
Sejak mengetahui dan merangkum peristiwa yang terjadi pada tiga tahun yang lalu, disinilah Keil berada di depan sebuah cafe yang diberi nama Hollander, yang merupakan cafe milik Emely. Ternyata cafe tersebut adalah milik mantan kekasihnya, bukan milik pria yang bernama Jonas Fortes, yang tidak lain ialah suami dari Emely.
Keil memperhatikan dari dalam mobil, beruntung karena cafe tersebut berada di pinggir jalan sehingga ia dengan mudah mengamati Emely dari tempatnya berada. Untuk saat ini Keil terlalu malu menampakkan wajahnya di depan Emely. Wanita itu pasti berpikir jika dirinya adalah pria bajingan, walaupun memang benar adanya, tetapi ia tidak ingin wanita yang memiliki tempat spesial dihatinya memandang dirinya dengan buruk.
Hingga semburat jingga memecah di langit dan matahari mulai terbenam, Keil masih setia menunggu disana. Seketika kedua matanya dibuat membeliak ketika melihat sosok pria yang di duga suami dari wanita itu. Namun sesaat kemudian pria itu keluar begitu saja setelah mengatakan sesuatu entah apa itu.
Apa dia benar-benar suaminya?
Keil menjadi sangat yakin jika hubungan Emely dengan suaminya tidaklah baik. Terlihat jelas jika pria itu kasar kepada Emely. Keil mencengkram kuat stir kemudinya, jika memang benar Emely tidak bahagia dengan pernikahannya, tentu ia akan senang hati mengambil wanita yang memang seharusnya menjadi miliknya.
Begitu melihat Emely keluar dari cafe setelah menutup cafe tersebut, Keil bersiap mengekori mantan kekasihnya itu, mesin mobil sudah ia hidupkan. Namun Emely nampaknya masih setia di depan Cafe begitu beberapa karyawan memilih pergi terlebih dahulu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam waktu setempat di Kota London, namun sepertinya belum ada tanda-tanda Emely akan dijemput oleh seseorang atau suaminya.
Emely mendesahkan napasnya ke udara, ia segera pergi dari sana dengan berjalan kaki. Keil tidak diam begitu saja, tentu saja ia mengikuti Emely dengan laju mobilnya yang ia kemudikan dengan sangat perlahan.
***
Setelah menutup Cafe dan semua karyawan sudah pulang, Emely memutuskan pergi dari Cafe. Ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah hampir satu jam ia berada di depan Cafe hanya untuk menghindari sesuatu yang hanya diketahui olehnya. Dan kemudian ia memutuskan untuk berjalan kaki alih-alih memesan sebuah taksi ataupun sekedar minta untuk dijemput oleh pria yang tidak lain ialah suaminya.
Emely berjalan kaki, membelah malam di Kota London yang terlihat sangat sepi, tidak begitu banyak mobil yang nampak berlalu lalang, kecuali mobil hitam yang masih setia mengekori Emely dari kejauhan tanpa disadari oleh wanita itu. Namun dari kejauhan sebuah mobil melintas dan berhenti tepat beberapa langkah dari Emely. Langkah wanita itu menjadi waspada, ia mengedarkan sekelilingnya yang benar-benar nampak sepi.
Dua pria terlihat menghampiri Emely begitu turun dari mobil. Kedua matanya terlihat mengkilat begitu melihat sosok Emely yang sangat cantik dan sexy meskipun dilapisi pakaian lengan panjang.
"Apa Nona butuh tumpangan? Mobil kami cukup jika menampung satu orang lagi."
"Benar Nona, kami tidak masalah jika harus mengantar Nona cantik kemanapun. Jika perlu kita bersenang-senang terlebih dahulu," timpal pria yang lain.
Emely nampak risih kala kedua pria itu melihat dirinya dengan tatapan liar. Entah darimana datangnya mereka, apa memang sejak tadi kedua pria itu sudah mengikuti dirinya?
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri!" Emely menolak dengan tegas, tidak lupa kedua matanya memelototi mereka yang berusaha berjalan satu langkah mendekat.
Kedua pria itu saling tertawa satu sama lain. "Sudahlah, tidak perlu malu-malu Nona. Kami tau jika Nona juga kesepian, bukan?" Salah satu dari pria itu berhasil menjangkau pergelangan tangan Emely, sontak saja Emely menghempaskan tangan pria itu.
"Jangan menyentuhku!" bentaknya. "Kalian jangan memaksaku, jadi kalian pergilah!" Sembari mengusap pergelangan tangannya yang terasa nyeri akibat cengkraman salah satu dari pria itu.
"Kami bermaksud baik dengan menawari Nona tumpangan tetapi Nona menolak kami. Jangan jual mahal Nona, apalagi tujuan Nona berjalan kaki sendiri malam-malam seperti ini jika bukan bermaksud untuk menggoda pria-pria seperti kami!"
"Jangan bicara sembarangan. Kalian benar-benar menjijikan!" Emely tidak habis pikir dengan pikiran kotor mereka.
Perkataan Emely tentu saja membuat kedua pria itu tersulut emosi. Dengan kesal keduanya berusaha mendekati Emely yang sudah berjalan mundur beberapa langkah untuk menghindari mereka.
Menghadapi pria tidak waras itu saja aku sudah sangat tertekan, kenapa harus bertemu dengan pria berengsek seperti mereka!
__ADS_1
Emely benar-benar meruntuki nasibnya yang selalu sial. Meksipun sekujur tubuhnya gemetaran tetap ia harus bisa bertahan agar mereka tidak bisa mengambil keuntungan darinya.
Namun sebelum Emely sempat melarikan diri, salah satu dari mereka lebih dulu menjangkau rambu panjang Emely dan menjambak yang hingga membuat wanita itu memekik kesakitan.
Mobil hitam lain terlihat melintas dengan kecepatan tinggi dan kemudian berhenti dengan kasar hingga suara decitan rem mobil tersebut terdengar nyaring dan menggema di keheningan malam, dan membuat kedua pria itu menoleh serentak ke arah mobil tersebut.
Pria yang sudah terbakar amarah turun dari mobil dengan tangan yang terkepal disertai tatapan membunuh dari pria itu. Emely tentu saja terkejut akan sosok Keil yang semakin berjalan mendekat dengan rahang yang mengeras.
"Siapa kau? Apa kau ingin menjadi pahlawan-"
Bug
Belum sempat selesai bicara, Keil melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah pria yang tadi menjambak rambut Emely, hingga pria itu tersungkur.
"Berani-beraninya kau menarik rambutnya. Sepertinya kau ingin tanganmu patah malam ini!" Keil menunjuk pria tersebut dengan sarkas.
Pria yang lainnya tentu saja tidak terima melihat temannya dihajar oleh pria asing. "Berengsek! Kau ingin mati ya!" Salah satu tangannya melayang ke arah wajah Keil, namun hanya dengan lirikan ekor matanya Keil mampu menahan kepalan tangan yang ingin meninju wajahnya.
"Akan ku tunjukkan kematian yang sesungguhnya kepada kalian!" Dan kemudian Keil menendang sekuat tenaga perut pria tersebut. Sama seperti temannya, pria itu juga tersungkur ke aspal. Bahkan tendangan Keil benar membuatnya tidak bisa beranjak. Pria itu benar-benar terlihat kesakitan.
Namun tidak dengan temannya yang masih bisa beranjak berdiri. "Cih...." Pria itu meludah dan menganggap remeh Keil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. "Memangnya kau siapa? Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami. Wanita ini adalah milik kami, jadi kami bebas melakukan apapun kepadanya!"
Emely menggelengkan kepalanya karena perkataan pria itu tidak benar. Benar-benar kurang ajar, sejak kapan dirinya menjadi milik mereka yang terlihat sangat menjijikan.
Bug
Bug
Amarah Keil yang sudah memuncak kembali melayangkan pukulan di wajah pria itu. Namun ternyata pria tersebut masih dapat bertahan, dan Keil meninju tepat mengenai perut, sehingga darah segar menyembur dari mulut pria tersebut. Namun tidak berhenti sampai disana, Keil juga menginjak lengan pria yang sudah tidak berdaya itu hingga terdengar sesuatu yang kemungkinan lengan pria itu patah atau hancur.
"Dengar, wanita ini adalah milikku! Jika aku melihat kalian masih hidup setelah ini, aku tidak akan segan-segan lagi untuk menghancurkan seluruh organ tubuh kalian!" Keil memberikan ancaman kepada dua pria yang merasa hebat tersebut. Kemudian mengalihkan pandangan pada sosok Emely yang masih syok dan terlihat ketakutan.
Keil tidak lagi mempedulikan dua pria yang tergeletak tidak berdaya. Ia melangkah tergesa-tegas menghampiri Emely.
"Kau tidak apa-apa?" Namun Emely tidak menjawab dan mengabaikan kepanikan yang tersirat di wajah Keil. Terdengar helaan napas Keil karena pertanyaannya diabaikan oleh Emely. "Ikut denganku!" Dan kemudian Kiel menarik tangan Emely tanpa bermaksud menyakiti wanita itu, meskipun Emely sudah berusaha menepisnya tetapi tenaganya tidak sebanding dengan Keil.
Keil membukakan pintu mobil dan sedikit mendorong tubuh Emely agar wanita itu segera masuk ke dalam mobi. Keil pun melajukan mobilnya tanpa mengindahkan penolakan dari Emely. Setelah kepergian Keil, beberapa anak buah Black Lion berbondong-bondong turun dari mobil dan membereskan dua pria berengsek itu untuk menghilangkan jejak apa yang baru saja dilakukan oleh Keil. Entahlah, mereka akan membuang mereka atau membawa mereka ke rumah sakit.
***
Keil terlihat masih kesal dan amarahnya tidak menyurut, karena tidak habis pikir dengan Emely, untuk apa wanita itu berjalan kaki. Jika saja ia tidak mengikuti Emely dari kejauhan, mungkin Emely sudah dilecehkan oleh mereka.
"Kau memiliki suami. Apa kau tidak memintanya untuk menjemputmu? Kenapa berjalan sendirian?!" Akhirnya Keil lebih dulu membuka suaranya setelah beberapa menit hanya kesenyapan di dalam perjalanan mereka.
"Bukan urusanmu." Namun Emely justru menyahut dengan ketus. "Untuk apa kau tadi menolongku? Aku tidak perlu bantuanmu atau siapapun!"
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Emely, emosi Keil benar-benar memuncak. Lantas ia segera menepikan mobilnya dan mencondongkan tubuhnya kepada Emely.
"Apa kau benar-benar ingin mereka melecehkanmu?" Meskipun bersuara lembut tetapi nada bicara Keil terkesan dingin.
Tidak ada jawaban dari Emely, wajah wanita itu tertunduk. Sejujurnya ia benar-benar ketakutan jika mereka berhasil melecehkan dirinya. Keil tidak tega melihat wajah Emely yang nampak menahan air matanya.
"Kenapa kau selalu memendam semuanya sendiri, Emely. Kenapa?" Suara Keil terdengar parau di indera pendengaran Emely, hingga membuat wanita itu mendongakkan wajah dan menatap Keil. Ini adalah pertama kalinya Emely menatap dari jarak dekat wajah pria itu lagi.
"Sudah aku katakan bukan urusanmu Keil. Hubungan kita sudah berakhir, jadi kau tidak perlu peduli lagi denganku." Entah kenapa Emely merasa dadanya yang kian sesak setiap kali mengatakan hal yang menyakitkan kepada Keil.
"Baiklah, jika itu keinginanmu," sahut Keil yang begitu teriris mendengar jawaban dari Emely. Keil kembali membenarkan posisi duduknya. "Katakan kemana aku harus mengantarmu?!" Kali ini suara Keil terdengar dingin dan tidak ramah seperti sebelumnya.
"Knightsbridge." Emely menjawab selama terdiam beberapa saat. Ia berusaha menetralisir hatinya agar tidak terbawa perasaan. Lebih baik seperti ini, agar ia tidak lagi mengharapkan Keil kembali.
Keil mengangguk. Ia tahu dengan jelas dimana tempat itu. Hunian itu tidaklah murah, setara dengan harga Penthousenya yang berkisar 140 juta poundsterling.
Selama berkendara tiga puluh menit, tidak ada percakapan diantara mereka. Keil benar-benar menghargai Emely yang tidak ingin dirinya ikut campur.
"Masuklah." Keli tetap membantu membukakan pintu mobil untuk Emely begitu tiba di tempat tujuan Meskipun Emely sudah berusaha menolaknya, tetapi Keil tetap bersikeras.
"Hem, terima kasih." Emely memasang wajah sedatar mungkin. Hingga Keil pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan segera berlalu dari sana.
Selepas kepergian Emely, wanita itu berjongkok memeluk kedua lutut kakinya dan menangis dalam diam. Keil masih belum begitu jauh dari tempatnya, ia menepikan mobilnya, ada perasaan tidak tega. Keil tetap pada di posisinya dan mengamati Emely dari kejauhan.
Emely terlihat berdiri setelah puas menangis, ia tidak langsung masuk ke dalam Penthouse tepat Keil menurunkan Emely disana. Wanita itu justru berjalan menuju Penthouse yang lain yang juga terlihat mewah.
Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku, Emely.
Keil tidak akan tinggal diam begitu saja. Jika Emely tetap bungkam, maka ia sendiri yang akan mencari tau.
.
.
To be continue
.
.
Babang Keil
Like, vote dan komentar kalian ya 💕
__ADS_1