
Beberapa jam sebelumnya
Daniel, Nico dan Keil memiliki jalan buntu lantaran mereka selalu kesulitan mencari keberadaan Jerome. Musuh mereka itu ternyata sangat lihai bersembunyi, bahkan bukan mendapatkan titik terang keberadaan Jerome, justru mereka dikejutkan akan informasi terbaru mengenai David yang ternyata merupakan adik sepupu Jerome. Sudah dapat dipastikan selama ini David banyak dibantu oleh Jerome untuk menguasai perusahaan Ashmore Group milik keluarga Ashley.
Usai percintaan panas dan berbincang cukup lama dengan wanitanya. Daniel keluar dari kamar Ashley, meninggalkan Ashley yang tertidur akibat ulahnya yang menguras habis tenaga wanita itu. Daniel menuntun langkahnya menuju balkon kamar. Ponselnya kembali berdering dan ia segera menjawab panggilan video call dari Nico juga Keil.
"Ada apa?" tanyanya mengarahkan kamera depan tepat di depannya. Terlihat wajah Nico juga Keil di layar ponselnya tersebut.
"Apa kau yakin dengan rencana kita kali ini?" Nico mengajukan pertanyaan tanpa berbasi-basi.
"Ya, aku ingin memancingnya keluar."
"Kalau begitu gunakan alat pelacak kulit yang baru saja kita selesaikan dua hari yang lalu," sambung Keil. Mereka bertiga memang terjaga penuh untuk membuat alat pelacak terbaru yang tentunya bisa menyatu dengan kulit selama satu minggu ke depan.
"Hem, tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk membuat cacat wajahnya yang tampan itu."
"Ck, jangan gegabah. Bukankah untuk saat ini hanya perlu meletakkan alat pelacak di tubuhnya." Nico memperingatkan Daniel. Ia hanya tidak ingin rencana mereka menjadi sia-sia nantinya.
"Aish, kalian tau bagaimana aku menahannya untuk tidak memberikan pria itu pelajaran karena berusaha mencari informasi mengenai wanitaku." Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya ia benar-benar ingin menguliti mantan kekasih dari wanitanya itu.
"Come on, lebih sabar sedikit lagi," seru Keil mendadak gemas dengan sahabat lucknut-nya yang satu itu.
"Iya, baiklah. Aku bisa menahan diriku."
"Laporan baru saja masuk." Nico menyela. "Satu minggu sekali setelah makan siang, David selalu mengunjungi North Circular Road, dia terbiasa duduk di Ace Cafe untuk melihat beberapa biker melakukan aksi mereka. Setelah itu dia akan membawa salah satu dari biker itu untuk bekerja di bengkel otomotif milik seseorang yang entah itu siapa."
"Bengkel otomotif?" gumam Keil. "Entah kenapa aku familiar dengan usaha itu. Apa kalian sependapat denganku?" Keil merasa mencurigai bengkel otomotif tersebut. Entah kenapa ia teringat akan usaha yang dijalankan oleh Jonas.
Nico dan Daniel masih berupaya merangkum beberapa informasi yang mereka gali. "Sepertinya kecurigaan kita akan terbukti jika alat pelacak itu menempel di tubuhnya," seru Daniel.
"Kau benar, maka dari itu kau harus cepat memancingnya, agar pria yang bernama David keluar dari persembunyiannya," sahut Nico.
"Ya, aku akan keluar siang ini dengan Ashley. Aku yakin pria itu tidak akan mengabaikan begitu saja ketika melihat mantan kekasihnya di tempat yang sama." Daniel menyunggingkan senyum penuh arti. Banyak rencana yang memenuhi isi kepalanya.
Ketiganya memutuskan untuk menutup panggilan video mereka. Keil akan bermesraan dengan Emely dan Nico menuju perusahaan untuk mengganggu Nona kecilnya itu.
Dan Daniel benar-benar menjalankan rencananya. Ia sudah berada di Ace Cafe bersama dengan Emely. Sengaja ia tidak membawa anak buahnya untuk meminimalisir kecurigaan di sekitar. Biar bagaimanapun David merupakan adik sepupu dari Jerome, bisa saja pria itu juga memiliki otak yang licik seperti Jerome.
Pandangan Daniel memang berpusat pada sekumpulan pemuda yang disebut The Ton Up Boys, ia akui mereka begitu cekatan mengotak-atik mesin sepeda motor, pantas saja David menginginkan salah satu dari mereka untuk berkerja dengannya. Hingga akhirnya target yang ia tunggu sedari tadi menampakkan diri dengan turun dari mobil. Meskipun beberapa pria berkerumunan disana, Daniel dapat mengenali sosok David, walaupun hanya pernah melihat dari potretnya saja. David memang pria yang gagah dengan setelan jas, tetapi tentunya ia seribu kali lebih tampan. Keberuntungan seperti berpihak padanya karena David hanya ditemani satu anak buah.
"Aku akan ke toilet. Kau tunggu saja disini." Akhirnya Daniel beralasan ke toilet untuk menarik umpan yang ia yakini akan berhasil.
***
Nico dan Keil tersenyum puas begitu Daniel mengirimkan sebuah pesan di group bahwa ia telah berhasil menaruh alat pelacak pada anak buah David. Kini mereka tinggal menunggu hasil dan memantau pergerakan alat pelacak itu. Titik merah kini bergerak tidak menentu, dipastikan jika David dengan anak buahnya kembali ke perusahaan. Padahal mereka berharap jika David menemui Jerome atau Markas persembunyian mereka.
Daniel baru saja mengantar Ashley kembali ke penthouse. Kini mobilnya berhenti di depan GL Corp, perusahaan milik mereka, ia berpapasan dengan Nico yang baru saja keluar dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ku pikir kau sudah menjemput Nona Jennie." Daniel heran mendapati Nico di perusahaan, bukankah seharusnya sahabatnya itu sudah menjemput Nona Jennie sekitar dua jam yang lalu.
"Jangan banyak bertanya." Nico melenggang pergi begitu saja, bahkan menyahuti perkataan Daniel sembari berjalan menuju mobil. Daniel hanya mendecakan lidah, ia kemudian masuk ke dalam perusahaan. Persetan dengan sahabatnya yang tengah bad mood itu.
Nico melajukan mobil meninggalkan gedung GL Corp menuju Romanov Ent. Sejak tadi ia tengah gelisah lantaran Nona Jennie menolak panggilan dirinya, padahal ia sudah mengirimkan puluhan pesan untuk Nona Jennie-nya itu tetapi tidak kunjung mendapatkan balasan. Ia pun melaju dengan kecepatan penuh, hingga hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai lokasi yang dituju olehnya. Hal yang ditakuti dirinya ketika ia mengungkapkan perasaannya terhadap Nona Jennie, benar saja wanita itu seperti tengah menghindari dirinya.
"Oh... shittt!" Tidak. Ia tidak akan menyerah. Ia akan mendapatkan Nona Jennie bagaimana pun caranya.
Nico memakirkan mobilnya dengan asal begitu berhenti di depan perusahaan. Ia mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil begitu mendengar notifikasi pesan, buru-buru ia membaca pesan dari Nona Jennie.
Aku baru saja selesai meeting. Sebentar lagi aku akan pulang. Tunggu aku di bawah (emoticon senyum) - Jennie
Kegusaran yang sempat menyergap hatinya mendadak lenyap. Kini sebuah lengkungan yang terukir di kedua sudut bibir Nico. Terlebih lagi kalimat pesan itu diakhiri dengan emoticon senyum. Lantas Nico turun dari mobil, menunggu Nona Jennie-nya, bersandar pada sisi mobil.
Mobil merah yang mencolok itu mengundang setiap mata yang menatapnya, bahkan penampilan Nico yang luar biasa lebih tampan dari biasanya membuat mata beberapa karyawan wanita terpesona penuh damba. Nico memperhatikan setiap karyawan yang baru saja keluar dari gedung perusahaan. Sosok wanita mungil yang kecantikannya bahkan terlihat sangat menyolok di matanya baru saja menampakkan diri, senyumnya yang tersemat di wajah wanita itu menambah kecantikannya. Lagi-lagi Nico terpesona pada sosok wanita pujaan hatinya. Bahkan wanita lain yang berlalu lalang disana bagaikan tidak terlihat olehnya.
"Nona, lihatlah Tuan Nico sudah menjemput Nona." Jane menunjukkan keberadaan Nico yang tengah menunggu dirinya. Seketika pandangan Jennifer berpusat pada Nico.
Langkah Jennifer berhenti seketika, ia benar-benar terkejut akan penampilan Nico yang sangat tampan. Bahkan di sekitar mereka mengagumi sosok bodyguardnya itu secara terang-terangan. Jennifer mendadak kesal akan tatapan beberapa para karyawan wanita.
"Jane, kau pulanglah," tuturnya pada Jane. Memang belakangan ini mereka sudah tidak lagi pulang bersama.
"Baik Nona Direktur."
"Bukankah aku selalu tersenyum seperti ini Nona?" Senyum Nico semakin mengembang.
"Astaga Nico, jangan tersenyum seperti itu." Tidak mungkin Jennifer mengatakan jika ketampanan Nico bertambah saat sedang tersenyum. "Sebaiknya kita cepat pergi dari sini." Jennifer sudah merasa tidak nyaman akan tatapan para karyawan, terlebih lagi mereka membisikan Nico-nya. Ah, tunggu dulu Nico-nya? Yang benar saja.
Jennifer mengedikkan bahu, lalu ia masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. "Nico, cepat masuk!" perintahnya sebelum menutup pintu mobil.
"Iya Nona." Nico menyusul Nona Jennie masuk ke dalam mobil.
***
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Sejak tadi Jennifer meneliti penampilan Nico, pakaian pria itu memang seperti seorang pengusaha. Bahkan memiliki mobil yang terkesan sangat mahal dan tentunya Jennifer mengetahui jika mobil bodyguardnya itu tidak hanya satu.
"Nico...." panggilnya.
"Iya, Nona." Nico menyahuti panggilan Nona Jennie dengan sorot mata yang terus saja fokus pada kemudinya.
"Kenapa kau menjadi anak buah kakakku, padahal kau sepertinya pria kaya."
Nico tersentak akan pertanyaan Nona Jennie. Tetapi bukan Nico namanya jika ia tidak memiliki seribu macam alasan. "Aku membangun perusahaan dengan kedua temanku sejak kami remaja Nona. Dan kami mengutus seorang untuk menjalankan perusahaan. Dan tentunya bekerja dengan bos penuh dengan resiko, sehingga bos sering memberikan bonus yang besar." Nico tersenyum puas dalam hati. Jawaban yang masuk akal bukan? Tidak mungkin ia mengatakan jika uang yang di dapatkannya dari pekerjaannya yang seorang anggota Mafia.
Jennifer hanya mengangguk saja. Memang yang ia ketahui tidaklah mudah menjadi anak buah kakaknya karena entah dari mana kakaknya itu selalu memiliki musuh. Tiba-tiba saja tubuh Jennifer terguncang, ia memperhatikan sekitar karena Nico menepikan mobilnya.
__ADS_1
Nico menoleh ke belakang. "Nona, sebaiknya kita makan lebih dulu. Aku lapar."
Hah?
"Kau lapar? Apa kau tidak sempat makan siang?"
Nico menggeleng sebagai jawabannya. "Aku memiliki banyak pekerjaan di kantor," lanjutnya.
"Baiklah...." Jennifer kemudian turun dari mobil begitu Nico membukakan pintu mobil untuknya.
Nico melepaskan jas dan membuka dasinya, kemudian meletakkannya di dalam mobil, dua kancing kemeja yang dibiarkan terbuka itu mengekspos dadanya, sehingga Jennifer dibuat terperangah antara terpesona dan malu.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam cafe yang tidak begitu luas tetapi terlihat sangat nyaman. Mereka memesan menu terfavorit disana. Jennifer mengakui makanan di cafe tersebut sangat lezat, bahkan sesekali Nico mencuri pandang ke arah Nona Jennie-nya yang menyantap makanan dengan nikmat.
Nico menyelesaikan makannya lebih dulu, menikmati pemandangan indah di hadapannya.
"Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" Jennifer mengusap sudut bibirnya menggunakan napkin begitu menyelesaikan makannya.
"Tidak ada." Masih dengan senyumnya. Kemudian Nico beranjak berdiri. "Kalau begitu Nona tunggu sebentar, aku akan membayar makanannya."
"Hem....."
Sembari menunggu Nico, Jennifer menikmati senja yang memecah di langit. Semburat jingga kemerahan sedikit menerpa wajah.
Nico kembali setelah membayar pesanan mereka. "Nona...." Jennifer menoleh, memutar tubuhnya menghadap Nico.
Grep
Entah kenapa tiba-tiba Nico memeluk tubuhnya, membuat Jennifer terkesiap. "Jadi milikku ya....."
Tubuh Jennifer mematung, kalimat sederhana tetapi mampu menghentikan detak jantung yang berdetak tidak seirama itu.
.
.
To be continue
.
.
Jennifer
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih
__ADS_1
Always be happy 🌷