
Nico menyesap bibir Nona Jennie untuk pertama kalinya. Rasanya begitu manis, sehingga ia tidak memberikan celah untuk Nona-nya menolak ciuman dirinya. Jennifer mencoba mendorong tubuh bodyguardnya itu tetapi pertahanan Nico sungguh kuat, bahkan Nico merengkuh pinggang Nona kecilnya itu untuk memperdalam ciuman mereka, sehingga membuat Jennifer kesulitan bernapas. Karena ciuman yang menuntut balasan itu, Jennifer membuka mulutnya dan perlahan membalas ciuman Nico walaupun masih terbilang payah. Sekeras apapun ia mencoba menolak dan ingin mendorong Nico tetapi tubuhnya berkata lain. Terutama bibirnya yang merasakan sesuatu, seolah terdapat desiran aneh hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah karena wanita itu mulai menggigil kedinginan lantaran rintikan hujan masih mengguyur tubuh mereka, atau karena ciuman Nico yang terasa panas hingga membuat aliran darahnya turut merasakan sesuatu yang panas.
Setelah bibir mereka bertautan cukup lama, Nico menyudahi ciuman mereka terlebih dulu ketika menyadari jika Jennifer membutuhkan pasokan oksigen lebih akibat ulahnya.
"Nico....." Jennifer berusaha menetralisir detak jantungnya yang berdegup cepat. Memberanikan mengangkat wajah untuk menatap Nico dengan posisi mereka masih saling menempel satu sama lain, keduanya seperti tidak ingin menjauhkan diri.
"Nona... aku...." Sungguh kenapa setelah berciuman Nico menjadi canggung dan merasa bersalah. "Maafkan aku Nona, aku tidak bermaksud....."
"Kau tau apa kesalahanmu?" Meskipun nada suaranya terdengar lembut tetapi tidak dengan sorot matanya yang mampu mengintimidasi Nico.
Nico mengangguk lemah. "Kau mencium Nona tanpa izin, maafkan aku....." Kenapa ia sebodoh ini, bagaimana jika nantinya Nona Jennie menghindari dirinya.
Poor Nico, kenapa kau tidak bisa menahan dirimu sedikit lagi.
Percuma saja Nico meruntuki kebodohannya, nyatanya ia telah melakukan kesalahan, yaitu mencium bibir Nona Jennifer meskipun pada akhirnya ciuman itu disambut balasan.
Sorot mata Jennifer masih tidak beralih menatap wajah Nico yang menjadi canggung. Jika saja itu adalah orang lain, sudah pasti ia akan menampar pria itu. Hanya saja pria yang mencuri ciumannya adalah Nico, bodyguardnya sendiri. Apa karena Nico tampan sehingga ia tidak bisa menolak pria itu dengan tegas.
"Nona...." Karena terlalu larut memikirkan yang baru saja terjadi, Jennifer tidak mengeluarkan suara kembali ketika Nico melontarkan permintaan maaf, sehingga Nico dengan ragu menyadarkan Nona-nya kembali. "Nona boleh memukulku, Nona juga boleh menamparku...." sambungnya kembali hingga membuat Jennifer tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ya, wanita itu terus memusatkan perhatiannya pada pria di hadapannya itu. "Tapi satu hal yang harus Nona ketahui, aku tidak menyukai jika Nona menangisi pria lain dan aku juga tidak menyesal karena telah mencium Nona.
"Nico.... kau...." Entah Jennifer harus memasang wajah seperti ini. Saat ini Nico nampak begitu berbeda, terdapat keseriusan di kedua manik matanya saat mengatakan hal itu, seperti terselip sebuah perasaan untuknya.
"Ya, Nona bisa menganggapnya seperti itu," seru Nico. Ia seperti dapat mengetahui apa yang saat ini Nona Jennie pikirkan tentangnya. "Jika Nona merasa kesal denganku karena sudah lancang terhadap Nona, Nona bisa melupakan ciuman yang baru saja terjadi." Nico menunduk dengan hormat, sebelum kemudian ia berlalu pergi menuju mobilnya yang terparkir.
Hah. Jennifer dibuat tercengang, apa maksudnya melupakan ciuman yang baru saja terjadi. Apa dia pikir bisa sembarangan mencium seorang wanita, lalu dengan mudahnya menyuruh wanita itu untuk melupakannya? Ck, pria raksasa ini benar-benar sudah tidak waras. Jennifer membatin bersamaan dengan pandangannya tertuju pada punggung tegap Nico.
"Nona...." Jennifer terkesiap ketika Nico memutar tubuhnya. "Apa Nona ingin berada disana sampai pagi? Hujan sudah mulai reda, Nona akan sakit jika terus mengenakan pakaian yang basah." Meskipun dalam keadaan canggung, Nico tetap perhatian kepada Nona Jennie-nya.
"Iya, tunggu aku." Jennifer mengikuti langkah Nico menuju mobil. Ada yang aneh dengan Nico, kenapa justru pria itu yang terkesan marah padanya. Seharusnya ia yang marah karena Nico berani-beraninya mencium dirinya. "Tunggu dulu.... aaww...." Tiba-tiba saja Jennifer mengaduh kesakitan, wanita itu membungkuk karena merasakan kram pada kakinya, sontak saja membuat langkah Nico terhentikan.
"Ada apa Nona?" Buru-buru Nico menghampiri Nona-nya itu.
"Tidak apa-apa, kakiku hanya kram, mungkin terlalu lama berdiri."
"Kalau begitu biarkan aku menggendong Nona." Kedua tangan Nico sudah bersiap untuk menggendong Jennifer, terlihat Nico yang sangat panik.
"Tidak perlu." Jennifer langsung menolak tegas. "Bajuku basah." Dan pandangannya kembali tertunduk, memijit pergelangan kakinya yang terasa kaku itu.
__ADS_1
"Tapi bajuku juga basah Nona, jadi tidak masalah aku menggendong Nona."
"Hah iya kau benar. Kalau begitu kau bantu memapahku saja."
Nico mengangguk. "Baiklah Nona." Dan kemudian Nico merangkul pundak Jennifer, ia membantu Nona kecil itu berjalan hingga berhasil masuk ke dalam mobil dan setelahnya Nico juga melajukan mobil dan segera melajukan mobil menuju hotel terdekat.
Sementara Keil dan Daniel masih berada di sana, mereka sejak tadi menyaksikan adegan Nona Jennie dengan Nico. Sangat mendebarkan dan tentunya menyenangkan. Keduanya bagaikan tengah menonton di dalam gedung bioskop.
"Sayang sekali, ku pikir Nona akan menampar Nico." Daniel meneguk habis botol minuman bersoda.
"Mungkin kalau kau yang menciumnya, Nona Jennie baru akan menamparmu," sahut Keil santai. Ia juga sama seperti Daniel, meneguk minuman bersoda miliknya hingga tidak tersisa.
"Hahaha." Daniel menyambut ucapan Keil dengan tawanya. Mana mungkin Nona Jennie membiarkan dirinya menciumnya. "Dan aku tidak hanya akan mendapatkan tamparan dari Nona Jennie tetapi juga akan dihabisi oleh Nico," serunya masih dengan tawanya yang renyah itu.
Tawa Daniel menular kepada Keil, hingga kini tawa mereka memenuhi seisi kabin mobil. Sebelum kemudian Daniel yang berada di kursi kemudi meninggalkan tempat tersebut.
***
Pukul 12 malam Daniel baru saja kembali ke penthousenya. Semenjak ada Ashley, Daniel lebih sering kembali ke penthouse alih-alih bermalam di Markas. Karena Keil pun juga sering menghabiskan waktu di penthouse bersama dengan Emely. Akhir-akhir ini Nico juga tidak pulang ke Markas, entah pria itu menginap dimana, yang pasti Nico kembali ke penthouse atau mungkin berjaga di depan kediaman utama keluarga bos mereka, mengingat isi otak temannya itu di penuhi akan Nona Jennie.
Daniel mengurungkan langkahnya menaiki anak tangga ketika sebuah suara di dapur menyelinap di pendengarannya. Ia kemudian berjalan waspada menuju dapur, tidak mungkin ada penyusup karena di depan pun anak buah yang selalu menjaga penthouse. Terlebih lagi kini Ashley juga selalu di penthouse dan ia menambah penjagaan di depan kediamannya. Mungkin yang berada di dapur tengah malam seperti ini adalah Ashley, pikirnya.
"Astaga." Ashley terkejut kala lampu tiba-tiba menyala. Tidak ada seseorang selain dirinya sebelum wanita itu menoleh ke arah Daniel yang berdiri dengan menatapnya. "Ka-kau sudah pulang?" Wanita itu masih saja canggung jika bertemu dengan Daniel, meskipun mereka sudah berulang kali bercinta.
"Apa yang kau lakukan tengah malam di dapur?" Daniel tidak menjawab pertanyaan Ashley, justru ia berbalik bertanya.
Demi Tuhan, Ashley belum terbiasa akan tatapan tajam milik pria yang sudah membelinya itu. Entah kenapa ia tidak pernah berani menatap langsung ke dalam manik mata pria itu. "Aku haus, jadi aku hanya mengambil minum. Maaf kalau aku mengganggumu," jawabnya sembari menunjukkan segelas air putih.
Heh. Sejak kapan wanita ini mengganggu dirinya? Daniel hanya mengangguk, ia kemudian berjalan mendekati Ashley. Tatapannya tertuju pada lekukan tubuh Ashley yang menggoda, karena tubuh putih wanitanya itu hanya tertutupi oleh kain tipis, tidak berbeda jauh dengan lingerie.
Ya, Daniel memang menyuruh wanita itu untuk mengenakan pakaian seksi tersebut saat di hadapan dirinya. Ashley meletakkan kembali segelas air putih yang baru saja meluncur di tenggorokannya. Wanita itu terkesiap ketika mendapati Daniel menatapnya dengan intens.
"Kau sangat seksi sayang. Apa kau sengaja ingin menggodaku, hm?" Daniel tersenyum dan tangannya terulur menyentuh sulur anak rambut wanita itu yang terurai.
Ashley tertunduk malu, rona merah di wajahnya terlukis jelas. Sebenarnya ia tidak bermaksud menggoda Daniel, karena saat ini hanya ada pakaian kurang bahan itu yang tersisa. Tidak mungkin ia mengenakan dress atau celana panjang saat tidur. Melihat ekspresi Ashley yang nampak masih malu-malu, Daniel kembali tersenyum melihat ekspresi menggemaskan wanitanya itu.
__ADS_1
Daniel mendekatkan wajahnya di telinga Ashley. "Layani aku seperti biasa," bisiknya dengan penuh sensual. Miliknya sudah lama tidak terjamah oleh wanita lain setelah bercinta dengan Ashley, melakukan sekss dengan wanita itu benar-benar memberikan sensasi yang berbeda karena Ashley wanita yang polos.
"Disini....?" cicit Ashley mengedarkan pandangan di sekitar mereka. Saat ini mereka masih berada di dalam dapur.
"Iya, aku ingin melakukannya disini denganmu." Suara Daniel sudah dipenuhi kabur gairah. Hanya berdekatan saja seperti ini sudah membuat miliknya di bawah sana menjadi tegak.
Ashley mengangguki ucapan Daniel, menolak pun percuma karena saat ini ia adalah wanita milik Daniel. Kapan dan dimana pun pria itu menginginkan dirinya ia harus siap melayani pria itu. Daniel kemudian memulai aksinya dengan mencumbu bibir Ashley, menyesapnya cukup lama. Dan tangannya aktif meremmas salah satu buah dada Ashley hingga berhasil membuat wanita itu melenguh pelan. Bibir Daniel beralih menelusuri leher Ashley dan memberikan banyak tanda merah disana.
Terburu-buru karena sudah berhasrat, tangan Daniel meloloskan lingerie dari tubuh Ashley dengan satu tarikan saja hingga kini menampakkan buah dada wanita itu yang terkepose sempurna. Kemudian Daniel melepaskan seluruh pakaiannya, menampakkan tubuh polos dengan perut sixpack tanpa cacat.
Daniel menggiring Ashley menuju meja makan, mendudukkan wanita itu di atas sana. Ia kembali menyambar bibir Ashley tetapi kali ini tangannya menelusuri bagian sensitif di bawah sana, menarik satu-satunya penghalang berbentuk kain segitiga itu. Salah satu jemari Daniel menerobos masuk, semakin menambah lenguhan yang diloloskan oleh Ashley.
"Keluarkan saja...." bisik Daniel saat Ashley masih nampak malu-malu mengeluarkan desahaannya.
"Eum...." Dan benar saja ketika dua jemari Daniel memporak-porandakan isi di dalam sensitif Ashley, membuat wanita itu menggila dan tidak lagi menahan ledakan suaranya. "Aahh.... Da....niel...." Sentuhan Daniel selalu membuatnya melayang. Pria itu pandai membuat wanita di bawah kungkungannya mencapai pelepasan.
Daniel menyudahi permainan jemarinya, ia menghisap buah dada Ashley bergantian dan sukses membuat Ashley terpejam dengan kedua tangan Ashley meremmas rambut Daniel. Puas bermain di buah dada wanitanya itu, Daniel membalikkan tubuh Ashley ia kemudian memasukkan milikinya, melakukan penyatuan pada tubuh Ashley dari belakang.
Suara lenguhan dan desiran panas menjalari keduanya. Keringat demi keringat memenuhi kening mereka. Daniel menghentakkan pinggulnya maju mundur, ia benar-benar gila akan milik Ashley yang masih sempit itu. Sehingga sesuatu tumpah di dalam sana berasal dari miliknya. Entah sepertinya ia tidak menginginkan wanita lain lagi, hanya Ashley yang saat ini ia inginkan.
.
.
To be continue
.
.
Daniel kalau muncul langsung hooottt ya wkwk 😂😂
Ashley Hartel
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih
__ADS_1
Always be happy 🌷