
Dua hari berlalu sejak insiden penyerangan Black Lion di wilayah kekuasaan Bloods yang kini sudah menjadi milik Black Lion. Nampaknya kali ini musuh yang belum mengibarkan bendera perang kepada Black Lion adalah Golden Dawn, dimana Jerome mengkhianati mereka dan lebih memilih bergabung dengan organisasi itu.
"Pakailah. Ini untuk meringankan luka memar di bahu kirimu." Keil meletakkan satu kantung paper bag di atas meja, ia baru saja meninggalkan Markas satu jam yang lalu dan kemudian kembali dengan membawa berbagai macam obat luka memar.
"Thanks...." Nico mengambil paper bag tersebut dan membukanya. Tangannya segera mengoleskan obat dalam bentuk salep tersebut pada bagian bahunya. Akibat terjatuh ke semak-semak, sehingga meninggalkan bekas memar kebiruan di bahu kiri dan kaki kanan Nico. Luka itu memang tidak seberapa jika dibandingkan terkena hantaman peluru.
Keil mendaratkan tubuhnya di sofa. "Kita akan kembali ke London besok, sebaiknya kau pulihkan luka memarmu."
"Hem, luka seperti ini tidak masalah. Dalam dua hari sudah membaik." Nico menyahuti perkataan Keil tanpa menoleh ke arah sahabatnya tersebut.
"Guys, kita memiliki pesan anonim yang membutuhkan bantuan kita," kata Daniel dengan pandangan yang masih tertuju pada layar laptop miliknya.
"Benarkah?" Kiel dan Nico berseru bersama. "Apa isi pesan itu?" tanya Keil.
"Meminta kita untuk menyelidiki seseorang." Jemari Daniel bergerak kesana kemari membalas pesan itu. "Sepulang kita dari Los Angeles, salah satu di antara kita harus menemuinya."
"Aku tidak mungkin, karena harus kembali menjaga Nona Jennie." Nico menyahut cepat sebelum Daniel menugaskan dirinya.
Pergerakan tangan Daniel terhenti, kemudian memutar kursi ke arah Nico. "Hei, bukankah bos tidak masalah jika kau berhenti menjadi bodyguard Nona Jennie?"
Nico mengangkat kedua bahunya. "Sayangnya aku tidak akan berhenti. Kalian tau itu!"
Mendengar ucapan Nico, Daniel serta Keil tersenyum disertai gelengan kepala. "Kau begitu menginginkan Nona Jennie. Apa kau yakin bos akan memberimu izin untuk mendekati adiknya?" tanya Daniel kemudian.
"Apa aku perlu meminta izin? Jika berbicara terus terang sudah pasti bos tidak akan membiarkan diriku mendekati adiknya." Napas Nico terbuang dengan kasar. Membayangkan jika dirinya sudah di tolak mentah-mentah sebelum berjuang sungguh membuatnya frustasi. Karena itu ia bertekad akan mengambil hati Nona Jennie terlebih dahulu.
Keil terkekeh. "Berusahalah....."
Nico mengangguki ucapan Keil. "Ya, kau juga. Apapun yang terjadi kau harus bisa mendapatkan Emely kembali."
"Hem, tentu saja. Aku tidak akan pernah melepaskannya."
"Kalian berdua membicarakan wanita kalian di depan pria kesepian seperti ku!" cebik Daniel menggerutu.
"Maka dari itu carilah wanita yang benar-benar kau sukai." Bantal sofa melayang hingga mengenai kepala Daniel dan pelakunya adalah Nico.
"Kau benar-benar menyebalkan," gerutu Daniel menendang bantal sofa itu ke sembarang arah.
Perhatian Keil yang semula tertuju kepada Nico dan Daniel mulai teralihkan oleh dering ponsel miliknya. Hingga membuat Keil segera menjawab panggilan itu.
"Ada apa bos?" tanyanya dengan menghidupkan loudspeaker.
"Red Dragon butuh bantuan kalian." Apa yang baru saja disampaikan oleh bos mereka, membuat ketiganya mengernyitkan kening. Daniel mengabaikan laptopnya dan terfokuskan akan ucapan Xavier.
"Ada apa dengan mereka, bos?" tanya Nico kemudian. Setahu mereka, ketua Red Dragon di sibukkan dengan kehamilan sang istri.
"Shelter Island. Pulau pribadi milik Laksamana Madya Mario, pasukan angkatan laut. Pria itu menculik Angel," terang Xavier di seberang sana.
"What?! Apa kau serius bos?" pekik Daniel tidak percaya. Kerena Red Dragon berurusan dengan seseorang di kemiliteran.
"Benar, Zayn baru saja mengabariku. Dia membutuhkan bantuan kalian karena selain kondisi Angel sedang hamil, dia juga harus memiliki strategi karena lawan mereka adalah pasukan militer," sahut Xavier kembali.
Ketiganya mengangguk paham. "Lalu apa tidak menjadi masalah jika kita menyerang anggota pasukan militer, bos?" tanya Nico.
"Tidak masalah. Aku sudah menghubungi Louis untuk menutupi indentitas kita. Dia akan mengurus semuanya."
"Baiklah bos, kami akan bersiap-siap ke Shelter Island," ujar Keil.
"Dan satu hal lagi, gunakan helikopter yang berada di Markas," lanjut Xavier.
"Baik bos, kami mengerti." Ketiganya menjawab serentak.
"Hem, aku mengandalkan kalian." Dan kemudian Xavier memutuskan sambungan teleponnya. Bos mereka yang berada di Swiss tidak dapat membantu dan hanya mengutus mereka untuk bergegas ke Shelter Island.
***
Black Lion sudah tiba di dermaga, satu-satunya akses menuju Shelter Island. Beberapa anak buah sudah berkumpul disana, terpampang jelas dua helikopter milik Black Lion terparkir di sana. Nico dan Keil membagi tiga tim. Sebagian anak buah menggunakan jalur laut dan sebagian dari mereka menggunakan jalur udara, sementara beberapa anak buah lainnya menunggu di dermaga untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi dengan ketiga bos mereka. Karena Black Lion tidak mengetahui serangan apa yang akan dilakukan oleh pasukan militer itu.
"Kalian tetap harus berhati-hati. Bisa saja pasukan militer itu menyerang dengan rudal," seru Nico
"Baik bos Nico." Dan beberapa dari mereka segera menaiki speed boat.
__ADS_1
Tersisa belasan anak buah yang bersama dengan Keil, Nico dan Daniel. "Kalian naiklah ke helikopter," perintah Keil.
"Baik...." Enam di antara mereka menaiki dua helikopter.
"Sebaiknya kita juga segera menuju kesana." Daniel menepuk bahu Keil dan Nico bersamaan. Keduanya mengangguk setuju dan segera menaiki speed boat yang berbeda.
Speed boat yang dipegang kendali oleh Nico, terus berputar-putar di permukaan air laut mengikuti speed boat yang dikemudikan oleh Daniel beserta Keil di depannya. Kedua speed boat itu menyusuri lautan dan berbalik kesana kemari mencari jalan. Ternyata menemukan pulau itu lebih sulit dari yang mereka duga.
"Tunggu sebentar." Keil mengecek ponsel miliknya. Satu pesan baru saja diterima. Isi pesan itu merupakan titik lokasi dimana Jeff kini berada. "Kita lurus saja ke arah timur," teriaknya kemudian kepada Nico.
Nico mengangguk dan kemudian menambah kecepatan penuh. Sementara Daniel memegang kendali kemudi, Keil mengedarkan pandangan mereka ke segala arah, mengawasi sekiranya terdapat pasukan militer yang menyadari keberadaan Black Lion.
Perjalanan mereka menyusuri lautan terbilang cukup mulus, karena dua helikopter dan dua speed boat Black Lion sebelumnya sudah bergerak lebih dulu dengan menyingkirkan beberapa pasukan militer tersebut.
Dor
Dor
Dor
Dari arah berlawanan, para anak buah Black Lion yang berada di helikopter yang berbeda menembaki helikopter Militer. Deru suara tembakan yang saling bersahutan itu menyentakkan telinga Zayn juga Roy. Tak lama kemudian beberapa speed boat berhenti di depan mereka.
"Kalian?" Zayn benar-benar tidak mengira jika mereka akan benar-benar membantu dirinya.
"Maaf kami terlambat. Jeff baru saja mengirimkan lokasi kalian!" ujar Keil kepada Zayn. Tiga puluh menit sebelumnya Jeff mengabari dirinya.
Zayn mengangguk. Tentu ia tidak mempermasalahkan hal itu, justru dirinya harus berterima kasih karena Black Lion berkenan membantu Red Dragon.
"Bos tidak bisa datang dan hanya mengirim kami untuk membantu kalian!" ujar Daniel sesaat setelah turun dari speed boat disusul oleh Nico.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Gunakan speed boat ini." Nico menyarankan mereka untuk segera pergi, mengingat keadaan yang sudah tidak lagi aman.
Lagi-lagi Zayn mengangguk, sebelum kemudian merangkul pundak Angela yang sudah berada di sisinya. "Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan bantuan kalian!"
Keil, Nico dan Daniel mengangguk serempak. Mereka memastikan Zayn, Angela dan Roy pergi meninggalkan Shelter Island dengan selamat. Black Lion tidak memusingkan Zayn yang justru membawa Anthony bersamanya.
Perhatikan Keil teralihkan kepada Jeff. "Baiklah, kita harus membantu Jeff!" serunya. Terlihat Jeff yang berusaha turun dari mobil saat kendaraan itu hendak memasuki jurang di bawahnya.
"Lompat!" teriak Keil dibawah sana.
Pilot yang mengemudikan helikopter tersebut merendahkan ketinggian. Saat sudah lebih rendah, Jeff melompat hingga tubuh Jeff terjatuh di atas Speed boat milik Black Lion.
Tawa Jeff menggelegar. Ia tidak bisa membayangkan aksi nekatnya itu. Keil, Nico serta Daniel justru menggelengkan kepala dengan heran.
"Bagaimana jika kau mati tadi?!" seru Keil pada Jeff.
"Aku sudah melihat kalian sebelumnya. Jadi aku sengaja keluar dari mobil dan anak buah kalian dengan cepat menuju ke arahku." Napas Jeff tersenggal. Ia masih mengatur napasnya hingga normal kembali.
"Biarkan mereka yang menghabisi pasukan itu. Kita pergi dari sini. Keadaan akan lebih berbahaya jika pasukan Militer yang lain berdatangan!" Nico terduduk santai. Pandangannya mengedar pada sekitar.
"Iya, kita harus segera pergi....." Daniel yang memegang kendali kemudi speed boat buru-buru meninggalkan pulau itu.
***
Ketiga anggota Black Lion tersebut turut menemani Jeff ke rumah sakit karena Angela harus dilarikan ke rumah sakit. Mereka berharap jika Angela berserta kandungannya baik-baik saja. Langkah mereka yang tergesa-gesa menggema di lorong rumah sakit. Roy baru saja mengabari Jeff jika Angela berada di ruang perawatan VVIP.
Langkah Nico dan Keil terpaksa terhenti karena tidak mendapati Daniel di belakang mereka. Kemudian pandangan mereka menyapu sekitar dimana sosok Daniel tengah berbicara dengan dua perawat wanita. Baik Keil serta Nico menghembuskan napas kesal karena tidak dimana-dimana Daniel selalu mencoba menggoda wanita.
"Kita tidak memiliki banyak waktu," seru Keil. Dirinya serta Nico menarik kerah pakaian Daniel bersama-sama. Hingga berangsur menjauhi kedua perawat wanita itu yang terkekeh geli di tempat mereka.
"Berengsek kalian!" umpat Daniel menghempaskan tangan Keil dan Nico, kemudian memutar tubuh dan berjalan dengan benar. "Aku belum sempat meminta nomor ponsel mereka!"
"Kau terlalu baik untuk kedua perawat itu," seru Nico.
Daniel berdecak. "Katakan saja jika mereka yang terlalu baik untukku."
"Ya, itu benar," sahut Nico kembali.
Daniel terlihat sangat kesal. "Lalu bagaimana aku menemukan jodohku jika kalian melarangku mendekati salah satu dari mereka."
"Tunggu aku mendapatkan hati Nona Jennie terlebih dulu," ujar Nico. Mereka masih saja berdebat di sela-sela mereka melangkah
__ADS_1
"Dan aku mendapatkan Eme...." sambar Keil.
"Maksud kalian aku tidak boleh memiliki kekasih jika kalian tidak berhasil mendapatkan Nona Jennie dan Emely?" Daniel mendengkus kesal. Sungguh tidak masuk akal. Nico serta Keil terkekeh melihat kekesalan Daniel.
Kemudian langkah mereka terhentikan begitu berada di depan ruangan, dimana Jeff serta Roy bersandar pada dinding di depan ruangan tersebut, bertepatan dengan Zayn yang baru saja keluar dari ruangan.
"Kalian disini?" Zayn tertegun karena ketiga anggota Black Lion itu juga berada di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Nico. Keil dan Daniel menunggu jawaban dari Zayn, mereka juga penasaran akan kondisi Angela.
"Istriku baik-baik saja," sahut Zayn dan mereka mengangguk penuh kelegaan. "Ku dengar bos kalian sedang berada di Swiss."
"Benar, merayakan ulang tahun bos kecil Arthur dan Nona kecil Elie." Keil menyahuti.
Zayn mengangguk-anggukan kepala. "Sampaikan salamku untuk Vier dan Elle."
"Tentu...." Dan Keil mengiyakan.
Mereka berbincang selama beberapa saat, sebelum kemudian suara Angela yang memanggil Zayn membuat pria itu masuk kembali ke dalam ruangan. Bersamaan dengan itu, langkah kaki seseorang wanita dengan setelan jas dokternya menjadi pusat perhatian ketiga anggota Black Lion.
"Bagaimana kondisi, Angel?" Seseorang yang baru saja datang itu ialah Tania. Wanita itu langsung bertanya kepada Roy.
"Nona Angel baik-baik saja," sahut Roy.
"Syukurlah....." Tania menghembuskan napas lega. "Kalau begitu aku akan melihatnya di dalam." Dan kemudian memasuki ruangan.
"Hem...." Roy mengangguk.
Daniel tidak mengalihkan pandangannya dari Tania. Meskipun terlihat lebih dewasa tetapi wanita itu tetap cantik dengan auranya.
"Dia milikku!" tutur Roy kepada Daniel. Sejak tadi Roy memperhatikan gerak gerik Daniel begitu melihat Tania.
"Dia seorang dokter?" tanya Daniel ragu-ragu.
"Benar...."
"Oh... Kalau begitu untukmu saja!" ujar Daniel dengan santainya.
"Ck, siapa yang mau memberikannya padamu," hardik Roy kesal.
Daniel terkekeh. Kemudian mendekati Jeff. "Apa kau juga memiliki wanita?"
"Menurutmu?" jawab Jeff malas. "Apa aku harus melaporkannya padamu?"
"Hah.... kalau begitu hanya aku sendiri yang tidak memiliki kekasih." Daniel frustasi seorang diri. Padahal Jeff juga sama seperti dirinya tidak memiliki kekasih, tetapi pria itu terlalu santai.
"Jangan dengarkan dia." Keil sembari terkekeh, hingga Nico, Roy serta Jeff ikut menertawakan Daniel.
.
.
To be continue
.
.
Haayooo... siapa yang kangen Red Dragon? ðŸ¤ðŸ¤—🤗
Bang Zayn
Bang Roy
Bang Jeff
__ADS_1