
Sudah terhitung dua hari sejak Ashley menjadi wanita milik Daniel dan melayani kebutuhan seksuall pria itu. Tenaga Daniel tidak pernah habis ataupun terlihat kelelahan. Terus dan terus menyerang Ashley hingga wanita itu hanya dapat pasrah di bawah kungkungan seorang Daniel.
Peluh keringat membanjiri keduanya kala pelepasan kenikmatan dirasakan oleh mereka. Sensasi yang diberikan Daniel tidak luput akan suara erangan Ashley, sehingga pria itu semakin bersemangat dan bergairah untuk melakukannya berulang kali, tidak peduli akan Ashley y yang sudah nampak kelelahan. Terik matahari yang menyinari seisi kota membias ke dalam ruangan dimana Daniel dan Ashley sedang bercinta, sehingga suhu di ruangan itu semakin panas membara meskipun sudah menggunakan pendingin dengan suhu maximal.
Ashley mengatur napasnya yang terengah-engah usai percintaan panas mereka. Ia pikir akan aman karena Daniel tidak kembali pada malam hari tetapi begitu terbangun pada pukul 4 pagi, Daniel sudah berada di sampingnya memeluk dirinya. Lantas Daniel yang sejak tadi berupaya menekan gairahnya sejak tubuh Ashley menjadi sorotan matanya ketika baru memasuki ruangan mereka, pertahanan yang semula kokoh itu runtuh akan pergerakan paha Ashley yang justru tidak sengaja mengenai senjatanya, terlebih lagi tubuh Ashley yang dibalut lingerie seksi seperti melambai kepada pria itu untuk minta dipuaskan, sebab itulah Daniel langsung menyerang wanita itu habis-habisan. Sungguh itu hanya alibi Daniel saja yang tidak bisa menahan hasratnya.
"Aku tidak akan pulang malam ini. Kau boleh berjalan-jalan jika kau bosan." Daniel beranjak dari tempat tidur meraih handuk yang tergeletak di atas kursi kayu.
Ashley terkesiap mendengar ucapan Daniel, ia beranjak duduk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selembar selimut. "Apa boleh.....?" Tentu saja Ashley harus memastikan lebih dulu, bisa saja Daniel hanya bercanda.
"Ehm, kau bukan tawanan. Jadi kau bisa bebas pergi kemana pun kau suka. Dengan catatan, tidak boleh membiarkan pria lain mendekatimu. Kau wanita milik Daniel. Mengerti?!" Ashley hanya mengangguki ucapan Daniel, tentu saja ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika ia melanggar perintah Daniel, bisa saja dirinya harus membayar ganti rugi yang sudah Daniel keluarkan begitu banyak untuk dirinya.
Daniel tersenyum puas melihat Ashley yang begitu patuh padanya. Ia bukan pria yang kejam kepada wanita seperti Ashley. Jika terus memberikan tekanan, bisa saja wanita itu lebih memilih mengakhiri hidupnya saat dirinya tidak berada ditempat. Tidak, ia masih membutuhkan Ashley, lebih tepatnya tubuh wanita itu. Langkah Daniel menuntun tubuhnya memasuki kamar mandi, sementara Ashley berkutat dengan pikirannya sendiri. Daniel menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar mandi sehingga rasa kantuk kembali menyerang Ashley.
Decitan suara pintu kamar mandi menyadarkan kembali Ashley, ia menoleh ke arah Daniel dan lagi-lagi pemandangan tubuh Daniel yang seperti vitamin baginya. Ia memang memiliki kekasih sebelumnya tetapi tubuh mantan kekasihnya itu tidak sekekar Daniel. Tanpa sadar Ashley memandangi tubuh Daniel begitu lama, hingga akhirnya pemilik tubuh itu menyunggingkan senyum. "Apa kau ingin mengulanginya lagi?" Dengan nada menggoda.
"Ti-tidak! Aku ingin mandi." Ashley buru-buru beranjak dari tempat tidur sebelum Daniel menyerang dirinya kembali.
Daniel terkekeh, wanita itu sangat menggemaskan. Meskipun ia akui permainannya di atas ranjang sangatlah buruk karena hanya dirinya yang mendominasi, berbeda dengan wanita-wanita yang ia kencani, mereka begitu aktif dan liar. Namun entah kenapa tubuh Ashley bagaikan candu untuknya, sehingga ia ingin terus menjelajahi tubuh wanitanya itu.
Daniel mengambil pakaian miliknya selama Ashley berada di dalam kamar mandi. Derap langkah seseorang sayup-sayup menyelinap di pendengarannya. Daniel menjadi waspada, buru-buru ia mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada, ia melangkah menuju pintu kamar. Seingat dirinya tidak ada yang mengetahui password penthouse selain kedua teman bajingannya itu. Dengan tergesa-gesa Daniel keluar kamar, menuruni tangga untuk melihat siapa kiranya yang diam-diam memasuki penthouse tanpa seizinnya.
Dan benar saja dugaan dirinya, yang diam-diam bertamu tidak lain adalah Keil. "Keil? Ada apa kau datang kemari?" Karena tidak biasanya Keil menemui dirinya di penthouse.
Keil tidak menyahut, ia melenggang mendekati Daniel dan menyambar bahu temannya tersebut. "Ikut denganku." Menarik bahu Daniel yang terekspos itu.
"Tunggu dulu, sebenarnya ada apa?" Daniel mencegah Keil terlebih dahulu, sebelum temannya itu berhasil membawa dirinya yang tanpa mengenakan atasan. "Kau tidak lihat, aku belum memakai bajuku?"
Keil memperhatikan Daniel, ia baru menyadari jika temannya itu memang tidak mengenakan atasan. "Kalau begitu cepat pakai bajumu!" seru Keil tidak sabar.
Daniel berdecak. "Katakan terlebih dulu ada apa?" Namun bukan Daniel namanya yang langsung begitu saja mengiyakan seruan Keil.
"Kalau kau banyak bertanya, lebih baik aku menyeretmu!!" Dengan kesal, Keil menyambar tangan Daniel.
__ADS_1
"Iya baiklah, aku tidak bertanya lagi." Daniel menghempaskan tangan Keil. "Aku akan mengambil bajuku. Apa kau puas, ehm?!"
"Ehm....." Keil berdehem sebagai jawaban. Dan Daniel yang kesal menyeret langkahnya kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaiannya.
Bertepatan dengan itu, Ashley baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan pakaian dalam saja. Ashley memasang wajah tebal saat Daniel mendapati dirinya hanya berpakaian dalam. Karena sebelumnya ia menyadari jika Daniel keluar dari kamar, ia yang lupa mengambil pakaian ganti keluar begitu saja tanpa rasa malu, karena berpikir tidak ada pria itu.
Daniel menelan salivanya, rambut basah dan sisa air yang masih membekas di kening wanita itu membuat gairahnya kembali naik. "Aargh...... Keil sialan!" Daniel mengusap wajahnya dengan kasar, ia harus menahannya karena Keil pasti akan mengamuk jika menunggu terlalu lama. Daniel membuang pandangannya ke arah lain, ia mengambil pakaian di walk in closet dan buru-buru mengenakannya.
Ashley menatap penuh kebingungan. Ada apa dengannya? batinnya.
Begitu sudah berpakaian lengkap, Daniel melenggang pergi keluar kamar begitu saja tanpa berkata sepatah katapun kepada Ashley, bahkan melirik wanita itu saja tidak.
***
Mobil yang dikendarai oleh Daniel membawa mereka menuju suatu tempat. Daniel tidak mengerti kemana arah tujuan Keil, ia hanya menjadi supir saja. Membiarkan Keil yang nampak sedikit kacau itu menenangkan pikiran.
"Apa kau menjadi sedikit gila karena kehilangan Emely?" Sedikit lebihnya Daniel paham, sudah pasti yang membuat Keil nampak begitu tidak waras berkaitan dengan Emely.
"Sama saja. Mungkin dia lebih memilih suaminya." Keterlaluan, Daniel sengaja menyiram minyak ke dalam api, sehingga membuat hati Keil kian memanas.
"Apa kau sudah bosan hidup, heh?!" Keil melayangkan tatapan membunuh. Hal yang mustahil jika Emely lebih memilih suaminya ketimbang dirinya. Tetapi jika yang dikatakan Daniel benar, maka ia sendiri yang akan membawa paksa Eme-nya.
Daniel terkekeh, ia tidak peduli akan tatapan membunuh temannya itu. Benar-benar sudah tidak waras, pikirnya. Beberapa tahun lalu Keil begitu terpuruk karena Emely meninggalkan dirinya, sehingga mengabiskan waktu dengan minum-minum dan berkencan dengan beberapa wanita. Dan hari ini ia dapat melihat Keil yang kembali frustasi hanya karena tidak mendapatkan kabar dari wanita itu.
Untuk mempersingkat waktu, Daniel menyalip mobil di depannya, mobil yang tidak asing. Tetapi karena terburu-buru mobil mereka nyaris saja menabrak mobil tersebut.
Tiinnnnnn
Mobil yang entah siapa pengemudinya menekan klakson sebagai tanda protes karena mobil mereka nyaris berbenturan. Karena tidak terima, ia menyalip mobil Keil serta Daniel dan begitu berhasil menyalip, mobil tersebut berhenti secara mendadak tepat di depan mobil yang dikendarai oleh Daniel.
"Shitttt!!!" Baik Keil dan Daniel saling mengumpat. Mereka berdua turun dari mobil bersamaan.
__ADS_1
"Hei, kau! Apa kau benar-benar idiot!" maki Daniel ketika seseorang turun dari mobil tersebut.
"Kau....?" Daniel dan Keil terperangah. Ternyata pria yang menyalip mobil mereka adalah Nico. "Sialan. Aku pikir siapa yang berani-beraninya menyalip mobil kita!" seru Daniel. Pantas saja mobil merah tersebut terasa sangat familiar, karena terburu-buru Keil serta Daniel tidak memperhatikan plat nomor mobil itu.
"Bedebah sialan! Apa kalian benar-benar ingin membuatku mati, heh? Bagaimana jika mobil kalian menabrak mobilku tadi?!" Berbeda dengan Nico yang menyadari jika mobil itu adalah milik Keil sehingga ia dengan sengaja memberhentikan mobil mereka dan menghardik kedua sahabatnya itu.
"Sorry, kami sedang terburu-buru." Daniel terkekeh. Dalam hal ini memang ia bersalah karena tidak berhati-hati. Tapi semua itu salah Keil karena menyuruh dirinya mengebut tanpa memperhatikan sekitar.
"Ck, kalian ini." Nico mendecakan lidah, memaki pun percuma karena keduanya adalah sahabat dirinya.
"Baguslah, kau juga disini. Sebaiknya kau ikut denganku juga!" Keil menyambar kemeja yang dikenakan Nico.
"Berengsek! Kenapa menarikku?!" Nico tidak terima. Ia hendak protes dengan cara menghempaskan tangan Keil tetapi Keil lebih dulu membawa dirinya masuk ke dalam mobil mereka. "Aku tidak memiliki banyak waktu seperti kalian. Aku harus menjemput Nona Jennie," serunya menjelaskan. Karena ia baru saja dari perusahaan dan ingin menjemput Nona Jennie di lokasi pemotretan, tetapi Keil justru membawa dirinya. Keil seakan menulikan pendengarannya, ia tidak pedulikan Nico. Ia mendudukkan tubuhnya persis di samping Nico agar sahabatnya itu tidak kabur darinya.
"Sudahlah Nic, ikut kita saja. Jika tidak, Keil akan semakin tidak waras," ujar Daniel menyindir hingga Keil yang merasa tersindir memasang tatapan horor. Daniel kemudian menancapkan gas setelah tubuhnya berhasil masuk ke dalam mobil.
Kening Nico berkerut, ia paham dengan ucapan Daniel. Apalagi jika bukan menyangkut Emely, tetapi kenapa ia harus terseret juga? Bukan masalah mobil yang ia tinggalkan begitu saja di pinggir jalan, karena anak buahnya sudah pasti membawa mobil miliknya. Tetapi Nona Jennie, ia gelisah karena Billy juga berada disana.
What the fuckk! Jika saja bukan temanku, sudah ku cincang habis tubuhnya!
.
.
To be continue
.
.
Maaf baru sempet up ya man-teman 🤗✌️✌️
Like, vote, follow dan komentar 💕
__ADS_1
Always be happy 🌷