
"Arrghhh sial!!!!"
Nico berlalu pergi dalam keadaan diliputi amarah, untuk melampiaskan amarahnya ia hanya bisa memukuli stir kemudinya. Nico mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, tidak pedulikan akan nyawanya jika saja mobilnya kehilangan kendali. Beruntung tujuan Nico jauh dari jalan raya sehingga ia tidak perlu membahayakan pengendara lain. Sorot mata yang memancarkan amarah mengamati sekelilingnya yang hanya ada mobil miliknya saja yang tengah membelah jalan satu arah. Salah satu kakinya menekan pedal gas lebih dalam lagi, kian memacu mobilnya lebih cepat dari sebelumnya. Namun dengan mendadak Nico menginjak pedal rem tatkala pandangannya terganggu akan dua sosok yang tiba-tiba saja berdiri di tengah jalan menghadang mobilnya.
"Shiitt!!" Tepat waktu, Nico membanting stir ke kiri menghindari mobilnya yang akan menghantam dua pria tersebut. Decitan suara mobil yang berhenti mendadak disaat mobilnya memacu dengan kecepatan tinggi sangat memekakkan telinga, tidak hanya dua pria tersebut, telinga Nico berdengung karena decitan keras itu.
Mobil berhenti sempurna, Nico segera turun dari mobil siap untuk melayangkan tinjunya karena mereka telah berani menghadang jalannya.
"KALIAN CARI MATI, HAH?!!" hardiknya nyalang.
Dua pria tersebut hanya saling pandang dan kemudian tersenyum. Mereka mendekati Nico, lalu detik itu juga mengeluarkan senjata api serta senjata tajam.
"Serahkan barang-barang berhargamu! Kunci mobil, dompet dan juga uang!" ujar salah satu dari mereka menghunuskan senjata api tepat di wajah Nico.
Nico memicingkan matanya, saat ini ia menjadi paham alasan dua pria itu menghadang jalannya. Ternyata mereka hanya sekelompok bandit yang ingin merampok pengendara mobil yang melewati jalan satu arah ini. Memang jalan itu hanya ditumbuhi semak belukar dan minimnya pencahayaan.
"Kalian hanya akan mencari mati jika ingin merampokku!" Dengan senyum mengejek, Nico meneliti penampilan dua pria yang belum berpengalaman dalam dunia hitam. Ia sangat yakin jika sekali tebas saja sudah membuat kedua pria itu langsung sekarat.
"Ck, kau sombong sekali Tuan! Sebaiknya serahkan saja kunci mobilmu sebelum menyesal."
"Benar, kami tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!"
Nico terkekeh, ia tidak terpengaruh akan tiga senjata yang siap menerjangnya. Baginya sudah makanan sehari-hari menghadapi pria seperti mereka.
"Aku menyesal?" ulangnya. "Justru kalianlah yang akan menyesal. Kalian tidak paham cara bermain dunia hitam, bukan seperti itu cara merampok tapi seperti ini!" Nico menyambar tangan pria di hadapannya yang menggenggam senjata, lalu memelintirnya begitu kuat, hingga ia berhasil menjatuhkan senjata tajam itu dari tangan pria tersebut, sebelum kemudian menendangnya.
Bugh
Ya, pria tersebut terhempas ke aspal akan tendangan Nico yang bahkan tidak ia kerahkan sepenuhnya tenaganya itu. Nico memandang remeh, perlu puluhan tahun jika ingin bergelut dengan dunia hitam sepertinya.
"Sialan!!" Tidak terima temannya dikalahkan dengan cara seperti itu, ia segera memuntahkan pelurunya kepada Nico, tapi dengan gerakan cepat Nico mampu menghindari serangan tersebut. "Shiitt! Siapa dia sebenarnya? Kenapa bisa dengan cepat menghindari peluruku!" Keahlian Nico tentu saja membuatnya terkejut setengah mati.
Nico ingin menyerang kembali, tapi sebuah mobil berhenti di belakang mobilnya dan bersama-sama turun dari mobil menghampiri Nico.
"Bos Nico, biar kami yang menghabisi mereka." Ternyata yang datang adalah beberapa anak buahnya, mereka memang mengikuti Nico, akan tetapi sempat kehilangan jejak Nico karena mobil Nico melesat sangat cepat.
"Tidak perlu!" sahut Nico tanpa menoleh ke belakang, pandangannya menatap dua bandit menyebalkan itu. Tidak memiliki keahlian apapun, justru ingin merampok dirinya. "Aku ingin bermain-main dengan mereka terlebih dulu!" Beberapa anak buah paham dan segera menyingkir. Nico bisa saja menghabisi mereka dengan sekali serangan, tapi berhubung ia tengah diselimuti amarah, sehingga dirinya ingin menyalurkan kemarahannya terhadap dua bandit di hadapannya itu.
__ADS_1
"Sayang sekali kalian harus bertemu denganku malam ini." Entah kenapa kedua bandit itu merinding seketika akan tatapan mata Nico yang tidak biasa. Bukan mereka yang berhasil menakuti korbannya, melainkan Nico yang berhasil menakuti mereka. "Kalau begitu kita harus bersenang-senang." Menyeringai senyum.
Glek
Mereka sadar jika pria di hadapannya bukanlah pria sembarangan, pria itu seperti psikopat yang tidak takut akan kematian. Lantas keduanya segera memutar arah tubuh hendak melarikan diri. Namun sayang, tangan Nico lebih dulu menjangkau kerah pakaian mereka.
Bugh
Bugh
Punggung kedua bandit itu menerima tendangan Nico yang teramat keras. Keduanya tersungkur dalam keadaan tengkurap, Nico tidak berhenti sampai disana, ia menarik salah satu dari mereka dan kemudian,
Bugh
Bugh
Wajah pria itu berhasil di hantam bertubi-bertubi oleh Nico, hingga mengeluarkan darah segar disertai luka memar.
Bugh
Bugh
Keduanya meringsut mundur dalam posisi duduk pada saat Nico berjalan semakin dekat ke arah mereka dengan menggenggam sebuah pisau. Mereka bisa merasakan hawa pembunuh dalam diri pria di hadapannya. Ternyata mereka telah salah memilih korban, justru merekalah yang akan menjadi korban kekejaman Nico.
"Tunggu Tuan, tolong maafkan kami!" Salah satu bandit itu menangkupkan kedua tangannya, sebagai tanda jika ia memohon pengampunan.
"Terlambat!" Nico menyeringai licik, ia tetap melangkah maju hingga membuat keduanya semakin meringsut mundur.
Jleb
"Aarrgghhh....." Satu di antaranya berhasil di hantam pisau oleh Nico tepat di bagian matanya. Pisau itu kembali di tarik, lalu dihunuskan kembali pada satu bandit yang masih tersisa.
Jleb
"Arrgghhhh!!" Pisau itu kini telah berpindah dan menancap di punggung pria itu ketika ingin melarikan diri, tetapi sialnya gerakan Nico begitu cepat. Nico mencabut pisaunya dan menghantamnya kembali hingga empat kali.
Nico menggila, amarahnya yang tertahan kini berhasil ia lampiaskan kepada kedua bandit sialan itu. Salah sendiri berani muncul di hadapannya ketika ia tengah dikuasi amarah.
__ADS_1
Ternyata apa yang dilakukan Nico disaksikan oleh orang lain disana. Wanita itu menutup mulutnya tidak percaya, matanya memancarkan aura ketakutan luar biasa. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan adegan penyiksaan bahkan pembunuhan. Tidak hanya satu, melainkan dua pria yang dibunuh oleh pria itu. Ia benar-benar tidak mempercayainya jika pria yang dicintainya mampu melakukan hal yang kejam seperti itu.
"Tidak.... tidak mungkin!" Tubuhnya bergetar hebat, sulit mempercayai apa yang dilihatnya. Tapi berulang kali ia menajamkan penglihatannya, pria itu tetap sama. Wajah itu adalah wajah Nico, pria yang yang masih bertahta di hatinya.
Dengan tangan yang bergetar, wanita itu mencoba membuka knop pintu mobil, tapi gagal lantaran ia terlalu lemas hanya sekedar untuk membuka pintu mobil.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Nico menyadari jika ada seseorang selain dirinya, selain beberapa anak buahnya. Ia menolehkan tubuhnya ke arah bayangan yang sedang berusaha ingin melarikan diri.
"Shiitt!" Nico berlari menuju wanita tersebut, tentu saja ia tidak akan melepaskan seseorang yang telah melihat dirinya yang sangat kejam membunuh dua pria sekaligus.
Dan pada saat pintu mobil berhasil dibuka, wanita itu hendak masuk, namun Nico dengan cepat menjangkau wanita itu dan kembali menutup pintu mobil itu dengan kasar.
"My Queen?" Mata Nico membeliak, rahang yang mengeras itu perlahan melunak karena keterkejutannya mengetahui sosok wanita itu adalah Jennifer, kekasih hatinya. Tidak pernah sekalipun ia membayangkan jika akan memperlihatkan sosok dirinya yang sebenarnya dengan cara seperti ini, cara yang begitu mengerikan bagi wanita normal seperti kekasihnya. "Sayang.... My Queen..." Nico membawa Jennifer ke dalam dekapannya. Wanita itu masih dalam keadaan syok dan tidak merespons panggilannya.
Nico merasakan tubuh Jennifer yang bergetar hebat. Inilah yang ia takutkan ketika kekasih kecilnya mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Jennifer masih mengumpulkan kesadarannya setelah apa yang baru saja ia saksikan. Betapa pria itu dengan kejam membunuh seseorang dengan begitu keji.
"Tidak.... lepaskan aku!" Jennifer memberontak, ia mendorong kuat dada Nico yang mendekapnya dengan begitu erat.
"Please sayang.... Jangan takut. Ini aku Nico.... Aku tidak mungkin melukaimu."
Ternyata bukan hanya Jennifer yang gemetar hebat, bahkan tubuh Nico turut bergetar akan penolakan kekasihnya.
To be continue
.
.
Pokoknya kalian ikutin aja jalan ceritanya. Jangan sampe berhenti baca ya, nanti kalian nyesel loh hihi 😅ðŸ¤
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1