Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Hanya akan memandangiku saja


__ADS_3

Mobil mewah yang melaju dengan kecepatan tinggi membelah keramaian di pusat kota. Nico tidak mempedulikan sekitarnya, ia sudah hampir terlambat menjemput Nona Jennie, seharusnya sejak dari satu setengah jam yang lalu ia tiba disana. Begitu nyaris tiba di tempat lokasi, Nico memperlambat laju mobilnya karena tentu saja terdapat banyak orang-orang yang berlalu lalang disana, termasuk beberapa staf karena tempat tersebut juga merupakan tempat umum.


Memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Nico masih berdiam diri di dalam mobil, mencari sosok Nona kecilnya yang mungkin berada di antara sekerumunan para staf disana yang sedang bekerja. Namun setelah menyapu pandangannya ke segala arah, Nico tidak menemukan Nona Jennie dimana pun, hingga akhirnya ia memutuskan turun dari mobil.


Dengan jas yang melekat di tubuhnya serta kacamata yang bertengger, Nico menjadi pusat perhatian. Memang postur tubuh Nico yang perfect sebagai seorang pria mengundang decak kagum, namun mereka tidak berani mendekati bodyguard dari Nona Direktur mereka. Desas desus akan kedekatan Nona Direktur dengan bodyguard-nya memang sudah menyebar, beberapa di antara para staf berasumsi jika keduanya memiliki hubungan. Namun tidak ada satupun yang berani bertanya ataupun bergosip ria. Jika ketahuan oleh Jane asisten Nona Jennie, bisa saja mereka akan langsung dipecat dari perusahaan.


Nico menghentikan langkahnya sejenak, ia memperhatikan beberapa staf yang sibuk menata beberapa perlengkapan pemotretan. Pandangannya beralih, tetapi bukan Jennifer yang menjadi sorotan matanya, melainkan Billy. Pria itu sedang melakukan pemotretan di sekitar taman hingga berganti-ganti gaya serta pakaian. Nico memasang wajah datar, ia mengakui jika Billy memiliki pesona yang dapat mengikat setiap wanita, tetapi bukan berarti ia akan menyerahkan begitu saja Nona Jennie-nya kepada pria itu. Tidak akan pernah!



Selama beberapa saat Nico mengikuti kemana pun Billy dan staf lain berpindah tempat, sembari mencari Nona Jennie. Mungkin saja Nona Jennie berada di sekitar sana, pikirnya. Dan benar saja ia menemukan Nona Jennie berada tidak jauh dari lokasi Billy saat ini. Sejak tadi Jennifer memang memantau beberapa model selama pemotretan berlangsung. Perhatiannya kini tertuju pada Billy, kekasihnya itu memang sangat tampan dan mempesona, pantas saja ia mendengar gosip jika banyak wanita yang berusaha mendekati Billy tetapi di tolak mentah-mentah oleh kekasihnya itu. Merasa diperhatikan, Billy menoleh ke arah Jennifer berada, ia menyelinapkan senyuman kepada kekasihnya itu yang langsung mendapatkan balasan dengan senyuman manis juga. Nico berdecak, ia kemudian melepaskan kacamatanya dan bermaksud menghampiri Nona Jennie. Namun langkahnya terpaksa terhentikan ketika tidak sengaja mendengar percakapan Jane dengan seorang kurir. Nico kembali mengenakan kacamata, dan berjalan mendekati Jane.


"Untuk siapa bunga ini?" Jane memandangi bunga yang baru saja diberikan oleh kurir tersebut.


"Nona bisa melihat nama pengirim di note," ujar kurir tersebut. "Sebaiknya Nona menandatangi tanda terima terlebih dahulu."


"Ah iya, baiklah...." Jane menandatangani secarik kertas yang di sodorkan padanya. Kemudian kurir tersebut segera berlalu dari sana setelah bunga itu berada di tangan yang tepat.


"Kira-kira siapa pengirim bunga ini?" Jane penasaran akan sang pengirim bunga, apa pengirimnya masih sama seperti sebelumnya? Jane kemudian membaca note di dalam bunga tersebut. "Tuan Gerard dari CEA Corp," gumamnya kemudian. Perusahaan mereka memang bekerja sama tetapi entah sudah beberapa hari ini pria itu selalu mengirimkan bunga untuk Nona Jennie.


"Bunga dari siapa?" Suara Nico menghentikan Jane yang hendak melangkahkan kaki. Jane pun menoleh ke arah sumber suara.


"Tuan Nico?" Tentu saja Jane terkejut akan kedatangan Nico, ia pikir Nico tidak bertugas menjaga Nona Jennie hari ini. "Bunga ini dari Tuan Gerard, CEO di perusahaan CEA Corp," imbuhnya menjelaskan.


"Oh...." Respon itu yang terucap dari bibir Nico. "Apa dia sering memberikan bunga kepada Nona Jennie?"


"Ini sudah ketiga kalinya." Jane menjawab apa adanya.


Nico tersenyum masam. Billy saja belum menyerah dan masih menempel kepada Nona Jennie, kini muncul pria lainnya. Tetapi tidak masalah, siapapun akan ia singkirkan secara perlahan.


"Biar aku lihat terlebih dulu bunganya." Nico mengambil bunga itu dari tangan Jane, lebih tepatnya merampas.


"Tapi tuan...."


"Aku hanya mengeceknya saja, mungkin terdapat serangga di dalam bunga ini." Nico tidak membiarkan Jane memprotes, sehingga ia memberikan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Ah ya, silahkan." Meskipun sebenarnya Jane cukup bingung, ia tidak yakin jika terdapat serangga di dalamnya.


Nico terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya hingga membuat kedua mata Jane membeliak karena tiba-tiba saja Nico menyemprotkan cairan dari benda tersebut pada bunganya, yang ia yakini itu adalah parfum.


"Tuan, kenapa menyemprotkan parfum begitu banyak?" Jane menjadi panik, bisa gawat jika bunga itu rusak sebelum sampai ke tangan Nona Jennie.


Nico tidak peduli, kemudian ia mengembalikan bunga itu kepada Jane. "Aku melihat serangga kecil. Sebaiknya kau buang saja bunga ini, masih beruntung aku mengeceknya lebih dulu. Jika tidak, serangga itu bisa menggigit Nona Jennie." Tanpa rasa bersalah, Nico kembali memasukkan botol parfum ke dalam jas. Ingin rasanya ia tertawa melihat wajah Jane yang tercengang tidak percaya akan ulahnya itu.


"Aku akan menemui Nona Jennie." Setelah membuat ulah, Nico melesat pergi begitu saja, meninggalkan Jane dalam keadaan bingung.


"Lalu aku apakan bunga ini? Tidak mungkin memberikan bunga yang sudah hampir layu kepada Nona Jennie. Lebih baik aku buang saja." Jane benar-benar membuang bunga itu. Lagi pula Nona Jennie tidak akan mengetahuinya, pikirnya.


Nico berjalan belum begitu jauh dari posisi Jane, ia tersenyum penuh kepuasan karena berhasil menyingkirkan bunga itu sebelum sampai ke tangan Nona Jennie. Bunga berhasil disingkirkan dan setelahnya ia akan menyingkirkan pria yang bernama Gerard itu. Siapa suruh berani-beraninya mengincar wanita miliknya.


Nico melepaskan jas dan kacamata yang dikenakannya lalu menggantungkan jas di lengan, sementara menyelipkan kacamata di saku kemejanya. Dengan begitu usia sabar, ia menghampiri Nona Jennie yang belum menyadari keberadaan dirinya. Nico dapat melihat jika pandangan Jennifer tertuju pada Billy.


Ck, apa bagusnya pria itu? Aku beribu-ribu kali lipat lebih tampan darinya, batinnya.


Merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, sontak saja Jennifer memutarkan tubuhnya. Ia tertegun mendapati Nico berdiri dengan gagahnya, tidak lupa menyelipkan senyuman.


"Kau disini?" tanya Jennifer.


Jennifer mengangguk. "Aku pikir kau tidak jadi datang."


"Kalau aku bilang akan datang, pasti akan datang Nona. Lagi pula aku tidak mungkin membiarkan Nona sendirian."


"Ck, aku tidak sendirian," sahutnya mendecakan lidah. "Lihatlah, ada banyak orang disini." Sorot matanya menunjukkan keberadaan beberapa orang di sana.


"Benar, tapi mereka tidak bisa menjaga Nona dengan baik." Seperti biasa, Nico selalu penuh percaya diri.


Jennifer menyilangkan kedua tangannya. "Kau percaya diri sekali."


"Tentu saja, karena menjaga Nona adalah tugasku." Bukan Nico namanya jika ia tidak pandai bertutur kata. "Lebih tepatnya tugas sebagai kekasih Nona, hehe," sambungnya dalam hati.


Jennifer memperhatikan Nico yang tersenyum aneh pada dirinya. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

__ADS_1


"Menurut Nona, apa Nona percaya jika aku mengatakan sedang memikirkan Nona?" Dengan memasang ssnyim menggoda.


"Jangan bicara omong kosong." Jennifer memutar bola matanya jengah. Kenapa semakin lama, sikap Nico semakin aneh dan..... menyebalkan.


Nico terkekeh, akhirnya ia bisa melihat wajah Jennifer yang kesal, menurutnya sangat menggemaskan dan ia juga berhasil menyita perhatian Nona Jennie-nya yang semula pandangannya selalu tertuju pada Billy, kini sudah beralih karena manik mata wanita itu penuh akan dirinya.


Setelah ini bersiaplah, Nona hanya akan memandangiku saja.


Dari kejauhan Billy yang sedang bekerja memperhatikan Jennifer dengan Nico. Dari tatapannya, ia benar-benar tidak menyukai kedekatan mereka, tetapi sayangnya tidak ada yang bisa Billy lakukan untuk menyingkirkan bodyguard itu.


.


.


To be continue


.


.


Babang Nico



Nona Jennie



Billy



Like, vote, follow dan komentar kalian 💕


Ada cuplikan di IG, kalian bisa liat ya biar makin halu wkwk

__ADS_1


Instagram : @rantyyoona follow ya 🤗


Always be happy 🌷


__ADS_2