu. "Kau tidak perlu cemas, aku bisa melupakannya, dan kau tolong rahasiakan hal ini dari Kak Vie, aku tidak ingin Kak Vie berbuat sesuatu dengan Billy." Meskipun Billy sudah menyakiti dirinya tetapi ia harus bersikap profesional, tidak mungkin menyingkirkan Billy serta Clarisa dari perusahaannya.
"Kenapa Nona masih ingin melindunginya?" Suara Nico berubah menjadi dingin.
"Bukan begitu, aku hanya-"
"Apa Nona sadar, selama ini aku berusaha menahannya karena tidak ingin Nona menghindariku," tutur Nico, nada suaranya kesal, tetapi tidak dengan sorot matanya yang sendu.
"Apa yang kau bicarakan?" Kedua alis Jennifer bertautan bingung. Demi tuhan Jennifer tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Nico.
"Sejak awal aku benar-benar ingin menyingkirkan pria itu dari Nona tetapi aku masih memikirkan Nona. Karena itu, aku membiarkan pria itu berada disisi Nona lebih lama."
"Nico, kau.... apa yang kau katakan?" Jennifer mencoba menerka-nerka. Apa bodyguard itu memiliki perasaan untuknya, tetapi tidak mungkin. Jennifer menghalau pikirannya tersebut.
Nico meraih pergelangan tangan Jennifer. Tidak. Kali ini ia benar-benar tidak dapat menahan gejolak di hatinya. Rasanya semakin lama perasaannya untuk Nona Jennie-nya itu kian membuncah, sehingga ia tidak dapat memendam lagi apa yang ia rasakan. Nico kemudian merengkuh leher Jennifer, ibu jarinya menyeka air hujan yang hampir menyelimuti seluruh wajah wanita itu.
"Nico, apa yang...." Belum sempat berbicara, tiba-tiba Nico membenamkan ciuman di bibir Jennifer hingga membuat wanita itu kembali terkesiap dengan keduanya mata yang membola penuh.
.
.
To be continue
.
.
Babang Nico
Jennifer
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih
__ADS_1
Always be happy 🌷