
Nuansa temaram memenuhi Club malam di dalam The Ritz Hotel - Carlton Los Angeles, Black Lion serta Red Dragon berpesta minuman disana tanpa di temani seorang wanita, karena tentunya mereka tidak menyukai wanita lain selain istri serta wanita mereka. Suara langkah kaki seseorang terdengar tergesa-gesa menapaki beberapa anak tangga, sebelum kemudian membuka pintu ruangan dimana dua kelompok berada di dalam sana.
"Bos..." Jack baru saja datang segera menghampiri bos. Lalu mendudukkan tubuhnya tepat di samping sang bos.
"Hem, bagaimana?" Xavier menyahut sembari meneguk minumannya.
"Semua aman bos, aku sudah melenyapkan barang bukti yang terkait dengan Osman." Ya, Jack memang ditugaskan untuk menyingkirkan senjata yang sudah terlanjur dikirim di sebuah pelabuhan. Karena kasus penyelundupan senjata yang dilakukan Osman, banyak kapal dari pihak militer berlalu lalang di perairan untuk menggeledah.
"Kerja bagus." Xavier kembali menyesap minumannya lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja.
"Jack, sayang sekali kau tidak ikut melihat aksi kami." Daniel yang semula berada di sofa lain, membenamkan tubuhnya di samping Jack.
"Ck, aku harus membereskan pekerjaan di pelabuhan. Tidak mungkin bukan kau yang menggantikanku?" Jack mendengkus kesal, tugas yang diberikan oleh bos tentu lebih berat karena mengurus satu awak kapal dan tentunya mengendap-ngendap dari kejaran para militer.
Daniel terkekeh. "Santai bro, minum ini untuk mendinginkan kepalamu." Lalu Daniel menyodorkan satu gelas minuman beralkohol kepada Jack yang langsung disambar oleh Jack dan segera meneguknya hingga tidak tersisa.
Melihat Jack yang menghabiskan minuman hingga gelas itu kosong, Daniel kemudian merapatkan tubuhnya. "Bagaimana mengenai informasinya?"
"Sepertinya kau benar, dia berada di dalam Penjara Dan Quentin State Prison," sahut Jack. Sebelumnya sahabatnya itu meminta bantuannya untuk mencari informasi dari seseorang yang bekerja disana.
"Sudah ku duga." Daniel mengusap dagunya.
"Jika sudah tau kenapa kau menyuruhku mencari informasinya!"
"Hanya memastikannya saja." Daniel menyahut acuh.
"Ck, menambahi pekerjaanku saja." Namun Jack masih saja tidak terima, ia tidak hentinya menggerutu kesal.
"Kalian tau, jika dua orang saling berbisik maka orang ketiganya adalah pria tampan!" Jeff menggeser tubuh Daniel, lalu mendudukkan tubuhnya di antara Jack juga Daniel.
"Apa istrimu tidak pernah memujimu lagi, sehingga kau memuji dirimu sendiri?!" cibir Daniel.
"Justru istriku memujiku sepanjang kami bercinta," seloroh Jeff tidak tahu malu.
Daniel memasang wajah mual, sementara Jack hanya terkekeh. "Kenapa setelah kau menikah dan memiliki anak kau menjadi pria yang cerewet, Jeff?!"
Jeff menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Benarkah?" Ia sendiri tidak menyadari perubahan dirinya. Tetapi ia merasa tidak berubah, masih menjadi Jeff yang dulu.
"Sepertinya pria yang menikah memang selalu berubah menjadi lebih manis." Nico kemudian membenamkan tubuhnya tepat di hadapan Daniel dan Jeff dengan terhalang meja kaca bulat yang dipenuhi oleh botol minuman.
Daniel mengangguk. "Benar, aku juga merasakannya ketika bos dan Jack menikah. Mereka terlihat lebih manis."
Sorot mata Jack mendelik tajam ke arah Daniel. Kata manis yang kaluar dari mulut temannya itu kenapa terdengar begitu menjijikan. "Kalian juga akan seperti itu nantinya."
"Haha aku tidak sabar ingin merasakannya." Tentu Daniel ingin merasakan apa yang dirasakan oleh pria-pria beristri. Jika dahulu ia selalu mencibir, mungkin cibirannya itu akan berbalik padanya.
Berbeda dengan ketiga temannya yang begitu antusias membicarakan tentang pernikahan, Nico nampak diam sembari mencuri dengar cerita dua pria yang sudah menikah itu dan Daniel menjadi sosok yang mudah mendengarkan cerita yang dahulu ia anggap membosankan.
Pandangan Nico beralih pada sosok bos yang duduk di sofa lain bersama dengan Zayn. Andai saja kakak dari kekasihnya itu orang lain, mungkin ia akan lebih mudah menanganinya.
Prang
Sebuah pecahan botol menyita perhatian mereka semua. Dan tentu saja pelakunya tidak lain ialah Keil dan Roy.
"Kenapa kau tidak pegang dengan benar?" Roy menatap botol mibuman itu dengan nanar seolah tidak rela sesuatu yang sangat berharga itu hancur berkeping-keping.
"Ck, salahmu sendiri kenapa tiba-tiba memberikannya kepadaku." Keil tidak ingin disalahkan sepenuhnya, karena Roy terus mendesaknya.
"Karena aku pikir kau ingin meminumnya juga," seru Roy dengan suara yang sedikit meninggi.
"Tapi aku tidak minta Roy. Bukankah aku sudah menolaknya?" Keil bersikeras jika botol itu terjatuh dan pecah berhanbur karena Roy.
__ADS_1
"Lagi pula kenapa kau terus menjauhiku?" Sejak tadi Roy berusaha mendekat, tetapi justru Keil melangkah mundur seolah menghindari dirinya.
"Apa kau tidak sadar jika terlalu berlebihan memakai parfum?" Bahkan kini Keil mengibaskan tangannya agar aroma dari parfum Roy menghilang.
Hah? Roy tercengang dan bahkan yang lainnya turut tercengang dengan penuturan Keil.
Daniel merasa ada yang aneh dengan Keil. Kenapa salah satu sahabatnya itu hari ini begitu sensitif dan semakin tidak bersahabat?
"Tenang dan duduklah. Kau mungkin sedang lelah." Setelah berhasil menarik Keil, Daniel mendorong Keil duduk di sofa yang lain.
"Kenapa kau juga memakai parfum berlebihan, Niel?" Keil menghempaskan tangan Daniel dengan kasar, karena tidak tahan alam aroma tubuh Daniel.
"Heh aku?" Daniel menunjuk dirinya sendiri. "Bahkan aku saja tidak memakai parfum." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu berasal dari mana baumu itu?"
"Haha aku memang harum sejak lahir," sahutnya percaya diri.
"Ck, menjijikan." Keil berdecih kesal.
"Hah, tadi bukankah kau sendiri yang mengatakan jika tubuhku harum?" Daniel justru kini menjadi besar kepala karena sebelumnya Keil mengatakan dirinya menggunakan parfum berlebihan. Padahal dirinya tidak memakai perfurm, bukankah itu pertanda jika dirinya benar-benar pria yang harum tanpa menggunakan alat bantu seperti parfum?
"Terserah kau saja. Sekarang menyingkirlah." Keil tiba-tiba saja beranjak berdiri dan berlari ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan. Ia tidak tahan untuk segera mengeluarkan isi perutnya dan benar saja, Keil memuntahkan seluruh isi perutnya.
Semua nampak saling pandang, apa Keil sudah mabuk? Tapi biasanya mereka tidak akan mabuk hanya minum satu atau dua botol saja dan Keil baru saja meneguk satu gelas.
"Keil, apa kau baik-baik saja?" Nico mencoba menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Namun tidak ada sahutan dari dalam sana. Hanya terdengar bunyi kran wastafel yang di nyalakan, akan tetapi tidak ada tanda-tanda suara Keil.
"Keil apa kau masih hidup? Kau tidak bunuh diri bukan?" sambar Daniel asal dan mengundang tatapan heran oleh mereka semuanya, termasuk sang bos.
"Bodoh!" Nico memukul kepala Daniel. "Apa kau pikir Keil melakukan hal bodoh semacam itu heh?!"
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka lebar, nampak Keil sudah lebih segar dari sebelumnya.
"Kau baik-baik saja? Apa kau keracunan sesuatu?" tanya Nico nampak begitu cemas.
"Aku baik-baik saja." Keil mengabaikan beberapa sepasang mata yang masih menatap heran kepadanya. "Jangan menatapku seperti itu!"
Karena di tegur oleh Keil sontak saja mereka memalingkan pandangan ke arah lain dan melupakan yang baru saja mereka saksikan.
"Jack, pesankan kamar untuk kalian beristirahat." Tentu Xavier tidak setega itu membiarkan para anak buahnya mengikuti dirinya selama 24 jam penuh. Terlebih mereka sudah bekerja keras tadi siang.
"Baik bos." Jack bangkit berdiri. Kini ia harus memesan beberapa kamar hotel dengan kisaran harga 20 juta per malam.
"Apa dia mengalami sindrom couvade?" Zayn berbisik kepada Xavier, ia paham betul tentang sindrom couvade yang merupakan tanda-tanda seorang suami mengalami kehamilan yang di alami sang istri, karena ia pernah merasakannya.
Xavier mengedikkan bahunya, sebagai tanda ia tidak tahu menahu. Karena itu bukan ranah urusannya.
"Ck, kau ini. Apa kau tidak bisa menjaga anak-anakmu?"
"Apa aku setua itu untuk memiliki anak-anak seusia mereka?!" Xavier mendelik tajam.
"Ya, kau memang tua," ejek Zayn sembari menyesap minuman.
"Dan kau lebih tua dariku. Lihatlah wajahmu yang hampir keriput dan ada satu helai rambutmu yang mulai memutih." Tangan Xavier terulur di atas kepala Zayn, hingga sesuatu yang menarik perhatiannya langsung ditarik olehnya.
"Sialan! Apa yang kau lakukan heh?!" Zayn mengusap kepalanya karena apa yang baru saja terlepas dari kulit kepalanya meninggalkan rasa nyeri akibat perbuatan Xavier yang menarik sehelai rambut miliknya.
__ADS_1
"Rambutmu, lihatlah." Xavier menunjukkan sehelai rambut milik Zayn di telapak tangannya.
"Apa kau buta warna heh? Bukan putih tapi coklat." Zayn menilik warna rambutnya karena yang ia lihat berwarna cokelat bukan putih.
"Putih, bodoh! Matamu saja yang buta warna!"
"Coklat!" seru Zayn.
"Putih!" seru Xavier tidak mau kalah.
Brak
"Diam!" Bersamaan dengan suara gebrakan meja yang dilakukan oleh Keil. Tentu saja karena pria itu tengah merasakan kepalanya yang teramat berat tetapi kedua bos gila itu justru berdebat mengenai warna rambut. "Sorry, aku keluar dulu bos," ucapnya kemudian melenggang pergi dari ruangan. Nico dan Daniel beranjak dari tempat duduk mereka, tidak ingin terjadi sesuatu dengan Keil, kuduanya keluar dari ruangan menyusul Keil.
"Siapa bos disini?" tanya Zayn selepas kepergian Keil, Daniel juga Nico.
"Aku," sahut Xavier.
"Lalu kenapa dia yang marah?"
"Mungkin butuh hiburan." Xavier menjawab asal.
"Hahaha karena itu kau jangan menjadi bos yang pelit. Berikan anak buahmu waktu yang cukup untuk liburan." Sungguh kali ini Zayn luas mentertawakan Xavier.
"Kau tidak perlu mengajariku bodoh!"
"Hahaha baiklah bos yang lebih pintar!" Namun nada sahutan Zayn seolah mengejek Xavier.
"Diam atau ku sumpal mulutmu dengan botol!"
Tawa Zayn menyurut ketika mendapatkan ancaman dari Xavier. Lebih baik ia menidurkan kembali singa yang sudah terlanjur terbangun.
Jeff dan Roy acuh, mereka lebih menikmati minuman milik mereka ketimbang menyaksikan berdebatan yang tidak ujungnya.
.
.
To be continue
.
.
Babang Jack
Babang Keil
Babang Jeff
Yang bisa di post potonya cuma itu aja ðŸ¤
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...