
Tom berusaha menahan pintu yang sejak tadi tidak henti di dobrak dari luar, sementara Joy mencoba mencari jalan keluar dari balkon. Joy berpikir Emely harus memanjat ke bawah sana, dengan begitu mereka tidak akan dengan mudah membawa Emely.
"Nona hanya perlu turun dari sini dan bersembunyi di tempat kami."
Glek
Emely menelan saliva dengan susah payah, ia melihat ke bawah dimana lantai yang ia pijak sangat tinggi, berbeda saat ia memanjat dinding ketika berada di penthouse milik Jonas.
"Aku akan mencobanya." Meskipun kini tubuhnya bergetar serta rasa pusing menyergap, tetapi Emely tidak memiliki pilihan lain karena tidak ada jalan keluar selain melalui balkon untuk menuju lantai 8 unit kamar Joy serta Tom.
"Tenang saja, aku akan melindungi Nona." Joy mengusap bahu Emely, mencoba memberikan keberanian terhadap Nona-nya.
Braak
Bugh
Joy menoleh ke sumber suara, benar dugaannya jika mereka berhasil mendobrak pintu dan tengah terlibat baku hantam. Napas Tom terengah-engah, di hadapannya kini masih tersisa 10 pria yang harus ia bereskan.
"Nona, harus cepat!" seru Joy. Ia semakin gusar karena memperhatikan Tom yang nyaris kewalahan menghadapi begitu banyak musuh.
Dua anak buah melihat Joy yang berada di balkon langsung menghampiri dan menyerang, lantas Joy membalas serangan itu. Emely mendadak panik, tubuhnya tepat berada di pinggir pagar besi hendak melangkahi besi tersebut.
"Nona, cepat melompat!" teriak Joy sembari menepis ketika serangan bertubi-tubi datang ke arahnya.
Entah mendapatkan keberanian dari mana, Emely mencoba melompati pagar besi tersebut. Melihat Emely yang sedang berusaha, Joy mencoba menghadang ketika salah satu dari mereka hendak mendekati Emely.
"Jangan harap kalian bisa menyentuhnya!" Joy menghantam dada pria yang ingin mendekati Emely.
Bugh
Satu dari mereka justru kini berhasil menghantam wajah Joy, ia sedikit lengah karena fokus pada Emely. Namun rasa gusarnya perlahan menyusut karena Emely tidak nampak lagi, mungkin sudah berhasil melompat ke lantai 8.
"Sialan!!! Dia berhasil melompat!" Salah satu dari mereka berdecak karena gagal mendapatkan Emely.
Joy tersenyum tipis. Setidaknya mereka tidak berhasil. Ia berjalan sedikit tertatih menghampiri Tom. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Nampak sekali di dalam apartemen luas yang semula dalam keadaan rapih kini tidak berbentuk karena meja telah hancur berhamburan.
"Karena kalian kami kehilangan wanita itu!" Tentu mereka semua menjadi murka.
Tom serta Joy menyunggingkan senyum sinis. Hingga semakin membuat mereka dipenuhi amarah.
"Habisi saja mereka seperti perintah bos!" ujar salah satu dari anak buah Golden Dawn. Dan tidak ingin membuang waktu mereka menodongkan senjata ke arah Tom dan Joy.
__ADS_1
"Shiitt!! Sepertinya kita akan mati disini Joy," bisik Tom.
Dor!
***
Sementara Keil sudah berada di depan apartemen. Lantas segera turun dari mobil dan berlari memasuki lobby apartemen menuju pintu lift. Pada saat pintu lift terbuka, Keil segera masuk, ia tidak peduli jika di dalam lift begitu banyak pria.
Keil benar-benar gelisah, untuk mencapai lantai 9 terasa begitu lama, hingga berulang kali ia mengetuk-ngetuk kakinya pada lantai lift. Kaca di dalam lift memantulkan wajahnya yang sangat panik juga gusar, kemudian sorot matanya menangkap beberapa pria yang sejak tadi menunjukkan gelagat aneh. Keil yang mengenakan topi sedikit menurunkan topinya hingga menutupi kedua matanya, namun ekor mata bergulir ke kanan dan ke kiri karena instingnya mengatakan jika ada yang tidak beres.
Srett
Bugh
Benar saja, salah satu dari mereka hendak menghunuskan pisau pada punggung Keil, beruntung Keil menyadarinya dari pantulan cermin lift. Dengan lihai Keil menarik lengan pria itu dan menjatuhkan pisau tersebut.
Aksi menghunuskan pisau gagal, lantas mereka menyerang Keil bersamaan. Pada saat itu juga Keil merunduk untuk menghindari serangan mereka. Kaki kanan Keil menendangi kaki mereka bergantian hingga dua di antara mereka tumbang lantaran tidak dapat menahan keseimbang, namun tiga di antara mereka melayangkan serangan kembali dan berhasil di tepis oleh Keil. Keil meninju wajah serta perut mereka bergantian, tidak membiarkan kelima pria tersebut mengembalikan serangan.
Ting
Bertepatan dengan pintu lift terbuka, Keil sudah berhasil menumbangkan kelima pria tersebut. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Keil berlari keluar dari lift menuju unit apartemen miliknya dan Emely.
"Dimana Eme?" tanyanya. Melepaskan topi dan melemparnya dengan asal. Kemudian menyapukan pandangan ke setiap ruangan. "DIMANA ISTRIKU?!" Suaranya meninggi lantaran beberapa dari mereka tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
Semua nampak tertunduk takut, terlebih kini raut wajah Keil begitu dingin dan menyeramkan.
"Ma-maaf bos Keil, kami tidak menemukan Nona Emely di unit Joy dan Tom."
Bugh
Sebuah tinju Keil melayang tepat di wajah anak buah yang baru saja menjawab pertanyaan Keil dengan terbata-bata.
"Bagaimana bisa, hah?! Kenapa kalian membiarkan mereka membawa istriku!" Keil meraup wajahnya dengan kasar.
"Bos Keil...." Joy berjalan tertatih, telapak tangan kanannya menekan luka tembakan di lengan kirinya. "Nona Emely sempat melompat ke lantai 8 unit kamar kami, aku sudah memastikannya sendiri, tapi entah kenapa Nona Emely tidak berada di sana."
"Kami sudah mencarinya disana tetapi tidak menemukan Nona Emely di dalam. Pintunya sudah terbuka, kami berusaha mencari Nona Emely di sekitar unit dan di depan gedung, bahkan pinggir jalan raya sudah kami telusuri tetapi Nona Emely menghilang begitu saja. Dan saat ini yang lain masih mencari keberadaan Nona Emely," sambung anak buah yang lain.
Sungguh keterangan salah satu anak buahnya mampu membuat tubuh Keil bergetar, ia gusar setengah mati mendapatkan keterangan jika Emely tidak ditemukan.
Brak
__ADS_1
"Keparat!!" umpat Keil yang sudah dikuasai amarah. "Aku harus mencarinya!" gumamnya kemudian dan hendak meninggalkan apartemen.
"Tunggu Bos Keil." Namun Tom tiba-tiba saja menghentikan langkah Keil. Lantas Keil memutar tubuhnya masih dengan aura kemarahan. "Sepertinya ini milik Nona Emely, kami tidak sengaja menemukannya kamar mandi." Tom kemudian menyodorkan benda kecil tersebut kepada Keil.
Keil menyambar benda itu dengan kasar dan melihatnya dengan seksama. Seketika matanya membulat sempurna, benda yang ia pegang adalah alat tes kehamilan dan disana tercetak dua garis merah. Keil bukan pria awam yang tidak mengerti alat tes kehamilan tersebut. Jika benda itu milik istrinya, sudah pasti ada janin di dalam perut sang istri. Keil kemudian menggenggam benda kecil tersebut. Rasa sesak kini kian menghimpit hati dan jantungnya.
"AARGGHH SIALAN!!" Jika saja ia tidak terlambat datang, mungkin Emely tidak akan menghilang seperti ini.
Bugh
Bugh
Bugh
Keil meninju Tom serta dua anak buah lainnya. "KENAPA KALIAN TIDAK BECUS MENJAGA ISTRIKU, HAH! Kalian benar-benar bodoh! Percuma saja aku menyuruh kalian berada disini!"
Kembali Keil melampiaskan amarahnya kepada Tom juga anak buah lainnya. Mereka diam saja tanpa berniat ingin menepis terlebih melawan, karena memang mereka telah lalai menjaga Nona Emely. Namun beberapa anak buah lainnya tetap melakukan pencarian terhadap Nona Emely.
Puas memukuli beberapa anak buah, tubuh Keil bersimpuh, lututnya terkulai lemah dan menyentuh lantai yang dingin. Kedua matanya berkaca-kaca, Keil meraup wajahnya dan menghapus sudut matanya yang basah.
"Kau dimana Love? Kenapa tidak memberitahuku jika kau hamil?" lirihnya.
.
.
To be continue
.
.
Babang Keil
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1