
Sudah terhitung delapan hari Keil belum bisa menemukan keberadaan Emely. Setiap hari yang dilakukan Keil menelusuri jejak-jejak Golden Dawn, namun hasilnya selalu nihil karena Golden Dawn kini juga tidak menampakkan diri mereka. Bahkan Black Lion sudah menyerang ke Markas Golden Dawn tetapi tempat itu kosong tidak berpenghuni. Sudah di pastikan jika Golden Dawn mengendus rencana Black Lion yang akan menyerang sehingga mereka hilang tanpa meninggalkan jejak.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan keberadaan Jonas?" Keil bertanya kepada beberapa anak buah yang baru saja memasuki ruangan kerja. Ke empat anak buahnya menggeleng, tanda mereka tidak menemukan Jonas di mana pun. Bahkan Golden Dawn seperti menyebar dari satu kota ke kota lainnya untuk bersembunyi.
Bugh
"Bodoh!" Satu dari mereka mendapatkan hadiah bogeman mentah dari Keil. Tanpa membela diri, anak buah tersebut hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sudah delapan hari mereka mendapatkan pelampiasan kemarahan Keil dan mereka memaklumi hal itu karena mereka tidak bisa menemukan kelompok yang telah menculik istri dari Bos Keil.
Keil nampak semakin gusar, ia meraup wajahnya dengan kasar, entah kemana ia harus mencari Emely jika Golden Dawn saja bagaikan hilang di telan bumi.
"Aku tidak akan mengampunimu Jonas, jika terjadi dengan Eme dan bayiku!" Membayangkan jika Jonas bisa saja menyiksa Emely membuat Keil selalu gelisah, ia bahkan tidak dapat tidur dengan benar karena sekelebat bayangan Emely selalu memenuhi kepalanya jika sejenak memejamkan mata.
Melihat Keil kembali meraung, Nico mengibaskan tangan mengusir keempat anak buah. Ia kemudian menepukan bahu Keil berulang kali. "Emely dan bayimu pasti baik-baik saja."
"Benar, sejauh ini Emely selalu kuat menghadapi Jonas," sambung Daniel.
Keil menghela napas, ia ragu akan hal itu mengingat kondisi Emely yang tengah mengandung. Tetapi sebisa mungkin ia menepis pikiran negatif dan berharap jika Emely baik-baik saja. Keil yang larut dalam pikirannya tiba-tiba saja perutnya kembali merasakan mual, seolah ada yang mengaduk-aduk isi perutnya.
"Shiittt!" Keil segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Nico serta Daniel menatap punggung Keil yang menghilang di balik dinding kamar mandi. "Apa kau sudah mencari tau apa penyakit yang di alami Keil, Nic?" tanya Daniel. Ya, keduanya merasa heran karena Keil selalu saja seperti itu belakangan ini dan Keil menolak di periksa karena ia hanya ingin fokus mencari keberadaan Emely.
"Entahlah, aku sulit mempercayainya. Keil sepertinya mengalami Syndrom Cauvade," sahut Nico. Satu hari yang lalu ia mencari tau gejala yang diderita Keil di situs pencarian, awalnya Nico tidak yakin namun setelah memperhatikan gejala-gejala Keil serupa dengan penjelasan di dalam situs pencarian, Nico meyakini jika Keil tengah mengalami sindrom tersebut.
Kening Daniel berkerut dalam. "Penyakit jenis apa itu Nic? Apa itu berbahaya?"
"Kehamilan simpatik, karena Emely sedang hamil dan Keil yang mengalami gejala masa kehamilan."
Hah. Tentu saja penjelasan Nico membuat Daniel ternganga. Apa Nico tidak salah mencari informasi tentang penyakit Keil?
Keil keluar dari kamar mandi dalam keadaan wajah yang pucat, tetapi ia sedikit lega karena sudah mengeluarkan seluruh isi perutnya, dan kini tubuhnya terasa begitu lemas. Kemudian ia membenamkan tubuhnya di sofa, menyandarkan punggungnya disana.
Daniel menyusul Keil mendudukkan tubuhnya, ia begitu prihatin dengan kondisi Keil saat ini. "Apa kau yakin baik-baik saja Keil?"
"Sebaiknya kau periksakan dirimu ke dokter Keil, mungkin mereka memiliki obat untuk menyembuhkanmu," timpal Nico dan kemudian memilih duduk di sofa single.
"Tidak ada obatnya jika belum melewati masa kehamilan 3 bulan." Keil menyahut dengan mata yang terpejam, tangan kanannya mengusap perut yang sedikit lega itu.
"Kau sudah mengetahui penyakitmu ini, Keil?" tanya Daniel memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Keil. "Aku tidak habis pikir bagaimana bisa wanita yang hamil dan pria yang mengalami gejalanya." Daniel dibuat heran dan kepalanya menggelang tidak percaya.
Keil menarik napas lalu membuangnya perlahan. "Setidaknya Eme bisa berbagi penderitaannya padaku. Aku justru sangat cemas jika dia juga mengalami hal yang sama sepertiku "
"Huh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana merasakannya. Melihatmu seperti ini saja sudah membuat tubuhku lemas setengah mati," keluh Daniel. Entah bagaimana jika Ashely mengandung bayinya dan ia juga merasakan hal yang sama.
"Jadi kau mengurungkan niatmu untuk menghamili Ashley?" Perkataan Nico sungguh sangat tepat menghujam jantung Daniel.
"Ck, bodoh. Setiap malam aku membuatnya, hanya saja belum ada tanda-tanda Ashely hamil." Ya, bahkan sebenarnya Daniel sungguh tidak sabar menantikan benihnya tumbuh di dalam perut Ashely. "Lalu kapan kau akan membuatnya, Nic?" Sungguh bodoh pertanyaan Daniel, kenapa ia bisa melayangkan pertanyaan seperti itu.
"Kau ingin mati hah?! Kau mengejekku, bajingan!" Napas Nico memburu kesal. Bukankah Daniel mengetahui hubungan dirinya dengan Nona Jennie yang tidak berjalan mulus seperti mereka.
Daniel terkekeh. Sungguh ia sengaja mengejek Nico, terlebih kini Nico tengah gusar dan kalang kabut ketika ada pria tampan yang selalu menempel pada Nona Jennie.
***
Nico berjalan tergesa-gesa begitu mendapatkan laporan dari anak buahnya, jika siang ini Nona Jennie sedang bersama dengan Adam. Lagi-lagi mereka bertemu berdua, dan entah kenapa kini Jennifer jarang sekali bersama dengan dirinya. Memang hanya hari ini saja ia tidak mengantar kekasihnya ke perusahaan. Sungguh ia ingin sekali mencongkel mata Adam yang selalu melihat dirinya dengan tatapan datar.
Merogoh ponsel di saku celana, Nico mengukir senyuman ketika membaca sebuah pesan jika kekasihnya itu tengah makan siang, namun perlahan senyumnya memudar membaca kelanjutan isi pesan bahwa kekasihnya itu sedang makan siang bersama dengan Adam.
"Shittt! Pria itu benar-benar ingin mencari mati!" Nico memukul stir kemudi. Tetapi ia yg tidak bisa meluapkan amarahnya, setidaknya Jennifer selalu mengabari dirinya dimana pun wanita itu berada, meskipun ia harus merasakan cemburu yang luar biasa. Nico kemudian meletakkan ponsel dengan asal di kursi samping kemudi.
"Aku harus cepat mencari tau informasi tentang orang yang sedang dicarinya. Dengan begitu dia akan sibuk dan pergi dengan sendirinya." Jika saja pria itu tidak memiliki hubungan dekat dengan bos, Nico akan terang-terangan mengusirnya.
__ADS_1
Nico menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu turun dari mobil dan berjalan menuju restauran dimana Nona Jennie berada di dalam sana. Langkahnya begitu tergesa-gesa menuntun tubuhnya, ia tidak ingin Adam lebih lama menikmati kecantikan kekasihnya, meskipun ia sendiri tidak bisa membaca gerak-gerik atau membaca sorot matanya ketika menatap Jennifer. Pria itu selalu memasang wajah datar, tetapi ia yakin jika Adam memiliki ketertarikan terhadap kekasih kecilnya.
Jennifer serta Adam menoleh ke arah pintu dan sedikit tersentak karena Nico membuka pintu dengan kasar. Namun Nico tetap acuh, pandangannya hanya berpusat pada kekasihnya saja.
"Nona sudah selesai makan siang?" Nico bertanya setelah mendekati meja makan.
"Sudah. Baru saja aku menyelesaikan makan siangku. Kenapa kau lama sekali?" tanyanya pada Nico. Karena ia sudah mengirim pesan sejak satu jam yang lalu.
Nico tersenyum. "Aku sedikit memiliki urusan." Tidak mungkin Nico mengatakan jika lama diperjalanan, karena jarak dari Markas memang cukup jauh. Jennifer hanya ber-oh saja, ia tidak ingin bertanya lebih dan memperlihatkan hubungannya yang terlalu dekat, karena bisa saja Adam mempertanyakan kedekatannya dengan Nico kepada sang kakak. Nico mengangguk pelan. Jika saja tidak ada Adam, mungkin saat ini ia sudah menyambar bibir kekasih kecilnya itu.
Pandangan Nico tidak berpindah, bahkan ia menganggap seolah Adam tidak ada.
Entah apa yang Adam pikirkan, pria itu nampak tidak peduli sikap Nico padanya. "Tadi pagi Aleena menghubungiku, dia menitipkan salam untukmu."
"Benarkah?" Jennifer nampak antuasias. "Aku tidak memiliki nomor ponselnya. Bisakah Kak Adam mengirimkan nomor ponsel Aleena padaku?"
"Tentu saja. Dan dia pasti merindukanmu." Adam mengulas senyumnya yang tentu saja dibalas senyuman oleh Jennifer.
"Aku juga merindukannya Kak."
"Kalau begitu kau bisa ikut denganku mengunjunginya ke Indonesia. Minggu ini aku akan pergi kesana," seru Adam.
What the fuckk!
Bola mata Nico melebar sempurna kala mendengar perkataan Adam yang ingin mengajak kekasihnya ke negara asing itu. Tidak bisa dibiarkan!
"Sayangnya aku sangat sibuk Kak, jadi aku menolak ajakan Kak Adam."
Adam mendesahkan napasnya ke udara, terselip kekecewaan disana. "Baiklah, tapi lain kali kau harus ikut denganku mengunjunginya."
"Baiklah...." Jennifer mengiyakan saja, meskipun saat ini ia bisa merasakan atmosfer Nico yang nampak dingin dan terkesan tidak suka. Ekor mata Jennifer melirik ke arah Nico dan benar saja kekasihnya itu tengah melayangkan tatapan membunuh kepada Adam.
Nico menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengadu ketajaman mata dengan Adam. Melihat Nico yang seperti memusuhi dirinya, tentu Adam membalas tatapan mata tajam Nico.
"Sepertinya Tuan Muda sepertimu memiliki waktu luang," cibir Nico.
Adam tersenyum tipis. "Aku sudah lama tidak bertemu dengan Jennie, jadi aku ingin menyempatkan waktu untuknya."
Tangan Nico terkepal kuat di sisi pahanya. Menyempatkan waktu? Yang benar saja, memang pria itu pikir siapa dirinya bisa berkata seolah-olah Nona Jennie adalah miliknya.
"Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau sepanjang waktu hanya mengikuti Jennie saja?" sambung Adam kemudian.
Nico mendecakan lidah. "Apa kau lupa jika aku ditugaskan untuk berada di sisinya sepanjang waktu?!"
Rasakan. Kau harus menyadari posisimu, sialan!
Adam memasukan salah satu tangan ke dalam saku celana. "Ya, tapi setidaknya jika Jennie bersamaku, aku bisa memastikan keselamatannya."
"Kau...." Amarah Nico tertahan. Untuk pertama kalinya ada yang membuatnya tidak bisa berkutik.
Sialan!
"Aku tidak mungkin mempercayakan orang lain untuk menjaganya, karena itulah arti keberadaanku selama ini dan bos mempercayakan adiknya padaku." Dengan sengaja Nico menekankan kata 'orang lain' sudah pasti itu pukulan telak untuk Adam.
Adam sejenak terdiam. Ia mencoba meraba maksud perkataan Nico. Sepertinya bodyguard Jennifer akan sedikit sulit ia hadapi.
Ck, Vier memiliki anak buah yang menyebalkan sepertinya.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." Jennifer berjalan mendekati Nico serta Adam. Wanita itu tidak mencurigai aura dingin yang menguar pada tubuh kedua pria di hadapannya.
"Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu kembali ke perusahaan," jawab Adam.
__ADS_1
Dengan cepat Jennifer menggeleng. "Kak Adam tidak perlu repot mengantarku, karena sudah ada Nico yang mengantarku," tolaknya secara halus.
"Baiklah." Adam mengangguk, ia tidak akan memaksa Jennifer. "Kalau begitu aku pergi dulu." Jennifer mengangguki perkataan Adam dan memperhatikan punggung Adam yang sudah berlalu.
Tidak ada percakapan di sepanjang perjalanan. Mobil yang melaju cepat membelah pusat kota, tiba-tiba saja menepi di bahu jalan.
"Nico, kenapa berhenti?" Jennifer menatap Nico dengan heran. Perjalanan menuju perusahaan masih cukup jauh.
Nico menghela napas untuk meredam kecemburuannya. Ketika sudah lebih tenang, ia menarik Jennifer ke dalam pelukannya.
"Aku tidak menyukai kedekatanmu dengan pria itu," ungkapnya jujur.
Jennifer kemudian mendorong tubuh Nico, ia mendongak. "Pria itu?" ulangnya. "Maksudmu Kak Adam?" Jennifer mencoba memastikan dan Nico terlihat mengangguk.
"Astaga Nico. Apa kau cemburu dengan Kak Adam?" Jennifer terkekeh, sungguh ia tidak habis pikir kenapa Nico bisa cemburu dengan Adam.
"Dia tampan dan bisa saja Nona-ku ini tertarik dengannya." Nico mencubit pipi Jennifer tanpa bermaksud menyakiti.
Jennifer mengernyit dan kemudian tersenyum. "Aku tidak tertarik dengannya, karena aku sudah tertarik lebih dulu dengan bodyguard ku ini." Kedua telapak tangan Jennifer menangkup wajah Nico, nampak ukiran senyum di sudut bibir kekasihnya itu mendengar perkataannya.
"Kau harus bertanggung jawab Nona." Nico menyunggingkan senyum smirk.
"Hah, bertanggung jawab untuk apa?" Jennifer menatap bingung.
"Karena telah membuatku cemburu," sahut Nico masih dengan senyum penuh arti, lantas membuat Jennifer menatap curiga dan memalingkan wajahnya.
Namun belum sempat menjauhkan tubuhnya, tangan Nico lebih dulu merengkuh leher Jennifer. Pria itu menyambar bibir Jennifer yang sejak tadi menggoda dirinya.
"Ni-Nic...." Jennifer berusaha mendorong dada Nico namun ternyata dirinya kalah tenaga dan justru Nico semakin melummat bibirnya. Ciuman Nico menuntut balasan, sehingga Jennifer membalas ciuman kekasihnya itu karena jika tidak, Nico akan semakin lama menyesap bibirnya.
.
.
To be continue
.
.
Babang Nico
Babang Keil
Babang Daniel
Babang Adam
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1