Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Bonus chapter (Menjadi seorang Daddy)


__ADS_3

Jennifer menunggu kedatangan Nico di depan pintu. Beberapa menit yang lalu ia baru saja menghubungi Nico dan suaminya itu mengatakan jika sedang berada di dalam perjalanan pulang. Melihat deru mobil yang baru saja memasuki pelataran Mansion senyum Jennifer semakin mengembang.


"Sayang...." Jennifer menyambut kedatangan Nico dengan pelukan, hingga Nico dibuat bingung akan sikap manis istri kecilnya itu.


"Ada apa, hm?" Nico mengusap lembut kepala Jennifer.


Tidak ingin melihat kemesraan mereka, Xavier dan Jack mendahului langkah Nico masuk ke dalam Mansion. Semua nampak senang dan Xavier mengernyit bingung mendekati sang istri.


"Sweety, ada apa?" tanyanya setelah mengecup kening Elleana.


Elleana tidak menjawab, ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya. "Hubby akan mengetahuinya nanti." Dan hanya itu yang diucapkan oleh Elleana. Ia ingin Jennifer yang mengatakannya secara langsung terlebih dahulu kepada Nico.


Nico menggaruk tengkuk lehernya. Sebenarnya ada apa? Kenapa mereka semua menatapnya?


"Sebenarnya ada apa, hm?" Nico tidak sabar untuk tidak mendesak istrinya itu.


Jennifer hanya tersenyum, ia menatap kedua orang tuanya yang mengangguk padanya. Jennifer menggapai satu tangan Nico, lalu mengarahkannya pada perutnya.


Nico yang bingung hanya mengikuti istrinya saja, mengusap-ngusap perut rata Jennifer.


"Menunduklah..." Jennifer ingin Nico mendekatkan wajahnya dan Nico pun menurut, ia mengikis jarak mereka lalu mendekatkan wajahnya pada wajah istri kecilnya.


Jennifer mengulum senyum, ia berbisik dan berkata, "Kau akan menjadi seorang Daddy...."


Tubuh Nico menegang, kedua netra matanya membulat. Hembusan napas Jennifer menyapu leher dan wajahnya, tetapi bukan karena itu yang sukses membuat tubuhnya menegang dan merinding, melainkan kalimat yang diucapkan oleh sang istri.


"Aku hamil...." Jennifer kembali berbisik. Dan benar-benar membuat tubuh Nico mendadak kaku. Ia terkesiap dengan perkataan istrinya yang semakin diperjelas itu. Ternyata ia tidak salah mendengar kalimat pertama Jennifer, sebab itu Nico hanya mampu mematung.


"Ka-kau hamil, My Queen?" Dan Jennifer menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


Wajah tegang Nico perlahan berubah melunak, bahkan sudut bibirnya melengkung sempurna. "Terima kasih My Queen."


Cup


Cup


Cup


Nico mengecup seluruh wajah istrinya. Ia benar-benar begitu bahagia dengan kabar tersebut. Ia akan menjadi seorang Daddy dan akan memiliki bayi. Sesuatu yang sangat ia inginkan, bayi yang tumbuh di rahim istri kecilnya. Karena terlalu senang, Nico tidak pedulikan banyak mata yang menatap malu karena Nico mengecup seluruh wajah Jennifer dan bahkan membungkuk untuk mengecup perut istrinya yang masih nampak rata itu.


"Jadi Jennie benar-benar hamil Sweety?" tanya Xavier berdiri di sisi Elleana.


"Benar." Elleana mengangguk. "Kenapa hm? Apa kau tidak senang?" Bukan tanpa alasan Elleana berkata seperti itu, karena wajah suaminya nampak datar.


"Tidak, tentu saja aku senang." Xavier tersenyum gemas kepada sang istri. "Ck, ternyata benihnya benar-benar kualitas premium," gumamnya kemudian dan dapat di dengar oleh Elleana.


"Hubby...." Elleana memelototi sang suami yang terkesan tidak suka. Xavier terkekeh menanggapi istrinya yang sudah kesal terhadap dirinya.


Edward dan Jhony berjalan mendekat ke arah Nico dengan menebarkan senyum.


"Selamat Nic." Edward memeluk Nico lalu menepuk-nepuk bahu Nico.


Bergantian dengan Daddy Jhony. "Selamat Nic, kau akan menjadi seorang Daddy. Dan Daddy minta kau harus ekstra menjaga Jennie."


"Baik Dad." Tanpa diminta pun Nico akan selalu menjaga istrinya dengan mempertaruhkan nyawanya. Kini tidak hanya sang istri, ia turut menjaga bayi mereka dengan segenap jiwa raganya.

__ADS_1


Nico terkesiap saat bos sudah berdiri di hadapannya. "Selamat untukmu." Xavier kemudian memeluk Nico, menepuk punggung anak buahnya itu berulang kali.


"Terima kasih bos." Mereka mengurai pelukan.


"Jaga adikku dan calon keponakanku dengan baik. Jika tidak, kau harus akan berhadapan denganku." Lagi-lagi kalimat ancaman yang dilontarkan oleh Xavier.


"Kakak...." Jennifer memprotes sikap sang kakak yang masih saja menindas suaminya.


***


Sementara di tempat yang berbeda, Keil dan Emely berada di penthouse milik Daniel. Kedua pria itu beserta Emely tengah menunggu Ashley di dalam kamar mandi yang sedang menggunakan alat test kehamilan. Ya, Keil sudah memberitahukan kepada Daniel mengenai gejala yang mereka rasakan. Semula Daniel sulit mempercayai, akan tetapi keraguan panjangnya itu menjadi rasa penasarannya. Tidak dipungkiri jika ia benar-benar mengharapkan ada janin tumbuh di rahim istrinya.


"Tenang saja." Keil menepuk bahu Daniel, ia mengerti kegelisahan sahabatnya itu. "Jika hasilnya negatif, kalian bisa mencobanya lagi."


Daniel menghela napas kasar lalu mengangguk. Ya, ia tidak boleh kecewa apapun hasilnya.


Pintu kamar mandi yang terbuka membuat ketiganya menoleh. "Bagaimana?" tanya Daniel tidak sabar. Nampak raut kekecewaan di wajah istrinya itu. Daniel tersenyum. "Tidak apa-apa, kita bisa mencobanya lagi." Setidaknya mereka tidak boleh menyerah.


"Kau benar-benar menginginkan aku hamil?" tanya Ashley memastikan, meneliti wajah Daniel yang memancarkan kekecewaan.


"Tentu saja Baby, aku ingin memiliki anak darimu. Satu... dua atau tiga tidak masalah." Tangannya mengusap wajah Ashley dengan lembut.


Ashley terenyuh, ia pikir Daniel tidak menginginkan seorang anak di dalam pernikahan mereka, mengingat karakter dan sifat suaminya itu.


"Kalau begitu menunduklah, kau harus menyapa bayi kita."


Daniel terkesiap saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ashley, sebab ia tidak begitu jelas mendengarnya.


"Sayang....." Bahkan Ashley harus menyadarkan suaminya itu. "Apa kau tidak ingin menyapa bayi kita, hm?" imbuhnya dengan senyum yang tidak menyurut.


Ashley mengangguk. "Iya, kau akan menjadi Daddy dan aku akan menjadi Mommy."


Daniel membawa Ashley ke dalam dekapannya. Sungguh ia benar-benar merasa bahagia, tidak ada kebahagiaan yang melebihi berita tentang kehamilan istrinya. Ashley terkesiap saat Daniel mengangkatnya lalu memutar tubuh mereka.


"Aaaaa... Daniel hentikan. Kepalaku pusing." Tentu saja membuat Daniel menghentikan aksi memutar-mutar tubuh mereka.


"Sorry Baby, aku terlalu senang." Daniel mencubit pipi Ashley. Ya, ia nyaris melupakan segalanya karena terlalu bahagia. Bahkan keberadaan Keil dan Emely seperti angin lalu saja disana.


"Selamat untuk kalian," ucap Emely mendekati keduanya, lalu memeluk Ashley


"Selamat, kau benar-benar menyusulku." Keil kemudian memeluk Daniel.


"Thanks..." Lalu saling mengurai pelukan.


"Baby, kalau begitu kau harus banyak beristirahat. Sekarang kau pasti lelah."


"Aku tidak-"


Belum sempat menjawab, Daniel sudah lebih dulu menggendong Ashley.


"Kenapa menggendongku?!" pekik Ashley terkejut.


"Aku akan mengantarmu ke kamar, kau tidak boleh kelelahan demi bayi kita." Daniel melangkah menuju anak tangga.


"Ck, kau berlebihan. Aku tidak lelah." Ashley meronta, mencoba turun dari gendongan suaminya.

__ADS_1


"Tidak, kau pasti lelah." Namun tetap saja Daniel mengeratkan gendongannya.


"Aku tidak lelah. Turunkan aku. Emely dan Keil melihat kita."


"Biarkan saja. Mereka bisa melakukannya disini." Daniel menyahut santai. Lagi pula mereka sudah terbiasa saling mengumbar kemesraan.


Keil dan Emely memandang punggung Daniel yang perlahan menghilang dari pandangan mereka. Keduanya menggeleng.


"Reaksinya benar-benar di luar dugaan." Emely terkekeh. Ternyata Daniel memiliki sisi yang seperti itu.


"Kenapa hm? Apa kau juga ingin aku menggendongmu?" Keil tersenyum menggoda.


Emely menggeleng cepat. "Tidak, aku hanya.... kyaaaa.... Keil apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Ya, tubuh Emely sudah berpindah berada di atas kedua tangan Keil.


"Menggendongmu sayang. Kau pasti iri melihat Ashley yang digendong Daniel."


"Astaga, kau ini." Emely mencebikkan bibirnya, tangannya sudah melingkar di leher Keil. Mereka menuju kamar yang berada di lantai satu. Memadu kasih seperti yang dilakukan Daniel dan Ashley di dalam kamar.


Peluh keringat membasahi kening Daniel dan Ashley. Mereka baru saja bercinta, menyalurkan rasa bahagia karena akan segera memiliki seorang anak. Bahkan Daniel sudah membayangkan jika putranya itu berlari-larian kesana-kemari. Kenapa seorang putra? Entahlah, ia yakin jika jenis kelamin bayi mereka adalah bayi laki-laki yang akan tumbuh menjadi seperti dirinya. Berani dan tentunya menyukai tantangan.


"Terima kasih sayang." Daniel mengecup kening Ashley yang sudah terpejam. Menyematkan senyuman melihat wajah damai istrinya yang terlelap. Daniel baru teringat akan Keil dan juga Emely yang masih berada di penthouse miliknya. "Ck, pasti mereka sedang melakukannya."


Benar apa yang di pikirkan oleh Daniel. Keil dan Emely sedang memompa pinggul mereka masing-masing. Ritme yang semakin lama semakin cepat itu mendorong mereka menuju pelepasan.


"Aaaarghhh......" Dan pelepasan keduanya diiringi dengan saling melummat bibir.


"Aku sudah tidak sabar dia lahir Love." Tangan Kiel terulur mengusap perut Emely.


Emely tersenyum. "Tunggu 6 bulan lagi kita akan bertemu dengan bayi kita." Sejujurnya ia pun sudah tidak sabar menantikan kelahiran bayinya.


"Aku tidak sabar ingin bermain dengan putra kita."


"Putra?" ulang Emely. "Kau yakin sekali kalau jenis kelamin bayi kita laki-laki."


"Feeling seorang Daddy, Love." Keil terkekeh dan Emely berdecih namun ia pun ikut terkekeh.


Mereka harus sabar menunggu 6 bulan lamanya. Sungguh semakin hari semakin mendebarkan untuk menyambut buah hati mereka.


See you next bonus chapter


Babang Nico



Babang Keil



Babang Daniel



...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2