Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Perangkap


__ADS_3

Bangunan berlantai dua dengan cahaya lampu temaram cukup dipadati banyak pengunjung dari kalangan menengah. Dublin's Pub merupakan sebuah bar yang mampu menyesuaikan kocek para pengunjung. Selain murah, tempat tersebut juga selalu digunakan sebagai tempat untuk melakukan transaksi, karena banyak pria besar dari kalangan keluarga terpandang bahkan kalangan militer berpesta disana tanpa ketahuan identitasnya.


Malam ini Xavier berada di dalam bangunan lantai dua itu, duduk berhadapan dengan seorang pria tua yang memiliki kekuasaan di dunia kemiliteran. Suaranya tertahan kala seorang waittres wanita lebih dulu datang mengantarkan minuman yang mereka pesan.


"Katakan apa yang ingin kau katakan?!" Xavier mengangkat gelas minuman dan menyesapnya, bernada dingin dan tidak bersahabat. Hubungan mereka memang tidak sedekat itu untuk saling berbasa-basi.


Osman terkekeh, ia sudah tidak heran lagi dengan sikap pria di hadapannya. Pernah bertemu satu kali dan sikapnya tidak berubah, padahal orang lain akan tunduk hormat kepadanya. "Masih banyak waktu, sebaiknya kita mulai dengan permainan kartu." Osman mulai menyusun kartu-kartu di atas meja.


Xavier berdecih. "Aku datang kemari bukan untuk bermain kartu!"


"Come on, bermainlah sebentar saja denganku. Yang menang tentu saja mendapatkan hadiahnya." Osman berusaha menyakinkan Xavier, ia hanya ingin bernegosiasi sesuatu sembari bermain.


Xavier mengangguk, tidak ada salahnya ia meladeni pria tua itu. Bukan masalah persoalan hadiah, melainkan ia juga penasaran apa yang ingin dibicarakan pria tua di hadapannya itu. Kemudian Xavier mulai menyambar beberapa kartu bagiannya.


"Kau tau kedudukanku, bukan?" Osman meletakkan satu persatu kartu yang ia miliki.


"Hem, lalu?" Xavier tidak berminat menjawab pertanyaan Osman yang berbelit-belit. Ia meletakkan kartu yang terlemah terlebih dahulu.


"Aku tidak ingin namaku terseret dalam kasus penyeludupan ilegal."


Hah... Rasanya Xavier ingin meninju pria tua yang tidak tau malu itu. "Bukankah kau yang salah, kau dan anak buahmu yang ceroboh, lalu seenaknya melemparkan kesalahan pada Black Lion?!"


"Aku bisa memberikan kalian banyak uang." Osman mengeluarkan kartu yang ia punya dan ia yakin jika dirinya menang.


Xavier tersenyum meremehkan, lalu ia meletakan kartu King dan As bersamaan. "Apa kau pikir bisa membeliku dan anak buahku untuk tunduk kepadamu?!" Dua kartu itu cukup untuk menumbangkan lawannya.


"Shittt!! Keparat, kau curang! Bukankah aku hanya memintamu untuk tutup mulutmu!" Osman mulai tersulut emosi. Tidak hanya kalah dalam permainan kartu, tetapi ia gagal bernegosiasi.


"Perlu kau tau, aku tidak tunduk kepada siapapun!" kecam Xavier dengan santai lalu seperkian detik tatapannya berubah tajam. Persoalan uang bukanlah masalah besar, ia memiliki kekayaan berlimpah. Bukan hal yang sulit membungkam mulut para petinggi. Tapi lain hal jika organisasinya yang harus menjadi kambing hitam, tentu Xavier harus memasang badan. Lagi pula ia hanya akan tunduk kepada dua orang saja, Mommy Marry dan juga istri tercintanya Elle.


"Hah, keparat!" Osman yang sudah terbakar amarah mengeluarkan senjata dari dalam jas yang dikenakannya. "Seharusnya kau menurut dan mengikuti permainanku. Aku bisa melakukan apapun kepadamu dan organisasimu itu!" ujarnya dengan penuh ancaman.


Tidak terpancing, Xavier beranjak berdiri. Ia mengambil uang yang mereka pertaruhkan di atas meja. Tentu, karena uang itu sudah menjadi miliknya. "Simpan saja ancamanmu itu untuk orang lain. Aku bukan pria mudah kau hadapi!"


"Hah, sombong sekali kau!" Osman tetap menodongkan senjata api itu kepada Xavier.


Lagi-lagi Xavier tersenyum, ia mengambil sebuah koin yang tergeletak di atas meja, lalu melemparkan ke meja tepat di hadapan Osman. "Dengar, aku bahkan bisa membeli harga dirimu dengan uang koin itu. Jadi jangan membuang waktumu untuk sesuatu yang tidak perlu. Selesaikan semuanya dengan adil, jangan mengkambing hitamkan kelompokku dengan kecerobohanmu!" Kalah telak. Perkataan Xavier mampu membungkam mulut Osman. "Dan satu hal lagi, aku tidak menyukai jalaang, kau bisa menyimpan jalaang itu untukmu seorang!" Dan Xavier segera berlalu dari sana, meninggalkan Osman yang berdiri di tempat, tercengang dengan apa yang baru di sampaikan oleh Xavier.


Pria itu mengetahui rencananya yang akan melemparkan seorang wanita sebagai bentuk penyuapan. Osman hanya tidak pernah menduga jika pria seperti Xavier tidak tergiur dengan seorang wanita cantik dan sexy. (Belum tau aja ya dia, Baba Vier kan bucin sama bininya) Wkwk🤭


***


Xavier keluar dari tempat itu dengan napas yang memburu karena sekuat tenaga mengeram amarahnya. Jika saja ia mengikuti napsu amarah, mungkin akan menggagalkan rencana mereka.


"Bagaimana?" Mendengar suara yang tidak asing, Xavier menoleh bingung kepada seseorang yang ternyata juga berada di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Kau.... kenapa kau berada disini?" Xavier menatap nyalang pada seseorang yang tidak diundang itu.


"Haha, aku hanya khawatir padamu!" Zayn menepuk bahu Xavier sembari tertawa.


"Memangnya kau siapa, heh?!" Menjijikan mendengar kata khawatir yang keluar dari mulut Zayn.


"Tentu saja aku kekasihmu. Haha apa kau berharap aku mengatakan seperti itu, hah mimpi!" Zayn mendengkus kesal. Ia menjauhkan tubuhnya dari Xavier.


"Aku tidak mengharapkan itu, keparat! Kau sendiri yang mengatakannya!" Xavier menatap Aneh ke arah Zayn. Kenapa ia bisa berteman dengan pria seperti Zayn, batinnya.


"Sorry bos menyela, sebaiknya kita segera pergi dari sini." Daniel duduk di kursi kemudi, di sebelahnya terdapat Keil. Keduanya begitu jengah mendengar pertengkaran itu.


"Ya, kita ke Markas. Dan singkirkan pria ini dari mobilku!" Perkataan Xavier di tunjukkan untuk Zayn.


"Hahaha sialan kau!" Ingin rasanya Zayn menendang bokong Xavier, tapi sialnya ia tidak bisa melakukannya. Awalnya memang Zayn hanya ingin memastikan bahwa Osman tidak akan melakukan hal yang licik, ia tau benar. Dunia bawah siapa yang tidak mengenal Osman, pejabat pemerintahan yang terkadang memiliki otak di luar nalar dan dilindungi oleh pasukan militer.


***


Keesokan harinya.


Bangunan tua yang selalu menjadi Markas Osman dan pasukannya. Berkumpul beberapa pria termasuk Xavier dan ketiga anggota Black Lion, tidak lupa Xavier juga membawa turut serta Louis, seorang Letnan yang selama ini mengabdi di bawah pasukan militer Amerika.


Saat ini mereka telah menyaksikan siaran ulang di televisi, dimana pasukan militer menemukan sebuah kapal yang berisikan senjata-senjata ilegal di tengah perairan. Tentu saja itu senjata yang memiliki Osman yang sudah ia beli sangat mahal pada Black Lion. Tetapi karena kecerobohan pria tua itu dan para pengikutnya sehingga rencananya terendus oleh seseorang yang entah siapa itu.


"Kalian lihat itu, jika kasus ini sampai terdengar pemerintahan, aku bisa dipecat dengan tidak hormat."


"Huh, diam kau Louis!" pekiknya kesal. Perkataan Louis seperti menyiram bensin ke dalam api. "Sekarang aku ingin kalian membantuku! Bagaimana pun caranya kalian tidak menyeret namaku!" Tentu saja Osman bisa bersikap berkuasa, karena di sampingnya di kawal oleh salah satu pasukan khusus


"Ck, enak saja. Bukankah kau dan anak buahmu yang ceroboh. Kami sudah memberitahukan sebelumnya jika rencanamu membahayakan kalian!" sembur Nico karena sebelumnya ia dan dua sahabatnya itu sudah memperingati mereka sebelumnya.


"Hah, diam kau. Kau tidak perlu menghakimi Tuanku!" Salah satu anak buah Osman yang juga duduk berhadapan dengan pembatas meja persegi tidak terima.


"Heh, Tuanmu memang bodoh!" sambar Daniel penuh ejekan.


Brak


Anak buah tersebut menggebrak meja dan mulai tersulut emosi. Lalu jari telunjuknya menyayat leher, sebagai bentuk ancaman jika Black Lion akan mati.


Keil berdecak sinis. "Ck, justru kau yang akan mati!"


"Kau...." Amarahnya tertahan kala Osman memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk diam.


"Ini bukan saatnya untuk berdebat. Pikirkan cara bagaimana menyelesaikan kasus ini," katanya.


"Mau tidak mau kau harus mengakui jika senjata itu milikmu," kata Louis acuh.

__ADS_1


"Hah, itu tidak mungkin. Aku bisa-bisa digulingkan dari jabatanku." Osman mengusap wajahnya dengan kasar. Mana mungkin ia mengakuinya, ia tidak ingin kehilangan jabatannya yang tinggi itu.


"Lalu kau kau melemparkan kesalahan itu pada kami, heh?" dengkus Xavier kesal. Bahkan ketiga Black Lion juga kesal.


"Sebaiknya kau mengumpulkan para wartawan." Louis kembali menyarankan.


"Lalu mengakuinya, begitu?" sahut Osman sinis. "Lebih baik aku mengkambing hitamkan kalian!" Kalian yang dimaksud tidak lain ialah Black Lion.


Brak


"Jangan asal bicara!" seru Nico. "Kalian yang ceroboh, kenapa kami yang harus menanggungnya?!"


"Dan kalian harus melawan kami lebih dulu jika berani melakukan itu!" sambar Daniel kesal.


"Jangan membuat kami tidak bisa memiliki pilihan lain untuk melawan kau dan pasukanmu!" timpal Keil.


"Hahahaha.... kau memiliki anak buah yang pemberani!" ujarnya pada Xavier dan menunjuk Keil, Nico serta Daniel. "Kalau begitu aku hanya perlu melempar batu dan sembunyi tangan!" Osman tersenyum licik, sejak pertemuan tadi malam ia tidak memiliki lain selain menyingkirkan Black Lion.


"Apa maksudmu?" tanya Xavier. Seketika suasana berubah mencekam. Bahkan Louis tidak bisa berbuat apapun. Ia tidak tau apa yang direncanakan oleh Osman.


Duaarr


Sebuah bom di ledakan di dalam sana. Entah siapa pelakunya. Black Lion serta Louis terpelanting. Bahkan Osman dan para anak buahnya tidak bisa menghindari ledakan yang di pasang oleh pasukannya.


Sementara di tempat lain yang tidak jauh dari lokasi bangunan tersebut, nampak Zayn yang menunggu di dalam mobil. "Rupanya pria tua itu tidak bisa diajak kompromi dan justru memasang perangkap."


Ya, Zayn mendengar semua percakapan di dalam sana menggunakan sebuah giwang yang saat itu pernah diberikan oleh Xavier.



.


.


BERSAMBUNG


.


.


...Yoona selipin visual bang Zayn aja ya, visual trio bastard sama baba Vier blm sempat cari wkwk šŸ˜‚šŸ¤­...


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian šŸ’• terima kasih šŸ¤—...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2