
Sudah satu minggu sejak Keil berada di penthouse milik Daniel. Kini keduanya memutuskan kembali ke apartemen. Mereka selalu mengawasi pergerakan Golden Dawn dan tidak ada tanda-tanda Golden Dawn akan menyerang. Mungkin karena kini Jonas serta Jerome berada di Meksiko. Setidaknya Black Lion bisa bersantai tetapi tidak melonggarkan pengawasan.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu selama tinggal disini." Emely memeluk Ashley dan dibalas pelukan hangat oleh wanita Daniel itu. Sudah tidak ada rasa sungkan untuk keduanya. Mereka terlihat lebih akrab dari sebelumnya.
Interaksi kedua wanita itu tidak luput dari perhatian Daniel, sejak tadi ia mencuri pandang ke arah Ashley. Wanitanya yang pendiam itu bisa berbaur dan tidak bersikap malu-malu lagi. Beruntung Emely bisa membawa Ashley dan dengan ramahnya selalu mengajak berbicara sehingga Ashley mulai terbawa dan mulai percaya diri kembali untuk berteman dengan siapapun. Daniel memang sempat mencuri dengar percakapan Ashley dengan Emely, dari percakapan tersebut ia baru mengetahui jika sebelumnya wanitanya itu hanya memiliki sedikit teman, karena selama ini ia yang hidup bergelimang harta selalu dimanfaatkan oleh orang disekitarnya karena itu Ashely menutup diri dan ia yang butuh sosok teman justru bertemu dengan David yang bersikap manis serta selalu ada untuknya dan juga berusaha melindungi. Hingga Ashely mulai mempercayai pria itu tapi siapa yang menduga jika David juga merupakan serigala berbulu domba.
Ashley tersenyum setelah mengurai pelukan mereka. "Aku justru merasa senang, selama kau disini aku tidak merasa kesepian."
"Kau boleh berkunjung ke apartemenku," jawabnya mengusap bahu Ashley dengan lembut.
Ashely hanya tersenyum menanggapi, belum tentu Daniel mengizinkan dirinya keluar dari penthouse.
Daniel berdehem di samping Keil disertai kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana. "Belilah penthouse yang baru untuk kalian."
"Ehm, sudah aku lakukan tapi Eme menolak tinggal disana. Kau tau apa katanya, tempat itu terlalu sepi." Ya, Keil memang membeli sebuah penthouse baru di lokasi elit yang tentunya jauh dari pemukiman warga sekitar.
Bukan tanpa alasan, bahkan Daniel juga Nico membeli penthouse mereka jauh dari dari tetangga sekitar karena mereka hanya ingin menghindari sesuatu yang buruk, seperti musuh yang menyerang sewaktu-waktu dan mereka tidak ingin hunian yang lainnya ikut terkena dampaknya.
"Aku mengerti, terkadang Ashely juga mengeluh penthouse ku ini tidak ada makhluk lain selain dirinya juga anak buah kita." Daniel mengingat perkataan Ashley kala itu yang mengatakan penthouse semewah ini tidak memiliki tetangga yang lain. Daniel sempat kesal, wanita itu tidak tau saja jika mereka perlu mengeluarkan uang ratusan milyar hanya untuk membeli penthouse yang mewah, nyaman serta di modifikasi dengan alat-alat yang mereka ciptakan khusus di Markas.
Ashley menatap sendu kepergian Emely dan Keil. Padahal selama satu minggu ini ia memiliki teman bicara dan untuk kedepannya ia akan sendirian lagi, karena Daniel sudah pasti akan pergi pagi dan pulang pada larut malam.
"Kau bisa bertemu dengannya lagi nanti atau kau bisa mengunjungi apartemennya." Daniel menyadarkan tatapan wanita itu yang masih melihat keluar, padahal mobil Keil baru saja berlalu tetapi pandangan wanita itu masih tidak berpindah.
Ashley menoleh, terlihat binar pada matanya. "Benarkah? Aku boleh mengunjungi apartemen Emely?"
"Ehm..." Daniel berdehem, melenggang pergi begitu saja, memberikan jawaban yang tidak puas untuk Ashley. "Aku tidak sejahat itu untuk terus mengurungmu disini, hanya saja jika kau pergi harus ditemani oleh Lina," imbuhnya tanpa menoleh dan meneruskan langkahnya.
Senyum Ashley mengembang. "Terima kasih." Kemudian mengikuti langkah Daniel, mengekori di belakang seperti anak kucing yang mengikuti induknya. Namun keningnya terbentur akan punggung tegap Daniel yang kekar itu, sontak Ashely mengaduh dan mengusap keningnya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" Bibirnya mencebik bersamaan dengan telapak tangannya yang masih mengusap keningnya.
Daniel memutar tubuhnya. "Lalu kenapa kau mengikutiku?"
Ashley melirik ke kanan dan kiri. Ia baru menyadari jika mengikuti langkah Daniel. "Ehm itu...." Berusaha mencari jawaban yang tepat. "Aku ingin ke kamar," kilahnya.
"Kamarmu ada disana, Ashely sayang....." Daniel tersenyum sembari menunjukkan letak kamarnya yang berada di lantas atas. Jelas-jelas tangga yang menghubungkan kamar mereka berada di ujung sana.
Padahal bukan pertama kalinya Daniel memanggilnya sayang, tapi entah kenapa kali ini ada desiran aneh yang dirasakan Ashley. "Ehm, aku.... aku...." Gugup sudah, Ashely menjadi salah tingkah.
Wanita itu tidak menyadari jika sudut bibir Daniel melengkung tipis. "Apa kau ingin menggodaku, Babe? Katakan saja jika kau ingin bercinta denganku lagi?"
__ADS_1
Seketika mata Ashley melebar. Dasar otak mesum, apa hanya ada itu yang ada dipikirannya? batinnya. Tentu saja Ashley tidak akan berani mengatakan hal demikian. "Tidak. Seluruh tubuhku sakit karena ulahmu!" pekiknya bergidik ngeri akan bayangan Daniel yang membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
"Tapi kau juga menikmatinya Babe." Daniel semakin menjadi menggoda wanitanya.
Bisa dibayangkan merahnya wajah Ashley, Daniel benar-benar mesum dan bermulut manis. Tidak taukah perkataannya itu nyaris membuat wanita itu sesak napas.
"Dasar kau maniak!" Lantas Ashely melenggang pergi dengan wajahnya yang merah merona. Daniel tergelak menatap punggung Ashely yang terus saja menggerutu di sepanjang langkahnya menaiki tangga.
Setelah puas menggoda Ashley, Daniel terlihat melangkah menuju halaman. Di raihnya hewan lucu yang satu minggu lebih berada di Markas dan pagi-pagi sekali memerintahkan anak buah untuk mengantarkan kucing british itu ke penthouse.
"Brown, aku sengaja menculikmu untuk menghamili kucing betina yang lain, tapi sepertinya kau kurang perkasa, kenapa betinamu belum juga hamil? Kau kalah cepat dengan baba, lihatlah baba akan segera memiliki anak dengan Lala." Daniel berbicara kepada kucing yang spontan ia berikan nama Brown.
"Meoong......" Brown merespon, matanya memelototi pria yang tengah menggendongnya itu. Kedua tangannya terulur untuk menggapai wajah Daniel, sayangnya ia terlalu kecil.
"Kau ingin menyerangku, heh?" cebiknya kesal. "Kau tidak terima aku mengataimu tidak perkasa? Kalau begitu serang saja aku dan aku pastikan kau akan menjadi santapan makan siang baba!"
"Meoongg...." Respon brown melemah. Kucing itu pernah bertemu dengan Baba, tentu saja responnya ketakutan.
Daniel terkekeh. "Kau takut bukan? Karena itu aku membawamu kemari untuk menemaninya selama aku pergi, oke?"
"Meoongg....."
"Apa kau tidak bisa menjawab selain meong meong dan meong?" Rasanya Daniel kesal sendiri mengajak Brown berbicara, respon hewan itu tidak sesuai dengan harapannya. Memangnya apa yang Daniel harapkan dari seekor kucing?
"A-ada apa?" tanyanya gugup.
"Apa kau menyukai kucing?" Daniel menyembunyikan Brown di belakang tubuhnya. Setidaknya ia harus bertanya terlebih dahulu bukan?
"Aku menyukainya," jawabnya disertai anggukan, meskipun ia bingung lantaran Daniel tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Kalau begitu jaga Brown untukku." Daniel kemudian memperlihatkan hewan lucu itu yang sejak tadi bersembunyi di belakangnya. Dan menyodorkan Brown kepada Ashely.
Ashely mengambil hewan lucu itu dari tangan Daniel. Seolah menyukai sentuhan Ashely, Brown tidak memberontak.
"Ck, dasar. Jangan bermimpi kau ingin merebut wanitaku?!" Kenapa Daniel berbicara seperti itu karena sebelumnya Brown berontak berulang kali ketika beberapa anak buah memegangnya dan ia kesal karena Brown terlihat tenang berada di dekapan Ashley dan lihatlah kucing sialan itu mendusel-dusel wajahnya di dada Ashley yang membusung. Entah kenapa Daniel menjadi kesal dan tidak rela.
Ashely tersenyum bingung, sebenarnya ada apa dengan Daniel. "Sejak kapan kau memelihara kucing?" tanyanya penasaran.
Daniel terkesiap, ternyata sejak tadi arah pandangnya tertuju pada belahan dada Ashley yang mengintip itu. "Sejak kemarin, sejak hari ini dan seterusnya." Ashely memutar bola matanya jengah mendengar jawaban Daniel. "Dia akan menemanimu selama aku tidak berada di penthouse."
Ashley hanya mengangguk saja, telapak tangannya mulai menyentuh kepala Brown. "Tapi kenapa namanya Brown?" Sembari menelisik pada bulu-bulu halus Brown, jelas-jelas hewan itu berwarna silver.
"Dia kucingku, jadi terserah aku ingin memberinya nama apapun," sahutnya. "Lebih tepatnya aku mencurinya," sambungnya dalam hati.
__ADS_1
"Iya, terserah kau saja." Lebih baik mengalah. Jika berbicara dengan Daniel hanya akan membuatnya darah tinggi.
"Aku pergi dulu," pamit Daniel.
"Ya....."
Hening
Hening
Daniel segera berlalu dari kamar Ashley. Setidaknya ia sudah berpamitan kepada wanita itu meskipun tanpa menciumnya. Ia akan membiasakan diri seperti pasangan normal lainnya. Namun langkahnya terhenti, Daniel memutar arah langkahnya, pintu yang tertutup itu dibuka kembali oleh Daniel.
Ashely menatap bingung kepada Daniel yang berjalan ke arahnya.
"Ada yang tertinggal." Daniel berucap lebih dulu sebelum wanita itu melayangkan pertanyaan kepadanya. Wajah Ashley yang mendongak memudahkan Daniel untuk menciumnya.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Ashley. Pria itu melangkah pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, membuat Ashley terperangah namun tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona.
Daniel pergi setelah berganti pakaian. Hari ini memang jadwalnya mengunjungi perusahaan, karena Keil tidak mungkin, pasti sedang menemani Emely. Sementara Nico lebih tidak mungkin, sahabat laknatnya yang satu itu selalu menempeli Nona Jennie.
.
.
To be continue
.
.
Senyumanmu bang mengalihkan duniaku ššš
Ashely malu-malu tapi mau wkwkš
Jangan lupa follow akun Instagram kedua Yoona ya man-teman @_rantyyoona_
...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian š terima kasih š¤...
__ADS_1
...Always be happy š·...